Bab 2 dari 5
Di tengah gempuran aplikasi kencan yang menjanjikan cinta dalam satu kali usap layar, Mikael Snowgard memilih untuk menjadi anomali. Bagi pria berusia tiga puluh tahun itu, algoritma yang menyodorkan jodoh adalah lelucon yang kelewat murahan. Ia tidak memiliki media sosial. Baginya, dunia maya hanya berisi kepalsuan yang memuakkan, dan ia tidak sudi membuang waktu untuk hal itu.
Mikael tumbuh di bawah bayang-bayang ayahnya, seorang pria yang melampiaskan patah hati dengan mengumpulkan wanita, meninggalkan Mikael kecil yang lebih memilih mengasingkan diri di bawah pohon rindang, menjauh dari keramaian playgroup dan kepalsuan orang dewasa. Nama besar keluarga Snowgard-lah yang pada akhirnya menyeretnya kembali ke peradaban, sekaligus mempertemukannya dengan Adam dan Cassius. Awalnya, persahabatan mereka adalah paksaan dari para orang tua masing-masing, tapi lambat laun, ketiganya menjadi satu-satunya lingkaran kepercayaan yang Mikael izinkan masuk.
"Aplikasi kencan buatan Doma. Kakak perempuanku yang mengembangkan ini," seru Cassius, merampas ponsel basic Mikael yang hanya berfungsi untuk telepon dan dokumen. "Unduh dulu. Kita buat profil palsu untukmu."
"Meskipun kamu mengunduhnya, aku tidak akan menyentuhnya. Memusingkan," tolak Mikael datar.
"Kamu hidup di zaman mana, sih? Lihat ini," Adam menyodorkan layar ponselnya, senyum lebar terkembang di wajah pria pirang itu. "Aku baru saja match dengan gadis Ukraina. Coba saja dulu, Mik. Jangan kaku begitu."
Mikael hanya mendengus. Namun, melihat kedua temannya yang dengan susah payah menyempatkan waktu makan siang di kantornya hanya untuk mengomel dan mencemooh, ia akhirnya menurut. Setidaknya, ocehan mereka membuatnya merasa sedikit hidup.
Malam itu, setelah merendam tubuhnya yang kaku dalam air hangat, Mikael melirik ponselnya. Notifikasi aplikasi baru itu berkedip, mengganggunya seperti lalat di telinga.
Notifikasi pola cinta? Aplikasi murahan, gerutunya dalam hati.
Sambil menyeka rambut dengan handuk, ia mulai menggeser layar. Berbondong-bondong foto wanita berbikini, piring makanan estetik, hingga foto kaki yang diposisikan di atas seprai. Gila, pikirnya. Namun, tepat saat ia hendak menutup aplikasi itu, sebuah foto menghentikannya. Seorang gadis sedang merakit model kit.
KitKat___: Akhirnya selesai. Selamat untuk diriku sendiri.
Mata Mikael menyipit. Ia menoleh ke arah lemari kaca di sudut kamarnya, tempat koleksi model kit edisi terbatasnya berjejer. Benda yang sama persis.
Tanpa sadar, jemarinya mengetik: Butuh berapa lama untuk merakit itu?
Tidak ada balasan. Mikael hampir meletakkan ponselnya ketika layar berkedip.
KitKat___ membalas: Tiga hari. Apakah itu terlalu lama?
Mikael menunduk, sebuah tawa pelan lolos dari bibirnya. Ia menekan tombol follow, dan gadis itu membalas dengan hal yang sama.
KitKat___ membalas: Wow. Kamu punya juga? Berapa lama kamu merakitnya?
Aku tidak punya banyak waktu. Seminggu, mungkin, untuk merakit seri yang sama.
KitKat___ membalas: Tidak juga. Seminggu itu normal. Maksudku, aku tidak tidur selama tiga hari untuk menyelesaikannya.
Sejak malam itu, Mikael kehilangan rutinitas tidurnya. Bukan karena pekerjaan, melainkan karena gadis misterius dengan nama Kitkat___. Ia tidak tahu nama asli, wajah, atau usianya. Namun, ia menemukan dirinya menunggu-nunggu notifikasi dari gadis itu, membahas hal-hal trivial tentang mainan dan mekanika. Sampai akhirnya, Mikael mengambil keputusan impulsif—sesuatu yang jarang dilakukan olehnya.
Apakah aku boleh bertanya di mana alamatmu? Rumah atau kantor, terserah. Oh ya, aku bahkan tidak tahu usiamu. Teman-temanku bilang internet dipenuhi oleh privasi, tapi aku ingin mengirimkan sesuatu padamu.
KitKat___ membalas: Aku tinggal di sekitar Asakusa. Aku tidak bekerja di kantor, tapi aku menjaga toko permen tradisional milik keluarga. Kalau toko ramai turis, aku tidak bisa membalas pesanmu.
Gadis itu memang sering menghilang tanpa jejak, baru muncul saat senja. Selama dua bulan, mereka tidak pernah menyentuh ranah personal. Hanya mereka dan dunia mainan mereka.
Bolehkah aku mengirim hadiah?
KitKat___ membalas: Sebenarnya aku tidak nyaman. Tapi... apakah itu seri terbaru yang kita bahas minggu lalu?
Ya. Aku beli dua. Satu untukku, satu untukmu.
Mikael menggigit kuku ibu jarinya, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Apakah gadis itu akan menolak?
Aku tidak akan memaksa jika kamu tidak mau.
KitKat___ membalas: Maaf, aku sedang makan malam. Hari ini toko sangat ramai, aku bahkan tidak sempat makan siang. Maaf baru membalas.
Tidak apa-apa. Aku mengerti.
KitKat___ membalas: Baiklah. Bagaimana kalau kita bertemu?
Mikael membeku dengan napas yang tercekat. Ia membaca ulang kalimat itu tiga kali, memastikan matanya tidak berhalusinasi. Jantungnya menghantam rusuk dengan keras. Tanpa memberi waktu pada logikanya untuk campur tangan, ia mengetik balasan.
Oke. Kita bertemu di sekitar Akihabara.
Pertemuan di distrik elektronik itu menjadi gerbang bagi mereka. Tidak ada pertukaran nama asli maupun janji manis. Situs kencan itu hanyalah benang merah yang menghubungkan dua orang asing. Namun, bagi Mikael, itu adalah awal dari obsesi yang mengikat mereka dalam sebuah hubungan ranjang tanpa status—sebuah permainan berbahaya di mana ia yakin, dialah yang pada akhirnya akan menjadi pecandu.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya