Customer Service

Rekaman CCTV pukul 03.03

Bab 1 dari 5

Bab 2
100%

Bab 1: Malam Pertama di Arkana Tower

Not yet available in the requested language -- showing the original version.

Hujan turun sejak senja.


Rintiknya yang semula lembut berubah menjadi deras ketika malam mengambil alih langit kota. Air mengalir di sepanjang kaca gedung-gedung tinggi, memantulkan cahaya lampu jalan yang berpendar kekuningan. Di antara deretan bangunan modern itu, berdiri sebuah gedung perkantoran setinggi dua puluh lantai dengan fasad kaca berwarna gelap.


Di bagian depannya, sebuah papan logam memantulkan cahaya lampu sorot.


ARKANA TOWER


Meski sebagian besar kantor di dalamnya telah kosong, gedung itu tidak pernah benar-benar tidur. Lampu di beberapa lantai tetap menyala, sistem pendingin ruangan terus berdengung, dan puluhan kamera CCTV mengawasi setiap sudut tanpa henti.


Di balik gerbang utama, seorang pria mengenakan jaket hitam turun dari sepeda motornya. Ia melepas helm, mengusap rambut yang sedikit basah karena hujan, lalu menatap gedung itu beberapa saat.


Namanya Dimas Pratama, dua puluh tujuh tahun.


Malam itu adalah malam pertamanya bekerja sebagai petugas keamanan di Arkana Tower.


Ia menarik napas panjang sebelum melangkah menuju pos keamanan.


"Semoga malamnya tenang," gumamnya pelan.


***


Pos keamanan berada di sisi kiri lobi utama. Bangunannya tidak besar, hanya cukup untuk sebuah meja, beberapa kursi, dan lemari arsip. Aroma kopi hitam bercampur dengan bau kertas tua memenuhi ruangan.


Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun sedang memeriksa buku laporan sambil mengenakan kacamata baca.


Rambutnya mulai memutih, tetapi posturnya masih tegap.


Ketika mendengar pintu terbuka, ia mengangkat kepala.


"Kamu pasti Dimas."


"Iya, Pak."


Pria itu berdiri lalu mengulurkan tangan.


"Saya Hendra. Kepala keamanan di sini."


Jabat tangannya kuat, tetapi sikapnya tenang.


"Selamat datang."


"Terima kasih, Pak."


Pak Hendra mempersilakan Dimas duduk.


Di atas meja sudah tersedia secangkir kopi yang masih mengepulkan uap.


"Minum dulu. Malam masih panjang."


Dimas mengangguk sopan.


Sambil menikmati kopi hangat itu, ia mendengarkan penjelasan mengenai tugas-tugasnya.


Pemeriksaan akses masuk.


Patroli rutin.


Laporan setiap dua jam.


Pengecekan panel alarm.


Dan yang terpenting...


Mengawasi seluruh kamera CCTV dari ruang kontrol.


Semua terdengar seperti pekerjaan satpam pada umumnya.


Tidak ada yang aneh.


Setidaknya, sampai Pak Hendra berhenti berbicara selama beberapa detik.


Pria itu menatap Dimas dengan sorot mata yang sulit ditebak.


"Lalu ada satu aturan lagi."


Dimas menunggu.


"Jangan pernah meninggalkan ruang kontrol tanpa alasan yang jelas."


"Baik, Pak."


Pak Hendra mengangguk.


"Kalau ada suara aneh?"


"Periksa sesuai prosedur."


"Kalau listrik berkedip?"


"Tetap tenang."


"Kalau monitor bermasalah?"


"Catat waktunya."


Dimas mengangguk satu per satu.


Namun Pak Hendra belum selesai.


"Dan..."


Ia menarik napas pendek.


"Jangan mengambil kesimpulan sebelum memastikan dengan mata kepalamu sendiri."


Kalimat itu terdengar ganjil.


Dimas mengernyit.


"Maksud Bapak?"


Pak Hendra hanya tersenyum tipis.


"Nanti kamu akan mengerti."


Jawaban itu justru menimbulkan lebih banyak pertanyaan.


***


Pukul sebelas malam, hujan mulai sedikit mereda.


Pak Hendra mengajak Dimas berkeliling gedung.


Lobi utama terlihat luas dan elegan. Lantai marmer mengilap memantulkan cahaya lampu gantung yang menggantung tinggi di langit-langit. Di sisi kanan terdapat meja resepsionis yang kini kosong, sementara deretan sofa tamu berjajar rapi menghadap pintu masuk.


Mereka berjalan menuju lift.


"Di gedung ini ada dua puluh lantai," kata Pak Hendra. "Sebagian besar kantor tutup pukul enam sore. Setelah itu, hanya ada beberapa petugas kebersihan, teknisi yang mendapat izin, dan tim keamanan."


Lift terbuka dengan bunyi pelan.


Mereka masuk.


"Lantai yang paling sering dipatroli adalah lantai satu sampai sepuluh. Sisanya cukup diperiksa sesuai jadwal."


Pintu lift kembali terbuka di lantai tujuh.


Koridor tampak panjang dengan lampu putih yang menyala stabil. Tidak ada suara selain dengungan pendingin ruangan.


Dimas memperhatikan sekeliling.


Semuanya tampak biasa.


"Kenapa kita berhenti di sini, Pak?"


Pak Hendra tidak langsung menjawab.


Ia memandang sepanjang lorong beberapa saat sebelum berkata pelan,


"Karena semua satpam baru selalu bertanya tentang lantai ini."


Dimas tersenyum kecil.


"Memangnya ada apa?"


"Menurutmu?"


Dimas melihat ke kanan dan kiri.


Lorong bersih.


Pintu-pintu kantor tertutup rapat.


Tidak ada hal yang mencurigakan.


"Kelihatannya biasa saja."


"Itu bagus."


Pak Hendra menepuk bahu Dimas pelan.


"Semoga kesanmu tetap sama."


Kalimat itu membuat Dimas menoleh.


Namun Pak Hendra sudah berjalan lebih dulu menuju lift.


***


Mereka kembali ke lantai dasar.


Jam menunjukkan pukul 23.47.


Di ruang kontrol, deretan monitor memenuhi satu sisi dinding. Masing-masing menampilkan sudut yang berbeda: lobi, parkiran, tangga darurat, koridor, ruang server, hingga lorong-lorong kantor di setiap lantai.


Puluhan gambar bergerak dalam

keheningan.


"Semua kamera bisa diputar dan diperbesar dari sini," jelas Pak Hendra sambil menunjukkan panel kendali.


Dimas memperhatikan dengan saksama.


Ia memang pernah bekerja sebagai satpam sebelumnya, tetapi sistem di Arkana Tower jauh lebih modern.


"Kalau ada gangguan, langsung laporkan."


"Siap."


Pak Hendra menutup buku laporan.


"Saya pulang dulu. Arga akan datang sebentar untuk serah terima shift."


"Baik, Pak."


Sebelum keluar dari ruangan, Pak Hendra sempat berhenti di depan pintu.


Ia melirik jam digital yang tergantung di dinding.


Lalu menatap Dimas.


"Selamat bertugas."


Pintu tertutup perlahan.


Kini Dimas sendirian.


Ia duduk di depan monitor.


Mengamati puluhan layar yang terus menampilkan keadaan gedung.


Di luar, hujan kembali turun.


Ruang kontrol dipenuhi suara dengungan

komputer dan pendingin ruangan.


Suasana yang tenang.


Terlalu tenang.


Tanpa disadari, Dimas melirik jam digital di dinding.


00.02


Malam masih panjang.


Dan ia sama sekali belum tahu...


bahwa beberapa jam lagi, tepat ketika jarum jam menunjukkan 03.03, malam pertamanya di Arkana Tower akan berubah menjadi awal dari sebuah mimpi buruk yang tidak pernah bisa ia lupakan.


***


Jarum jam terus bergerak.


Pukul 00.15.


Dimas mulai membiasakan diri dengan ritme malam di Arkana Tower. Ia memeriksa monitor satu per satu, memastikan setiap sudut gedung berada dalam kondisi normal. Sesekali ia mencatat hasil pemeriksaan ke dalam buku log yang telah disediakan.


Di luar jendela ruang kontrol, hujan turun dengan intensitas yang berubah-ubah. Kadang hanya gerimis tipis, kadang kembali deras hingga suara tetesannya terdengar samar di balik dinding kaca.


Keheningan seperti itu justru membuat setiap suara kecil menjadi lebih jelas.


Dering mesin pendingin.


Detak jam digital.


Klik pelan dari pergantian tampilan monitor.


Tidak ada yang aneh.


***


Pukul 00.40.


Pintu ruang kontrol diketuk dua kali.


Tok.


Tok.


"Masuk."


Seorang pria bertubuh tinggi dengan wajah ramah membuka pintu sambil membawa dua bungkus kopi instan.


"Satpam baru, ya?"


Dimas berdiri dan mengangguk.


"Iya. Dimas."


Pria itu tersenyum lebar.


"Arga."


Mereka berjabat tangan.


Arga tampak beberapa tahun lebih tua. Sikapnya santai dan mudah mengajak orang berbicara.


"Pak Hendra sudah cerita tentang gedung ini?"


"Sudah. Soal patroli dan pemeriksaan."


Arga tertawa kecil.


"Kalau begitu aman."


Ia menyeduh kopi, lalu menyerahkan satu gelas kepada Dimas.


"Kalau malam sepi begini, kopi lebih penting daripada senter."


Dimas ikut tersenyum.


Percakapan mereka mengalir ringan. Arga bercerita tentang pengalamannya bekerja sebagai satpam, penghuni kantor yang sering lupa membawa kartu akses, hingga teknisi yang pernah tertidur di ruang server karena lembur.


Tidak sekali pun ia membahas hal-hal mistis.


Suasana menjadi jauh lebih santai.


***


Sekitar pukul 01.20, Arga berpamitan.


"Shift-ku besok sore. Jadi aku pulang dulu."


"Oke. Hati-hati di jalan."


Sebelum keluar, Arga menunjuk buku log di atas meja.


"Jangan lupa catat semuanya. Hal sekecil apa pun."


"Kenapa?"


"Pak Hendra suka laporan yang lengkap."


Jawaban itu terdengar wajar.


Namun entah mengapa, Arga mengucapkannya sambil melirik sekilas ke arah monitor lantai tujuh.


Tatapannya hanya berlangsung sesaat.


Begitu cepat hingga Dimas mengira dirinya salah melihat.


Arga kemudian tersenyum seperti biasa.


"Sampai besok."


Pintu kembali tertutup.


Ruang kontrol kembali sunyi.


***


Pukul 01.45.


Dimas memulai patroli pertamanya.


Ia memeriksa lobi.


Tangga darurat.


Pintu belakang.


Panel alarm.


Semua dalam kondisi normal.


Saat melewati lorong menuju ruang arsip, ia melihat lampu di ujung koridor berkedip sekali.


Hanya sekali.


Setelah itu kembali normal.


"Barangkali tegangannya turun," gumamnya.


Ia mencatatnya di buku log.



01.47 - Lampu koridor timur lantai dasar berkedip satu kali. Kondisi kembali normal.



Selesai berpatroli, ia kembali ke ruang kontrol.


Jam menunjukkan pukul 02.18.


Rasa kantuk mulai datang perlahan.


Dimas bangkit untuk membuat secangkir kopi lagi.


Saat air panas memenuhi gelas kertas, matanya tanpa sadar kembali tertuju pada deretan monitor.


Lobi.


Parkiran.


Lift.


Tangga darurat.


Koridor lantai dua.


Koridor lantai lima.


Lantai tujuh.


Semua terlihat tenang.


Ia mengembuskan napas lega.


"Mungkin Pak Hendra hanya ingin membuatku lebih waspada."


Dimas memang tidak mudah percaya pada cerita-cerita menyeramkan.


Selama bekerja sebagai satpam, ia lebih sering menemukan kabel putus, alarm rusak, atau penghuni gedung yang lupa mematikan lampu daripada hal-hal yang tidak masuk akal.


Baginya, setiap kejadian pasti memiliki penjelasan.


Setidaknya...


Begitulah yang ia yakini.


***


Pukul 02.51.


Hujan berhenti.


Kabut tipis mulai menyelimuti halaman depan gedung.


Beberapa monitor sesekali memperlihatkan embun yang menempel pada lensa kamera luar.


Dimas membersihkan kacamatanya.


Lalu kembali duduk.


Entah mengapa, malam terasa berjalan lebih lambat daripada biasanya.


Ia melihat jam digital.


02.58


Lalu kembali mengamati monitor.


Beberapa menit berlalu tanpa sesuatu yang mencurigakan.


Sampai...


Sebuah bunyi elektronik pelan terdengar dari panel kontrol.


Bip...


Salah satu lampu indikator menyala sesaat.


Kemudian padam.


Dimas mengernyit.


Ia memeriksa layar status sistem.


Semua tertulis Normal.


"Mungkin hanya sinkronisasi."


Ia menuliskan catatan kecil di buku log.



02.59 - Bunyi indikator panel. Tidak ditemukan gangguan sistem.



Saat pena itu kembali diletakkan...


Jam digital berubah.


03.00


Dimas tidak tahu mengapa.


Tetapi sejak angka itu muncul...


Suasana ruang kontrol terasa berbeda.


Bukan lebih dingin.


Bukan lebih panas.


Melainkan...


Lebih sunyi.


Seolah seluruh gedung sedang menahan napas.


Ia menggeleng pelan.


Mungkin hanya perasaannya.


Tiga menit lagi, ia akan melakukan

pemeriksaan rutin berikutnya.


Tanpa sadar, matanya kembali tertuju pada jam digital.


Angka merah itu terus berubah perlahan.


03.01


...


03.02


Dimas meraih bolpoin untuk mencatat waktu.


Tepat ketika detik terakhir berganti...


Jam menunjukkan...


03.03


Pada saat yang sama...


Seluruh monitor di ruang kontrol berkedip

serempak.


Sekali.


Lalu...


Layar yang menampilkan lorong lantai tujuh berubah menjadi hitam selama sepersekian

detik.


Ketika gambar kembali muncul...


Lorong itu tidak lagi kosong.


Ada seseorang.


Sosok itu berjalan perlahan dari ujung lorong.


Kepalanya tertunduk.


Seragamnya tampak seperti seragam petugas keamanan.


Dimas spontan meraih joystick pengendali

kamera.


"Siapa itu...?"


Ia memperbesar gambar sedikit demi sedikit.


Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.


Sosok itu berhenti tepat di bawah lampu lorong.


Perlahan...


Kepalanya terangkat.


Dimas menahan napas.


Jari-jarinya mencengkeram joystick hingga memutih.


Wajah sosok itu masih tertutup bayangan.


Lalu monitor kembali berkedip.


Gelap.


Ketika gambar muncul kembali...


Lorong lantai tujuh sudah kosong.


Seolah tidak pernah ada siapa pun di sana.


Dimas masih terpaku menatap monitor.


Di sudut ruangan, jam digital tetap menyala.


03.03.17



Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Next Chapter

Suka ( 1)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Chapter List