Customer Service

Aku yang Ditakuti Kematian

Bab 2 dari 10

Bab 1 Bab 3
100%

Bab 2: Pria di Dalam Mimpi

Not yet available in the requested language -- showing the original version.

Sejak membaca berita tentang pria yang ditemukan tewas di sebuah gang, pikiranku tidak pernah benar-benar tenang.


Aku mencoba meyakinkan diri bahwa semuanya hanya kebetulan. Kota ini besar. Setiap hari ada orang meninggal karena berbagai alasan. Kecelakaan, kejahatan, penyakit, atau sesuatu yang tidak pernah berhasil dijelaskan polisi. Tidak mungkin setiap kematian memiliki hubungan denganku hanya karena aku sempat mengalami mimpi aneh pada malam yang sama.


Masalahnya, ada satu hal yang tidak bisa kuabaikan.


Wajah bayangan dalam rekaman itu.


Aku tidak bisa menjelaskan dengan pasti bagaimana kamera pengawas menangkapnya. Gambar tersebut terlalu buram untuk disebut sebagai bukti bahwa bayangan itu benar-benar memiliki wajahku. Namun semakin lama aku melihat foto yang beredar di berita, semakin kuat perasaan aneh di dalam dadaku.


Bentuk tubuhnya sama.


Cara berdirinya sama.


Bahkan kepalanya sedikit miring ke kiri, persis seperti kebiasaanku ketika sedang kebingungan.


Aku menutup berita itu dan memasukkan ponsel ke dalam saku.


"Berhenti berpikir macam-macam."


Aku mengatakannya kepada diri sendiri, lalu melanjutkan pekerjaan.


Namun sepanjang hari, suara bisikan dari malam sebelumnya terus terngiang di kepalaku.


Jangan bangun.


Aku tidak tahu siapa yang mengatakannya.


Tetapi aku masih mengingat suaranya.


Suara laki-laki.


---


Malam datang lebih cepat daripada yang kuharapkan.


Ketika pulang, hujan sudah berhenti. Jalanan basah memantulkan cahaya lampu kendaraan, membuat kota terlihat seperti permukaan kaca yang retak. Aku berjalan melewati minimarket di dekat rumah dan membeli makanan untuk makan malam.


Aku berusaha menjalani semuanya seperti biasa.


Makan.


Mandi.


Menonton televisi.


Memeriksa ponsel.


Tidur.


Tetapi ketika jarum jam menunjukkan hampir tengah malam, rasa kantuk mulai datang.


Aku menatap tempat tidur dari sofa.


Entah kenapa, malam itu kasur terlihat seperti sesuatu yang harus kuhindari.


Aku teringat tiga orang yang meninggal.


Lalu teringat rekaman CCTV.


Kemudian teringat bisikan itu.


Jangan bangun.


Aku menggeleng.


"Ini konyol."


Aku tidak mungkin berhenti tidur hanya karena sebuah mimpi.


Akhirnya aku mematikan televisi dan pergi ke kamar.


Sebelum berbaring, aku memastikan semua pintu dan jendela terkunci.


Satu kali.


Dua kali.


Bahkan aku memeriksa kamar mandi dan dapur.


Tidak ada siapa pun.


Tidak ada suara aneh.


Tidak ada bayangan.


Tidak ada hantu.


Aku menarik selimut hingga dada dan memejamkan mata.


Aku mencoba tidur.


Namun beberapa menit kemudian, terdengar suara ketukan.


Tok.


Aku membuka mata.


Diam.


Tok.


Kali ini suara itu berasal dari pintu kamar.


Aku duduk perlahan.


"Siapa?"


Tidak ada jawaban.


Aku menunggu.


Tok.


Tiga ketukan.


Persis seperti suara yang kudengar malam sebelumnya.


Aku turun dari tempat tidur dan berjalan mendekati pintu.


Tangan kananku sudah menyentuh gagang ketika tiba-tiba suara seorang anak kecil terdengar dari balik pintu.


"Jangan dibuka."


Aku membeku.


Suara itu sangat kukenal.


Anak kecil yang kulihat di balik jendela semalam.


Aku mundur selangkah.


"Kenapa?"


Tidak ada jawaban.


Aku menunggu beberapa detik.


Kemudian terdengar suara langkah kaki kecil menjauh.


Aku membuka pintu dengan cepat.


Koridor kosong.


Tidak ada anak.


Tidak ada siapa pun.


Aku menghela napas panjang.


"Sudahlah."


Mungkin aku terlalu lelah.


Mungkin semua ini hanya halusinasi karena kurang tidur.


Aku kembali ke tempat tidur.


Kali ini aku tidak melawan rasa kantuk.


Aku membiarkan mataku tertutup.


Dan semuanya menjadi gelap.


---


Aku berdiri di sebuah jalan yang tidak kukenal.


Tidak ada hujan.


Tidak ada kendaraan.


Tidak ada manusia.


Hanya kabut putih yang memenuhi jalan di antara bangunan-bangunan tua.


Aku melihat ke belakang.


Tidak ada apa-apa.


Aku melihat ke depan.


Sebuah lampu jalan berkedip-kedip.


Aku berjalan.


Entah mengapa aku merasa pernah berada di tempat ini.


Setiap langkah membuat perasaan itu semakin kuat.


Di sebelah kiri terdapat sebuah toko tua dengan papan nama yang hampir tidak terbaca. Di sebelah kanan berdiri deretan rumah yang jendelanya tertutup rapat.


Aku terus berjalan sampai mendengar suara seseorang.


"Jangan."


Aku berhenti.


Suara itu datang dari belakang.


Aku berbalik.


Seorang pria berdiri sekitar sepuluh meter dariku.


Dia mengenakan kemeja putih dan celana hitam. Rambutnya sedikit berantakan. Wajahnya tertutup bayangan sehingga aku tidak bisa melihat bentuknya dengan jelas.


"Siapa kamu?"


Pria itu tidak menjawab.


Aku melangkah mendekat.


Dia justru mundur.


"Aku bertanya siapa kamu."


"Jangan mendekat."


Nada suaranya membuatku berhenti.


Ada ketakutan di sana.


Bukan kemarahan.


Bukan ancaman.


Ketakutan.


Aku memperhatikannya.


"Kamu takut padaku?"


Pria itu diam.


Kemudian perlahan mengangkat wajah.


Aku masih tidak bisa melihat wajahnya.


Seolah ada sesuatu yang sengaja menghapus bagian itu dari pandanganku.


"Aku datang untuk memperingatkanmu."


"Tentang apa?"


"Tidur."


Aku mengerutkan kening.


"Apa maksudmu?"


"Jangan tidur."


Aku tertawa kecil karena merasa tidak masuk akal.


"Aku sedang tidur sekarang."


Pria itu terdiam cukup lama.


Kemudian dia berkata pelan.


"Itulah masalahnya."


Seketika seluruh tubuhku terasa dingin.


Aku melihat sekeliling.


Kabut yang tadi tipis mulai bergerak.


Bayangan-bayangan hitam muncul di antara bangunan.


Satu.


Dua.


Lima.


Kemudian puluhan.


Aku mengenali mereka.


Hantu.


Namun tidak satu pun berani mendekat.


Mereka berdiri jauh di belakang pria itu.


Semuanya menatapku.


Beberapa bahkan menundukkan kepala.


Aku kembali menatap pria di depanku.


"Siapa mereka?"


"Orang-orang yang pernah mati karena kamu."


"Aku tidak pernah membunuh siapa pun."


"Benarkah?"


Pertanyaan itu membuatku terdiam.


Aku ingin menjawab, tetapi tiba-tiba kepalaku terasa sakit.


Sangat sakit.


Potongan-potongan gambar bermunculan.


Sebuah ruangan gelap.


Lantai penuh darah.


Tangan seseorang.


Suara jeritan.


Kemudian sebuah pintu.


Dan di balik pintu itu...


Aku melihat diriku sendiri.


Berdiri dengan pakaian yang berlumuran darah.


Aku tersentak mundur.


"Itu bukan aku."


Pria tersebut tidak menjawab.


