Customer Service

Kolom Saran

100%

Kolom Saran

Not yet available in the requested language -- showing the original version.

Arga tidak pernah terlambat, setidaknya sampai hari ketika jam dinding rumahnya berhenti pukul enam lewat dua belas menit. Ibu baru menyadarinya tiga hari kemudian, itu pun karena seorang tetangga datang meminjam uang dan kebetulan melihat jam tersebut. Tidak ada yang tahu mengapa Ibu justru merasa perlu meminta maaf kepada Arga. Barangkali karena sejak kecil ia mengajarkan anaknya bahwa waktu adalah sesuatu yang tidak bisa dikembalikan, padahal jam di rumah mereka sudah lama tidak melakukan tugasnya dengan benar.

Arga sendiri tidak terlalu peduli. Ia masih bangun pagi, mandi, mengenakan seragam, lalu berangkat sebelum matahari sempat membuat jalanan terlihat seperti tempat yang layak dihuni. Ia punya banyak hal untuk dipikirkan, dan jam dinding bukan salah satunya. Misalnya, ia harus mendapat nilai sembilan puluh pada ulangan matematika hari Kamis. Nilai delapan puluh tujuh yang diperolehnya minggu lalu telah membuatnya kehilangan tiga poin, meskipun ia tidak ingat pernah diberi tahu bahwa hidup ini memiliki batas maksimal seratus poin.

Sepatunya mulai terbuka di bagian depan. Arga menyebutnya begitu karena menurutnya kata bolong terdengar seperti sesuatu yang sudah tidak bisa diperbaiki, sementara sepatunya masih bisa dipakai ke sekolah, ke warung, dan sesekali untuk mengejar ayam tetangga yang suka masuk ke halaman rumah. Ia hanya perlu menghindari genangan air. Hal ini tidak selalu mudah, sebab jalan menuju sekolah memiliki lebih banyak lubang daripada tempat untuk meletakkan kaki dengan tenang.

Di kelas, Bu Rini menerangkan bahwa setiap anak punya kesempatan yang sama untuk berhasil. Arga mencatat kalimat itu karena terdengar penting, meskipun ia belum tahu bagaimana cara mengubahnya menjadi jawaban ketika kalimat tersebut muncul dalam soal ujian. Di sebelahnya, Dimas menggambar mobil di sudut buku tulis. Mobil itu memiliki empat roda, dua pintu, dan tidak pernah perlu berhenti untuk menambal ban.

Arga tidak iri kepada Dimas. Ia hanya ingin tahu apakah orang-orang yang punya mobil juga harus berjalan kaki ketika mobilnya rusak, atau mereka memiliki kendaraan lain untuk mengantarkan mereka ke tempat yang seharusnya mereka tuju.

Hari Senin, kepala sekolah mengumumkan bahwa sekolah mereka akan mengikuti penilaian Sekolah Unggul. Pengumuman disampaikan setelah upacara, ketika murid-murid masih berusaha mengingat apakah tadi mereka sudah memberi hormat dengan benar atau hanya mengangkat tangan karena melihat teman di sebelahnya melakukannya.

“Kita harus menunjukkan bahwa sekolah kita memiliki kualitas,” kata kepala sekolah. “Mulai hari ini, kebersihan, kedisiplinan, dan prestasi harus ditingkatkan.”

Arga mencatat kata prestasi di sudut buku tulisnya. Ia tidak tahu mengapa prestasi harus ditingkatkan tepat setelah kepala sekolah mengatakannya, sebab selama ini ia mengira prestasi adalah sesuatu yang meningkat dengan sendirinya setiap kali nilai ulangan bertambah. Ternyata, seperti tanaman cabai di depan kelas, prestasi juga memerlukan perawatan khusus, terutama menjelang kunjungan orang penting.

Sejak hari itu, sekolah berubah menjadi tempat yang lebih sibuk daripada biasanya. Murid-murid diminta membersihkan kelas, guru-guru mengumpulkan berkas, dan petugas kebersihan mengecat ulang tulisan di depan gerbang. Tulisan Sekolah adalah tempat menuntut ilmu kini terlihat lebih jelas, meskipun tidak ada yang bisa memastikan apakah ilmu di dalamnya ikut bertambah.

Bu Rini bahkan memeriksa kuku murid-murid sebelum pelajaran dimulai. Kuku yang panjang harus dipotong. Rambut yang melewati telinga harus dirapikan. Sepatu harus bersih. Arga menggosok sepatunya dengan kain basah, berhati-hati agar air tidak masuk melalui bagian depannya yang terbuka. Hasilnya cukup baik jika dilihat dari jarak tiga meter, jarak yang rupanya cukup untuk banyak urusan di sekolah.

Pada hari Rabu, kepala sekolah datang ke kelas membawa beberapa lembar formulir.

“Ini evaluasi pembelajaran,” katanya. “Kalian isi dengan jujur. Sekolah ingin mengetahui apa yang perlu diperbaiki.”

Di bagian atas kertas terdapat lambang sekolah. Di bawahnya ada pertanyaan mengenai kenyamanan belajar, kelengkapan fasilitas, metode mengajar, dan hubungan murid dengan guru. Setiap pertanyaan memiliki pilihan jawaban: Sangat Baik, Baik, Cukup, dan Kurang.

Arga membaca pertanyaan pertama: Apakah Anda merasa nyaman belajar di sekolah ini?

Ia mencentang Baik.

Pertanyaan kedua: Apakah guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan pendapat?

Arga memegang pensilnya agak lama.

Ia ingat pernah bertanya mengapa rumus luas segitiga menggunakan angka dua di bagian bawah. Bu Rini menjawab bahwa rumus itu memang begitu dan Arga tidak perlu mempersulit sesuatu yang sudah jelas. Ia juga ingat ketika Dimas bertanya apakah soal cerita di buku matematika sengaja dibuat panjang agar murid kehabisan waktu sebelum menemukan jawabannya. Seisi kelas tertawa. Bu Rini tidak.

Arga mencentang Baik.

Ia tidak ingin membuat masalah. Lagi pula, menurutnya, kesempatan menyampaikan pendapat dan kesempatan mendapatkan jawaban adalah dua hal yang berbeda. Seseorang bisa diberi kesempatan berbicara sepanjang hari tanpa pernah didengarkan satu menit pun.

Di bagian bawah formulir terdapat sebuah kolom bertuliskan Saran dan Masukan.

Arga menuliskan: Saya ingin guru menjawab pertanyaan murid dengan alasan yang bisa dimengerti, bukan hanya karena jawabannya memang begitu.

Ia membaca ulang kalimat tersebut. Kedengarannya sopan. Ia bahkan menambahkan kata terima kasih di bagian akhir, sebab ia pernah mendengar bahwa orang yang menyampaikan kritik harus melakukannya dengan santun. Ia tidak tahu apakah kritik yang santun lebih mudah diterima atau hanya lebih mudah diabaikan, tetapi setidaknya ia sudah memenuhi bagian tata krama.

Formulir dikumpulkan sebelum pulang.

Keesokan harinya, Bu Rini masuk kelas membawa setumpuk kertas. Ia mengatakan bahwa sekolah telah menerima banyak masukan yang bagus. Ada murid yang meminta tambahan kipas angin, ada yang ingin toilet diperbaiki, dan ada yang menyarankan agar waktu istirahat diperpanjang lima menit.

“Masukan kalian akan kami pertimbangkan,” katanya.

Arga menunggu sampai Bu Rini selesai berbicara.

“Bu, kalau sarannya tentang cara mengajar, nanti bagaimana?”

Bu Rini memandangnya. “Maksudnya?”

“Kalau murid merasa penjelasan guru kurang jelas.”

“Ya, sampaikan dengan baik. Guru juga manusia, Arga. Tidak mungkin semua keinginan murid dipenuhi.”

Arga mengangguk. Ia tidak pernah berpikir bahwa guru bukan manusia. Ia hanya belum tahu sejak kapan keinginan memahami pelajaran berubah menjadi sesuatu yang harus dipertimbangkan.

Hari Jumat, kelas mereka mendapat tugas membuat poster untuk menyambut tim penilai. Dimas menggambar buku terbuka dengan matahari terbit dari tengah halamannya. Di atas gambar itu, Arga menulis kalimat yang disalin dari papan pengumuman sekolah: Bersama Membangun Generasi Berprestasi.

“Bagus,” kata Bu Rini setelah melihatnya. “Hurufnya rapi.”

Arga senang. Ia memang suka menulis jika tidak harus menulis sesuatu yang terlalu panjang. Tulisan tangan yang rapi membuatnya merasa setidaknya ada satu hal di dunia yang bisa ia kendalikan tanpa perlu meminta izin siapa pun.

Pada Senin berikutnya, tim penilai datang.

Mereka terdiri atas tiga orang yang mengenakan pakaian formal dan membawa map. Kepala sekolah menyambut mereka di gerbang. Guru-guru berdiri di sepanjang koridor. Murid-murid diminta belajar seperti biasa, meskipun sebagian dari mereka lebih sibuk memperhatikan para tamu daripada memperhatikan papan tulis.

Arga duduk tegak. Sepatunya sudah dibersihkan lagi pagi tadi. Ia sengaja mengikat talinya lebih kencang agar bagian depan yang terbuka tidak terlalu terlihat.

Salah seorang penilai memasuki kelas dan bertanya kepada Bu Rini tentang metode pembelajaran yang digunakan. Bu Rini menjelaskan bahwa murid-murid diberi kesempatan berdiskusi, menyampaikan pendapat, dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis.

Arga melirik Dimas. Dimas sedang berusaha menghapus gambar mobil di bukunya sebelum ketahuan.

“Apakah siswa merasa nyaman menyampaikan pendapat?” tanya penilai itu.

“Tentu,” jawab Bu Rini. “Kami selalu terbuka terhadap masukan.”

Penilai tersebut tersenyum. Ia kemudian meminta seorang murid menyampaikan kesan selama belajar di sekolah.

Bu Rini menunjuk Arga.

Barangkali karena ia duduk paling tegak, atau karena namanya berada di urutan pertama daftar hadir. Arga berdiri. Ia bisa mendengar suara kipas angin di atas kepalanya dan bunyi pensil seseorang yang jatuh ke lantai.

“Bagaimana menurutmu sekolah ini?” tanya penilai itu.

Arga memandang Bu Rini sebentar. Guru itu tersenyum, memberikan isyarat agar ia berbicara.

“Sekolah ini baik, Pak.”

“Bagus. Apa yang paling kamu sukai?”

Arga ingin menjawab pelajaran matematika, tetapi ia tidak yakin apakah itu benar. Ia menyukai matematika ketika mengerti cara mengerjakannya. Ia tidak menyukai matematika ketika jawaban yang menurutnya benar ternyata salah karena satu angka ditulis di tempat yang keliru. Ia juga menyukai perpustakaan, meskipun buku-buku di sana kebanyakan buku pelajaran lama yang tidak boleh dibawa pulang.

“Saya suka belajar,” katanya akhirnya.

Penilai itu mengangguk puas. Ia menuliskan sesuatu di dalam map.

“Kalau ada yang ingin diperbaiki, apa itu?”

Pertanyaan tersebut membuat Arga teringat pada formulir yang dikumpulkan minggu lalu. Ia teringat kalimatnya sendiri, lengkap dengan ucapan terima kasih di bagian akhir.

“Saya ingin—”

“Arga,” sela Bu Rini, suaranya masih lembut. “Jawab yang baik, ya.”

Tidak ada yang berubah pada wajah Bu Rini. Ia tetap tersenyum, sebagaimana guru biasanya tersenyum ketika murid berhasil menjawab pertanyaan dengan benar. Namun, Arga mendadak merasa bahwa kalimat yang hendak diucapkannya bukan lagi miliknya sendiri. Kalimat itu seperti barang yang harus diperiksa dulu sebelum boleh dikeluarkan dari tas.

“Saya ingin sekolah ini menjadi lebih baik, Pak,” katanya.

“Bagus sekali.”

Penilai itu kembali menulis di mapnya.

Arga duduk. Dimas menyenggol lengannya dan berbisik bahwa ia hampir saja mengatakan sesuatu yang aneh. Arga tidak menjawab. Ia sedang memikirkan satu hal: jika ia menjawab sesuai keinginannya, apakah itu berarti ia tidak menjawab dengan baik?

Setelah kunjungan selesai, kepala sekolah mengumpulkan guru-guru di ruangannya. Murid-murid dipulangkan lebih cepat. Arga berjalan keluar bersama Dimas, melewati papan pengumuman yang baru saja dipasangi kertas bertuliskan Terima Kasih atas Partisipasi Seluruh Warga Sekolah.

“Menurutmu, sekolah kita bakal dapat penghargaan?” tanya Dimas.

“Mungkin.”

“Kalau dapat, kita libur?”

“Mana aku tahu.”

Dimas tertawa. Ia punya kemampuan untuk tidak memikirkan sesuatu lebih lama daripada yang diperlukan untuk membuat lelucon darinya.

Di rumah, Arga menemukan Ibu sedang menjahit kancing baju. Ia meletakkan tas, membuka sepatu, lalu melihat bagian depannya yang kembali terlepas sedikit.

“Besok Ibu jahit,” kata Ibu.

“Masih bisa dipakai.”

“Kalau terus dibiarkan, nanti rusak.”

Arga mengangguk. Ia teringat formulir yang sudah dikumpulkan dan pertanyaan yang tidak jadi ia jawab. Ia tidak tahu mengapa kedua hal itu terasa mirip dengan sepatunya. Keduanya masih bisa digunakan, tetapi ada bagian yang mulai terbuka dan tidak ada yang benar-benar ingin membicarakannya.

Dua minggu kemudian, hasil penilaian diumumkan. Sekolah mereka memperoleh predikat Sekolah Unggul dengan nilai yang sangat memuaskan. Kepala sekolah menyampaikan kabar itu saat upacara. Murid-murid bertepuk tangan, meskipun sebagian besar tidak tahu apa yang akan berubah setelahnya.

“Kalian semua berperan dalam keberhasilan ini,” katanya. “Teruslah berprestasi dan jaga nama baik sekolah.”

Pada hari yang sama, nilai ulangan matematika dibagikan. Arga mendapat sembilan puluh dua. Ia senang, tentu saja. Ada sesuatu yang menyenangkan dari melihat angka yang lebih tinggi daripada angka sebelumnya, meskipun kebahagiaan itu hanya bertahan sampai ia mengetahui bahwa Dimas mendapat sembilan puluh lima.

Sepulang sekolah, Bu Rini memanggil Arga.

“Ibu mau minta tolong. Kamu kan tulisannya rapi. Bisa bantu menyalin beberapa saran dari formulir evaluasi?”

Arga mengangguk. Ia dibawa ke ruang guru dan diberi setumpuk kertas. Di antaranya ada formulir yang pernah ia isi. Ia mengenali tulisan tangannya sendiri pada kolom saran.

Saya ingin guru menjawab pertanyaan murid dengan alasan yang bisa dimengerti, bukan hanya karena jawabannya memang begitu. Terima kasih.

Di sebelah kalimat itu terdapat sebuah tanda centang merah. Di bagian atas kertas, seseorang menuliskan kategori: Saran Positif dan Apresiatif.

Arga membaca label itu sekali lagi.

“Apa maksudnya, Bu?”

Bu Rini sedang merapikan berkas. “Oh, itu hasil pengelompokan saran. Ada saran yang berhubungan dengan fasilitas, ada yang tentang kegiatan, ada juga yang bersifat positif.”

“Kalau saran saya masuk yang positif?”

“Ya, karena kamu menyampaikan keinginan untuk memperbaiki pembelajaran.”

Arga melihat kertas itu. Ia ingin mengatakan bahwa ia tidak sedang memuji cara mengajar siapa pun. Ia ingin mengatakan bahwa ia menulis kalimat tersebut karena ada sesuatu yang mengganggunya, dan ia mengira formulir itu memang dibuat untuk hal-hal semacam itu.

Namun, Bu Rini sudah menyerahkan kertas berikutnya.

“Tolong salin yang ini juga, ya. Jangan sampai ada yang terlewat.”

Arga mulai menyalin. Ia menyalin permintaan tambahan kipas angin, perbaikan toilet, dan perpanjangan waktu istirahat. Ia menyalin keluhan tentang bangku yang rusak dan saran agar kantin menjual lebih banyak makanan. Semuanya dikelompokkan dengan rapi. Tidak ada satu pun kalimat yang hilang, hanya ada beberapa yang berpindah tempat.

Menjelang selesai, Arga menemukan satu formulir tanpa nama. Tulisannya tidak serapi tulisan murid-murid lain.

Saya takut bertanya karena nanti dianggap bodoh. Kalau semua anak boleh bertanya, mengapa yang bertanya malah sering disuruh diam?

Arga berhenti menyalin.

Di bawah kalimat itu, seseorang telah menulis dengan tinta merah: Tidak relevan dengan indikator penilaian.

Ia membaca kalimat tersebut berulang kali. Tidak ada kata-kata yang sulit dipahami di sana. Ia bahkan merasa penulisnya telah mengajukan pertanyaan yang sangat sederhana. Yang tidak ia pahami adalah bagaimana sesuatu yang bisa dimengerti oleh siapa saja dapat dianggap tidak relevan oleh orang-orang yang datang untuk menilai apakah sekolah mereka layak disebut unggul.

“Bu, yang ini disalin juga?”

Bu Rini menghampirinya. Ia melihat formulir itu, lalu mengambilnya dari tangan Arga.

“Tidak usah. Yang seperti ini tidak perlu dimasukkan ke laporan.”

“Kenapa, Bu?”

“Karena kita harus menyesuaikan dengan format penilaian.”

Arga menunggu penjelasan berikutnya. Ia sudah terbiasa menunggu penjelasan setelah kata karena, tetapi kali ini Bu Rini kembali ke mejanya tanpa mengatakan apa-apa lagi.

Arga menyelesaikan pekerjaannya. Sebelum pulang, ia melihat tumpukan formulir yang belum sempat disalin. Di sana ada banyak tulisan tangan, beberapa miring, beberapa kecil, beberapa memenuhi seluruh kolom. Ia membayangkan murid-murid yang menulisnya: mungkin ada yang berharap kipas angin diperbaiki, ada yang ingin guru tidak terlalu cepat menerangkan, ada yang sekadar ingin toilet tidak kehabisan air.

Mereka telah diminta menulis dengan jujur. Mereka telah melakukannya. Setelah itu, orang dewasa mengumpulkan jawaban mereka, mengelompokkannya, dan memilih bagian yang bisa dipakai.

Arga tidak tahu apakah itu termasuk mendengarkan.

Ia berjalan pulang melewati jalan berlubang. Di dekat warung, seorang anak kecil menangis karena es krimnya jatuh ke tanah. Ibunya mengatakan bahwa ia harus belajar menerima kenyataan. Arga berpikir bahwa orang dewasa rupanya memiliki banyak cara untuk menyuruh anak-anak berhenti mengeluhkan sesuatu, bahkan untuk hal-hal yang memang pantas dikeluhkan.

Di rumah, jam dinding masih menunjukkan pukul enam lewat dua belas menit. Ibu belum sempat membawanya ke tukang reparasi. Arga meletakkan tas, mengambil buku matematika, dan mulai mengerjakan latihan soal.

Di halaman terakhir buku itu terdapat pertanyaan tentang rata-rata nilai siswa. Ia menghitung jumlah seluruh angka, membaginya dengan banyak siswa, lalu menuliskan jawabannya. Hasilnya benar.

Arga menatap angka tersebut. Ia membayangkan jika suatu hari ada orang yang meminta rata-rata kebahagiaan murid-murid di sekolahnya. Mungkin mereka akan diberi formulir, diminta menjawab dengan jujur, lalu hasilnya dihitung sampai dua angka di belakang koma. Jika angkanya cukup tinggi, sekolah akan mendapat penghargaan. Jika rendah, barangkali mereka diminta mengisi formulir baru.

Ia hampir tertawa, tetapi kemudian teringat anak yang menulis bahwa ia takut bertanya.

Arga tidak tahu siapa anak itu. Ia juga tidak tahu apakah anak itu akan berani bertanya lagi besok. Yang ia tahu, pada hari ketika sekolah meminta murid-murid berbicara, anak itu sudah melakukannya. Kalimatnya tidak hilang. Kalimat itu masih ada, tersimpan di suatu tempat di antara berkas-berkas yang rapi.

Hanya saja, tidak ada yang perlu menjawabnya.

Keesokan harinya, Bu Rini mengembalikan buku latihan matematika. Di bagian atas halaman Arga, ia menulis Bagus, pertahankan! dengan tinta merah. Arga memasukkan buku itu ke dalam tas. Sebelum pelajaran dimulai, ia mengangkat tangan.

“Bu, saya mau bertanya.”

Bu Rini menoleh. “Apa, Arga?”

“Kalau ada pertanyaan yang tidak sesuai dengan indikator penilaian, apakah pertanyaan itu tetap boleh dijawab?”

Kelas mendadak sunyi. Dimas berhenti menggambar mobilnya. Seorang murid di barisan belakang mengangkat kepala. Bu Rini memegang spidol tanpa bergerak.

“Apa maksudmu?”

Arga hendak menjelaskan, tetapi ia tidak tahu harus mulai dari mana. Ia bisa menceritakan formulir tanpa nama itu, tulisan merah di bawahnya, dan bagaimana sebuah pertanyaan sederhana bisa dianggap tidak relevan. Ia juga bisa mengatakan bahwa ia ingin memahami sesuatu, bukan membuat guru terlihat buruk.

Namun, sebelum ia sempat menjawab, Bu Rini berkata, “Pertanyaan itu nanti saja. Sekarang kita mulai pelajaran.”

Arga menurunkan tangannya.

Di papan tulis, Bu Rini menuliskan judul materi hari itu: Berpikir Kritis. Ia menggarisbawahinya dua kali, lalu menjelaskan bahwa berpikir kritis berarti berani mempertanyakan sesuatu, memeriksa alasan, dan tidak menerima informasi begitu saja.

Arga membuka buku tulisnya. Ia mencatat definisi itu dengan rapi.

Di luar kelas, petugas kebersihan sedang membersihkan sisa cat yang menetes dari tulisan di gerbang. Tulisan Sekolah adalah tempat menuntut ilmu tampak semakin bersih. Dari kejauhan, huruf-hurufnya terlihat sempurna.

Arga bertanya-tanya apakah tulisan itu juga pernah diminta mengisi formulir evaluasi. Jika iya, mungkin ia akan menulis bahwa dirinya sudah menjalankan tugas sebaik mungkin. Ia telah berdiri di sana bertahun-tahun, menyambut murid setiap pagi dan mengingatkan orang-orang tentang tujuan mereka datang.

Ia tidak tahu apakah sekolah telah menjadi tempat yang lebih baik. Ia hanya tahu tulisan di gerbang kini lebih mudah dibaca.

Dan di kelas, di bawah judul Berpikir Kritis, Arga menulis satu kalimat kecil di bagian bawah halaman, kalimat yang tidak ia tunjukkan kepada siapa pun:

Kalau semua pertanyaan boleh diajukan, tetapi tidak semua boleh dijawab, sebenarnya kita sedang belajar apa?

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke: