Customer Service

The Pyramid Queen’s Nemesis

Bab 1 dari 1

100%

Bab 1: CHAPTER 1 : KASTA DI BALIK LORONG MERAH

Not yet available in the requested language -- showing the original version.

Lorong SMA Starlight selalu terasa terlalu dingin untuk ukuran sekolah swasta di tengah kota. Dinding-dindingnya yang dilapisi cat abu-abu gelap tampak angkuh, berpadu sempurna dengan lampu-lampu LED panjang yang terpasang di langit-langit. Namun, pagi itu, ada atmosfer berbeda yang merayap di bawah kulit Vony. Suasana sekolah tidak hanya dingin, tapi juga dipenuhi oleh keheningan yang janggal,keheningan seolah yang memuat ketakutan terselubung dalam dirinya


?Vony menggenggam erat tali ransel hitamnya. Langkah kakinya yang terbalut sepatu pantofel hitam berdecit halus di atas lantai granit. Ia mengenakan seragam khas SMA Starlight: kemeja putih bersih dengan dasi bermotif garis-garis gelap, dibungkus blazer abu-abu berlogo mahkota emas di dada kiri, serta rok lipat sejengkal di atas lutut.


?Di sepanjang koridor, puluhan pasang mata menatapnya. Ada yang menatap dengan iba, ada yang berbisik di balik telapak tangan, dan tak sedikit yang melemparkan pandangan meremehkan seolah Vony adalah hama yang baru saja melompati pagar sekolah.


?Vony menarik napas dalam-dalam, menegakkan bahunya. Aku hanya murid pindahan, batinnya menenangkan diri. Tidak ada yang perlu ditakutkan.


?Namun, langkahnya terhenti saat mendekati deretan loker utama. Di sana, di depan loker bernomor 104 yang baru saja diserahterimakan kepadanya lima belas menit lalu oleh bagian tata usaha, sekelompok siswa sedang berkumpul. Di tengah kerumunan itu, sebuah stiker besar berwarna merah menyala tertempel tepat di pintu loker miliknya.


?Stiker itu berbentuk piramida terbalik dengan huruf 'F' besar tertera di tengahnya.


?"Wah, cepat sekali hasilnya keluar," bisik seorang siswi berambut gelombang yang berdiri tak jauh dari Vony.


?"Kasian ya, hari pertama pindah langsung kena tingkatan F," sahut temannya dengan nada berpura-pura simpati, meski senyum tipis di bibirnya membocorkan rasa puas. "Berarti mulai hari ini dia resmi jadi punching bag sekolah."


?Vony melangkah mendekati lokernya tanpa keraguan. Ia mengabaikan tatapan memusuhinya dari siswa-siswa di sekitarnya. Tangan kirinya terulur, meraih ujung stiker merah itu, lalu mengelupasnya dengan satu gerakan cepat. Suara robekan kertas bergaung nyaring di koridor yang mendadak sunyi.


?"Apa yang baru saja kamu lakukan?"


?Sebuah suara dingin dan tajam memotong keheningan. Kerumunan siswa di lorong itu serta-merta terbelah dua, memberikan jalan bagi seorang gadis yang berjalan dengan keanggunan seorang ratu.


?Gadis itu adalah Valerie. Seragamnya tampak sempurna tanpa celat sedikit pun. Rambut hitamnya yang panjang terurai indah, dan wajahnya dipoles makeup tipis yang menonjolkan fitur wajahnya yang tegas. Di belakangnya, dua orang siswi mengekor seperti pengawal pribadi. Valerie memegang sebuah ponsel keluaran terbaru di tangan kanannya, sementara jari-jarinya yang bermeniti rapi mengetuk-ngetuk bingkai ponsel itu.


?"Kamu mencopot label kasta kamu sendiri, Murid Pindahan?" tanya Valerie sambil menghentikan langkah tepat dua meter di hadapan Vony. Mata tajamnya menatap kertas merah di tangan Vony seolah benda itu adalah kotoran.


?"Ini lokerku," jawab Vony datar, menatap lurus ke dalam manik mata Valerie tanpa gentar sedikit pun. "Aku tidak merasa memesan stiker sampah ini untuk menempel di propertiku."


?Beberapa siswa di sekitar mereka menahan napas. Belum pernah ada seorang pun terutama murid baru yang berani menatap Valerie seperti itu, apalagi menjawab dengan nada menantang.


?Valerie terkekeh pelan, sebuah suara renyah yang sama sekali tidak menembus matanya yang tetap dingin. "Sampah? Kamu menyebut aturan SMA Starlight sebagai sampah?" Valerie maju satu langkah, menjejaki jarak di antara mereka. "Biarkan aku memperjelas sesuatu untuk otakmu yang mungkin belum beradaptasi. Di SMA Starlight, kami tidak menggunakan nilai akademik atau bakat untuk menentukan siapa yang berkuasa. Kami menggunakan Starlight App."


?Valerie mengangkat ponselnya, memamerkan layar yang menampilkan aplikasi khusus dengan logo piramida emas.


?"Setiap bulan, seluruh murid melakukan voting rahasia. Murid dengan poin tertinggi berada di Kasta A, memegang kendali penuh. Dan murid dengan poin terendah..." Valerie melirik stiker merah di tangan Vony, lalu tersenyum miring. "...jatuh ke Kasta F. Artinya, kamu berada di dasar piramida. Kamu tidak punya hak, kamu tidak punya suara, dan kamu adalah target sah untuk dieksekusi oleh siapa pun di atasmu."


?"Sistem kasta konyol," balasan Vony meluncur tanpa ragu. Ia meremas stiker merah itu di dalam genggamannya hingga menjadi gumpalan tak berbentuk, lalu membuangnya ke dalam tempat sampah di sebelah loker. "Aku datang ke sini untuk belajar, bukan untuk bermain drama kerajaan bersama anak-anak manja yang kekurangan perhatian."


?Suasana lorong seketika membeku. Senyum di wajah Valerie melenyap sepenuhnya, digantikan oleh aura permusuhan yang pekat.


?"Kamu akan menyesali kata-katamu, Vony," bisik Valerie penuh ancaman. Ia menoleh ke arah kerumunan di belakangnya. "Seseorang tolong ajari murid baru ini bagaimana cara memberi hormat pada Kasta A."


?Dua siswa berbadan bongsor maju dari kerumunan, memamerkan seringai jahat. Namun, sebelum salah satu dari mereka sempat menyentuh bahu Vony, sebuah suara deru mesin yang berat dan membingakkan telinga mendadak bergema dari arah halaman luar sekolah.


?BRUMMM! BRUMMM!


?Suara itu sangat keras, menggetarkan kaca-kaca jendela koridor lantai satu. Tak lama kemudian, sosok tinggi besar berjalan masuk dari pintu samping lorong. Langkah kakinya santai, mengabaikan fakta bahwa ia baru saja melanggar aturan sekolah dengan memarkirkan motor besar di area terlarang.


?Cowok itu mengenakan seragam SMA Starlight yang berantakan dan dengan kemeja putihnya tidak dimasukkan, dasinya melonggar di leher, dan di luar kemeja itu, ia melapisi tubuhnya dengan jaket kulit hitam yang memiliki logo geng motor bergambar tengkorak di bagian lengan. Helm full-face hitam tergantung santai di tangan kirinya. Rambut hitamnya sedikit acak-acakan, membalut wajah tampannya yang memiliki garis rahang tegas dan tatapan mata yang terkesan tidak peduli pada dunia.


?Nicholas. Putra tunggal dari donatur terbesar SMA Starlight, sekaligus ketua geng motor Vipers yang ditakuti di area balap liar kota.


?Kehadiran Nicholas membuat dua siswa yang tadinya hendak menyerang Vony mendadak mundur beberapa langkah. Bahkan Valerie tampak sedikit mengaitkan alisnya, menunjukkan ketidaksukaan atas gangguan tersebut.


?Nicholas berjalan melintasi lorong tanpa melirik siapa pun, seolah puluhan siswa di sana hanyalah bayangan tak berguna. Namun, saat melintas tepat di antara Vony dan Valerie, langkahnya terhenti. Mata elangnya melirik gumpalan stiker merah di tempat sampah, lalu beralih menatap Vony yang masih berdiri tegap di tempatnya.


?"Berisik sekali pagi-pagi begini," gumam Nicholas dengan suara berat dan serak. Ia menatap Valerie dengan pandangan malas. "Valerie, bisakah kamu dan geng sirkusmu ini tidak membuat keributan di depan koridor menuju kantin? Suara kalian mengganggu tidurku."


?"Nicholas," kata Valerie dengan nada tertahan, mencoba menjaga kewibawaannya. "Aku sedang menegakkan aturan sekolah. Murid pindahan ini baru saja melanggar hierarki Kasta F."


?Nicholas terkekeh sinis. Ia memutar helm di tangannya, lalu menatap Valerie dengan tatapan tajam yang membuat cewek itu terdiam. "Aturan sekolah? Atau aturan kekanak-kanakanmu?" tanya Nicholas dingin. "Aplikasi voting sialan itu cuma mainan untuk orang-orang bodoh yang butuh validasi."


?"Jaga bicaramu, Nicholas!" seru salah satu pengawal Valerie. "Bahkan kamu tidak berada di luar sistem ini!"


?Nicholas melirik siswa yang baru saja berteriak itu. Hanya dengan satu tatapan dingin dari Nicholas, siswa itu langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan mundur ke belakang tubuh Valerie.


?Nicholas kembali menatap Vony. Untuk pertama kalinya, mata hitam cowok itu meneliti wajah Vony dengan cermat. Ia melihat kelelahan di mata cewek itu, tetapi ia juga melihat sesuatu yang jarang ia temukan di SMA Starlight: api keberanian yang murni, tanpa kepura-puraan.


?"Hei, Murid Baru," panggil Nicholas datar.


?Vony menoleh, menatap cowok berjaket kulit di hadapannya. "Namaku Vony."


?"Aku tidak peduli namamu siapa," sahut Nicholas dingin, meski ada sedikit kilatan tertarik di matanya. "Jika kamu ingin bertahan hidup di tempat sampah ini, kamu punya dua pilihan: berlutut pada Valerie, atau buat sistem ini hancur sekalian."


?Setelah mengucapkan kalimat itu, Nicholas kembali melangkah pergi, meninggalkan koridor tanpa memedulikan tatapan heran dari semua orang.


?Valerie menggeletukkan giginya menahan geram. Ia menatap Vony sekali lagi, kali ini dengan kebencian yang makin mendalam. "Hari ini kamu beruntung karena Nicholas lewat. Tapi ingat ini, Vony. Mulai detik ini, hidupmu di SMA Starlight akan menjadi neraka."


?Valerie memutar tubuhnya dan berjalan pergi, diikuti oleh seluruh pengikutnya. Kerumunan siswa perlahan menyebar, meski bisik-bisik kasak-kusuk masih terdengar tajam di udara.


?Vony berdiri sendirian di depan lokernya. Ia memandang ke arah lorong tempat Nicholas baru saja menghilang, lalu beralih menatap layar ponsel di tangannya sendiri. Ia membuka aplikasi sekolah yang baru saja ia unduh pagi tadi—Starlight App. Di sana, profilnya terpampang jelas di posisi paling bawah, dikelilingi oleh bingkai merah menyala bertuliskan RANK 400 - KASTA F.


?Vony menyunggingkan senyum tipis yang dingin. Jari manisnya mengusap layar ponsel tersebut.


?"Ratu Piramida?" gumam Vony pelan pada dirinya sendiri. "Kita lihat saja seberapa cepat kerajaanmu ini runtuh."


?Bel tanda masuk berbunyi nyaring, memecah ketegangan yang tersisa di koridor. Vony merapikan blazernya, mengambil napas dalam-dalam, dan melangkah menuju kelas barunya yaitu Kelas 12-A, tempat di mana monster-monster berwajah malaikat di SMA Starlight berkumpul.


?Pelajaran pertama hari itu adalah Matematika Tingkat Lanjut yang diampu oleh Pak Gunawan, seorang guru senior berkacamata tebal yang terkenal tidak mau ambil pusing dengan urusan sosial murid-muridnya. Ketika Vony melangkah masuk ke dalam kelas, keheningan instan menyergap ruangan.


?"Anak-anak, ini Vony, murid pindahan dari Bandung," ujar Pak Gunawan singkat tanpa mengalihkan pandangan dari papan tulis. "Vony, silakan duduk di bangku kosong di paling belakang."


?Vony mengangguk sopan. Bangku kosong yang ditunjuk berada di sudut kanan belakang, tepat di sebelah jendela. Namun, saat ia mendekati mejanya, Vony melihat bahwa permukaan meja kayu tersebut telah dicorat-coret menggunakan spidol permanen berwarna merah.


?PERGI DARI SINI, KASTA F!


SAMPAT TIDAK PUNYA TEMPAT DI 12-A!


?Vony tidak mengeluh. Ia tidak mendatangi Pak Gunawan untuk mengadu. Dengan tenang, Vony menarik kursi, duduk, lalu mengeluarkan sebuah lap basah dan cairan pembersih dari dalam tasnya dan peralatan yang sudah ia siapkan karena ia tahu sekolah baru ini tidak akan menyambutnya dengan karpet merah. Dengan gerakan teratur, ia mengelap tulisan-tulisan makian itu hingga bersih, mengabaikan tatapan sinis dari teman-teman sekelasnya.


?Dari sudut depan kelas, Valerie memperhatikan setiap gerak-gerik Vony dengan tangan bersedekap. Di sampingnya, seorang cewek berambut pendek bernama Olivia, salah satu anggota geng elite berbisik lirih.


?"Val, anak baru itu benar-benar tidak punya rasa takut ya? Biasanya murid Kasta F sudah menangis di hari pertama."


?"Dia cuma bersikap tangguh," balasan Valerie terdengar sangat tenang, namun dipenuhi racun. "Orang-orang seperti dia biasanya paling cepat hancur saat rahasia atau harga diri mereka diinjak-injak. Biarkan dia menikmati hari pertamanya. Nanti malam, saat fitur Special Quest di aplikasi terbuka, kita beri dia kejutan."


?Jam istirahat tiba. Kantin SMA Starlight lebih menyerupai aula restoran bintang lima daripada kantin sekolah biasa. Meja-meja marmer putih tertata rapi, dan konter makanan menyajikan hidangan dari koki profesional. Namun, pemandangan di dalamnya tetap mencerminkan pemisahan kasta yang ketat.


?Meja utama di tengah ruangan yang mendapatkan pencahayaan terbaik dan sofa paling empuk dikuasai oleh Valerie dan gengnya (Kasta A). Meja-meja di sekitarnya diisi oleh Kasta B dan C. Sementara itu, murid Kasta D dan E duduk berdesakan di meja-meja kecil dekat sudut kamar mandi.


?Lalu di mana Kasta F duduk?


?Kasta F tidak diizinkan duduk di meja kantin.


?Vony membawa nampan makanannya yang hanya berisi roti lapis dan kotak susu. Ia melihat tidak ada satu pun meja yang tersisa untuknya, dan setiap kali ia mendekati sebuah area, murid-murid di sana akan menutup meja mereka dengan tas atau memandangnya dengan tatapan mengusir.


?"Kamu tidak bisa duduk di sini, Kasta F," cegah seorang siswa Kasta C saat Vony hendak menarik kursi kosong. "Kalau kami terlihat duduk satu meja denganmu, poin kami bisa dipotong oleh Kasta A."


?Vony memandang siswa itu datar. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Vony berbalik arah. Ia tidak berniat membuang energi untuk berdebat soal kursi. Ia melangkah keluar dari kantin yang bising dan penuh kepura-puraan itu, memilih mencari tempat yang lebih tenang.


?Tujuannya adalah atap sekolah , tempat yang biasanya dihindari oleh murid-murid biasa karena reputasinya sebagai area kekuasaan geng motor Vipers.


?Vony mendorong pintu besi yang menuju ke atap. Angin siang yang berembus kencang langsung menyambut wajahnya, membawa aroma kebebasan yang tidak ia dapatkan di dalam gedung sekolah. Tempat itu cukup luas, dengan beberapa bekas ban motor dan grafiti di dinding bata.


?Di sudut atap, bersandar pada pagar pembatas besi, berdiri sosok Nicholas. Cowok itu sedang mengisap rokoknya santai, menatap pemandangan kota dari ketinggian. Jaket kulit hitamnya tergeletak di atas selasar semen di sampingnya.


?Suara pintu yang tertutup membuat Nicholas memutar kepalanya. Ia agak terkejut menemukan Vony berdiri di sana membawa nampan makanan.


?"Tempat ini terlarang untuk murid biasa," ujar Nicholas dingin, mengembuskan asap rokok ke udara. "Apalagi untuk Kasta F seperti kamu."


?Vony berjalan santai menuju tangga semen yang bersih, beberapa meter dari posisi Nicholas. Ia duduk di sana, meletakkan nampan makanannya di pangkuan.


?"Aku tidak melihat ada tulisan namamu di pintu masuk," jawab Vony santai sebelum menggigit roti lapisnya. "Dan di bawah terlalu bising oleh aturan-aturan bodoh kalian."


?Nicholas menaikkan sebelah alisnya. Ia mematikan puntung rokoknya di pagar besi, lalu melempar sisa rokok itu ke dalam kaleng bekas. Ia melangkah mendekati Vony, berdiri tepat di depan cewek yang sedang mengunyah makanannya dengan tenang itu.


?"Kamu benar-benar tidak tahu siapa aku, atau kamu cuma pura-pura bodoh?" tanya Nicholas dengan suara merendahkan.


?Vony mendongak, menatap mata Nicholas yang tajam. "Kamu Nicholas. Putra donatur sekolah, ketua geng motor, dan satu-satunya orang di sekolah ini yang terang-terangan menyebut aplikasi kasta itu sampah." Vony menelan makanannya. "Jadi, menurutku kamu adalah orang paling rasional di tempat gila ini."


?Nicholas terkekeh pendek. Kekehan tanpa humor. "Rasional? Jangan salah paham, Murid Pindahan. Aku bukannya membela kamu tadi pagi. Aku cuma benci melihat Valerie berakting seolah dia pemilik dunia ini."


?"Tapi kamu membiarkannya," tembak Vony cepat.


?Nicholas terdiam. Matanya memicing.


?"Kamu punya posisi. Kamu punya kekuatan karena pengaruh keluargamu dan geng motormu," lanjut Vony dengan suara tenang namun menghujam. "Tapi kamu memilih diam dan menonton orang-orang diintimidasi setiap hari. Itu membuatmu tidak ada bedanya dengan mereka yang melakukan voting."


?Atap sekolah itu mendadak menjadi sangat sunyi. Hanya suara angin yang berhembus kencang memainkan rambut mereka berdua. Aura berbahaya terpancar dari tubuh Nicholas. Cowok itu membungkuk, menyejajarkan wajahnya dengan wajah Vony hingga jarak mereka hanya tersisa belasan sentimeter.


?"Jaga mulutmu, Vony," bisik Nicholas tajam, sarat ancaman. "Kamu tidak tahu apa-apa tentang aku atau alasan kenapa aku membiarkan sekolah ini membusuk."


?Vony tidak mundur satu inci pun. Ia menatap balik mata Nicholas dengan keberanian yang sama. "Kalau begitu beritahu aku. Kenapa anak dari donatur terbesar sekolah membiarkan aplikasi ilegal ini merusak murid-murid?"


?Nicholas menatap Vony selama beberapa detik yang terasa sangat lama. Ada ketegangan yang pekat di antara mereka. Namun, alih-alih marah atau menyerang, Nicholas justru menghela napas kasar dan kembali menegakkan tubuhnya.


?"Aplikasi itu bukan buatan murid," kata Nicholas pelan, suaranya berubah menjadi lebih serius. "Starlight App dibuat oleh pihak yayasan. Valerie dan gengnya cuma alat yang dipakai untuk menjalankan eksperimen sosial ini. Jika kamu mencoba melawannya sendirian, kamu tidak cuma berhadapan dengan murid-murid kaya di sini dan kamu berhadapan dengan orang-orang berkuasa di balik sekolah ini."


?Vony tertegun sejenak mendengarkan fakta tersebut. Jadi, sistem kasta ini bukan sekadar ketidakdewasaan remaja, melainkan sebuah kebusukan terstruktur yang dirancang oleh orang dewasa.


?"Lalu kenapa?" tanya Vony, berdiri dari duduknya hingga ia berhadapan sejajar dengan Nicholas. "Apakah itu alasan untuk menyerah dan biarkan mereka menginjak-injak kita?"


?Nicholas menatap Vony dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada sedikit rasa kagum yang samar di balik matanya yang biasanya dingin.


?"Kamu gila," gumam Nicholas.


?"Aku tidak gila. Aku cuma tidak suka diatur oleh sistem yang tidak adil," balas Vony tegas. Ia merapikan nampan makanannya yang sudah kosong. "Aku akan meruntuhkan piramida itu, Nicholas. Dengan atau tanpa bantuanmu."


?Saat Vony berbalik hendak berjalan menuju pintu keluar atap, suara Nicholas menghentikannya.


?"Tunggu."


?Vony menoleh. "Apa lagi?"


?Nicholas meraih jaket kulitnya dari semen, lalu menyampirkannya di bahunya. "Malam ini pukul delapan. Sistem akan membuka Event Red Hunt untuk Kasta F yang baru. Valerie akan menggunakan seluruh murid Kasta C ke atas untuk memburumu di media sosial dan dunia nyata."


?Vony mengernyit. "Red Hunt?"


?"Ini tradisi penyambutan untuk murid Kasta F yang berani melawan," jelas Nicholas. "Lokasimu akan dilacak secara real-time melalui aplikasi, dan siapa pun yang bisa mempermalukanmu malam ini akan mendapatkan bonus poin kasta dari Valerie."


?Vony mengepalkan tangannya di samping tubuh.


?Nicholas berjalan melintasi Vony, berhenti sejenak di samping cewek itu tanpa menoleh. "Jika kamu ingin selamat malam ini... datanglah ke bengkel tua di Jalan Garuda pukul tujuh. Tempat itu berada di luar jangkauan sinyal pelacak Starlight App."


?"Kenapa kamu membantuku?" tanya Vony ragu.


?Nicholas melirik dari sudut matanya, senyum tipis yang penuh rahasia terpatri di bibirnya. "Anggap saja aku ingin menonton bagaimana seorang murid baru membakar piramida busuk ini sampai jadi abu."


?Tanpa menunggu jawaban Vony, Nicholas mendorong pintu atap dan menghilang di balik tangga.


?Vony berdiri sendirian di bawah terik matahari siang. Ia menggenggam ponselnya erat-erat, merasakan getaran halus dari notifikasi baru yang masuk ke dalam Starlight App.


?[NOTIFIKASI SISTEM: RED HUNT AKAN DIMULAI DALAM 7 JAM.]


?Vony menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis. Perang baru saja dimulai, dan ia tidak berniat untuk kalah.

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:

Suka ( 0)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Chapter List