"Itu bukan aku!"


Aku berteriak.


Bayangan diriku dalam penglihatan itu perlahan mengangkat kepala.


Kemudian tersenyum.


Senyuman yang tidak pernah kulakukan.


Senyuman yang terlalu lebar.


Terlalu dingin.


Aku menutup mata.


Ketika membukanya kembali, semua gambar itu menghilang.


Pria tersebut masih berdiri di sana.


"Apa yang ada di dalam tubuhku?"


Pertanyaan itu keluar tanpa kusadari.


Untuk pertama kalinya, pria itu tampak benar-benar takut.


"Jangan membuatnya mendengar."


"Mendengar apa?"


"Pertanyaanmu."


Aku tidak mengerti.


Kemudian dari kejauhan terdengar suara.


Bukan suara manusia.


Bukan suara hantu.


Sesuatu seperti ribuan orang berbisik bersamaan.


Namaku.


Mereka menyebut namaku.


Sekali.


Kemudian dua kali.


Lalu semakin banyak.


Pria itu langsung menoleh ke belakang.


"Waktunya habis."


"Apa?"


"Kamu harus bangun."


Aku mendekatinya.


"Tunggu! Kamu belum menjawab pertanyaanku!"


Pria itu mundur.


"Aku sudah memperingatkanmu."


"Tentang apa?"


"Kalau kamu tertidur terlalu lama..."


Suara pria itu berubah menjadi bisikan.


"...dia akan bangun."


Aku membeku.


"Siapa?"


Pria itu mengangkat tangannya dan menunjuk tepat ke arahku.


Bukan ke belakangku.


Bukan ke samping.


Ke arah dadaku.


"Dia."


Tiba-tiba sesuatu menghantam dari belakang.


Aku jatuh.


Suara tawa terdengar di telingaku.


Aku mencoba berteriak.


Tidak ada suara yang keluar.


Kemudian sebuah bisikan muncul tepat di dalam kepalaku.


Sudah lama aku menunggumu.


Aku membuka mata.


---


Aku terbangun sambil terengah-engah.


Kamar masih gelap.


Napas memburu.


Keringat membasahi leher dan punggung.


Aku langsung meraih ponsel di meja.


Pukul 03.17.


Aku masih berada di rumah.


Masih hidup.


Aku mengusap wajah.


"Itu cuma mimpi."


Aku mengatakannya berkali-kali.


Namun saat hendak turun dari tempat tidur, sesuatu membuatku berhenti.


Di lantai.


Ada jejak kaki basah.


Jejak itu dimulai dari pintu kamar.


Berjalan mendekati tempat tidur.


Lalu berhenti tepat di sampingku.


Aku menatapnya dengan tubuh membeku.


Tidak ada air di dalam kamar.


Jendela tertutup.


Pintu terkunci.


Tetapi jejak kaki itu nyata.


Dan ukurannya sama persis dengan ukuran kakiku.


Aku mundur perlahan.


Kemudian terdengar suara dari belakangku.


Suara laki-laki yang sama seperti dalam mimpi.


"Kali ini kamu bangun."


Aku berbalik seketika.


Tidak ada siapa-siapa.


Namun suara itu kembali terdengar.


Lebih dekat.


"Jangan biarkan dirimu tertidur lagi."


Aku menatap seluruh kamar.


"Siapa kamu?"


Tidak ada jawaban.


Aku menunggu.


Lalu terdengar suara yang sangat pelan.


"Aku adalah orang yang sudah mati karena kamu."


Lampu kamar tiba-tiba menyala sendiri.


Aku terdiam.


Di dinding tepat di hadapanku, ada sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ada.


Sebuah tulisan.


Seolah seseorang menulisnya menggunakan jari yang basah.


JANGAN TIDUR.


Aku menatap tulisan itu tanpa berkedip.


Kemudian perlahan muncul satu kalimat baru di bawahnya.


Huruf demi huruf.


Basah.


Merah.


KARENA KETIKA KAMU TIDUR, AKU YANG BANGUN.

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Previous Chapter Next Chapter

Suka ( 0)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Chapter List