Bab 1 dari 2
Not yet available in the requested language -- showing the original version.
Tahun 2007.
Di mana kisah mereka berawal, seorang anak laki-laki dan perempuan yang secara sadar, tetapi juga polos, membuat ikatan sekuat benang merah. Tidak akan terputus, hingga mereka benar-benar menepati janji atau memutuskan tali yang mengikat jari manis penuh kesunyian diselimuti hati tertusuk duri tajam.
Namun, mereka tidak menyadari akibat dari ikatan yang diciptakan di bawah langit secerah lautan biru. Kejadian yang mengubah kisah mereka terjadi hari ini, sepulang sekolah—berita mengejutkan didapati seorang anak laki-laki berusia 12 tahun. Di mana berita yang didengar dari sang ayah, “Kita akan pindah tempat tinggal, karena Ayah sudah selesai dengan pekerjaan di kota ini.”
Dia—anak laki-laki itu mengetahui saat tengah belajar di sekolah. Tidak ada aba-aba terlebih dahulu, agar dia lebih menyiapkan diri untuk menerima tanpa merasa kesal dengan wajah memerah kepanasan. Akan tetapi, semua sudah terjadi, ingin menumpahkan rasa kesal pun tidak dapat dia lakukan.
Di bawah langit yang terasa begitu terik, seorang anak laki-laki baru saja tiba di rumahnya. Raut wajahnya terlihat murung, bulir-bulir keringat memenuhi pelipis serta tubuh. Anak laki-laki tersebut melangkah dengan kasar karena lelah dan rasa kesal yang mendatanginya, saat tahu dia akan pindah sekolah lagi karena pekerjaan sang ayah sudah selesai.
Bahkan, dengan suara lesu, dia menyapa ibu serta kakak dan adiknya yang tengah duduk bermain. Tentu saja, hal tersebut membuat sang ibu merasa keheranan dengan sikapnya yang tidak biasa.
Pasalnya, dia tidak pernah marah atau kesal saat harus pindah sekolah karena pekerjaan sang ayah. Akan tetapi, kali ini berbeda, dia kesal serta marah. Bahkan, saat diminta untuk makan siang bersama, dia hanya menjawab, “Aku tidak lapar,” pelan dan tidak terdengar semangat.
Setelah mengatakannya, dia melangkah pelan menuju kamar dan menutup rapat pintu. Raut wajah yang murung pun dibuangnya saat hanya dia seorang di kamar. Dia berusaha keras untuk tersenyum serta menyemangati diri sendiri, “Kamu pasti bisa! Pasti bisa!”
Kemudian, dia menyimpan tas sekolah di ranjang tempat tidur dengan sembarang. Dengan gerakan yang cepat, dia melepas seluruh pakaian sekolah dan berganti menjadi kaos pendek berwarna biru tua serta celana panjang hitam. Sebelum benar-benar pergi, dia bercermin dengan memandangi diri sendiri.
Helaan napas pelan terdengar jelas, beberapa kali dia membuang dan menariknya, berusaha keras untuk membuat diri tidak panik ataupun gugup. Bahkan, dia berlatih berbicara dengan diri sendiri, “Lila, aku ingin bicara! Ini sangat penting!”
Lagi, dia menghela napas panjang dan membuangnya, “Seperti itu bagus. Oke, kamu pasti bisa, Bimo Saputra!”
Detik berikutnya, dia memasang senyum lebar di wajah untuk menyemangati diri sendiri, agar tidak gugup ataupun merasa sedih. Dengan langkahnya yang penuh tekad, dia berjalan keluar untuk pergi menuju rumah seorang anak perempuan. Anak perempuan tersebut memiliki usia lebih muda dari dia dan hanya terpaut satu tahun saja. Nama anak perempuan tersebut—Lila Kamala yang tahun ini sudah berusia sebelas tahun dan dia masih duduk di kelas enam. Begitu juga dengan Bimo Saputra yang sudah berada di kelas enam.
Ketika Bimo akan pergi, dia menghampiri sang ibu yang tengah bermain bersama adik kecilnya. Tanpa ragu, dia berkata, “Ibu, aku mau main dulu! Sebentar saja,” izin Bimo dengan penuh antusias.
Senyum merekah terlukis dengan jelas di wajah Bimo, saat dia mendapatkan jawaban, ‘iya’ dari sang ibu.
Dengan langkah lebar dan cepat, Bimo lekas pergi menuju rumah Lila. Seakan dia sudah sangat bersemangat untuk bertemu dengan Lila. Bahkan, sepanjang langkah kaki yang lebar, dia terus mengaitkan kedua tangan dan memainkan jari-jemarinya.
Di dalam diri Bimo, hanya ada perasaan gugup dan takut. Tentu saja, tidak dapat dipungkiri bahwa dia juga hanya seorang anak-anak yang bertumbuh. Desiran gugup dan takut merupakan hal yang sangat normal untuk anak seusia dia.
Setelah melewati beberapa menit, langkah lebar Bimo berhenti di depan gerbang masuk menuju rumah Lila. Tatapan mata penuh harap, tangan yang terlihat begitu gemetar, serta napas berat dan kasar karena rasa di dalam diri, membuat dia berdiri diam untuk menenangkan hati serta pikiran. Saat dia tengah sibuk menatap pintu rumah Lila yang terlihat dari luar gerbang—secara mendadak, pintu berwarna cokelat gelap itu terbuka perlahan dan menampakkan seorang anak perempuan berjalan ke arah dia serta membuka gerbang.
Tanpa Bimo sadari, dia tersenyum begitu senang saat melihat Lila. Lalu, dia menyapa dan bertanya, “Hi, kamu mau pergi main?”
“Iya, kamu sendiri? Ada apa? Tumben sekali ke sini,” tanya Lila dengan raut wajah ramah dan rasa ingin tahunya.
“Ah, ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu. Apa kamu mau?” tanya Bimo dengan tatapan mata yang penuh harapan, di mana dia ingin agar Lila mengiyakannya.
“Oke, mau bicara di mana?” jawab Lila dengan senyum manis yang terlukis di wajah.
“Bagaimana jika kita bicara di taman saja,” ucap Bimo, memberikan saran yang bisa dijadikan sebagai tempat berbicara. Di jam-jam pulang sekolah, taman akan sangat sepi dan belum ada anak-anak yang menggunakannya untuk bermain.
Setelah Lila menyetujui saran dari Bimo, mereka berdua berjalan bersama menuju sebuah taman yang dimaksudkan. Sepanjang jalan menuju taman, mereka hanya diam dan tidak ada satupun yang berani untuk membuka suara. Tanpa disadari, beberapa menit sudah berlalu, mereka sudah tiba di sebuah taman yang jaraknya tidak jauh dari rumah mereka.
Taman tersebut terlihat sangat sepi, belum ada siapa pun yang bermain, hanya sebuah tempat duduk, ayunan, dan beberapa jenis permainan lainnya. Mereka melangkah bersama menuju taman tersebut. Di tengah-tengah kebingungan mereka yang ingin duduk di mana. Bimo berkata, “Kita duduk di ayunan saja, bagaimana?” dia memberikan sebuah usul untuk duduk di sebuah ayunan yang terdapat dua buah dan saling berdampingan.
Dengan anggukan serta suara pelan, Lila mengiyakannya, “Oke, kamu mau di sebelah mana?”
Dengan nada lembut, Bimo menjawab pertanyaan Lila, “Aku ikut kamu, kamu duluan yang pilih!”
Kemudian, mereka berjalan mendekati ayunan dengan Lila yang duduk di sebelah kanan, sedangkan Bimo di sisi kiri. Saat keduanya sudah duduk di ayunan dengan sedikit mengayun pelan menggunakan kaki, untuk beberapa detik, tidak ada yang bersuara hingga Bimo memulai pembicaraan di antara mereka.
Sebelum Bimo mulai berbicara, dia menghela napas pelan dan membuangnya. Kemudian dia mulai berbicara, “Jadi, begini, aku akan pindah lagi. Kamu tahu ‘kan, orang tuaku suka berpindah-pindah karena pekerjaanya,” ucapan Bimo terdengar begitu lembut.
“Iya, aku tahu. Kamu pernah cerita,” jawab Lila, sekarang dia tengah menatap Bimo yang menundukkan kepala dengan memainkan kaki di atas rumput.
Lila menunggu beberapa detik, dalam diam tanpa menginterupsi terlebih dahulu. Menunggu, hingga Bimo berani untuk memulai pembicaraan. Detik berikutnya, Bimo mengangkat kepala dan menatap mata cokelat gelap milik Lila. Sekarang, sepasang mata mereka saling menatap satu sama lain.
Bahkan, untuk sepersekian detik, Bimo terdiam, wajahnya terasa panas, tetapi tidak menunjukan kemerahan karena perasaan malu.
Dengan keberaniannya, Bimo berkata menggunakan suara jelas dan tegas, “Meski aku di kota lain, aku akan datang ke sini untuk menemuimu!”
Bimo terdiam untuk sesaat, melihat reaksi yang diberikan Lila saat mendengarnya. Akan tetapi, terlihat jelas, terdapat guratan di dahi yang menandakan sebuah keraguan. Dengan suara mantap dan tegas, Bimo kembali berkata, “Aku janji, aku akan datang setiap satu tahun sekali! Saat liburan kenaikan kelas!”
Mendengar apa yang dikatakan Bimo dengan tegas, membuat Lila merasa terkejut dan tidak tahu akan menjawab apa. Akan tetapi, di tempat terdalam, dia juga merasa sedih saat mendengar Bimo akan pergi dan pindah ke kota lain. Ada rasa ingin melarang, tetapi dia tidak berani untuk mengungkapkannya. Ada setitik kesadaran, bahwa dia tidak memiliki hak untuk melarang.
Namun, mendengar janji yang diutarakan Bimo, membuat Lila sangat senang sekaligus bingung dengan jawabannya. Akan tetapi, setelah berpikir dalam waktu singkat, dia membalas perkataan yang diutarakan Bimo dengan senyum di wajah, “Aku juga akan menunggu kamu datang!”
Bimo yang mendengar balasan dari Lila, berdiri dari duduknya di ayunan. Lalu, dia berdiri di depan Lila dengan menyodorkan tangan untuk bersalaman. Tanpa ragu, Lila menjabat tangannya.
Ketika jabat tangan itu terjadi, tanpa kata-kata untuk memperjelasnya, mereka berdua sudah terikat janji satu sama lain. Senyum merekah di wajah mereka menjadi awal dari kisah yang entah akan berjalan seperti apa. Benang mer
ah itu sudah mengikat keduanya dalam sebuah perjanjian tanpa jeda waktu.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya