Customer Service

Secret of the Underground

Bab 1 dari 6

Bab 2
100%

Bab 1: Prolog

Not yet available in the requested language -- showing the original version.

Prolog


Kota Kalrie.

Di sebuah mobil berwarna hitam, seorang anak laki-laki berusia 10 tahun duduk di samping perempuan dewasa dengan pakaian rapi dan rambut lurus cokelat gelap yang tergerai. Perempuan tersebut merupakan ibu dari anak laki-laki yang memiliki nama Alan Alenkiano.

Anak laki-laki berwajah oval sedikit tegas, warna kulitnya seperti kayu yang memudar karena menua, kilauan cokelat gelap terlihat jelas di mata Alan, dan rambut hitam dia pun tidak dibiarkan memanjang, hanya sependek 1-2 sentimeter.

Di saat duduk di kursi belakang mobil, Alan bernyanyi dengan riang di tengah jalanan yang diguyur hujan. Gemericik air yang sangat keras membuat suara Alan sangat kecil terdengar oleh sang ibu. Melihat kegembiraan Alan, membuat sang ibu melengkungkan senyuman manis serta tulus.

Ketika sudah puas memandangi Alan dari kaca spion, sang ibu kembali fokus dengan kendali mobil di tangan. Di langit yang menjatuhkan air deras dengan langit abu-abu penuh kesuraman, sang ibu tetap menyempatkan diri untuk datang ke sebuah acara pesta pernikahan, momen bahagia sekali seumur hidup temannya.

Namun, saat sang ibu hendak menyeberang karena lampu jalan sudah berubah menjadi warna hijau. Dari arah lain, di mana seharusnya lampu jalan sudah berwarna merah. Sebuah mobil mendadak muncul di depan, membuat sang ibu mengerem mendadak. Seketika, seluruh tubuh terserang panas yang merambat. Napas yang terdengar normal beberapa detik lalu, sekarang tercekat dengan kedua mata melebar.

Hanya perlu satu detik, sang ibu tersadar dari keadaan, napasnya kembali normal, meski sedikit menggebu-gebu. Dengan raut menegang, dia menengok ke belakang, mengecek keadaan Alan. Saat merasa sudah aman, tidak terjadi apa pun dengan Alan, dia menancap gas kembali.

Namun, dalam hitungan detik, suara keras hantaman memekakkan telinga. Goncangan merenggut kesadaran ibu Alan. Kekacauan terjadi dalam waktu yang sangat singkat, logam berderit di tengah hujan melanda, kaca pecah, dan dunia berputar tidak terkendali. Bau tanah basah menyeruak memasuki mobil melalui celah kaca yang retak.

Suara air jatuh dari langit yang menyentuh tanah beraspal terdengar sangat kencang. Seakan semua berhenti bergerak, asap yang keluar dari mobil tidak hilang hanya karena hujan. Di dalam mobil yang sudah terbaik, hanya tersisa sebuah kengerian. Cairan merah yang terlihat segar, menetes dengan pelan, tetapi semakin lama menjadi cepat.

Berbeda dengan sang ibu yang mengalami luka parah, Alan baru saja terbangun dengan rasa sakit di beberapa bagian. Bahkan, kesadarannya pun masih terlalu samar. Setidaknya dia masih sadar. Akan tetapi, di depannya, sosok hangat yang tadi menemani, sekarang diam. Tidak bergerak sama sekali.

“Ibu! Ibu!” Panggil Alan yang kini mulai menangis.

Ketika Alan masih menangis, dua orang laki-laki berjalan mendekati mobil. Di mana ada Alan dan sang ibu. Lalu, Alan berpura-pura pingsan agar tidak membuat mereka berpikir terdapat orang yang tersadar. Dia bahkan dapat mendengar dengan sangat jelas perkataan salah satu orang tersebut yang sepertinya merupakan laki-laki, “Ah, sial! Kita harus bagaimana?”

Namun, betapa terkejutnya Alan saat mendengar jawaban dari salah satu orang yang tengah berdiri serta melihat situasi di sekeliling, “Biarkan saja, kita kabur!” suaranya terdengar berat seperti laki-laki.

Dengan langkah cepat, mereka melangkah pergi dan menjauh. Meninggalkan mobil yang tertabrak oleh kendaraan besarnya. Setelah kepergian mereka, dengan tubuh yang lemas dan mulai menitikkan air mata lagi, Alan mengambil ponsel sang ibu yang berada tidak jauh di sampingnya. Dia mengetik cepat di layar ponsel, mencoba untuk menghubungi nomor gawat darurat. Saat dia masih sesegukan karena tangisan yang disebabkan rasa takut dan sedih, terdengar suara perempuan di seberang sana berusaha agar Alan tetap berada di saluran telepon.

Tidak perlu menunggu berjam-jam, suara sirine terdengar. Orang-orang berseragam berjalan mendekati mobil yang terbalik, mulai melakukan penyelamatan kepada mereka setelah melihat kondisinya.

Tidak berapa lama, mereka telah mengevakuasi mereka berdua. Membawa mereka menuju ambulan yang berbeda. Kemudian menuju sebuah rumah sakit terdekat. Dengan gerakan yang cepat, para pekerja kesehatan melakukan tugas. Melangkah cepat untuk berlomba dengan waktu yang berpacu tanpa melambat sama sekali.

Namun, saat Alan sadar di kemudian hari, sang ibu sudah tidak ada. Di dalam kamar rumah sakit, dia hanya dapat menangis keras di pelukan sang ayah. Setelah tangisannya sudah mereda, dia meminta kepada sang ayah untuk pergi ke makam ibu, “Aku ingin menemui Ibu!”

Ketika mereka sudah sampai di pemakaman, Alan tidak dapat menahan tangisnya lagi. Dia menangis sejadi-jadinya, kesedihan yang akan sulit untuk dihilangkan. Melihat makam dari sang ibu, di sana dengan bunga yang masih segar. Setelah tidak lagi terisak, dia melangkah pelan, pergi meninggalkan pemakaman bersama sang ayah dan menjalani hidup hanya berdua.

~~~••••~~~

Setelah tiga tahun kematian sang ibu. Sekarang Alan telah berusia 13 tahun dan baru saja memasuki kelas dua sekolah menengah pertama. Dia baru saja tiba di rumah, tetapi sebuah kejutan tidak mengenakan didengar dan dilihatnya.

Sang ayah, pulang dengan membawa seorang perempuan asing yang tidak dikenalnya. Duduk di ruang keluarga bersama ayahnya. “Kamu sudah pulang. Duduklah dulu Kakak, ada yang ingin Ayah bicarakan!” ucap sang ayah dengan suara lembut.

Tanpa dapat menolak dan rasa ingin tahu yang mendadak mendatangi pikiran Alan, dia duduk bersebrangan dengan sang perempuan. Dia hanya diam, tidak menyapa atau memperkenalkan diri. Raut Alan sama sekali tidak memperlihatkan keramahan.

“Perempuan ini bernama Beisa Gittia, dia adalah calon ibumu. Ayah akan menikahinya,” lirih sang ayah dengan suara lembutnya.

Namun, mendengar apa yang diutarakan sang ayah, Alan terdiam untuk beberapa saat. Tidak ada reaksi yang berlebihan. Dia hanya diam, hingga beberapa detik berikutnya, dengan begitu keras dia menolak.

Terjadi adu mulut di antara mereka, membuat sang ayah memanggil nama lengkap tanpa embel-embel kata kakak, “Alan Alenkiano! Kamu pikir Ayah tidak lelah mengurus kalian, itu sangat melelahkan! Ayah juga ingin melanjutkan hidup, apa kamu tidak ingin? Ini sudah 3 tahun.”

Alan sangat terkejut saat mendengar panggilan yang keluar dari mulut sang ayah. Dia juga merasakan perih di hati seperti tertusuk benda tajam, kata-kata yang keluar dari mulut sang ayah, menjadi sebuah kesakitan untuknya. Tanpa membalas apa yang dilontarkan sang ayah, Alan melangkah meninggalkan mereka.

Alan berjalan masuk dengan pelan, duduk di ranjang dengan raut wajah penuh hal-hal yang dipikirkan. Napasnya masih terdengar menggebu penuh amarah yang tengah menghampiri, membuat dia hanya diam mematung, menatap lantai keramik. Dengan usia yang masih sangat muda, dia bahkan mencoba untuk menenangkan diri dari segala pertanyaan di benak. Mengatur napas, membuang segala pikiran buruk, usaha untuk tetap berpikir tanpa mengandalkan emosi atau perasaan pun berhasil.

Beberapa jam sudah berlalu, Alan masih duduk diam, hingga akhirnya beranjak dari tempat tidur setelah merasa tenang. Dia berjalan menuju lemari berwarna cokelat, mengambil tiga buah kaleng dengan warna yang berbeda: merah, biru, dan kuning. Seperti warna primer, tetapi memang dia mendapatkan kaleng lewat melalui bank sampah. Hanya tiga warna yang tersisa.

Perlahan Alan membuka kaleng, di dalamnya terdapat uang yang berbahan kertas. Dengan pelan, dia menghitung seluruh uang di kaleng dan menatanya rapi. Setelah selesai menghitung semua, total yang didapat dari menabung uang jajan sebanyak 5.500.000 Rupyin. Dengan uang sebanyak itu, dia dapat pergi dari rumah dan hidup sendiri, lalu mencari pekerjaan. Itulah pikiran yang ada di kepala sejak masuk ke kamar.

Dengan gerakan cepat, Alan mengambil tas, mulai memasukan beberapa pakaian. Setelah selesai, dia melangkah keluar dengan mengendap-endap, jangan sampai ketahuan. Langkah kecilnya melewati ruangan yang gelap penuh kehati-hatian. Saat sudah berada di pintu rumah, pelan tanpa menghasilkan bunyi bising, dia membukanya dengan kunci di tangan.

Pelan, Alan menarik memutar kenop pintu kemudian menutupnya lagi, dia melangkah pergi meninggalkan rumah yang besar. Berjalan melewati gerbang besi yang tidak terkunci, dia beruntung karena penjaga sedang tertidur di kursi. Dengan gerakan pelan tanpa menghasilkan derit nyaring, dia mendorong gerbang besi hingga terbuka.

Ketika menutup gerbang besi itu kembali, Alan cepat-cepat mengumpat karena suara derit yang nyaring terdengar karena kelalaiannya, membuat penjaga terbangun. Sang penjaga berjalan mendekati pintu gerbang, mengecek dan menguncinya. Saat sang penjaga kembali tidur di kursi, dia keluar dari tempat persembunyian, melangkah pergi dari kediaman ayahnya.

Langkah kecil Alan yang cepat, melewati sunyinya jalanan aspal. Lampu yang menemani setiap beberapa meter, membuat sekeliling tidak terlalu menyeramkan.

Selama dua puluh menit, Alan berjalan kaki tanpa merasa takut karena sudah gelap gulita. Dia memiliki tujuan yang menjadi tempat menginap.

Sekitar satu jam, perjalanan yang dilalui Alan. Dia sudah sampai di depan gerbang menuju rumah susun, berdiri diam lalu mengambil ponsel di saku celana. Dia melakukan panggilan telepon kepada sang teman, setelah terdengar suaranya yang menyapa, “Halo!”

Dengan merasa tidak nyaman, Alan mengatakan apa pun sejujurnya, “Halo! Ini aku Alan, sekarang, aku ada di depan tempat tinggalmu. Turunlah sekarang!”

Setelah mengatakannya, Alan mematikan panggilan, tetap berdiri di sana meski seorang penjaga rusun memberikan berbagai pertanyaan, tetapi dia hanya diam dan tidak menjawab. Tidak perlu menunggu lama, sang teman datang dan dengan santainya, Alan tersenyum sambil menyapa, “Hai, Arya!”

Nama teman yang Alan telepon—Arya Hestanta, seorang anak laki-laki yang juga berusia 13 tahun, berwajah oval sedikit lonjong dan tirus, matanya cokelat terang sedikit keemasan, berkulit kuning langsat, dan rambut cokelat pendek.

“Maaf, Pak! Ini teman saya, sepertinya ada sesuatu yang penting. Sekali lagi saya minta maaf, Pak!” Arya berkata dengan raut bersalah, tersenyum manis serta tulus. Kemudian dia menghampiri Alan yang tengah berdiri tanpa rasa bersalah dan hanya memasang senyuman.

“Kamu kenapa ke sini? Ini sudah sangat malam,” tanya Arya dengan suara kesalnya.

“Apa kamu tidak lihat tas ransel besar ini? Ini sangat berat,” balas Alan, sama sekali tidak menjawab pertanyaan Arya.

“Apa kamu kabur dari rumah?” Arya kembali bertanya dengan wajah terheran-herannya.

“Yah, kamu benar,” jawab Alan singkat.

“Ah, baiklah. Kita masuk dulu,” ucap Arya terlihat sangat jelas sudah pasrah dengan keadaan saat ini dan Alan.

Mereka melangkah masuk melewati gerbang, berjalan dengan berjajar. Melewati jalanan yang terbuat dari beton, di kanan dan kiri juga terdapat pepohonan kecil. Lampu kecil yang remang menjadi sumber penerangan. Dengan langkah pelan, mereka menuju gedung rusun unit tempat Arya tinggal.

Sekarang, sebelum menuju unit sewaan milik keluarga Arya, mereka berada di taman unit-12. Mereka duduk bersebelahan dan untuk beberapa saat hanya diam, tidak ada satu pun yang berbicara, hingga Arya memulai duluan.

“Pulang! Aku serius,” ucap Arya dengan tegas menyuruh Alan untuk untuk pulang.

“Aku tidak mau,” balas Alan singkat.

“Terus, sekarang kamu mau tidur di mana? Ini sudah malam dan besok harus ke sekolah,” tanya Arya yang sudah lelah dan mengantuk.

“Izinkan aku tidur di tempat kamu malam ini saja! Besok aku akan cari tempat tinggal,” balas Alan.

“Tidak bisa, kamu harus pulang!” Arya tidak luluh dengan kata-kata yang dilontarkan Alan.

“Tidak bisakah kamu bantu aku, sekali saja!” Alan berusaha memohon agar Arya membantunya.

Setelah berpikir beberapa detik, Arya mengizinkan Alan untuk tinggal malam ini di tempatnya. Tentu saja, mendengar keputusan Arya membuat Alan sangat senang. Karena obrolan telah usai, mereka melangkah pergi dari taman. Melewati beberapa langkah untuk menuju unit hunian tempat Arya tinggal.

Setelah memasuki gedung unit-12, mereka harus melewati beberapa anak tangga, dengan Alan yang membawa tas tanpa mendapatkan bantuan dari Arya. Langkah yang kecil, melewati banyaknya anak tangga dan belokan lorong rusun, hingga mereka tiba di depan unit hunian nomor 122.

Setelah Arya membuka pintu, mereka melangkah masuk dengan begitu tenang dan menuju kamarnya. Di dalam sana, mereka lekas beristirahat, tidur tanpa berpikir untuk melanjutkan obrolan karena sudah sangat larut. Bahkan, Alan tidak banyak bicara atau berkomentar tentang tempat tinggal Arya yang sangat sederhana.

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Next Chapter

Suka ( 0)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Chapter List