Customer Service

AYAH TIDAK PERNAH BERTANYA, “KAMU BAIK-BAIK SAJA?”

100%

AYAH TIDAK PERNAH BERTANYA, “KAMU BAIK-BAIK SAJA?”

Not yet available in the requested language -- showing the original version.

AYAH TIDAK PERNAH BERTANYA, “KAMU BAIK-BAIK SAJA?”

Wira Nawasena

Ayah tidak pernah bertanya apakah aku baik-baik saja.

Tidak pernah.

Ketika aku pulang terlambat, ia hanya bertanya,

“Sudah makan?”

Ketika aku mendapat nilai buruk, ia bertanya,

“Sudah belajar?”

Ketika aku berhenti dari pekerjaan pertama, ia bertanya,

“Besok mau ke mana?”

Bahkan ketika suatu malam aku pulang dengan mata sembap dan kepala yang penuh oleh sesuatu yang tidak sanggup kuceritakan, ayah hanya berkata,

“Parkir motornya jangan di depan pintu.”

Begitulah ayah.

Ia tidak pandai bertanya tentang perasaan.

Ia bahkan mungkin tidak tahu bahwa beberapa pertanyaan tidak membutuhkan jawaban.

Beberapa pertanyaan hanya membutuhkan seseorang yang bersedia tinggal.

Aku dan ayah tidak pernah benar-benar bertengkar.

Kami hanya tidak pernah benar-benar berbicara.

Ada perbedaan antara keduanya.

Pertengkaran setidaknya memiliki suara.

Kami tidak.

Ketika aku kecil, ayah sering mengajakku memperbaiki sepeda.

Ia mengajariku mengganti rantai.

Mengisi angin.

Memasang rem.

Mengencangkan baut.

Kalau aku salah memasang sesuatu, ia tidak marah.

Ia hanya berkata,

“Coba lagi.”

Aku tumbuh dengan dua kata itu.

Coba lagi.

Tetapi semakin besar aku, semakin jarang ayah mengatakan apa pun.

Aku mulai sekolah menengah.

Kemudian kuliah.

Kemudian bekerja.

Dan jarak di antara kami tumbuh bukan dalam kilometer, melainkan dalam percakapan yang tidak pernah terjadi.

Aku tidak tahu apa yang dipikirkan ayah.

Ayah tidak tahu apa yang kupikirkan.

Kami tinggal di rumah yang sama, tetapi masing-masing seperti memiliki sebuah negara kecil di dalam kepala.

Malam itu aku pulang pukul sebelas.

Lampu teras masih menyala.

Aku membuka pagar perlahan.

Ayah duduk di kursi plastik.

Ia belum tidur.

“Kok belum tidur?”

“Menunggu.”

“Siapa?”

“Kamu.”

Aku terdiam.

Ayah berdiri.

“Sudah makan?”

“Belum.”

“Ada nasi.”

Aku mengangguk.

“Besok kerja?”

“Iya.”

Ayah masuk ke rumah.

Aku mengikutinya.

Tidak ada pertanyaan lain.

Aku sebenarnya ingin mengatakan bahwa hari itu aku baru saja gagal dalam wawancara kerja.

Aku ingin mengatakan bahwa aku mulai takut.

Takut tidak punya masa depan.

Takut mengecewakan keluarga.

Takut menjadi seseorang yang tidak berhasil.

Tetapi ayah tidak bertanya.

Jadi aku tidak bercerita.

Malam itu kami makan dalam diam.

Aku memandangi ayah dari seberang meja.

Ia mengunyah pelan.

Kemudian mengambil lauk.

Aku ingin mengatakan sesuatu.

Tetapi kata-kata yang sudah terlalu lama disimpan sering kali kehilangan jalan untuk keluar.

Beberapa hari kemudian, aku melihat sebuah foto lama.

Aku sedang membereskan lemari ketika sebuah album jatuh.

Sampulnya sudah kusam.

Aku membukanya.

Ada foto ulang tahunku yang ketujuh.

Aku berdiri di depan kue.

Ibu tersenyum.

Ayah berdiri di belakangku.

Wajahnya terlihat kaku.

Seperti biasa.

Aku tersenyum melihat foto itu.

Kemudian menemukan sesuatu yang tidak pernah kuperhatikan sebelumnya.

Tangan ayah berada di pundakku.

Tidak terlihat jelas.

Hanya sedikit.

Tetapi ada.

Aku membuka foto berikutnya.

Hari pertama masuk sekolah.

Tangan ayah memegang tanganku.

Foto berikutnya.

Aku naik sepeda.

Ayah berlari di belakangku.

Foto berikutnya.

Aku menerima ijazah.

Ayah berdiri di sampingku.

Aku mulai menyadari sesuatu yang mengganggu.

Mungkin ayah memang tidak pernah mengatakan banyak hal.

Tetapi tangannya selalu ada.

Aku menelepon ayah suatu sore.

“Yah.”

“Hm?”

“Sedang apa?”

“Di bengkel.”

“Bengkel?”

“Motor rusak.”

“Oh.”

Hening.

“Yah.”

“Iya?”

Aku ingin mengatakan:

Aku sedang tidak baik-baik saja.

Tetapi yang keluar justru,

“Sudah makan?”

Ayah tertawa kecil.

“Sudah.”

Aku ikut tertawa.

Percakapan selesai.

Aku meletakkan ponsel.

Kemudian menyadari sesuatu yang lebih menyedihkan daripada tidak ditanya.

Aku sendiri bahkan tidak tahu bagaimana cara meminta untuk didengarkan.

Pekerjaan keduaku juga tidak bertahan lama.

Bukan karena aku dipecat.

Aku yang mengundurkan diri.

Lingkungannya buruk.

Atasan sering merendahkan.

Jam kerja tidak manusiawi.

Gaji terlambat.

Aku pulang ke rumah dengan membawa sebuah kardus kecil berisi barang-barang dari meja kerja.

Ayah melihatku.

“Kenapa?”

“Berhenti.”

Ia diam.

“Kenapa?”

Aku menjelaskan.

Panjang.

Untuk pertama kalinya.

Tentang pekerjaan.

Tentang atasan.

Tentang rasa lelah.

Tentang malam-malam ketika aku pulang dan tidak ingin berbicara dengan siapa pun.

Tentang perasaan gagal.

Tentang ketakutan.

Ayah mendengarkan.

Tidak menyela.

Tidak memberi nasihat.

Setelah aku selesai, ia hanya berkata,

“Besok istirahat dulu.”

Aku menatapnya.

“Cuma itu?”

Ayah mengerutkan dahi.

“Mau apa?”

Aku tertawa getir.

“Tidak tahu.”

Ayah duduk.

Kemudian menepuk kursi di sebelahnya.

Aku duduk.

Beberapa menit kami diam.

Lalu ayah berkata,

“Dulu waktu Ayah seusia kamu, Ayah pernah berhenti kerja juga.”

Aku menoleh.

“Serius?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena capek.”

Aku tertawa.

“Terus?”

“Ya cari kerja lagi.”

“Takut?”

Ayah mengangguk.

“Takut.”

Aku tidak pernah membayangkan ayah mengucapkan kata itu.

Takut.

Ayah yang selama ini kupikir selalu tahu harus berbuat apa ternyata pernah takut juga.

“Kenapa Ayah tidak pernah cerita?”

Ia mengangkat bahu.

“Tidak pernah ditanya.”

Aku diam.

Kalimat itu sederhana.

Tetapi rasanya seperti seseorang baru saja membuka pintu yang selama bertahun-tahun terkunci.



Malam itu kami duduk lebih lama.

Ayah bercerita tentang pekerjaan pertamanya.

Tentang gaji kecil.

Tentang pernah ditipu.

Tentang pernah meminjam uang dari temannya.

Tentang bagaimana ia dan ibu dulu membeli rumah ini sedikit demi sedikit.

Tentang hari ketika aku lahir.

Tentang rasa takutnya ketika pertama kali menjadi ayah.

“Ayah takut?”

“Iya.”

“Takut apa?”

“Takut tidak bisa jadi ayah yang baik.”

Aku menatap wajahnya.

Untuk pertama kalinya aku melihat ayah bukan sebagai ayah.

Tetapi sebagai manusia.

Seorang laki-laki yang dulu juga pernah berusia dua puluhan.

Pernah bingung.

Pernah gagal.

Pernah menangis.

Pernah tidak tahu harus memilih apa.

Seseorang yang kemudian menjadi ayah tanpa pernah menerima buku petunjuk.

Aku bertanya,

“Terus kenapa Ayah tidak pernah bilang?”

Ia tersenyum.

“Karena Ayah kira anak-anak tidak perlu tahu orang tuanya takut.”

Aku menggeleng.

“Kadang-kadang anak perlu tahu.”

Ayah diam.

Kemudian mengangguk.

“Mungkin.”



Sejak malam itu, hubungan kami tidak berubah secara ajaib.

Ayah masih jarang bertanya.

Aku masih sering menjawab pendek.

Kami masih makan sambil menonton televisi.

Ayah masih mengingatkanku mematikan lampu.

Aku masih lupa.

Hal-hal kecil tetap sama.

Tetapi ada sesuatu yang berubah.

Aku mulai bertanya.

“Yah, hari ini bagaimana?”

“Capek.”

“Kenapa?”

“Bengkel ramai.”

Kadang jawabannya pendek.

Kadang panjang.

Tetapi setidaknya sekarang ada percakapan.

Aku mulai tahu bahwa ayah suka kopi pahit.

Bahwa ia pernah ingin menjadi guru.

Bahwa ia sebenarnya takut naik pesawat.

Bahwa ia tidak suka rumah terlalu ramai.

Bahwa ia menyimpan uang receh di laci meja.

Bahwa ia masih menyimpan kartu ucapan yang kuberikan ketika SMP.

Dan bahwa ia setiap malam memeriksa pintu dua kali sebelum tidur.

Aku tidak tahu semua itu.

Padahal kami sudah hidup bersama selama lebih dari dua puluh tahun.

Suatu malam, aku pulang lebih larut dari biasanya.

Ayah masih duduk di teras.

Aku mematikan motor.

Ia melihatku.

“Kamu baik-baik saja?”

Aku berhenti.

Aku menatapnya.

Ayah juga menatapku.

Pertanyaan itu akhirnya datang.

Setelah bertahun-tahun.

Aku tersenyum.

“Iya, Yah.”

Kemudian aku berhenti sebentar.

“Sekarang iya.”

Ayah mengangguk.

“Bagus.”

Ia berdiri.

“Sudah makan?”

Aku tertawa.

“Nah, balik lagi.”

Ayah ikut tertawa.

Kami masuk ke rumah.

Beberapa bulan kemudian, aku mendapat pekerjaan.

Tidak sempurna.

Tidak sesuai dengan rencana masa kecil.

Gajinya cukup.

Aku mulai menabung.

Ibu senang.

Ayah tidak mengatakan banyak.

Hari pertama menerima gaji, aku membeli sesuatu untuknya.

Sebuah jam tangan sederhana.

Aku memberikannya setelah makan malam.

“Untuk Ayah.”

Ia melihat kotaknya.

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

Ia membukanya.

Jam tangan itu tidak mahal.

Ayah memakainya.

“Bagus?”

“Bagus.”

Ia mengangkat tangannya.

Melihat jam itu.

Kemudian berkata,

“Terima kasih.”

Aku mengangguk.

Selesai.

Tetapi malam itu aku melihat ayah beberapa kali melihat jam tersebut.

Waktu berjalan.

Aku semakin sibuk.

Pekerjaan bertambah.

Teman-teman mulai menikah.

Beberapa pindah kota.

Beberapa berhenti menghubungi.

Aku pun mulai mengerti bahwa dewasa adalah melihat lingkaran kehidupan mengecil tanpa tahu siapa yang akan tersisa.

Ayah semakin tua.

Rambutnya memutih.

Langkahnya melambat.

Tangannya tidak lagi sekuat dulu.

Suatu pagi, aku melihatnya mencoba memperbaiki keran.

Aku mengambil alat dari tangannya.

“Biar aku.”

Ayah menyerahkannya.

Aku memperbaiki keran itu.

Ayah berdiri di sampingku.

“Sudah bisa?”

“Bisa.”

Ia tersenyum.

“Dulu Ayah yang ajari.”

Aku menoleh.

“Iya.”

Kami diam.

Tiba-tiba aku teringat sepeda kecilku.

Tangan ayah yang mendorong dari belakang.

Suara yang berkata:

“Coba lagi.”

Aku tersenyum.

“Yah.”

“Hm?”

“Terima kasih.”

Ayah menatapku.

“Untuk apa?”

“Banyak.”

Ia menggeleng.

“Tidak usah.”

Aku tertawa.

“Kenapa?”

“Bapak-bapak memang begitu.”

Aku tidak tahu apa artinya.

Tetapi mungkin ayah juga tidak tahu.

Setahun setelah percakapan kami malam itu, aku menemukan sebuah buku kecil di laci meja ayah.

Bukan buku harian.

Hanya catatan sederhana.

Nama-nama.

Tanggal.

Pengeluaran.

Nomor telepon.

Di salah satu halaman, aku menemukan namaku.

Di bawahnya ada beberapa tulisan.

Tanggal pertama aku masuk sekolah.

Tanggal wisuda.

Tanggal pekerjaan pertama.

Tanggal aku pulang setelah berhenti bekerja.

Tanggal aku mendapatkan pekerjaan baru.

Aku membacanya pelan.

Di samping tanggal terakhir, ayah menulis:

“Anak sudah mulai baik.”

Aku menutup buku.

Dadaku sesak.

Selama ini aku pikir ayah tidak memperhatikan.

Ternyata ia mencatat.

Ia hanya tidak pandai mengucapkan.

Aku mengembalikan buku itu.

Tidak kuberitahukan bahwa aku telah membacanya.

Beberapa hal mungkin lebih baik dibiarkan menjadi rahasia kecil antara seorang anak dan rasa cintanya kepada ayah.

Malam itu aku duduk di teras.

Ayah sudah tidur.

Aku memandang kursi kosong di sebelahku.

Kemudian menyadari bahwa selama bertahun-tahun aku terlalu sibuk menunggu ayah bertanya,

“Kamu baik-baik saja?”

Padahal mungkin aku juga harus belajar bertanya,

“Ayah baik-baik saja?”

Aku baru mengerti bahwa cinta tidak selalu hadir dalam kalimat yang kita harapkan.

Kadang ia hadir dalam nasi yang disisakan.

Dalam lampu teras yang sengaja dinyalakan.

Dalam suara motor yang ditunggu sampai masuk pagar.

Dalam uang yang diselipkan diam-diam.

Dalam nasihat yang terdengar seperti teguran.

Dalam kursi yang selalu dibiarkan kosong sampai kita pulang.

Dan dalam seorang ayah yang tidak pernah bertanya apakah anaknya baik-baik saja karena mungkin sejak awal ia telah menghabiskan seluruh hidupnya untuk memastikan jawabannya adalah:

iya.

Aku masuk ke kamar.

Sebelum tidur, aku mengirim pesan kepada ayah.

“Yah, besok jangan lupa sarapan.”

Beberapa menit kemudian, balasannya masuk.

“Kamu juga.”

Aku tersenyum.

Dua kata.

Hanya dua kata.

Tetapi malam itu rasanya cukup.

Karena akhirnya aku mengerti.

Ada orang-orang yang mencintai kita dengan bahasa yang tidak pernah kita pelajari.

Dan kadang-kadang, menjadi dewasa bukan tentang memaksa mereka berbicara dengan bahasa kita.

Melainkan belajar memahami bahasa mereka.

Ayah tidak pernah bertanya,

“Kamu baik-baik saja?”

Tetapi selama bertahun-tahun, tanpa pernah mengatakannya, ia selalu memastikan aku punya tempat untuk pulang.

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke: