KITA TUMBUH DI ANTARA RETAK DAN RENCANA
Not yet available in the requested language -- showing the original version.
KITA TUMBUH DI ANTARA RETAK DAN RENCANA
Wira Nawasena
Pada usia dua puluh dua, aku mulai curiga bahwa orang dewasa sebenarnya tidak pernah tahu apa yang sedang mereka lakukan.
Mereka hanya lebih pandai menyembunyikan ketakutan.
Ayah menyembunyikannya di balik koran pagi dan suara batuk yang sengaja dibuat biasa. Ibu menyimpannya di antara piring-piring yang dicuci selepas makan malam. Dosen-dosen menyelipkannya di balik kalimat, “Kalian harus memikirkan masa depan.” Teman-temanku menutupinya dengan unggahan wisuda, foto kantor pertama, sertifikat pelatihan, dan senyum yang tampak seperti hasil kerja sebuah perusahaan periklanan.
Aku sendiri menyimpannya di dalam sebuah buku catatan berwarna hitam.
Di halaman pertama, aku menulis:
Rencana hidup.
Di bawahnya, ada daftar panjang.
· Lulus tepat waktu.
· Mendapat pekerjaan sebelum enam bulan setelah wisuda.
· Membantu orang tua.
· Membeli laptop baru.
· Menabung.
· Membawa ibu jalan-jalan.
· Membeli rumah.
· Menikah.
Dan entah mengapa, di bagian paling bawah, aku menulis:
Bahagia.
Aku menatap kata itu cukup lama. Kemudian menutup buku. Seolah-olah kebahagiaan adalah sesuatu yang bisa dicoret dari daftar pekerjaan setelah semua urusan selesai.
Hari itu aku bangun pukul lima lewat empat puluh. Alarm ponsel sudah berbunyi tiga kali, tetapi aku mematikannya tanpa benar-benar membuka mata. Di luar kamar, suara motor tetangga mulai terdengar. Seseorang menyalakan mesin air. Seekor burung berkicau dengan keyakinan yang tidak kumiliki.
Aku akhirnya bangun ketika ibu mengetuk pintu.
“Sudah bangun?”
“Sudah, Bu.”
Itu bohong pertama pagi itu.
Aku masih duduk di atas kasur dengan rambut berantakan.
“Jangan lupa hari ini ada bimbingan.”
“Iya.”
“Proposalmu sudah diperbaiki?”
Aku diam sebentar.
“Sudah.”
Itu bohong kedua.
Ibu tidak menjawab lagi.
Langkahnya menjauh.
Aku memandang pintu kamar yang tertutup. Aneh sekali bagaimana seorang ibu bisa mengetahui kebohongan anaknya hanya dari intonasi suara, tetapi tetap memilih untuk tidak membongkarnya.
Mungkin karena ia tahu, beberapa kebohongan bukan lahir dari niat menipu.
Kadang-kadang manusia berbohong karena belum siap mengakui bahwa dirinya sedang gagal.
Aku membuka laptop; Layar menyala; Dokumen skripsiku masih terbuka pada halaman yang sama seperti tiga hari lalu.
Kursor berkedip di ujung paragraf.
Berkedip.
Diam.
Berkedip lagi.
Seperti sedang mengejekku.
Aku membaca ulang kalimat terakhir yang kutulis. Tidak ada yang salah dengan kalimat itu. Hanya saja tidak ada kelanjutannya. Seperti hidupku.
Di kampus, orang-orang mulai membicarakan wisuda. Topik itu muncul di mana-mana.
Di kantin, Di grup WhatsApp, Di lorong fakultas, Bahkan di antara dua tegukan kopi.
“Lu kapan sidang?”
“Bulan depan, kayaknya.”
“Gue sudah daftar.”
“Dosen pembimbing gue tinggal acc.”
“Setelah ini gue mau kerja di Jakarta.”
“Gue mau lanjut S2.”
“Gue sudah dapat offering.”
Kalimat-kalimat itu bertebaran seperti selebaran.
Aku tersenyum setiap kali mendengarnya.
“Semoga lancar.”
“Wah, keren.”
“Selamat, ya.”
Aku sudah menjadi ahli dalam memberikan ucapan selamat untuk kehidupan orang lain.
Sementara hidupku sendiri seperti sedang menunggu giliran yang tidak pernah dipanggil. Di kantin, aku duduk bersama tiga orang teman.
Raka menunjukkan foto sebuah gedung perkantoran di Jakarta.
“Gue diterima di sini.”
“Serius?”
Aku ikut melihat.
Gedung itu tinggi. Kacanya memantulkan langit.
“Mulai bulan depan.”
“Gila. Selamat, Rak.”
Ia tersenyum.
“Lu sendiri?”
Pertanyaan sederhana.
Tapi beberapa pertanyaan memang memiliki kemampuan untuk membuat dada terasa sempit.
Aku mengaduk kopi yang sebenarnya sudah tidak perlu diaduk.
“Masih proses.”
“Proses apaan?”
“Ya... skripsi.”
“Bukannya dari kemarin skripsi?”
Aku tertawa.
“Iya. Namanya juga proses.”
Mereka ikut tertawa. Tidak ada yang bermaksud jahat. Itulah bagian yang paling menyebalkan.
Kadang-kadang yang membuat kita sakit bukan perkataan orang lain, melainkan kebenaran yang terkandung di dalamnya.
Sepulang dari kampus, aku melewati sebuah toko alat tulis. Di depan toko itu ada seorang anak kecil sedang memilih buku gambar.
Ibunya berdiri di sampingnya.
“Yang ini, Bu.”
“Ambil yang itu saja.”
Anak itu tersenyum. Sederhana sekali. Ia mendapatkan buku gambar. Aku mendapatkan sesuatu yang lain. Perasaan bahwa hidup pernah sesederhana itu.
Dulu, ketika aku masih kecil, masa depan hanya berarti menjadi apa yang ingin kutulis di lembar tugas sekolah.
- Astronaut.
- Dokter.
- Guru.
- Presiden.
Aku pernah menulis ingin menjadi penulis.
Kemudian guru bertanya,
“Kenapa?”
Aku menjawab,
“Karena saya ingin membuat orang merasakan sesuatu.”
Aku tidak tahu bahwa bertahun-tahun kemudian, justru akulah yang akan kesulitan merasakan sesuatu dengan utuh.
Aku berjalan pulang.
Di sepanjang jalan, langit mulai mendung.
Aku mempercepat langkah.
Hujan turun sebelum aku sampai rumah.
Tidak deras.
Hanya gerimis yang cukup untuk membuat jalanan berkilau dan orang-orang membuka payung.
Aku berteduh di sebuah halte.
Di sana hanya ada satu bangku panjang.
Aku duduk.
Di sampingku, seorang lelaki tua memegang kantong plastik berisi beberapa buah jeruk.
Ia melihatku.
“Menunggu?”
Aku tersenyum kecil.
“Iya.”
“Bus?”
Aku menggeleng.
“Bukan.”
Ia mengangguk seolah mengerti.
Padahal mungkin tidak.
“Kalau begitu, jangan terlalu lama menunggu.”
Aku menoleh.
Ia tersenyum.
“Yang ditunggu belum tentu datang.”
Setelah itu ia berdiri dan pergi menembus gerimis.
Aku tidak tahu mengapa kalimat sederhana itu tinggal begitu lama di kepalaku. Mungkin karena selama ini aku memang sedang menunggu.
Menunggu lulus;
Menunggu pekerjaan;
Menunggu hidup membaik;
Menunggu keberanian;
Menunggu diriku sendiri menjadi seseorang yang menurutku pantas dibanggakan.
Dan mungkin, tanpa sadar, aku telah menghabiskan terlalu banyak waktu untuk menunggu hidup dimulai.
Malamnya, ayah pulang lebih lambat. Aku sedang duduk di ruang tengah ketika ia masuk. Ia meletakkan tas.
“Belum tidur?”
“Belum.”
Ayah duduk di sofa.
Televisi menyala, tetapi tidak ada satu pun dari kami yang benar-benar menontonnya.
“Bagaimana skripsimu?”
Aku menatap layar televisi.
“Masih.”
Ayah mengangguk.
“Sudah sampai mana?”
Aku tidak menjawab.
Beberapa detik berlalu.
“Sulit?”
Pertanyaan itu membuatku menoleh. Aku tidak menyangka ayah akan bertanya. Selama ini, pertanyaannya selalu sederhana.
Sudah makan? Kuliah besok? Uang cukup? Kapan selesai?
Tetapi malam itu ia bertanya apakah sulit. Aku menelan ludah.
“Iya.”
Ayah mengangguk lagi. Kemudian ia berkata,
“Tidak apa-apa.”
Hanya dua kata.
Tidak ada nasihat.
Tidak ada ceramah.
Tidak ada perbandingan.
Tidak ada kalimat tentang anak tetangga yang sudah bekerja.
Hanya:
“Tidak apa-apa.”
Aku menunduk. Entah mengapa mataku terasa panas. Ayah menepuk bahuku sekali.
“Kamu tidak harus cepat.”
Kemudian ia masuk kamar.
Aku tetap duduk di sana.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, aku menangis.
Tidak keras;
Tidak dramatis.
Hanya beberapa tetes air mata yang jatuh tanpa meminta izin. Mungkin selama ini aku terlalu sibuk mengira bahwa orang tua hanya ingin melihat anaknya berhasil. Padahal mungkin mereka hanya ingin melihat anaknya tidak hancur ketika gagal.
Malam semakin larut. Aku kembali ke kamar. Buku catatan hitam itu masih berada di atas meja. Aku membukanya. Daftar hidupku masih di sana.
- Lulus tepat waktu.
- Mendapat pekerjaan.
- Membantu orang tua.
- Membeli laptop.
- Menabung.
- Membawa ibu jalan-jalan.
- Membeli rumah.
- Menikah.
- Bahagia.
Aku mengambil pulpen. Untuk pertama kalinya, aku tidak menambahkan sesuatu.
Aku mencoret satu kalimat.
Lulus tepat waktu.
Bukan karena aku menyerah.
Aku hanya akhirnya mengerti bahwa hidup bukan ujian pilihan ganda yang memiliki satu jawaban benar.
Aku menulis di bawahnya:
Lulus ketika aku sudah mampu.
Kemudian kutambahkan:
Bekerja ketika kesempatan datang.
Membantu orang tua semampuku.
Gagal tanpa membenci diri sendiri.
Aku berhenti.
Lalu menulis satu kalimat terakhir.
Tetap berjalan, meskipun belum tahu akan sampai di mana.
Aku menutup buku.
Di luar jendela, hujan masih turun.
Pelan;
Teratur.
Seperti seseorang yang mengetuk pintu berkali-kali tanpa memaksa untuk dibukakan.
Aku tidak tahu bagaimana hidupku akan berjalan setelah malam itu.
Aku masih belum punya pekerjaan.
Skripsiku belum selesai.
Tabunganku hampir tidak ada.
Beberapa temanku sudah jauh di depan.
Sebagian mungkin akan menikah lebih dulu.
Sebagian akan pergi ke kota lain.
Sebagian akan hilang begitu saja dari kehidupanku.
Dan mungkin, beberapa rencana yang kutulis malam itu juga akan gagal.
Tetapi untuk pertama kalinya, kegagalan tidak terdengar seperti akhir.
Ia hanya terdengar seperti sebuah tikungan.
Aku mematikan lampu.
Berbaring.
Memandangi langit-langit kamar.
Dulu aku mengira menjadi dewasa adalah memiliki jawaban.
Sekarang aku tahu, mungkin menjadi dewasa justru adalah keberanian untuk tetap berjalan ketika jawaban belum ditemukan.
Kita tumbuh bukan hanya dari keberhasilan.
Kita tumbuh dari hal-hal yang retak.
Dari rencana yang batal.
Dari pintu yang tidak terbuka.
Dari orang-orang yang pergi.
Dari rumah yang perlahan berubah.
Dari kegagalan yang diam-diam mengajari kita cara berdiri.
Dan dari malam-malam ketika kita bertanya kepada diri sendiri:
“Sebenarnya aku sedang menuju ke mana?”
Barangkali tidak semua pertanyaan harus dijawab malam itu juga.
Barangkali sebagian jawaban memang harus ditemukan sambil berjalan.
Aku memejamkan mata.
Besok pagi alarm akan berbunyi lagi.
Aku akan bangun.
Mungkin terlambat.
Mungkin masih takut.
Mungkin masih ragu.
Tetapi aku akan bangun.
Karena ternyata hidup tidak menunggu kita siap.
Ia terus berjalan.
Dan kita, dengan segala retak dan rencana yang kita punya, harus belajar berjalan bersamanya.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya