Customer Service

MARNI

100%

MARNI

Not yet available in the requested language -- showing the original version.

MARNI

Marni baru tahu bahwa sebuah kebohongan bisa memiliki tanda tangan kepala sekolah.

Ia menemukannya pada selembar kertas yang terselip di antara halaman buku paket Bahasa Indonesia. Di bagian atasnya tercetak lambang sekolah, sedangkan di bawahnya terdapat tabel nama siswa penerima bantuan pendidikan.

Nama Marni berada di urutan ketujuh.

Pada kolom keterangan tertulis: Tidak layak menerima bantuan karena kondisi ekonomi keluarga telah membaik.

Marni membacanya dua kali. Ia teringat ibunya yang menghitung uang belanja setiap malam dan ayahnya yang pulang dengan pakaian berdebu setelah bekerja sebagai buruh bangunan. Bahkan, tiga hari lalu, ibunya mengembalikan dua butir telur ke warung karena uang di dompetnya kurang tiga ribu rupiah.

Kertas itu menyatakan keadaan yang tidak pernah Marni alami.

Di sudutnya terdapat catatan bertinta merah: Revisi data sebelum supervisi.

Marni memasukkan kertas itu ke buku ketika seseorang memanggilnya dari pintu kelas.

"Mar, kamu dipanggil Bu Ratih."

Tio berdiri di ambang pintu dengan dasi longgar dan rambut berantakan. Ia melemparkan sebungkus roti ke meja Marni.

"Kenapa?" tanya Marni.

"Mungkin kamu menang undian murid paling sering dipanggil guru."

Marni tidak menanggapi. Ia berjalan menuju ruang guru, diikuti Tio yang selalu ingin tahu urusan orang lain.

Bu Ratih sudah menunggunya.

"Kamu sudah mengumpulkan formulir bantuan pendidikan?"

"Sudah, Bu."

"Bagus. Kalau nanti ditanya petugas, bilang saja semua data sudah sesuai. Jangan memberikan keterangan berbeda dari berkas sekolah."

Marni mengernyit. "Tapi, Bu, kenapa nama saya dinyatakan tidak layak?"

Bu Ratih merapikan tumpukan dokumen di mejanya.

"Kamu masih kecil. Tidak perlu memikirkan urusan administrasi. Fokus belajar saja."

"Saya cuma ingin tahu—"

"Marni, Ibu sedang banyak pekerjaan. Jangan memperumit keadaan."

Marni keluar tanpa mendapat jawaban.

Di koridor, ia menunjukkan kertas itu kepada Tio.

"Kalau keluargamu memang sudah mampu, kenapa kamu masih mengajukan bantuan?" tanya Tio.

"Karena kami belum mampu."

Tio terdiam. Ia lalu mengaku bahwa kakaknya pernah mengalami hal serupa. Berkas bantuan mereka berkali-kali dikembalikan dengan alasan tidak lengkap, sampai akhirnya keluarganya berhenti mengurusnya.

"Kakakku bilang, percuma bertanya kalau yang menjawab selalu orang yang sama," katanya.

Marni melipat kertas itu dan menyimpannya kembali.

Ia belum tahu siapa yang keliru. Namun, ia mulai curiga bahwa masalahnya bukan semata-mata kesalahan pencatatan.


Ayah Marni sedang memperbaiki gagang pintu ketika ia pulang.

Rumah mereka sederhana. Dinding belakang belum dicat, beberapa genting bocor ketika hujan deras, dan kipas angin di ruang tengah hanya berfungsi jika kabelnya digoyangkan. Marni tidak pernah malu tinggal di sana. Ia hanya tidak mengerti bagaimana orang lain bisa menyimpulkan bahwa keluarganya sudah berkecukupan tanpa pernah bertanya.

"Ayah, kalau anak sekolah tidak punya uang, sekolah bisa membantu, kan?"

Ayah mengangkat kepala.

"Bisa. Memangnya kenapa?"

Marni menyerahkan kertas yang ditemukannya.

Ayah membaca setiap baris dengan teliti.

"Besok Ayah datang ke sekolah."

"Jangan, Yah. Nanti aku malah dimusuhi guru."

Ayah meletakkan kertas di meja.

"Kalau kamu harus diam supaya disukai, siapa yang akan mendengar kalau kamu punya masalah?"

Malam itu, ibu mengeluarkan amplop cokelat dari lemari. Isinya salinan formulir bantuan yang telah mereka kumpulkan, lengkap dengan surat keterangan penghasilan ayah. Tidak ada keterangan bahwa keadaan ekonomi mereka membaik.

Ayah menghela napas.

"Kalau datanya salah, seharusnya bisa diperbaiki."

"Tapi kalau yang salah orang sekolah sendiri bagaimana?" tanya Marni.

Ayah tidak segera menjawab. Ia mengambil kembali kertas itu, lalu memasukkannya ke dalam amplop bersama dokumen lain.

"Besok kita tanyakan."

Untuk pertama kalinya, Marni berharap ayahnya benar. Ia juga takut jika ternyata bertanya justru membuat keadaan semakin buruk.


Dua hari kemudian, sekolah mengadakan pertemuan orang tua untuk membahas prestasi dan kedisiplinan siswa.

Kepala sekolah berbicara panjang tentang peningkatan nilai ujian, keberhasilan lomba, dan perhatian sekolah terhadap siswa kurang mampu.

"Kami berkomitmen agar tidak ada anak yang tertinggal karena keterbatasan ekonomi," katanya.

Marni duduk di samping Tio, sementara ayah dan ibunya berada di bangku belakang.

Seusai sambutan, guru membagikan formulir evaluasi sekolah. Marni memperhatikan bahwa seluruh jawaban sudah ditandai pada kolom positif.

Apakah bantuan pendidikan telah disalurkan secara tepat sasaran? Ya.

Apakah guru telah memperlakukan siswa secara adil? Ya.

Seorang ibu mengangkat formulirnya.

"Ini sudah diisi, Pak. Kami tinggal tanda tangan?"

"Betul, Bu. Jawabannya sudah mewakili kondisi sekolah."

Ibu itu memandang kertasnya sebentar sebelum membubuhkan tanda tangan.

Marni menoleh kepada Tio. Anak itu mengangkat alis, tetapi tidak berkata apa-apa.

Ketika sesi tanya jawab dibuka, ayah Marni berdiri.

"Saya ingin bertanya tentang bantuan pendidikan. Anak saya dinyatakan tidak layak menerima bantuan karena kondisi keluarga dianggap membaik. Saya ingin tahu berdasarkan apa kesimpulan itu dibuat."

Kepala sekolah tersenyum kaku.

"Untuk urusan administrasi, Bapak bisa menemui petugas setelah acara."

"Saya sudah mencoba bertanya. Saya belum mendapat jawaban."

Seorang staf diminta memeriksa berkas Marni. Setelah membolak-balik beberapa dokumen, ia berbisik kepada kepala sekolah.

"Sepertinya ada kekeliruan pencatatan," ujar kepala sekolah. "Nanti akan kami periksa."

Ayah duduk kembali. Namun, sebelum acara dilanjutkan, seorang siswa kelas sembilan berdiri di dekat pintu.

"Pak, saya juga belum menerima bantuan. Katanya kuota habis, tetapi saya tidak tahu bagaimana kuota itu ditentukan."

Seorang ibu ikut berdiri. Anak mereka mengalami masalah serupa. Tak lama kemudian, beberapa orang tua lain mulai mengajukan pertanyaan.

Suasana yang semula tertib berubah ramai.

Marni memperhatikan wajah para guru. Ada yang tampak kesal, ada pula yang menunduk. Ia baru menyadari bahwa banyak orang menyimpan pertanyaan yang sama, tetapi memilih memendamnya karena tidak tahu harus menyampaikan kepada siapa.


Dua hari setelah pertemuan itu, Marni dipanggil ke ruang kepala sekolah bersama ayahnya.

Staf administrasi menjelaskan bahwa data bantuan harus diperbarui sebelum laporan dikirim. Dalam proses tersebut, status ekonomi beberapa siswa berubah tanpa pemeriksaan ulang terhadap dokumen pendukung.

"Jadi, tidak ada yang memastikan data itu benar?" tanya ayah.

"Kami bekerja dengan tenggat waktu, Pak. Ada banyak berkas yang harus diselesaikan."

"Tapi ini menyangkut hak anak-anak."

Kepala sekolah menyatakan bahwa pengajuan Marni akan diproses kembali. Ia juga berjanji memeriksa berkas siswa lain.

Marni seharusnya lega. Namun, sebelum mereka meninggalkan ruangan, Bu Ratih memintanya menunggu.

"Kamu tahu, sejak masalah ini muncul, pekerjaan administrasi menjadi lebih sulit," katanya. "Kamu seharusnya membicarakannya baik-baik dengan guru, bukan membuat orang tua lain ikut mempertanyakan sekolah."

"Saya sudah bertanya kepada Ibu, tetapi Ibu tidak menjawab."

Bu Ratih terdiam.

"Kadang-kadang ada hal yang tidak bisa dijelaskan kepada siswa."

Marni memberanikan diri mengajukan pertanyaan.

"Kalau begitu, siapa yang boleh tahu, Bu?"

Bu Ratih mempersilakannya kembali ke kelas.

Tidak ada penjelasan lain.

Dalam perjalanan pulang, ayah membelikan Marni air mineral dari kantin.

"Ayah tidak marah?" tanya Marni.

"Marah saja tidak membuat masalah selesai."

"Tapi mereka belum meminta maaf."

Ayah menatap jalan di depan mereka.

"Memperbaiki kesalahan itu penting. Mengakui kesalahan juga penting. Kalau mereka hanya melakukan yang pertama, kita masih perlu memastikan mereka memahami yang kedua."

Bantuan Marni akhirnya diproses kembali, meski belum langsung cair. Di rumah, ibu memasak telur dadar untuk makan malam. Mereka membaginya menjadi empat bagian, seperti biasa.

Sementara itu, sekolah kembali berjalan seolah tidak terjadi apa-apa. Tidak ada pengumuman mengenai kekeliruan data bantuan. Tidak ada pula penjelasan tentang formulir evaluasi yang jawabannya sudah ditentukan.

Sekolah justru memasang kotak saran baru di dekat perpustakaan. Di atasnya tertulis: Suara Siswa, Perhatian Sekolah.

Pada hari keempat, Marni melihat Tio memasukkan selembar kertas ke dalam kotak itu.

"Apa yang kamu tulis?" tanyanya.

"Rahasia."

"Kamu mengeluh soal nilai matematika?"

"Lebih penting dari itu."

Tio pergi sebelum Marni sempat bertanya lagi.


Dua minggu kemudian, sekolah mendadak berubah.

Dinding yang catnya mengelupas ditutupi spanduk. Pot-pot bunga dipindahkan ke halaman depan. Bangku rusak disingkirkan dari koridor, sementara perpustakaan dibersihkan hingga lantainya mengilap.

Kipas angin di ruang kepala sekolah yang sudah berbulan-bulan berbunyi seperti mesin tua akhirnya diganti.

Gubernur akan datang untuk meresmikan program peningkatan mutu pendidikan.

Dalam upacara Senin pagi, kepala sekolah mengingatkan semua siswa agar menjaga sikap.

"Kita harus memberikan kesan terbaik. Jangan ada yang melakukan hal-hal di luar susunan acara."

Marni tidak tahu apakah kalimat itu ditujukan kepadanya. Sejak persoalan bantuan pendidikan mencuat, beberapa guru memandangnya dengan cara berbeda.

Di papan pengumuman, ia melihat daftar siswa yang akan mengisi acara penyambutan gubernur. Ada paduan suara, penari, dan dua siswa berprestasi yang akan membacakan pidato tentang keberhasilan sekolah.

Nama Marni tidak tercantum.

Sepulang sekolah, Tio menemukannya duduk di belakang perpustakaan dengan buku tulis terbuka.

"Kamu sedang menulis apa?"

"Puisi."

"Yang bagus atau yang bikin kepala sekolah sakit?"

Marni menutup bukunya.

"Kalau aku bacakan di depan gubernur, menurutmu apa yang akan terjadi?"

Tio duduk di sampingnya.

"Kalau puisimu tentang bunga dan cita-cita, mungkin kamu dapat tepuk tangan."

"Kalau bukan?"

"Mungkin kamu dapat pengalaman yang tidak ada di rapor."

Marni tersenyum tipis.

"Aku takut."

"Ya, jangan pura-pura berani. Pikirkan kenapa kamu ingin membacanya."

Tio berdiri dan menepuk debu di celananya.

"Kalau kamu cuma ingin membuat orang malu, pikirkan lagi. Tapi kalau kamu ingin mereka mendengar sesuatu yang selama ini tidak pernah sampai ke telinga mereka, itu urusan berbeda."

Setelah Tio pergi, Marni kembali membaca puisinya. Ia menulis tentang rapor yang penuh angka, formulir yang sudah memiliki jawaban sebelum pertanyaan diajukan, dan ruang kelas yang hanya diperbaiki ketika orang penting akan datang berkunjung.

Beberapa kalimat dicoret. Ada yang diubah karena terlalu marah, ada pula yang dihapus karena terdengar seperti pidato orang dewasa.

Ia tidak ingin sekadar terdengar berani.

Ia ingin mengatakan sesuatu yang benar.


Hari kunjungan gubernur tiba dengan langit cerah dan halaman sekolah yang dipenuhi kursi.

Para siswa mengenakan seragam terbaik mereka. Guru-guru berdiri di tempat yang telah ditentukan. Kepala sekolah berkali-kali memeriksa susunan acara, sementara petugas mengatur posisi kamera.

Gubernur tiba menjelang pukul sepuluh. Setelah pertunjukan paduan suara, kepala sekolah menyampaikan laporan tentang prestasi siswa, fasilitas belajar, dan berbagai program pendidikan.

"Kami berkomitmen agar tidak ada anak yang tertinggal karena keterbatasan ekonomi," katanya di hadapan para tamu.

Marni menunduk. Di dalam tasnya masih tersimpan salinan dokumen yang menyatakan bahwa keluarganya tidak layak menerima bantuan.

Ia teringat ayahnya yang harus datang ke sekolah, berkas yang baru diperiksa setelah dipertanyakan di depan banyak orang, serta keluarga lain yang mengalami persoalan serupa.

Setelah sambutan, seorang siswi kelas sembilan membacakan puisi tentang cita-cita. Tepuk tangan terdengar ketika ia selesai.

Pembawa acara kemudian mengumumkan penampilan berikutnya.

"Selanjutnya, kita akan mendengarkan puisi dari siswi kelas delapan"

Marni tertegun. Ia sengaja mendaftarkan diri. Rupanya panitia betul-betul memasukkan namanya, namun puisi yang telah di siapkan tidak di ambilnya, melainkan membaca puisi miliknya sendiri.

Seorang guru memberi isyarat agar ia segera naik ke panggung.

Tio memandangnya dari kursi.

"Kamu bawa puisi yang itu?"

Marni mengangguk.

"Kalau begitu, baca sampai selesai."

Kakinya terasa berat ketika menaiki tangga panggung. Ia berdiri di depan mikrofon, memandang para pejabat, guru, orang tua, dan siswa yang memenuhi halaman.

Kepala sekolah duduk di sebelah gubernur.

Marni mengeluarkan selembar kertas dari buku tulisnya.

"Puisi ini berjudul Sekolah yang Pandai Bersolek."

Beberapa orang tersenyum, mengira judul itu hanya lelucon tentang persiapan acara.

Marni menarik napas, kemudian mulai membaca.

SEKOLAH YANG PANDAI BERSOLEK

Pagi ini sekolah kami cantik sekali,

dindingnya bersih, halamannya rapi.

Kipas yang kemarin dibiarkan mati,

hari ini berputar tanpa berhenti.

Bunga-bunga dipindah ke halaman depan,

buku-buku disusun demi pemandangan.

Katanya, kami sedang menyambut masa depan,

yang rupanya datang bersama rombongan.

Silakan lihat, Pak, ruang kelas kami,

tempat mimpi tumbuh setiap hari.

Jika ada atap bocor, mohon jangan dicari,

barangkali hujan belum membaca jadwal kunjungan ini.

Kami punya rapor dengan angka berbaris,

ada yang tinggi, ada yang menangis.

Angka-angka itu begitu pandai menulis,

sampai lupa bertanya siapa yang sulit mengemis.

Ada formulir yang jawabannya telah tersedia,

tinggal tanda tangan, selesai sudah perkara.

Betapa hemat waktu dan tenaga,

bahkan suara kami tak perlu ikut bekerja.

Bila anak miskin meminta haknya,

periksa dahulu apakah ia cukup menderita.

Jika masih mampu tersenyum di kelasnya,

mungkin ia tak sepantasnya menerima apa-apa.

Jika guru bertanya mengapa nilainya rendah,

katakan ia malas, jangan tanya rumahnya.

Jika murid terlambat memahami pelajaran,

berikan hukuman, bukan kesempatan.

Di sini kami belajar tentang kejujuran,

tentang adil, disiplin, dan pengorbanan.

Tetapi ketika kebenaran mengetuk ruangan,

kami diminta menunggu di luar pembicaraan.

Pak, jangan khawatir, sekolah kami baik-baik saja,

semua laporan sudah punya jawabannya.

Jika ada yang bertanya tentang kenyataan,

mungkin ia belum menghafal susunan acara.

Besok, ketika panggung kembali dibongkar,

ketika bunga dipindah, kamera berputar,

kami akan kembali duduk di kelas yang sama,

membaca tentang keadilan dari buku yang sama.

Dan bila kelak kami tumbuh menjadi dewasa,

semoga kami tidak mengulang kebiasaan yang serupa.

Sebab sekolah telah mengajarkan satu rahasia:

kebenaran boleh diucapkan,

asal tidak mengganggu acara.

Marni menurunkan kertasnya.

Halaman sekolah mendadak sunyi. Tidak ada tepuk tangan atau suara kursi digeser. Bahkan suara kendaraan dari jalan raya terdengar lebih jelas daripada sebelumnya.

Marni memandang lurus ke depan.

"Saya menulis puisi ini berdasarkan hal-hal yang saya lihat di sekolah saya sendiri," lanjutnya. Suaranya bergetar, tetapi ia tidak berhenti. "Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa semua guru atau semua program sekolah itu buruk. Saya tahu ada guru yang bekerja keras dan orang-orang yang sungguh-sungguh ingin membantu siswa."

Kepala sekolah bergerak gelisah di kursinya.

"Namun, kalau sekolah mengajarkan kejujuran, mengapa siswa harus takut ketika menyampaikan sesuatu yang tidak sesuai dengan laporan? Kalau bantuan pendidikan ditujukan untuk anak yang membutuhkan, mengapa ada keluarga yang harus berkali-kali bertanya sebelum berkasnya diperiksa dengan benar?"

Marni menggenggam kertasnya lebih erat.

"Saya juga ingin belajar menjadi orang yang jujur. Tetapi saya tidak tahu bagaimana caranya kalau kejujuran hanya dianggap baik selama tidak membuat orang lain merasa terganggu."

Pembawa acara terlihat hendak mengambil mikrofon, tetapi gubernur mengangkat tangan, memberi isyarat agar Marni menyelesaikan ucapannya.

"Terima kasih sudah datang ke sekolah kami, Pak. Semoga setelah hari ini, sekolah kami tetap mendapat perhatian, bahkan ketika tidak ada pejabat yang berkunjung."

Ia melipat kertas itu.

Tepuk tangan terdengar dari barisan belakang. Tidak serentak, tidak pula meriah. Seorang ibu mengangguk sambil menyeka sudut matanya. Ayah Marni berdiri di dekat pintu masuk, masih mengenakan kemeja sederhana yang dipakainya ketika bekerja.

Tio bertepuk tangan paling keras.

Marni turun dari panggung tanpa menunggu pembawa acara menyebut namanya kembali.


Acara tidak langsung berakhir.

Gubernur meminta kepala sekolah menjelaskan persoalan bantuan pendidikan yang disinggung dalam puisi. Ia meminta dokumen terkait diperiksa dan laporan mengenai pengaduan siswa disiapkan. Kepala sekolah menyatakan bahwa pihaknya akan melakukan evaluasi.

Marni tidak tahu apakah permintaan itu akan membawa perubahan yang bertahan lama. Ia juga tidak tahu apakah puisinya akan dianggap sebagai keberanian atau tindakan yang tidak pantas.

Setelah acara, seorang guru mendekatinya.

"Kamu menulis puisi itu sendiri?"

"Iya, Bu."

"Kenapa tidak disampaikan kepada guru lebih dahulu?"

Marni menatapnya. Pertanyaan itu mengingatkannya pada hari ketika ia pertama kali membawa dokumen bantuan ke ruang guru.

"Saya pernah bertanya, Bu."

Guru itu tidak menjawab.

Tak lama kemudian, kepala sekolah memanggil Marni ke ruangannya. Ayahnya ikut mendampingi. Di atas meja terdapat lembaran puisi yang baru saja dibacakan.

"Kamu mengerti bahwa tindakanmu tadi bisa menimbulkan kesalahpahaman?" tanya kepala sekolah.

Marni mengangguk.

"Kamu seharusnya bisa menyampaikan kritik dengan cara yang lebih baik."

Marni memandang puisi di atas meja.

"Kalau saya menyampaikannya di kelas, apakah Bapak akan mendengarnya?"

Kepala sekolah terdiam.

"Saya sudah bertanya tentang bantuan pendidikan, Pak. Saya tidak mendapat jawaban. Saya tidak tahu harus bertanya kepada siapa lagi."

"Kami akan mengevaluasi cara sekolah menangani keluhan siswa," kata kepala sekolah akhirnya. "Tapi kamu juga harus memahami bahwa sekolah memiliki aturan."

"Baik, Pak."

Marni meninggalkan ruangan tanpa mengatakan apa-apa lagi. Ia tahu satu puisi tidak bisa memperbaiki semua kesalahan. Satu kunjungan pejabat juga tidak menjamin bahwa setiap siswa akan memperoleh haknya.

Namun, setidaknya kali ini seseorang harus mendengarkan pertanyaan yang sebelumnya dibiarkan tanpa jawaban.

Senin berikutnya, sekolah kembali seperti biasa.

Spanduk sudah diturunkan. Pot-pot bunga dikembalikan ke tempat semula. Kursi-kursi dipindahkan ke gudang. Kipas angin baru di ruang kepala sekolah tetap berputar, sementara kipas di kelas Marni masih berdecit setiap kali dinyalakan.

Di papan pengumuman, sebuah lembar baru ditempelkan. Isinya tentang pembentukan tim evaluasi layanan pendidikan dan pembukaan pengaduan bagi siswa serta orang tua.

Marni membacanya saat berjalan menuju kelas.

Tio berdiri di sampingnya.

"Jadi, kamu sekarang penyair sekolah?"

"Jangan mulai."

"Kalau ada lomba baca puisi, aku mau jadi manajermu."

"Kamu bahkan tidak bisa mengurus nilai matematikamu sendiri."

"Itu beda urusan."

Marni tertawa. Untuk sesaat, mereka kembali menjadi dua anak SMP yang mengkhawatirkan tugas, uang jajan, dan ujian pekan depan.

Namun, ketika memasuki kelas, Marni melihat seorang siswa berdiri di dekat meja guru. Anak itu memegang formulir dan berbicara pelan tentang biaya kegiatan sekolah yang belum sanggup dibayar keluarganya.

Guru yang sedang memeriksa buku absen mengangkat kepala.

"Kita bicarakan setelah pelajaran, ya. Jangan khawatir dulu."

Anak itu mengangguk dan kembali ke tempat duduk.

Marni tidak tahu bagaimana persoalan tersebut akan berakhir. Mungkin kali ini guru itu benar-benar akan mendengarkan.

Ia duduk, membuka buku tulis, lalu menambahkan satu kalimat di halaman terakhir.

Sekolah boleh mengajarkan kami cara menjawab soal. Tetapi ketika pertanyaannya menyangkut keadilan, jangan buru-buru menentukan siapa yang boleh berbicara.

Bel berbunyi. Guru memasuki kelas dan pelajaran dimulai.

Marni mengangkat wajahnya ke papan tulis.

Ia masih seorang siswi SMP. Ia masih takut salah bicara dan masih sering memikirkan pendapat orang lain. Ia juga masih harus belajar banyak hal yang belum dipahaminya.

Namun, kini ia tahu bahwa menjadi murid yang baik tidak selalu berarti mengangguk pada setiap perkataan orang dewasa.

Kadang-kadang, pelajaran paling penting dimulai ketika seorang anak berani mengajukan pertanyaan yang tidak disiapkan jawabannya.

Dan mungkin, justru pada saat itulah sekolah benar-benar mulai mendidik.

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke: