Bab 1 dari 1
Not yet available in the requested language -- showing the original version.
Ridung Luksono sedang menghembuskan rokok saat ibunya mengantar kopi. Iya sedang duduk di bawah pohon nimba seraya memberi makan pada sepuluh ekor ayam peliharaannya.
"Ibu bawakan kopimu, Ono"
"Terima kasih Bu" Ridung Luksono menerima gelas kopi dan meletakkannya di atas batu yang berjarak sekitar sejengkal di samping kanannya.
"Ibu ingatkan lagi ya, jangan pergi lagi ke bukit itu" suara ibunya terdengar jelas.
"Iya Bu" Ridung Luksono menjawab peringatan Ibu dengan suara tak setuju.
"Ibu kembali kedalam buat lanjutkan masak yaa"
"Iya Bu"
Selepas ibunya kembali ke dapur, Ridung Luksono melanjutkan aktivitasnya.
"Ono.... Ono...." Priduk, teman akrab memanggil untuk pergi ke bukit. Mereka telah berencana untuk kembali ke bukit, memeriksa jeratan yang telah dipasang kemarin.
Tanpa pamit, Ono segera melangkah ke sumber suara. Bila ia pamit, ibunya tidak akan mengijinkannya.
Ridung Luksono bingung apa yang membuat Ibunya khawatir. Iya tau dengan jelas bahwa bila putra yang terlahir sebagai semata wayang di desa ini merupakan tumpuan utama kelanjutan nama ayah. Namun ia tidak memiliki ayah. Sehingga kelanjutan nama yang di jaganya adalah nama kakek. Itu akan terjadi saat usianya telah mencapai 20 tahun.
Menjaga kelanjutan nama ayah merupakan tradisi desa Lheragere. Sebab nama adalah identitas yang akan menentukan pengambilan kekuasaan atas kuasa semester desa Lheragere.
Tak lama kepergian Ridung Luksono berselang, ibunya menyadari ia telah pergi. Melanggar lagi larangan yang disampaikannya.
*****
"Ono, aku akan pergi merantau. Kakak besarku di kota besar menghubungiku. Katanya di sana dibutuhkan tenaga kerja untuk keamanan"
"Benarkah? Aku juga sering berpikir bahwa bagusnya saya pergi merantau agar ibuku dapat hidup dengan layak, namun karena belum ada teman sehingga saya belum mengutarakan pada Ibu"
"Kalau begitu ayo kita pergi merantau bersama" ajak Priduk dengan semangat.
Ridung Luksono mengangguk setuju.
Tak terasa mereka telah mencapai tempat yang maksud. Terdapat sepuluh titik jerat yang pasang oleh mereka berdua. Dari sepuluh titik tersebut, sembilan diantara tak membuahkan hasil.
Kedua pun berlangkah ke titik terakhir. Sekitar dua langkah jauhnya mereka melihat seekor burung puyuh sedang berusaha melepaskan diri dari jeratan. Ridung Luksono lekas berlari, lebih cepat dari Priduk. Akan tetapi, saat melompat menangkap agar mencegah lolos dari jeratan, Priduk mendorongnya sehingga Ridung Luksono jatuh terguling. Lututnya tergores dan mengeluarkan darah. Mengalir di semak-semak kering.
Ridung Luksono mengumpatnya. Priduk membalasnya dengan tertawa penuh kemenangan.
"Bisa menjadi teman minum sebelum kita pamit merantau" Priduk mensyukuri hasil jeratan mereka. Ridung Luksono mengangguk setuju, lalu membantu Priduk melepaskan burung puyuh dari lilitan tali jeratan.
*****
Darah dari luka lutut Ridung Luksono masih mengalir. Ketika menyentuh dua tumpukan batu, darah tersebut terserap. Menyebar perlahan ke bagian-bagian batu. Tak lama berselang, asap mengempul dan dari baliknya sebuah titik cahaya putih kebiruan muncul dari balik asap. Bergerak perlahan dari bawah dan menghilang saat hendak mencapai ujung asap.
*****
Ibu Ridung Luksono menyambut kepulangan mereka di depan pintu dapur dengan wajah marah dan tamparan.
Ridung Luksono dan Priduk tidak melawan atau membalas. Sebab ini selalu terjadi setiap kali mereka pergi ke bukit.
"Kenapa kalian tidak pernah mendengar saya. Terlebih kamu Ono. Priduk memiliki dua adik laki-laki, sehingga Priduk tidak memiliki beban bila ia kecelakaan, sebab ada adiknya yang akan menggantikan tugasnya. Sedangkan kamu tidak Ono!"
"Maaf Bu..." Ridung Luksono menjawab dengan nada seduh seraya melihat ke jari kakinya.
