Customer Service

The Crown

Bab 1 dari 3

Bab 2
100%

Bab 1: Kilau Palsu di Meja VVIP

Not yet available in the requested language -- showing the original version.

Udara sore di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, mendadak terasa lebih padat oleh aroma Jo Malone Peony & Blush Suede yang berpadu sempurna dengan bau kulit asli interior mobil-mobil Eropa berharga miliaran rupiah. Di balik pintu kaca setinggi empat meter berbingkai kuningan murni, restoran fine dining paling eksklusif di jantung ibu kota itu menyembunyikan dunia lain. Dunia di mana angka nol di rekening bank bukan sekadar alat tukar, melainkan ukuran harga diri manusia.


Di dalam ruangan VVIP yang privat—dibatasi kaca antipeluru dan dilayani oleh pelayan berpakaian jas hitam rapi—meja panjang berlapis marmer Carrara putih telah tertata sempurna. Denting halus pisau perak yang bergesekan dengan piring porselen Wedgwood, pantulan cahaya dari lampu gantung Murano buatan tangan Italia, serta kilau berlian berkarat-karat menciptakan pemandangan yang menyilaukan mata sekaligus menyesakkan dada.


Bagi sebagian orang, tempat ini adalah puncak pencapaian hidup. Namun, bagi sebagian lainnya—atau mungkin hampir semuanya di ruangan ini—tempat tersebut adalah panggung teater terbesar di mana topeng kepalsuan direkatkan erat menggunakan lem keputusasaan.


---


Pintu kayu mahoni berukir itu terbuka perlahan, Victoria atau yang akrab disapa Vika, melangkah masuk lebih dulu. Wanita berusia awal empat puluhan itu adalah lambang kesempurnaan artifisial Jakarta. Rambut cokelatnya ditata dengan gelombang longgar ala old money, kontras dengan gaun midi haute couture berwarna emerald green yang memeluk tubuh langsingnya tanpa cela. Di pergelangan tangan kirinya melingkar Rolex Daytona bertabur berlian baguette—warisan dari suaminya, seorang konglomerat properti yang belakangan namanya sering menghilang dari daftar berita ekonomi terpercaya.


Vika melempar senyum kemenangan khas sosialita senior. Senyum yang terlatih, sempurna di bibir, namun dingin di sudut mata.


"Maaf kami terlambat, Darlings. Kemacetan di Sudirman sungguh tidak punya etika," suara Vika melengking lembut, elegan, namun berkuasa.


Di belakangnya, menyusul Clara. Wanita berambut hitam legam sepundak itu berjalan dengan ponsel pintar di tangan kanan yang langsung mengarah ke wajah Vika dan dirinya sendiri. Clara adalah representasi era digital dalam lingkaran kaum elit: haus validasi, kecanduan angka engagement, dan tidak bisa hidup tanpa filter kamera.

"Hai Gangs! Kita udah live nih di akun TikTok aku yang pengikutnya udah sejuta! Sapa dulu dong, Kak Vika," seru Clara dengan nada centil yang dibuat-buat, sambil mengarahkan kamera ke arah meja. Ia mengenakan dress mini merah menyala rancangan desainer lokal papan atas yang harganya setara dengan biaya hidup sebuah keluarga kecil selama lima tahun di pinggiran Jakarta.


"Astaga, Clara, matikan dulu kameranya. Kita mau arisan privat, bukan syuting sinetron kejar tayang," tegur Vika dengan nada bercanda, meski rahangnya sempat mengeras sesaat sebelum ia kembali memasang senyum pepsodent-nya.


Di sudut paling belakang, nyaris tak bersuara, Maya melangkah masuk. Berbeda dengan Vika yang mencolok dan Clara yang berisik, Maya mengenakan blazer putih gading berpotongan klasik yang tampak sederhana—jika tidak jeli melihat label kecil tersembunyi di kerahnya. Wajahnya tertutup separuh oleh kacamata hitam besar bermerek Celine yang enggan ia lepas, bahkan di dalam ruangan yang lampunya temaram. Maya duduk di kursi paling ujung, menarik napas dalam-dalam seolah sedang menghirup aroma ketegangan di ruangan itu sebagai candu.


Setelah semua duduk, suasana yang awalnya ramah langsung berubah menjadi arena adu taring terselubung. Di tengah meja, sebuah kotak beludru hitam berukuran sedang diletakkan oleh pelayan—sebuah wadah yang hari ini menyimpan uang tunai dan cek senilai total Rp500 juta rupiah. Angka yang fantastis untuk sebuah arisan bulanan kelompok elit berjuluk The Crown.


"Bagaimana bisnis suamimu, Clara? Aku dengar lini produk skincare impor kalian kemarin sempat tertahan di bea cukai karena masalah izin BPOM ya?" Vika membuka pembicaraan. Matanya melirik tajam ke arah Clara.

Clara mendengus pelan, tawanya renyah namun terdengar dipaksakan. Ia segera merapikan letak tas Hermes Birkin Himalaya berbahan kulit buaya putih miliknya di atas kursi kosong sebelah—sebuah gestur pamer yang sudah mendarah daging.


"Ah, berita di luar sana suka dibesar-besarkan, Kak Vika. Namanya juga iri melihat kesuksesan suami orang. Suamiku malah baru saja closed deal proyek pengadaan alat kesehatan di kementerian. Makanya, cicilan tas ini dan setoran arisan Rp500 juta ini sama sekali bukan masalah kecil buat kami," balas Clara telak, sengaja menekankan kata 'bukan masalah' sambil melirik tas mewahnya.


Vika tersenyum tipis, merespons sindiran itu dengan elegan. Namun di balik meja, jari-jari Vika yang terbalut cincin berlian mencengkeram serbet kain putih hingga buku-buku jarinya memutih.

Sok kaya, batin Vika geram. Padahal aku tahu persis dari sumber di bank swasta kalau suamiku dan suaminya sama-sama sedang megap-megap menahan bunga pinjaman jatuh tempo bulan ini.


Di seberang mereka, Maya hanya diam menyimak. Ia hanya memainkan gelas kristal berisi air mineral dingin. Matanya di balik kacamata hitam menatap lekat-lekat wajah Vika dan Clara bergantian. Ada kilatan kepuasan yang dingin di mata itu—kilatan dari seseorang yang tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan, sehingga ia tidak lagi merasa takut kehilangan.


---


"Baiklah, perempuan-perempuan hebat," Vika berdehem pelan, mencoba mengalihkan suasana yang mulai terasa panas. "Mari kita mulai acara inti kita hari ini. Kotak arisan sudah di depan kita, dan seperti biasa, siapa yang beruntung akan membawa pulang setengah miliar rupiah tunai hari ini."


Jantung Clara berdegup sedikit lebih cepat. Uang arisan hari ini sangat ia butuhkan untuk menambal cicilan penthouse di kawasan Senopati yang sudah menunggak dua bulan.


Vika memegang kunci kecil pengaman kotak beludru tersebut. Namun, alih-alih membuka dan mengocok tabung undian nama, tangan Vika mendadak membeku di atas meja. Napasnya tertahan sejenak.

Ia baru saja teringat panggilan telepon dari kepala cabang bank swasta tempat rekening penampungan arisan itu berada, tepat dua jam sebelum ia berangkat ke sini. Rekening itu telah dibekukan sementara karena cek kosong dari salah satu anggota teratas—yang tak lain adalah perusahaannya sendiri—gagal kliring.


Ruangan mendadak terasa jauh lebih dingin. AC sentral seolah gagal melawan keringat dingin yang mulai merembes di pelipis Vika.


"Ada apa, Kak Vika? Kok tegang begitu? Jangan-jangan nama aku yang keluar ya?" tanya Clara antusias, sama sekali tidak menyadari badai yang sedang mengamuk di kepala sang pemimpin arisan.


Vika menarik napas panjang, menegakkan punggungnya, dan memasang topeng paling meyakinkan yang ia miliki dalam sepuluh tahun terakhir berkecimpung di dunia sosialita.


"Maafkan aku, Darlings," ucap Vika dengan suara lembut yang dibuat setenang mungkin. "Ada sedikit... kendala administrasi yang sangat teknis dari pihak bank sore ini. Sistem transfer pusat sedang mengalami pemeliharaan mendadak, dan pencairan dana arisan bulan ini... terpaksa harus kita undur minggu depan."


Suasana meja mendadak sunyi senyap. Denting sendok dari dapur seolah berhenti total.


Clara langsung menurunkan ponselnya dari posisi live streaming, matanya menyipit tajam menatap Vika. "Diundur? Kak Vika nggak salah dengar? Ini arisan Rp500 juta, bukan arisan PKK kelurahan! Kenapa baru ngomong sekarang pas kita udah kumpul?" Suara Clara meninggi, hilangkan sudah kesan wanita anggun yang sedari tadi ia bangun di depan kamera.


Vika menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa kering seperti gurun pasir. "Ini kebijakan darurat dari bank, Clara. Tolong hargai posisiku sebagai ketua."


"Kebijakan darurat atau karena kas arisannya kosong buat nambal utang suami Kakak?" potong Clara tajam, menusuk tepat di jantung rahasia terbesar Vika.


---


Ketegangan di meja VVIP itu mencapai puncaknya. Vika berdiri dari duduknya, wajahnya memerah padam karena amarah dan rasa malu yang luar biasa. Clara mendengus sinis, melipat tangan di dada sambil terus menatap tajam ke arah pemimpin arisan tersebut.


Di tengah pertikaian kecil yang hampir meledak itu, suara tawa kecil yang renyah namun mengerikan terdengar dari ujung meja.


Semua mata langsung menoleh ke arah Maya. Wanita pendiam itu perlahan-lahan melepaskan kacamata hitam besar yang selama ini melindunginya.


Tanpa kacamata itu, mata Maya tampak tajam, jernih, dan menyimpan luka serta kebencian yang mendalam. Ia menatap Vika dan Clara bukan lagi dengan rasa segan, melainkan seperti seorang predator yang sedang melihat mangsa tak berdaya di hadapannya.


"Kalian ribut soal uang setengah miliar?" suara Maya terdengar pelan, namun berbobot dan mencengkeram perhatian seluruh orang di ruangan itu. "Kalian sibuk pamer tas, pamer suami, pamer kekayaan palsu di atas penderitaan orang lain... padahal kalian lupa, dari mana semua uang itu bermula beberapa tahun lalu."


Vika terpaku. Jantungnya berdetak liar. Ada sesuatu di dalam tatapan Maya yang mengingatkannya pada sebuah masa lalu yang sudah ia kubur rapat-rapat—sebuah skandal lama di mana seorang wanita muda hancur lebur karena kecurangan bisnis keluarga Vika dan lingkaran elit ini.


"Maya... apa maksudmu?" bisik Vika gemetar, topeng elegannya benar-benar runtuh detik itu juga.

Maya tersenyum misterius. Ia merogoh tas kecilnya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal, dan meletakkannya di atas meja marmer tepat di tengah-tengah.


"Tidak ada yang perlu diundur, Vika. Karena mulai hari ini, arisan ini resmi bubar," ucap Maya tenang sambil mendorong amplop itu dengan ujung jarinya ke arah Vika. "Kalian berdua... bersiaplah untuk kehilangan segalanya."

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Next Chapter

Suka ( 0)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Chapter List