Customer Service

The Life I Aksed For

Bab 1 dari 10

Bab 2
100%

Bab 1: Prolog - Malam Ketika Doa Dijawab

Not yet available in the requested language -- showing the original version.

Orang bilang Tuhan tidak pernah salah memilih takdir untuk manusia.

Kalau begitu, mengapa aku selalu berharap bisa menukar hidupku dengan orang lain? 

---


Nadira baru saja pulang ke apartemennya.


Seperti biasa, ia berjalan dengan tubuh lunglai.


Ia lalu membantingkan tubuhnya ke sofa.


Di meja sofa terlihat secarik amplop bertuliskan "Dear Nadira", surat terakhir dari ayahnya lima belas tahun lalu yang sampai sekarang belum berani ia baca. 


Nadira mengacak rambutnya yang sudah berantakan dari awal.


Ia menutup matanya dengan kedua tangannya. 


Pecah tangisnya tak dapat dibendung lagi membasahi wajah dan tangannya.

Tangisnya tercekat. Susah payah ia menahan semuanya agar tidak meledak sekarang.


Masalahnya, ia sudah lelah hari ini, tidak ingin lebih lelah lagi dengan menangis jelek.


Hari ini hari pernikahan Adrian--mantan kekasih sekaligus cinta pertama Nadira yang dulu meninggalkannya, dan sialnya hari ini juga hari ia dipecat dari kantor tempat ia bertumbuh sejak lulus SMA karena difitnah oleh rekan kerjanya.


Nadira pikir Tuhan sudah cukup memberinya kehidupan menyedihkan yang tiada ujungnya ini. 


Tapi kali ini, sekali lagi, saat ia sudah menjadi kepingan beling yang tajam dan menyakitkan, ia hancur, melukai, dan terluka lagi. 


Wajahnya masih sembab saat Mamanya meneleponnya malam itu.


"Halo.."


"Halo, Nad. Kamu sudah gajian? Transfer Mama sekarang ya. Papi sudah marah-marah mau beli rokok dan adikmu

harus bayar UKT," ucap Mama Nadira. Ucapannya buru-buru, seolah tak memberi Nadira kesempatan untuk membalasnya, kemudian ia menutup teleponnya. 


"Andai dulu Mama tidak menikah lagi dengan Papi setelah ayah meninggal, pasti Mama tidak akan seperti ini. Andai dulu ayah tidak mening--," napas Nadira tercekat.


Ia menarik napas dalam, menghembuskannya kasar.


Kedua tangannya memeluk tubuhnya sendiri, menepuk pundaknya sendiri agar ia tidak semakin meledak.


Tak menunggu lama, Nadira membuka aplikasi m-bankingnya.


Mentransfer uang Rp5.000.000 kepada Mamanya.


Itu adalah sisa tabungan terakhir Nadira sebelum akhirnya ia akan menganggur entah sampai kapan akan mendapat pekerjaan lagi. 


"Sudah ditransfer ya, Ma.." pesan terkirim. Pesan terbaca. Tak ada jawaban.


Sebenarnya ini bukan pertama kalinya pesan itu terbaca tanpa jawaban setelah ia mentransfer uang pada Mamanya.


Tapi kali ini, ia menunggu jawaban.


Satu menit.


Lima menit.


Tak ada balasan.


Seharusnya ia sudah terbiasa.


Nyatanya tetap saja sakit. 


Nadira mengambil handphonenya.


Doomscrolling membuka Instagram.


Melihat-lihat postingan teman-teman sekolahnya dulu.


Bukannya terhibur, ia malah merasa kecil sekali.


Ada yang posting wisuda S2.


Ada yang posting jalan-jalan ke luar negeri, hingga posting menikah dan memiliki keluarga bahagia. 


Nadira buru-buru menutup Instagramnya.


Terlihat di layar walpapernya adalah foto anak kecil dengan senyum polos merekah di wajahnya.


Dari sekian banyak kehidupan yang bisa dipilih seperti kehidupan teman-temannya, mengapa kehidupan ini yang

dipilihkan untuknya?


"Ya Tuhan, jika Kau memang mencintaiku, izinkan aku mengubah kehidupan ini. Satu kehidupan lagi yang tidak menyakitkan. Satu kehidupan dengan cerita yang kumau," ucap Nadira lirih. Suaranya bergetar seolah mengeluarkan senjata terakhirnya. 


Tiba-tiba udara menjadi dingin menusuk kulit.


Angin kencang menghamburkan barang-barang di apartemen itu.


Ruangan itu menjadi begitu sempit karena dipenuhi oleh kehadiran sosok yang tak mampu dijelaskan oleh nalar manusia.


Sesosok "malaikat" yang tak pernah Nadira bayangkan akan bertemu dalam hidupnya. 


Nadira mundur perlahan.


Tangannya gemetar.


Air matanya berhenti mengalir.


"Si.. Siapa?" 


"Doamu telah didengar. Jika Aku memberimu kesempatan untuk mengubah satu hari dalam hidupmu--" belum sempat "malaikat" itu melanjutkan kalimatnya, Nadira menjawab.


"Aku mau."


Meski tak mengerti dengan semua yang ada di hadapannya dan apa yang baru saja ia jawab, kali ini hati Nadira jauh lebih lapang. 


Inilah kesempatan yang ia tunggu sejak lama. Kehidupan yang ia inginkan.


The Life I Asked For.

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Next Chapter

Suka ( 0)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Chapter List