"Sudah cukup maafmu. Kalian sudah dewasa. Dua tahun lagi kalian akan menerima beban nama ayah,...."
"Ibu tidak memberi tahu siapa ayah saya!" Ono menjawab perkataan ibunya dengan nada yang cukup tinggi.
Priduk terhenyak kaget. Iya tidak menyangka temannya dapat menjawab perkataan ibunya.
"Onooo... Cukup. Cukup Onok..." bisik Priduk seraya menarik lengan bajunya.
Ibu Ridung Luksono tak lagi melanjutkan perkataannya. Iya menyadari kesalahan masa mudanya.
Priduk lantas menarik Ridung Luksono meninggalkan ibunya yang sedang marah. Mereka berlangkah ke bawah pohon nimbah. Keduanya duduk dalam diam.
****
Setengah jam kemudian, hasil jeratan mereka telah matang bersamaan dengan panggilan dari dapur untuk makan malam.
"Aku minta maaf Ibu". Ridung Luksono membuka suara setelah selesai makan. Mereka bertiga melewati makan malam dalam diam. Bahkan jengrik pun ikut diam.
Ibu Ridung Luksono menjawab permintaan maaf dengan tatapan lembut dan senyum. Ridung Luksono mengetahui bahwa Ibu tercintanya menerima permintaan maafnya.
"Ibu, Priduk hendak pergi merantau ke kota besar. Telah lama saya ingin pergi merantau agar hidup kita bisa lebih baik. Karena tidak ada teman sehingga sampai saat ini saya belum pernah mengutarakan keinginan saya"
Ibu Priduk tidak terkejut. Sebab begini keadaan desa. Kebanyakan pemuda di desa Lheragere pergi merantau untuk memperbaiki hidup.
"Saya berharap Ibu mengijinkannya" Ridung Luksono memohon persetujuan.
"Ke kota besar mana yang kalian maksud?"
"Ke kota Percinhin Bu" Priduk menjawab cepat sebelum Ridung Luksono. Di bawah meja, kaki Priduk sedang menginjak kaki Ridung Luksono, memberi isyarat agar diam. Ridung Luksono mengikuti permintaan Priduk.
"Baiklah, Ibu mengijinkannya" jawab Ibu Ridung Luksono dengan mantap. Baginya, dengan pergi merantau Ridung Luksono tidak akan ke batu bertuah di bukit desa. Dan juga bukan kota Zinlak maka Ia tidak keberatan sama sekali.
"Kapan berangkat?"
"Minggu depan"
****
"Ke kota Zinlak, kamu serius Priduk?" Ridung Luksono tidak percaya apa yang di dengarnya. Sahabat dekatnya itu akan mengikuti kakak besarnya ke tanah rantau. Kota Zinlak adalah kota impian semua perantau namun meskipun impian banyak bahaya yang mengintai. Dari kriminal, hingga pengedaran obat-obat terlarang.
"Jangan takut kawan. Ada kakakku, ia telah menjadi orang kepercayaan bosnya. Kita akan baik-baik saja di sana" Priduk memberikan penguatan.
"Ibuku pasti tidak akan setuju. Iya sangat benci kota Zinlak"
"Tenang, ketika kamu menyampaikan niat merantumu, kamu jangan menyebut kota Zinlak sebagai tempat tujuan kita. Kota Percinhin sebagai jawaban saat Ibumu menanyakan kota tujuan merantau kita"
"Aku tidak suka berbohong"
"Ono, berbohong tidak selamanya buruk" Priduk berkata dengan tatapan tegas
"Percayalah padaku". Ridung Luksono menyetujui dalam diam
****
Waktu keberangkatan pun tiba. Ketika Ridung Luksono sedang mengemas pakayan di tas ranselnya, Ibunya masuk dengan membawa sebuah bingkisan. Bingkasan itu diikat dengan kain tenunan tua bermotif Serigala.
"Bukalah bungkusan ini saat bulan purnama tampak merah di pandangmu. Selama bulan purnama belum tampak merah di pandangmu sekali-kali kamu jangan membukanya. Ini perintah yang tidak bolah kamu langgai Ono. Ibu memberikan perintah ini dengan tegas. Dan juga jangan kamu ceritakan pada siapapun tentang bungkusan ini. Bahkan pada Priduk sekalipun"
"Iya Ibu"
"Jawabanmu salah!" marah Ibu Ridung Luksono.
"Iya Ibu. Aku berjanji akan melaksanakan perintah Ibu"
"Baiklah "
Ibu Ridung Luksono lalu berlangkah keluar. Saat sampai di pintu kamar anaknya, ia menoleh kebelakang dan memanggil anaknya untuk makan malam bersama sebelum mereka bus datang menjemput.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya