Customer Service

Lima Sekawan : Healing atau Latihan Kepemimpinan?

100%

Lima Sekawan : Healing atau Latihan Kepemimpinan?

Not yet available in the requested language -- showing the original version.

Sabtu pagi seharusnya menjadi waktu yang damai.

Setidaknya, itulah keyakinan Kanaya.

Bangun agak siang, sarapan dengan tenang, menonton sesuatu yang tidak membutuhkan konsentrasi tinggi, lalu mungkin keluar sebentar bersama teman-temannya.

Namun semua harapan itu hancur ketika sebuah pesan masuk ke grup mereka.

Sagara:

Besok jam tujuh kumpul di depan sekolah.

Kanaya yang sedang rebahan langsung mengernyit.

Kanaya:

Buat apa?

Tiga titik muncul.

Lalu hilang.

Muncul lagi.

Hilang lagi.

Akhirnya Sagara menjawab.

Sagara:

Healing.

Kanaya langsung duduk.

Kanaya:

HEALING???

Djanu:

DI MANA?

Danis:

ADA MAKANAN?

Respati:

Konsepnya apa?

Sagara hanya mengirim satu pesan.

Sagara:

Percaya saja.

Empat orang membaca pesan itu dengan ekspresi berbeda.

Kanaya curiga.

Respati menganalisis.

Danis santai.

Djanu justru sudah membayangkan dirinya duduk di pinggir danau sambil makan mi instan.

Tidak ada satu pun yang menyadari bahwa di balik kata healing itu, Sagara telah menyusun rencana selama tiga hari.

Sagara sedang menjalankan sebuah misi.

Dan misi itu bukan healing.

Melainkan...

latihan dasar kepemimpinan.


Minggu pagi pukul tujuh tepat, kelimanya sudah berkumpul.

Kanaya datang dengan pakaian olahraga yang tetap terlihat terlalu rapi untuk ukuran orang yang katanya mau healing.

Respati membawa tas kecil.

Danis memakai kacamata hitam.

Djanu datang dengan ransel yang bentuknya sudah seperti hendak pindah rumah.

Sagara menatap ransel itu.

"Ngapain bawa segitu banyak barang?"

Djanu menepuk ranselnya.

"Persiapan."

"Persiapan apa?"

"Kalau healing-nya sampai besok."

Danis terkekeh.

Kanaya menatap Sagara.

"Jadi kita mau ke mana?"

Sagara menunjuk jalan di depan mereka.

"Ke bukit."

Kanaya terdiam.

"Naik?"

"Iya."

"Jalan kaki?"

"Iya."

Kanaya menoleh kepada Respati.

"Menurutmu ini masih bisa disebut healing?"

Respati menjawab datar.

"Secara teknis, berjalan di alam memang bisa mengurangi stres."

Kanaya mengangguk.

"Nah."

Respati melanjutkan.

"Tapi kalau dipaksa naik bukit sambil membawa beban, kemungkinan stresnya justru bertambah."

Kanaya langsung menunjuk Respati.

"Nah! Itu maksudku!"

Sagara hanya tersenyum tipis.

"Sudah. Jalan."

Djanu mendesah.

"Pemimpin macam apa yang kalau diajak healing malah nyuruh naik gunung?"

Sagara berjalan paling depan.

"Pemimpin yang tahu cara membuat kalian berkembang."

Djanu menatap punggungnya.

"Kalau tahu cara membuat kita berkembang, harusnya tahu cara membuat kita bahagia."

Danis menepuk bahu Djanu.

"Diam. Nanti dia kasih kita tugas."

"Justru itu masalahnya."


Perjalanan awal berjalan cukup menyenangkan.

Mereka melewati jalan desa, persawahan, lalu masuk ke jalur kecil menuju perbukitan.

Udara pagi terasa sejuk.

Pepohonan bergerak pelan tertiup angin.

Pemandangan dari atas semakin indah.

Kanaya yang sejak tadi mengeluh akhirnya berhenti.

"Eh..."

Ia memandang hamparan sawah di bawah mereka.

"Bagus banget."

Danis langsung mengeluarkan ponsel.

"Foto dulu."

Kanaya tersenyum.

"Bagus juga idemu, Sagara."

Sagara mengangguk puas.

"Tuh, kan. Healing."

Respati memandang sekeliling.

"Belum tentu."

Sagara menoleh.

"Kenapa?"

Respati menunjuk jam tangannya.

"Baru dua puluh menit."

Sagara diam.

Djanu tertawa.

"HAHAHA! Ketahuan!"

Sagara menghela napas.

"Sudah, lanjut."

Mereka berjalan lagi.

Sampai sekitar tiga puluh menit kemudian, Sagara berhenti.

"Oke. Kita istirahat."

Djanu langsung menjatuhkan diri ke sebuah batu.

"AKHIRNYA!"

Kanaya mengambil botol minum.

"Ini baru healing."

Sagara berdiri di depan mereka.

"Setelah ini kita mulai kegiatan."

Keempatnya serempak menatapnya.

"Kegiatan?"

Sagara mengangguk.

"Latihan dasar kepemimpinan."

Hening.

Burung berkicau.

Angin berembus.

Daun jatuh.

Bahkan seekor kupu-kupu yang lewat seolah ikut menyesali keputusan hidup mereka.

Kanaya akhirnya bersuara.

"Sagara."

"Hm?"

"Kamu tadi bilang healing."

"Iya."

"Kenapa sekarang jadi latihan kepemimpinan?"

Sagara menjawab tenang.

"Karena pemimpin juga perlu healing."

Danis tertawa.

"Logikanya dipaksakan banget."

Djanu berdiri.

"Jadi selama ini kita ditipu?"

Sagara mengangkat alis.

"Bukan ditipu."

"Lalu?"

"Strategi."

Respati mengangguk pelan.

"Secara definisi, memang manipulatif."

Sagara menatapnya.

"Terima kasih atas dukungannya."


Latihan pertama adalah membangun komunikasi.

Sagara membagi mereka menjadi pasangan.

Kanaya dengan Djanu.

Danis dengan Respati.

Mereka harus membawa sebuah bola kecil menggunakan dua batang kayu tanpa menyentuhnya dengan tangan.

Kelihatannya mudah.

Ternyata tidak.

"Naik sedikit!"

"Sudah!"

"Turunin!"

"Kalau diturunin jatuh!"

"YA KAMU JANGAN MIRING!"

"AKU NGGAK MIRING!"

Bola jatuh.

Kanaya dan Djanu menatapnya.

Lalu saling menyalahkan.

Sagara menghela napas.

"Komunikasi."

Djanu menunjuk Kanaya.

"Dia terlalu cepat!"

Kanaya menunjuk Djanu.

"Dia terlalu lambat!"

Respati dari belakang berkata datar.

"Kesimpulannya, kalian berdua tidak sinkron."

Kanaya dan Djanu menoleh bersamaan.

"DIAM, PATI!"

Respati hanya mengangkat bahu.

Pasangan kedua ternyata tidak lebih baik.

Danis dan Respati berhasil berjalan sekitar lima meter.

Lalu Danis berkata,

"Pat, menurutmu kalau kita jatuhkan saja bolanya, kita bisa selesai?"

Respati menatapnya.

"Secara teknis, iya."

Danis tersenyum.

"Berarti kita sepemikiran."

"Tapi itu bukan tujuan permainan."

Danis menghela napas.

"Kamu terlalu pintar untuk diajak curang."

Respati menjawab santai.

"Terima kasih."


Latihan kedua adalah memecahkan masalah.

Sagara memberikan sebuah peta sederhana.

Mereka harus menemukan tiga titik yang sudah ditentukan.

Kali ini, Sagara tidak memimpin.

Ia hanya mengamati.

"Silakan kalian tentukan siapa yang memimpin."

Semua langsung menunjuk satu orang.

"Sagara."

Sagara menggeleng.

"Justru bukan saya."

Mereka saling berpandangan.

Akhirnya Kanaya mengambil peta.

"Oke. Aku yang pimpin."

Djanu mengangkat tangan.

"Apakah pemimpin boleh makan dulu?"

"Enggak."

"Kalau wakil pemimpin?"

"Enggak."

"Kalau rakyat biasa?"

"Janu!"

"Baik."

Mereka mulai berjalan.

Kanaya ternyata cukup bagus dalam membaca peta.

Respati membantu menentukan arah.

Danis menjaga suasana tetap santai.

Djanu...

Djanu membawa bekal.

"Janu, kamu ngapain?"

"Kontribusi."

"Kontribusimu apa?"

"Menyediakan logistik."

Ia mengeluarkan tiga bungkus roti.

Danis langsung mengambil satu.

"Ini baru kepemimpinan."

Kanaya menggeleng sambil tertawa.

"Fokus!"

Mereka akhirnya menemukan titik pertama.

Lalu titik kedua.

Namun saat menuju titik ketiga, mereka menemukan percabangan.

Kanaya berhenti.

"Yang mana?"

Respati memeriksa peta.

"Sepertinya kiri."

Danis melihat tanda di pohon.

"Aku rasa kanan."

Djanu menunjuk jalan tengah.

"Kalau menurutku..."

Semua menoleh.

"...kita makan dulu."

"JANU!"


Setelah beberapa perdebatan, mereka akhirnya sepakat mengikuti petunjuk Respati.

Dan benar.

Beberapa menit kemudian, mereka menemukan tanda ketiga.

Sagara yang sejak tadi mengikuti dari belakang tersenyum.

"Bagus."

Kanaya menoleh.

"Jadi sebenarnya kamu dari tadi cuma ngawasin?"

"Iya."

"Terus kalau kita salah?"

"Aku bantu."

"Kalau kita nyasar?"

"Aku cari."

Djanu menyela.

"Kalau kita hilang?"

Sagara menatapnya.

"Kalian tidak akan hilang."

Djanu tersenyum lega.

"Syukurlah."

Sagara melanjutkan,

"Karena sebelum berangkat aku sudah menyimpan lokasi kita."

Djanu langsung menepuk dada.

"Pemimpin memang harus siap."

Respati menatapnya.

"Padahal tadi kamu yang paling panik."

"Itu namanya simulasi."


Menjelang sore, mereka duduk bersama di atas bukit.

Matahari mulai turun.

Angin semakin dingin.

Tidak ada lagi permainan.

Tidak ada lagi teriakan.

Hanya suara alam dan obrolan kecil mereka.

Sagara duduk sedikit terpisah.

Kanaya akhirnya menghampirinya.

"Capek?"

Sagara tersenyum.

"Sedikit."

"Kenapa kamu bikin semua ini?"

Sagara terdiam sejenak.

"Lima orang tidak selalu akan bersama selamanya."

Kanaya menatapnya.

"Maksudmu?"

"Kita akan lulus. Kuliah, kerja, punya kesibukan masing-masing. Suatu hari mungkin kita tidak bisa lagi selalu berkumpul seperti sekarang."

Ia melihat tiga sahabat mereka yang sedang berdebat tentang siapa yang paling banyak makan roti.

"Aku cuma ingin kita punya sesuatu yang lebih dari sekadar kenangan."

Kanaya tersenyum.

"Jadi ini alasan sebenarnya?"

Sagara mengangguk.

"Aku ingin kalian belajar percaya pada diri sendiri. Kalau suatu saat aku tidak ada, kalian tetap bisa mengambil keputusan."

Kanaya terdiam.

Lalu tersenyum kecil.

"Kalau begitu..."

Ia berdiri.

"Terima kasih, Sagara."

Sagara ikut tersenyum.

Namun suasana haru itu hanya bertahan sekitar lima detik.

Dari kejauhan terdengar suara Djanu.

"SAGARA!"

Sagara menoleh.

"Apa?"

"KITA MAU MAKAN!"

Sagara mengernyit.

"Makan apa?"

Djanu mengangkat ranselnya tinggi-tinggi.

"NASI GORENG!"

Danis bersorak.

Kanaya tertawa.

Respati bahkan terlihat tersenyum.

Sagara menggeleng sambil berdiri.

"Katanya latihan kepemimpinan."

Djanu menjawab lantang.

"PEMIMPIN YANG BAIK TIDAK MEMBIARKAN RAKYATNYA KELAPARAN!"

Danis menambahkan,

"SETUJU!"

Sagara akhirnya tertawa.

"Ya sudah. Ayo."

Mereka berjalan kembali menuju tempat perkemahan kecil.

Lima sahabat.

Lima kepala dengan sifat yang berbeda.

Dan satu perjalanan yang awalnya disebut healing, tetapi ternyata penuh tugas, peta, kerja sama, teriakan, dan roti yang hilang secara misterius.

Malamnya, mereka duduk mengelilingi api kecil.

Djanu masih sibuk makan.

Danis memainkan gitar pinjaman.

Kanaya bercerita.

Respati memperhatikan langit.

Sagara hanya duduk sambil tersenyum.

"Hei, Sagara," kata Danis tiba-tiba.

"Hm?"

"Besok healing lagi?"

Sagara berpikir sebentar.

"Boleh."

Djanu langsung bersorak.

"YES!"

Sagara melanjutkan,

"Tapi kali ini latihan kedisiplinan."

Keempatnya membeku.

Kanaya perlahan menoleh.

"Kamu serius?"

Sagara tersenyum.

"Bangun jam lima."

"NGGAK!"

Teriakan mereka menggema di bukit.

Sagara tertawa.

Untuk pertama kalinya hari itu, sang pemimpin benar-benar kehilangan wibawanya.

Dan mungkin...

itulah inti kepemimpinan yang sebenarnya.

Bukan selalu berdiri paling depan.

Bukan selalu memberi perintah.

Tetapi tahu kapan harus tegas, kapan harus mendengarkan, dan yang paling penting...

tahu kapan harus ikut tertawa bersama orang-orang yang dipimpinnya.

Malam itu, mereka akhirnya tidur dengan satu kesepakatan:

Besok tidak ada latihan.

Sayangnya, mereka lupa satu hal.

Sagara adalah orang yang membuat aturan.

Dan Sagara tidak pernah berjanji akan menaati kesepakatan mereka.

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke: