Bab 1 dari 2
Not yet available in the requested language -- showing the original version.
Malam itu, nama Bella seolah tidak lagi milik dirinya sendiri. Nama itu terpampang di layar-layar besar toko buku, muncul di halaman utama berbagai situs penjualan buku, dibicarakan oleh para pembaca di media sosial, bahkan disebut berkali-kali oleh pembawa acara televisi yang sejak sore mengulas keberhasilan novel terbarunya. Bayangan Sang Raja baru saja mencatat penjualan yang bahkan tidak pernah berani Bella bayangkan ketika pertama kali menuliskan kalimat pembukanya beberapa bulan lalu. Novel kriminal itu menjadi bestseller hanya dalam hitungan minggu, mengalahkan banyak judul terkenal yang telah lebih dulu memenuhi rak-rak toko buku. Orang-orang menyukai cara Bella menggambarkan dunia mafia yang kelam, penuh pengkhianatan, transaksi rahasia, kekuasaan, dan kematian. Mereka memuji detail yang terasa begitu nyata, seolah penulisnya pernah berdiri di dalam ruangan tempat para mafia membuat kesepakatan atau menyaksikan sendiri bagaimana seorang pengkhianat dihukum oleh orang-orang yang tidak mengenal belas kasihan. Namun bagi Bella, semua itu hanyalah cerita. Sebuah dunia yang ia bangun dari riset panjang, potongan berita, dokumenter, artikel lama, wawancara, dan imajinasinya sendiri. Ia tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari orang-orang akan bertanya dari mana ia mendapatkan semua detail tersebut, apalagi bahwa ada seseorang di luar sana yang mungkin menganggap novel itu bukan sekadar karya fiksi.
Bella berdiri di balkon apartemennya sambil memegang segelas anggur yang belum sempat diminumnya. Kota di bawah sana masih hidup meskipun waktu telah melewati tengah malam. Lampu kendaraan bergerak seperti garis-garis cahaya di antara gedung tinggi, sementara suara kota terdengar samar dari kejauhan. Ponselnya terus bergetar di atas meja kecil di belakangnya. Pesan dari editor, ucapan selamat dari teman-teman, pemberitahuan mengenai wawancara, undangan acara, dan ribuan komentar pembaca datang tanpa henti. Seharusnya ia merasa bahagia. Dan memang, sebagian dirinya bahagia. Selama bertahun-tahun Bella menulis dalam kesunyian, menghabiskan malam dengan mata lelah di depan laptop, berkali-kali menghapus halaman yang sudah selesai karena merasa tulisannya tidak cukup bagus. Ia pernah mengalami masa ketika tidak ada penerbit yang mau membaca naskahnya. Ia pernah mengirimkan proposal kepada banyak perusahaan dan menerima penolakan demi penolakan. Namun malam ini semuanya berubah. Namanya dikenal. Novelnya dibaca jutaan orang. Bahkan adaptasi film mulai dibicarakan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Bella merasa semua malam tanpa tidur itu terbayar.
Ia tersenyum kecil ketika membaca salah satu komentar pembaca yang mengatakan bahwa Bayangan Sang Raja terasa terlalu nyata untuk disebut fiksi. Bella menggeleng sambil tertawa pelan. “Kalau kalian tahu berapa banyak waktu yang kuhabiskan untuk riset,” gumamnya, lalu kembali memandang kota. Baginya, detail adalah bagian paling penting dari sebuah cerita. Ia tidak ingin menulis mafia seperti gambaran sederhana yang sering muncul dalam film. Ia ingin menciptakan dunia yang memiliki aturan sendiri, memiliki hierarki, memiliki loyalitas, pengkhianatan, ketakutan, dan konsekuensi. Karena itulah ia melakukan riset begitu dalam. Ia membaca tentang organisasi kriminal, sejarah keluarga mafia Italia, sistem pencucian uang, jalur perdagangan gelap, dan berbagai kasus kriminal yang pernah diberitakan. Semua informasi itu kemudian ia ubah menjadi fiksi. Ia menciptakan sebuah keluarga mafia bernama De Luca, seorang pemimpin bernama William, sebuah rumah besar di tepi danau, dan seorang pengkhianat yang menggunakan nama sandi Crow. Semuanya hanyalah bagian dari cerita. Setidaknya itulah yang selalu diyakini Bella.
Di tempat lain, jauh dari apartemen Bella yang dipenuhi cahaya kota, sebuah ruangan besar tenggelam dalam keheningan. Tidak ada suara televisi. Tidak ada musik. Tidak ada percakapan. Hanya suara jarum jam yang bergerak perlahan dan suara halaman buku yang dibalik satu demi satu. Seorang pria duduk sendirian di balik meja kayu mahoni yang besar. Lampu di atas meja menerangi sebagian wajahnya, sementara sisi lainnya tenggelam dalam bayangan. Ia mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku. Rambut gelapnya tertata rapi, tetapi beberapa helai jatuh ke dahinya setelah berjam-jam membaca. Di hadapannya terletak sebuah buku dengan sampul hitam sederhana. Judulnya tercetak jelas di tengah sampul.
Bayangan Sang Raja.
William De Luca sudah membaca buku itu untuk ketiga kalinya.
Dan setiap kali sampai pada halaman tertentu, perasaan yang sama kembali muncul di dalam dirinya.
Bukan kagum atau penasaran, Melainkan kemarahan.
Jari William berhenti di atas sebuah halaman. Matanya bergerak perlahan membaca kalimat yang sudah ia hafal sejak dua malam sebelumnya. Dalam novel itu, seorang bos mafia Italia mengambil alih kekuasaan setelah kematian ayahnya. Ia digambarkan sebagai pria yang dingin, penuh perhitungan, dan tidak pernah mempercayai siapa pun sepenuhnya. Ia memiliki sebuah rumah rahasia di tepi danau yang hanya diketahui oleh beberapa orang kepercayaannya. Ia mempunyai jaringan transaksi yang tersebar di beberapa kota. Bahkan ada satu adegan yang menggambarkan pertemuan rahasia antara seorang hakim dan tangan kanan sang bos mafia. William menutup matanya selama beberapa detik. Itu bukan sekadar kebetulan. Tidak mungkin sebanyak itu kebetulan.
Ia membuka kembali halaman tersebut.
Rumah di tepi danau.
Deskripsi lokasinya hampir sama.
Bukan sekadar rumah dengan danau. Penulis itu menggambarkan jalan menuju rumah tersebut, pepohonan di sekitar properti, bahkan kebiasaan sang pemilik untuk tidak menggunakan jalan utama ketika datang ke sana.
William menatap halaman itu cukup lama.
Hanya ada sedikit orang yang mengetahui tempat tersebut.
Sangat sedikit.
Dan sebagian besar dari mereka telah bersumpah untuk tidak pernah membicarakannya.
Tangannya perlahan mengepal.
“Siapa kau sebenarnya, Bella?”
Nama itu tertulis di bagian belakang sampul buku sebagai nama penulis. Bella.
Seorang wanita yang, menurut informasi awal yang ia terima, tidak memiliki hubungan dengan dunia kriminal. Tidak pernah terlihat bergaul dengan orang-orang dari organisasinya. Tidak memiliki hubungan keluarga yang mencurigakan. Tidak pernah bepergian ke beberapa tempat yang disebutkan dalam novel. Tidak memiliki catatan yang menunjukkan bahwa ia pernah berhubungan dengan orang-orang yang seharusnya mengetahui rahasia-rahasia tersebut.
Itulah yang membuat semuanya jauh lebih buruk.
Jika Bella adalah mata-mata, William bisa memahami situasinya.
Jika Bella adalah bagian dari organisasi saingan, semuanya menjadi masuk akal.
Tetapi jika perempuan itu benar-benar hanya seorang penulis?
William tidak menyukai kemungkinan itu.
Ia mengambil buku tersebut dan membalik beberapa halaman berikutnya. Di dalam cerita, sang raja mafia menemukan adanya pengkhianat di lingkaran terdalamnya. Pengkhianat itu menggunakan sebuah nama sandi.
Crow.
Mata William berhenti.
Ruangan yang sebelumnya sunyi terasa semakin dingin.
Crow.
Nama itu bukan nama fiksi bagi William.
Nama itu adalah sebuah bayangan yang telah beberapa bulan menghantui organisasinya.
Tidak banyak orang mengetahui keberadaan Crow. Bahkan beberapa orang yang bekerja untuk William selama bertahun-tahun tidak tahu bahwa ia sedang mencari seorang pengkhianat dengan nama sandi tersebut. Informasi mengenai Crow hanya pernah dibicarakan dalam lingkaran yang sangat terbatas. Namun sekarang nama itu tercetak jelas di dalam sebuah novel yang sedang dibaca jutaan orang di seluruh dunia.
William menutup buku itu perlahan.
Kemudian membukanya lagi.
Ia membaca bagian tersebut sekali lagi.
Tidak ada perubahan.
Nama itu tetap di sana.
Crow.
William bersandar di kursinya. Rahangnya mengeras. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia merasakan sesuatu yang tidak disukainya.
Keraguan.
Bukan keraguan terhadap dirinya sendiri, tetapi terhadap orang-orang yang berada di sekelilingnya.
Seseorang telah membocorkan informasi.
Atau seseorang telah memberikan informasi itu kepada Bella.
Kemungkinan kedua bahkan lebih berbahaya.
William mengambil ponselnya dari atas meja dan menekan satu nomor. Panggilan tersambung setelah beberapa detik.
“Cari semua informasi tentang Bella.”
Suara di seberang langsung menjawab, “Penulis novelnya?”
“Ya.”
“Ada sesuatu yang khusus ingin Anda cari?”
William menatap buku di hadapannya.
“Segalanya.”
Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan dengan suara rendah, “Masa lalu, keluarga, pekerjaan, perjalanan, orang-orang yang pernah berhubungan dengannya. Aku ingin tahu siapa yang memberinya informasi tentang organisasiku.”
“Baik, Tuan.”
Panggilan berakhir.
William tidak langsung meletakkan ponselnya. Pandangannya kembali tertuju pada buku tersebut.
Ada sesuatu yang aneh mengenai tulisan Bella.
Ia tidak hanya menuliskan tindakan-tindakan kriminal. Ia menuliskan kebiasaan. Cara berpikir. Cara seorang pemimpin mengambil keputusan. Cara orang-orang di sekelilingnya berbicara ketika sedang menyembunyikan sesuatu. Bahkan beberapa percakapan terasa seperti percakapan yang pernah terjadi di ruangan-ruangan yang hanya boleh dimasuki oleh orang-orang tertentu.
William sudah bertahun-tahun hidup di dunia yang mengajarinya untuk mencurigai segala sesuatu.
Ia tidak percaya pada kebetulan.
Tidak percaya pada keberuntungan.
Dan terlebih lagi, ia tidak percaya pada orang yang mengetahui terlalu banyak.
Ia kembali membaca novel itu sampai halaman terakhir. Ketika akhirnya menutupnya, jam di dinding menunjukkan pukul tiga lewat empat puluh menit pagi.
Sudah tiga malam ia tidak tidur dengan benar.
Tiga malam ia membaca buku yang sama.
Tiga malam ia mencari jawaban yang belum ia temukan.
William berdiri dari kursinya dan berjalan menuju jendela besar di belakang ruangan. Dari sana, kota terlihat seperti lautan cahaya. Banyak orang sedang tidur tanpa mengetahui bahwa di balik gedung-gedung tinggi itu ada dunia lain yang berjalan dengan aturan berbeda.
Dunia yang ia kuasai.
Dunia yang selama bertahun-tahun dibangun dengan darah, kesetiaan, dan rasa takut.
Namun sekarang, sebuah buku telah berhasil menyentuh rahasia-rahasia yang seharusnya tidak pernah keluar.
William menatap pantulan dirinya sendiri di kaca.
“Siapa yang memberitahumu?”
Tidak ada jawaban.
Hanya pantulan wajah dinginnya sendiri.
Sementara itu, di apartemennya, Bella akhirnya meninggalkan balkon dan kembali ke ruang kerjanya. Ia duduk di depan laptop dan membuka dokumen kosong. Meskipun novel terbarunya baru saja menjadi bestseller, pikirannya sudah dipenuhi ide untuk cerita berikutnya. Ia mengetik beberapa kata, kemudian berhenti.
Bella tersenyum.
Sebuah ide baru muncul di kepalanya.
Ia belum tahu bahwa di kota yang sama, seorang pria sedang membaca bukunya untuk ketiga kalinya.
Ia belum tahu bahwa nama yang ia ciptakan untuk tokoh fiksi bernama William De Luca ternyata adalah nama seorang pria yang benar-benar ada.
Ia juga belum tahu bahwa bagi pria itu, Bayangan Sang Raja bukanlah sebuah novel.
Itu adalah ancaman.
Dan mulai malam itu, tanpa Bella sadari, hidupnya perlahan akan berubah.
Karena untuk pertama kalinya, seorang pembaca tidak hanya ingin mengetahui bagaimana cerita Bella berakhir.
Ia ingin mengetahui siapa penulisnya.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya