Not yet available in the requested language -- showing the original version.
ada beberapa musim
yang menetap tanpa kalender
di dalam dirinya.
barangkali kemarau
pernah menitipkan sesuatu
pada dasar sumur yang tak habis ia timba,
atau penghujan
yang datang tanpa mengetuk
lalu pergi sebelum tanah sempat mengenalnya.
aku tak pernah bertanya
mengapa ia sesekali membuka jendela
ketika angin justru sedang buruk-buruknya.
mungkin ada kabar
yang hanya dapat dibaca
oleh tirai yang bergerak.
pada suatu petang
ia bercerita tentang harga daging,
tentang seekor burung
yang salah memilih arah pulang,
lalu tertawa
seolah tak ada yang perlu diselamatkan
dari hari itu.
esoknya,
ia membiarkan teh menjadi dingin
dan tak merasa perlu
memberi alasan kepada siapa pun.
begitulah cuaca bekerja.
tak semua mendung sedang bersedih,
tak setiap matahari
berniat menghangatkan.
ada gugur
yang tak menjatuhkan apa-apa,
ada semi
yang tumbuh diam-diam
di antara dua percakapan biasa.
sedang aku
hanyalah seseorang
yang kebetulan berteduh
di salah satu halaman waktunya.
entah berapa kali
hujan mengubah nama jalan,
atau musim mana
yang pernah membuatnya
meninggalkan sesuatu
tanpa benar-benar pergi.
maka ketika suatu hari
angin berbalik arah
dan ia menutup jendela
lebih awal dari biasanya,
aku tak menanyakan
apa yang sedang datang.
kubiarkan kursi di beranda
tetap menghadap halaman,
dengan sebagian langit
yang tak pernah menjadi milikku.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya