Broken Mirrors: When Time Gives You a Choice
Bab 2 dari 6
Not yet available in the requested language -- showing the original version.
Dalam kebingungan yang melingkupi pikirannya, sang laki-laki terjebak dalam antara hidup dan mati. Dia merasa masih dapat berpikir, tetapi terasa seperti di dalam dunia mimpi. Entah nyata atau hanya bunga tidur, sebuah angan-angan tanpa akan menjadi kenyataan. Rasa sakit dan ingatan akan penyihir Lunara masih sangat hangat. Kepercayaan yang dia berikan karena sebuah harapan. Dia berpikir semua hanyalah sebuah harapan yang menjadi khayalan semata.
Namun, di tengah dia yang sibuk dengan semua pikiran itu. Perasaan samar terhadap sekelilingnya terasa begitu jelas, seolah-olah dia berada di ambang batas antara dunia nyata dan yang sulit untuk dijangkau bahkan mendekati mustahil. Akan tetapi, di tengah kegelapan dan kebingungan, sebuah suara lembut memanggil namanya. Suara seorang perempuan yang sangat dikenal, hangat, dan penuh kasih sayang. Dia mengira semua itu hanya mimpi, apalagi saat suara sang perempuan memintanya untuk segera bangun.
Dengan sekuat tenaga, dia berusaha membuka mata. Saat pandangannya mulai jelas, dia terkejut melihat sosok yang sangat dirindukan. Ibu yang seharusnya sudah tiada, sekarang berada di depan mata. Berdiri di samping ranjang dengan senyum penuh kehangatan, kemudian beralih untuk membuka gorden jendela kamar.
Dalam beberapa detik, perasaan bingung dan terkejutnya berubah menjadi sebuah kelegaan yang amat dalam. Membuat indera pendengarannya tidak berfungsi, dia hanya fokus dengan menatap wajah sang ibu.
Bahkan, suara sang ibu yang memanggil beberapa kali tidak terdengar olehnya. Karena tidak dapat menahan perasaan senangnya lagi, dia beranjak dari ranjang, merengkuh ibunya ke dalam pelukan yang erat. Tanpa aba-aba, air mata penuh kebahagiaan dan penyesalan mengalir di pipi saat dia mengucapkan kata-kata yang penuh emosi.
“Maafkan aku, Bu! Aku minta maaf, untuk semua!” Dia berkata dengan suara bergetar.
Bahkan, dia kembali berkata lagi, seakan tidak cukup hanya satu atau dua kali meminta maaf, “Maafkan aku, atas semua kesalahan yang telah kulakukan!”
Dia terus meminta maaf beberapa kali, seolah kata-kata itu mampu menghapus semua beban yang selama ini dipikulnya. Sejenak menghilangkan seluruh perasaan sakit yang telah mencapai batas dirinya. Dalam pelukan, dia merasakan kehangatan dan kasih sayang yang telah lama hilang. Di dalam hati, dia berjanji untuk melakukan segala sesuatu yang diinginkan oleh ibunya.
“Ibu, aku akan melakukan apa pun yang Ibu inginkan! Aku juga berjanji akan menjadi anak yang lebih baik,” ucapnya dengan penuh tekad, dia menghentikan air mata dan menghapusnya.
Dia tersadar dari pelukan hangat ibunya, tetapi suasana hati yang penuh harapan segera berubah saat dia merasakan sebuah pukulan cukup keras di kepala. Dia baru teringat perjalanan panjang dan penuh batu kerikil tengah menunggunya di depan sana. Dia melepas pelukan, menghapus air mata yang masih keluar dengan kasar.
Dengan ekspresi bingung dan cemas, ibunya memukul kepala dia lagi sambil berteriak, “ Antoni Harinum! Cepat mandi! Kamu sudah terlambat untuk pergi ke sekolah! Kenapa jadi bikin drama menangis begini?”
Setelah berteriak begitu, sang ibu keluar dari kamarnya. Antoni Harinum—nama dari sang laki-laki yang mengalami kemalangan dan mendapatkan kesempatan untuk mengulang waktu. Wajah oval yang masih muda dan sedikit berisi serta sangat bugar. Mata cokelat gelap sedikit besar terlihat begitu bingung serta penuh keterkejutan.
Dengan kesadaran yang masih belum terkumpul dan penuh kebingungan, Antoni berusaha mengumpulkan pikirannya. Rasa bingung semakin dalam saat dia menyadari situasi di sekelilingnya.
Lalu Antoni teringat dengan kejadian yang baru saja dialami. Dengan cepat, dia meraih ponsel yang tergeletak di samping tempat tidur. Jari-jarinya bergetar hebat saat dia membuka layar ponsel dan melihat tanggal yang tertera.
Ketika dia mencoba menatap dengan tajam dan meneliti angka-angka di layar, jantungnya seketika berdegup sangat kencang. Seluruh tubuh menjadi panas bercampur dingin, bulu kuduk pun ikut berdiri. Ternyata, dia bangun di tahun 2015, tepat di tahun di mana dia masih duduk di kelas dua sekolah menengah akhir. Semua kenangan, rasa sakit, dan kesedihan yang telah dialami sejak saat itu kembali mendatanginya dalam pikiran.
Antoni duduk di ranjang, mencoba menata kembali ingatan dan kejadian yang menimpanya di masa depan. Di mana dia mendapat kesempatan untuk mengulang kembali waktu. Dia masing menerawang apakah ini hanya mimpi atau nyata.
Antoni menghela napas lalu membuangnya lagi, dia berkata kepada diri sendiri, “Tenanglah, Antoni! Pikirkan semua dengan kepala dingin!”
“Apa ini nyata? Serius? Ini bukan mimpi? Jelas, ini bukan mimpi! Tidak ada mimpi senyata ini! Ini pasti memang nyata!” Dia berusaha keras untuk meyakinkan diri sendiri bahwa yang terjadi padanya memang nyata dan bukan mimpi.
Hal ini membangkitkan ingatan yang tercampur dengan emosi. Kebahagiaan karena bisa bertemu kembali dengan ibunya. Dan ketidakpastian mengenai perjalanan yang harus dilaluinya di masa mendatang. Akankah sama atau sangat berbeda. Sebuah kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahan yang dilakukannya dan dia dapat menjalani hidup dengan cara berbeda.
Antoni kemudian berbicara kepada diri sendiri, “Yah, itu benar! Ini kesempatan kedua yang diberikan kepadaku. Aku akan menjalani kesempatan ini dengan baik. Tapi sebelum itu, aku harus berangkat sekolah dulu!”
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya