Customer Service

Aku Anak Batu

100%

Aku Anak Batu

Not yet available in the requested language -- showing the original version.

Aku Anak Batu

Oleh

Astuti A. Palupi


“Ba-tu!”

“Be-aba-te-utu! Batu!”

“Aku anak batu! Namaku ba-tu!”

“Lahir dari batu!”

“Kepala batu!”

Begitu setiap hari Ibu mengajariku mengeja dan membaca. Alih-alih menyenangkan, kadang kala Ibu bingar menggebrak meja belajar sampai gentar.

Momen yang seharusnya hangat itu berubah menjadi pengalaman menegangkan yang meninggalkan luka.

Entah sudah berapa kali aku mendengar olokan itu terlontar dari mulut orang tuaku sendiri. Barangkali batu pun terkejut jika namanya tiba-tiba dijadikan bahan ejekan bagi seorang anak yang baru seminggu mengenal huruf dan sedang tertatih-tatih mengejanya.

“Dasar kamu anak batu! Lahir dari batu! Kepala batu! Membaca begitu saja tidak tahu! Mau jadi apa kalau besar besok kamu? Huh!”

Bukan karena aku belum pernah duduk di bangku sekolah. Dua tahun di taman kanak-kanak kulewati dengan berlagu, menggambar, bermain, dan mengenal angka. Kata Bu Guru, anak-anak seusia kami belum perlu dibebani pelajaran membaca, menulis, dan berhitung (calistung) secara formal.

Namun, baru seminggu mengenakan seragam putih-merah, kami sudah harus berjibaku dengan buku pelajaran berisi kalimat-kalimat panjang yang mesti dibaca dengan lancar seorang diri.

Aku berdiri ketika hujan mengguyur halaman sekitar. Bermangu di depan jendela kayu sembari mengusap kelopak mataku yang basah dan sembap. Sementara, Ibu masih mengomel di belakang ditingkahi suara berisik alat-alat dapur yang terbang.

Pandanganku jatuh pada puluhan batu kecil yang berjejer di bawah cucuran atap. Tetes demi tetes air hujan jatuh menimpanya, berulang-ulang tanpa tergesa. Aku memperhatikannya lama-lama.

Konon, sekeras apa pun batu, permukaannya tetap bisa berlubang jika terus-menerus ditetesi air, bukan?

Barangkali begitu pula aku.

Pagi merangkak dari balik perbukitan. Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan, menyisakan dingin yang merayap hingga ke sela-sela pakaian. Aku menyandang tas, lalu memulai perjalanan yang setiap hari harus kutempuh untuk sampai ke pintu masa depan.

Kampung kami jauh dari riuh kendaraan dan deretan bangunan megah. Jalan tanah yang membelah perkebunan karet dan tepian hutan menjadi satu-satunya lintasan. Ia berkelok-kelok di antara tanjakan, menurun melewati ceruk-ceruk kecil, lalu kembali mendaki seolah sengaja mengulur jarak antara rumah dengan ruang kelas.

Sisa hujan semalam membuat permukaannya lembek dan licin. Di beberapa tepian, akar batang menjulur seperti jemari tua yang siap mencengkeram kaki-kaki muda yang melintas menuju sekolah. Di sini, aku harus meniti dengan hati-hati agar tidak tergelincir. Selain sepatu sekolahku yang sudah bolong, kerikil-kerikil tajam ini pun sudah begitu familier sehingga seenaknya saja menyelinap ke dalam sepatu, kadang menggesek-gesek kulit jari-jari kakiku hingga perih sampai berdarah.

Baru beberapa langkah melewati tanjakan, sebuah batu menyandung jempol kakiku lagi. "Awwwww!" spontan hidungku mencium tanah. Aku meringis. Sambil kembali bangkit, menepuk-nepuk seragam lusuh yang kini berlumur tanah. Sebab  gubuk sekolahku itu tak pernah menunggu murid-muridnya hadir tepat waktu, meski aku datang dengan tertatih-tatih.

Ah, batu lagi-batu lagi! Sepertinya, sejak namaku berubah jadi anak batu, batu-batu takkan pernah usai mengekoriku.

Rupanya sampai di sekolah pun bebatuan masih menghadang. Begitu kentongan berbunyi, Bu Guru meminta kami membuka buku pelajaran pada halaman tertentu. Sebuah teks panjang terhampar, dipenuhi huruf-huruf yang berbaris rapat seperti semut berarak mencari sarang.

Kami diminta membaca, memahami isinya, kemudian menjawab sederet pertanyaan di bawah. Bu Guru menjelaskan ala kadarnya, menuliskan beberapa pokok pelajaran di papan tulis, lalu membiarkan kami menyelesaikan soal-soal itu secara mandiri.

Aku membeku. Bagaimana mungkin aku diminta memetik buah dari pohon yang bahkan aku belum diajarkan cara memanjat?

Membaca saja aku masih berbata mengeja, apalagi memahami isi bacaan dan menjawab pertanyaannya.

Aduh! Aduh! Aduh! Bagaimana ini?

Sesekali kulirik Bu Guru yang membolak-balik tumpukan kertas di mejanya. Aku ingin bertanya. Tetapi wajahnya lebih dulu mengguratkan kekusutan menunduk memandangi moncong sepatunya yang juga menganga.

Aku tidak mengerti mengapa orang yang bertugas mengajari siswa-siswi di kelas, justru harus menyambi pekerjaan lain di sela-sela tugas mengajar, cuma untuk membeli sepatu atau mencukupi kebutuhannya. Apa bayarannya kurang cukup atau bagaimana?

"Elia!"

Sebuah suara membuyarkanku dari bangku sebelah. Hajar! Anak lelaki itu selalu memang selalu tampak tangkas. Seolah-olah dunia selalu berpihak padanya, dengan menyediakan lebih banyak anak tangga untuk ia melompat-lompat, mencapai tempat tertinggi yang ia mau.

Penampilan Hajar selalu bersih dan rapi. Buku-bukunya bersampul, pensilnya runcing-runcing, dan ia tidak pernah linglung kala Bu Guru melemparkan tugas ke papan tulis. Soalnya, Hajar berasal dari keluarga berkecukupan. Kata orang-orang, dia anak juragan.

Sepulang sekolah, ia selalu mengikuti les tambahan. Di rumah, ayah dan ibunya sabar mendampingi belajar. Setidaknya, itu yang pernah diceritakan Hajar kepada seisi kelas kemarin.

"Bagaimana kalau nanti kupinjamkan kamu buku-buku cerita? Biar kamu belajar membacanya lebih seru. Mau?"

Aku menoleh ke samping. Hatiku yang sejak tadi pundung mendadak menemukan cercah.

"Mau!" jawabku lekas.

"Kalau begitu, besok aku bawakan, ya.”

Aku mengangguk cepat. Sederhana sekali tawaran Hajar itu, tetapi rasanya seperti seseorang baru saja menangkup getah-getah dari mangkuk lalu dimasukkan ke dalam ember besar untuk dijual pada pengepul.

Dan benar saja. Keesokan harinya, Hajar datang dengan menggendong setumpuk buku. Ada cerita bergambar, buku pengenalan huruf, latihan mengeja suku kata, hingga buku belajar membaca yang disusun selangkah demi selangkah. Ia meletakkannya di meja.

Aku membuka halaman pertama. Jari telunjukku menyusuri huruf-huruf yang tercetak di sana. Nuansanya warna-warni. Aku belum bisa menebak apakah setelah belajar dari buku-buku warna-warni ini esok aku akan mampu membaca satu kalimat utuh. Aku juga belum tahu berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk menaklukkan barisan huruf dan lancar membaca.

Dan ternyata, baru beberapa menit aku mencoba, aku tidak hanya bisa melafal “Aku Anak Batu” Seperti yang diajarkan ibu. Tapi aku juga sudah bisa baca....


“Ba-bi-bu. Ca-ci-cu. Da-di-du.”


“Aku. Anak. Ibu.”

Sekejap aku tertegun menyadari kemampuanku sendiri. Hajar ikut bertepuk tangan mengapresiasi. Begitu juga Dani, Eriska, Bintang dan Suci.

“Kamu Hebat, Elia! Baru belajar sebentar saja sudah bisa!” Puji Hajar. Aku tersenyum bangga. Bukan semata-mata karena aku sudah lancar membaca, tapi mungkin mulai hari ini aku tidak perlu lagi dipanggil jadi anak batu. Atau.... Akan tetap jadi anak batu?

Setidaknya hari itu, aku telah mengerti sesuatu hal, kalau batu tidak selalu membutuhkan pukulan untuk pecah. Ada kalanya ia hanya merindukan tetesan air, jatuh berkali-kali, perlahan-lahan, hingga permukaannya berlubang. Seperti hujan sore itu.

 “Heh! Kalian tahu besok hari apa?” seru Dani tiba-tiba.

“Hari Sabtu?” jawab Bintang polos.

“Bukan. Besok itu tanggal 2 Mei, Hari Pendidikan Nasional.”

“Terus kenapa?” sahut Eriska.

“Biasanya, di kampung kita ini, setiap Hardiknas akan ada orang-orang kota yang mampir membagi hadiah.”

“Hadiah?” Aku spontan menoleh.

“Iya. Bisa berupa sepatu, buku, tas, dan banyak lagi.”

Mataku seketika berbinar. Aku melirik sepatuku yang berlubang, lalu membayangkan sepasang sepatu baru yang bisa melindungi kakiku dari kerikil dan lumpur sepanjang perjalanan ke sekolah.

“Memangnya tahun ini mereka datang lagi?” tanyaku penuh harap.

Dani mengangkat bahu. “Entahlah. Tahun lalu mereka datang membawa banyak barang. Katanya, supaya anak-anak di kampung kita semakin semangat sekolah.”

Aku terdiam sejenak. Kalau begitu, semoga besok mereka datang lagi. Bukan hanya untukku, tetapi juga untuk Bu Guru yang sepatunya sudah mulai menganga. Agar wajah Bu Guru tidak murung lagi.

Aku tidak sabar menunggu hari esok.

Sejak tadi, pikiranku dihinggapi bayangan sebuah kado berisi sepatu baru yang selama ini kuimpikan. Sepatu dengan sol utuh dan tali yang tidak perlu lagi kuikat erat-erat agar tidak lepas. Aku bahkan sempat terkekeh membayangkan akan ada seseorang yang datang membawa kabar berita lebih besar, kalau gubuk sekolah kami itu akan disulap jadi sebuah bangunan sekolah yang lebih kokoh dan megah seperti di kota-kota.

Tapi untung cepat aku menepisnya.

Ah, mana mungkin! Rasanya terlalu muluk untuk diharapkan.

Kata Pak Kepala Sekolah, membangun sekolah membutuhkan banyak biaya. Katanya lagi, pemerintah punya anggaran untuk pendidikan, tetapi mungkin uangnya belum cukup untuk membelikan kami dinding beton, atap yang tidak bocor, dan lantai yang tidak becek saat hujan. Walau aku tidak begitu mengerti apa itu anggaran.

Yang kutahu cuma, Ayah yang harus berangkat pagi-pagi ke kebun karet milik orang untuk menyadap, sementara Ibu membantu tetangga mengumpulkan berondolan sawit agar kami punya uang untuk membeli beras. Kadang-kadang, ayah pulang dengan pakaian berlumur getah dan Ibu membawa beberapa lembar uang masai hasil kerjanya.

Kalau mereka saja harus bekerja sekeras itu untuk memenuhi kebutuhan kami, dari mana pemerintah mendapatkan uang sebanyak itu? Dan kalau uangnya memang ada, mengapa sekolah kami masih seperti ini? Ah, sudahlah. Mungkin membangun sekolah memang jauh lebih sulit daripada membagi-bagikan hadiah dan makanan.

Ternyata, keesokan paginya, apa yang dikatakan Hajar benar. Sekelompok bapak dan ibu berseragam warna emas datang menggunakan truk yang bodinya berlumuran tanah merah. Mereka membawa berkantong-kantong barang yang kemudian dibagikan kepada kami semua di kelas. Sepatu-sepatu hitam mereka mengilap, meskipun ada sedikit bercak tanah liat di bagian bawahnya.

Wajah mereka cerah dan ceria, apalagi ketika sedang berada di depan kamera, saat mereka berfoto bersama kami saat kantong-kantong hadiah ini dibagikan. Duh, manis sekali senyum mereka.

Aku mengintip isi kantong yang dibagikan. Ada beras, minyak goreng, gula, cemilan dan buah, dan ada lagi, buku tulis, pensil, peraut dan.....

Oh, ternyata tidak ada sepatu?

Di mana sepatunya?

Aku mengernyit penuh tanda tanya. Ketika mereka telah selesai memimbarkan pidato, dan ingin pamit pulang, aku mengejar salah satu dari mereka. Tujuanku cuma satu, ingin meminta sepasang sepatu.

"Pak... Tunggu!"

Awalnya tidak ada satu pun yang bergeming. Sampai aku menarik salah satu lengan seseorang yang paling tertinggal di belakang. Ia menyentuh rambutku yang bergumpal karena cucuran keringat.

"Ada apa, Dik? Apa ada yang tertinggal?"

Aku menggeleng, menukikkan tengadah ke hidungnya.

"Mana sepatunya?"

"Sepatu?"

Iya. Aku menunjukkan ujung sepatuku yang sudah terbuka, memperlihatkan jempol yang berbalut kain karena luka.

Aku mendengar ia menghela. Tanpa satu patah kata apa pun. Ia bergegas kembali ke mobil dan mereka melaju tanpa memandang lagi ke belakang.

Eh, kamu tahu tidak, dicuekin begitu sangat membuatku kesal!

Padahal, aku tidak meminta sesuatu yang mahal. Aku hanya ingin sepatu agar bisa ke sekolah tanpa rasa nyeri di kaki. Mengapa orang-orang penting di sana tidak pernah mendengarkan keluhan orang kecil seperti kami? Untuk apa mereka datang jauh-jauh, dengan susah payah, tapi tidak benar-benar memberikan apa yang paling dibutuhkan?

Bukannya di pundak mereka sudah diberikan amanah?

Aku berdengus. Emosiku naik turun. Sampai ketika aku menatap biru langit yang menghitam, aku mulai tenang dan menyadari.

Barangkali, sebagai anak kecil aku memang sok tahu. Atau... Oh, atau....

Agaknya mereka memang anak batu!

Ya, mereka batu!

Mungkin mereka salah satu anak batu.

Lalu,....

Kapan aku punya sepatu baru?


*****



Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke: