Customer Service

SEPATU BOLONG

100%

SEPATU BOLONG

Not yet available in the requested language -- showing the original version.

Langkah kaki Rangga terhenti tepat di depan gerbang beton bertuliskan SD Negeri 03 Pasir Munjul. Bau tanah basah sisa hujan semalam masih menyengat. Setiap kali ia melangkah, ada suara khas yang mengiringi plok, plok, plok.

Bukan suara sepatu baru berbahan kulit sintetis yang berkilau. Itu suara jempol kaki kanannya yang menyembul keluar dari ujung sepatu kain berwarna hitam kusam. Sol bagian depannya sudah terlepas sepenuhnya dari jahitan, menyerupai mulut buaya yang kelaparan.


Rangga (10 tahun) menggeser tubuhnya ke tepi jalan, menyembunyikan kaki kanannya di balik betis kaki kiri. Ia menunduk saat sebuah mobil Avanza melintas lambat, memercikkan sisa air hujan ke dinding pagar sekolah. Di dalam mobil itu, terlihat sosok Fadil, teman sekelasnya, duduk santai sambil memangku tas punggung bergambar pahlawan super buatan luar negeri.

"Rangga! Kok malah bengong di situ? Ayo masuk, sebentar lagi bel!" teriak sebuah suara lembut dari arah samping.

Rangga menengadah. Pak Seno, guru honorer yang mengajar bahasa Indonesia sekaligus menjadi wali kelas IV sedang menuntun sepeda ontel tuanya. Rantai sepedanya berderit haus oli. Sepatu Pak Seno berwarna hitam, tetapi warnanya sudah memudar menjadi abu-abu kecokelatan, dengan bekas lem tembak yang menumpuk tebal di tepi alasnya.

"Iya, Pak," bisik Rangga pelan, membetulkan letak tas kainnya yang tali bahunya disambung dengan peniti.

"Kenapa kakinya diseret begitu?" Pak Seno menghentikan sepedanya, memperhatikan cara berjalan Rangga yang ganjil.

Rangga makin menarik kakinya ke belakang. "Nggak apa-apa, Pak. Cuma... ketendang batu tadi di jalan."

Pak Seno berjongkok. Tanpa ragu, jari-jari tangannya yang kasar dan penuh noda tinta kapur menyentuh ujung sepatu Rangga. Ia melihat jempol kaki Rangga yang membiru terkena air lumpur. Sol sepatu itu sudah tak sanggup lagi mengikat kainnya yang serat-seratnya terurai.

Mata Pak Seno bergetar sejenak. Ada denyut kepedihan yang sangat familier menghantam dadanya. Ia tidak mengasihani Rangga karena kemiskinan, tetapi ia benci pada rasa akrab yang muncul rasa sakit karena ketidakberdayaan yang sama.

"Nanti selesai upacara, ikut Bapak ke ruang guru ya," kata Pak Seno pelan, lalu berdiri seraya menepuk bahu kecil Rangga.


Ruang kelas IV SD Negeri 03 Pasir Munjul tidak lebih dari sebuah bangsal semen tua beratap seng. Jika siang tiba, udaranya berubah menjadi oven raksasa. Jika hujan turun, suara gemertak air pada atap seng menenggelamkan suara guru yang mengajar di depan kelas.

Di pojok belakang, dinding semennya sudah retak memanjang bagaikan urat-urat tua yang hendak pecah. Papan tulis kayu hitam di depan sudah terkelupas catnya, menyisakan serat kayu cokelat yang sulit ditulisi dengan kapur putih.

"Anak-anak, hari ini kita belajar tentang cita-cita," kata Pak Seno mengawali pelajaran setelah upacara bendera selesai. Bau kapur memenuhi udara yang pengap.

Di barisan depan, Fadil mengangkat tangan tinggi-tinggi. Sepatu olahraga merek terkenal milik Fadil bersih berseri, menapak kokoh di atas lantai semen yang terkelupas.

"Saya mau jadi pilot, Pak! Supaya bisa keliling dunia dan beli mobil bagus seperti Papa!" kata Fadil bangga. Teman-teman sekelasnya bertepuk tangan.

Pak Seno tersenyum. "Bagus, Fadil. Angkasa sangat luas untuk kamu jelajahi." Lalu matanya beralih ke pojok tengah, tempat Rangga duduk melipat kakinya ke dalam kolong meja agar sepatu bolongnya tidak kelihatan. "Rangga, kalau kamu, cita-citanya apa?"

Seluruh kelas menoleh ke arah Rangga. Rangga menyusut di kursinya yang goyah, satu kakinya diganjal dengan pecahan batu bata agar tidak patah.

"Saya... mau jadi pembuat sepatu, Pak," jawab Rangga pelan.

Suara gelak tawa mendadak pecah di dalam kelas. Beberapa anak menutupi mulut mereka.

"Masa cita-cita cuma bikin sepatu!" cetus seorang anak laki-laki dari barisan samping. "Bikin roket dong, atau jadi presiden!"

"Sudah, tenang!" tegur Pak Seno tegas, meredam tawa anak-anak. Ia menatap Rangga dengan pandangan hangat. "Kenapa mau jadi pembuat sepatu, Rangga?"

Rangga menunduk, meremas pinggiran mejanya yang berdesakan dengan coretan pulpen tua. Supaya Bapak tidak usah kerja mengangkut karung gabah sampai malam cuma buat beli beras, dan supaya sepatu Rangga tidak usah diikat tali rafia lagi, batinnya. Namun yang keluar dari mulutnya hanya, "Supaya semua orang bisa jalan tanpa takut ketusuk paku, Pak."

Suasana kelas mendadak hening. Pak Seno mengangguk pelan, dadanya terasa sesak. Ia tahu persis, ayah Rangga adalah buruh tani panggul yang upahnya harian dan kerap tertunda jika musim kemarau panjang tiba.


Pukul 13.00 WIB, ketika anak-anak sudah pulang dan debu kelas mulai mengendap, Pak Seno duduk di ruang kepala sekolah. Ruangan itu adalah satu-satunya ruangan yang memiliki kipas angin gantung, meski kipas itu berdecit keras tiap kali berputar serta sebuah komputer tua yang layarnya kerap bergaris-garis.

Di hadapannya duduk Pak Mulyono, Kepala SD Negeri 03 Pasir Munjul yang sudah mengabdi selama hampir tiga dekade. Wajahnya yang keriput tampak sangat lelah. Di atas meja kayu bertumpuk map-map tebal berisi berkas Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

"Pak Mulyono," kata Pak Seno hati-hati sambil menyerahkan selembar kertas catatan kecil. "Ini daftar plafon kelas IV dan kelas V yang sudah lapuk. Minggu lalu ada kasau yang patah dan hampir menimpa kepala siswi. Lalu... atap perpustakaan kita juga sudah bocor parah, buku-buku IPA banyak yang jamuran."

Pak Mulyono menghela napas panjang. Ia melepas kacamata minusnya, mengusap wajahnya yang sayu.

"Seno, Seno..." desah Pak Mulyono pelan. "Kamu pikir saya tidak tahu? Kamu pikir saya tidak bisa melihat genteng bocor itu tiap kali hujan?"

"Tapi Pak, dana BOS termin ini baru turun kan? Apakah tidak ada alokasi untuk pemeliharaan sarana dan prasarana?" desak Pak Seno.

Pak Mulyono meraih sebuah map merah, lalu menggesernya ke hadapan Pak Seno. "Buka dan baca sendiri."


Pak Seno membuka lembar demi lembar angka di dalam map tersebut. Matanya meneliti deretan angka yang tercetak rapi:

1. Pengadaan Bahan Habis Pakai / Alat Tulis Kantor: Rp 12.000.000,-

2. Honorarium Guru Non-PNS: Rp 4.500.000,- (untuk 5 orang selama 3 bulan)

3. Pengadaan Aplikasi Digital Manajemen Sekolah: Rp 8.000.000,-

4. Kegiatan Assesmen & Pelaporan Sistem Berbasis Komputer: Rp 6.000.000,-


Pak Seno mengurut dadanya. " delapan juta untuk aplikasi digital? Pak, kita saja hanya punya dua komputer yang hidup! Satu untuk administrasi, satu lagi Power Supply-nya sering meledak! Untuk apa aplikasi digital senilai delapan juta jika atap kelas mau roboh?"

Pak Mulyono menatap pintu yang tertutup rapat, memastikan tidak ada orang lain di luar, lalu berbisik dengan nada getir.

"Aplikasi itu bukan kita yang mau, Seno. Itu dinas yang 'merekomendasikan'. Kalau kita tidak menganggarkan pembelian software dari penyedia yang ditunjuk dinas itu, pencairan dana BOS kita dipersulit! Berkas kita dicari-cari salahnya. Belum lagi untuk 'biaya pendampingan', belum lagi untuk sewa tempat sosialisasi di hotel kota yang diwajibkan ikut!"

"Ini gila, Pak!" suara Pak Seno meninggi, namun ia segera menahannya. "Kita dipaksa membeli ilusi modernisasi, sementara murid-murid kita duduk di bawah atap yang hampir roboh! Rangga, Pak... anak itu sekolah dengan sepatu bolong! Jempolnya keluar! Dan kita membelanjakan jutaan rupiah untuk perangkat lunak yang bahkan tidak bisa kita jalankan karena listrik sekolah sering jepret!"

Pak Mulyono menunduk dalam-dalam. "Saya ini tinggal dua tahun lagi pensiun, Seno. Saya sudah mencoba melawan sepuluh tahun lalu. Kamu tahu apa hasilnya? Sekolah kita dipindahkan kategorinya, bantuan pembangunan gedung dialihkan ke sekolah lain yang kepala sekolahnya nurut. Saya tidak punya pilihan. Kalau saya kaku, sekolah ini tidak dapat apa-apa sama sekali, dan kalian guru-guru honorer tidak akan gajian."

Pak Seno bungkam. Kata-kata Kepala Sekolah itu menghantamnya tepat di ulu hati. Ia melihat gambaran dirinya sendiri di masa depan, seorang laki-laki tua yang terpaksa kompromi pada sistem yang berkarat demi mempertahankan sisa-sisa napas sebuah sekolah pinggiran.


Setiap tanggal 20 adalah hari yang selalu disambut dengan perasaan serba salah oleh Pak Seno. Hari itu adalah hari pembagian honor.

Pak Seno telah mengajar di SD Negeri 03 selama lima tahun. Ia memegang ijazah Sarjana Pendidikan dari universitas negeri terkemuka di ibu kota provinsi. Ia memiliki potensi untuk mengajar di sekolah swasta ternama di kota dengan gaji berkali-kali lipat. Namun, lima tahun lalu ia memilih kembali ke desanya, percaya bahwa anak-anak di pelosok berhak mendapatkan kualitas pendidikan yang sama dengan anak-anak di kota.

Di ruang administrasi, Pak Seno menandatangani kuitansi penerimaan gaji. Di kolom angka tertulis jelas: Rp 1.500.000,-.

Namun, saat Mbak Titin, staf tata usaha menyerahkan amplop cokelat tipis, isi di dalamnya hanya bernilai Rp 500.000,-.

"Maaf ya, Pak Seno," kata Mbak Titin dengan tatapan bersalah. "Potongan biasa. Kas sekolah kosong karena ada potongan dari korwil untuk sumbangan kegiatan seremonial pejabat besok, ditambah pembagiannya harus diratakan untuk tiga tenaga kebersihan baru yang diangkat saudara komite."

Pak Seno memandangi uang lembaran seratus ribuan sebanyak lima lembar di tangannya. Tiga bulan mengajar. Tiga bulan menyiapkan materi, memeriksa puluhan lembar tugas, bertahan di dalam kelas yang panas, dan hasilnya adalah lima ratus ribu rupiah per bulan bahkan kali ini hanya lima ratus ribu untuk tiga bulan kerja karena berbagai "potongan siluman".

Ia berjalan keluar ruangan dengan langkah berat. Di koridor sekolah yang sepi, ia merogoh saku celananya. Ada lembaran tagihan kontrakan rumahnya yang sudah menunggak dua bulan, serta pesan singkat dari istrinya di rumah "Mas, susu adek habis. Beras tinggal satu liter"

Pak Seno terduduk di bangku kayu di bawah pohon mangga di halaman sekolah. Ia memandangi sepatunya sendiri yang dilapisi lem tembak. Rasa harga dirinya runtuh seketika.

Bagaimana mungkin seorang guru diharapkan memanusiakan manusia lain, membangun karakter bangsa, jika keberadaan dirinya sendiri sebagai manusia tidak pernah dihargai oleh negara? tanya batinnya pahit.

Ia teringat janji-janji manis politisi di televisi setiap kali musim pemilihan umum tiba: "Pendidikan gratis! Kesejahteraan guru prioritas utama!" Namun di sini, di tanah yang berdebu ini, kata-kata indah itu menguap menjadi udara kosong yang tak berbekas.


Di rumah panggung berukuran 4x6 meter di pinggir rel kereta api, Rangga duduk di samping ibunya. Lampu minyak menggantung lemah di tiang tengah, memancarkan cahaya kekuningan yang bergetar tertiup angin malam.

Ibu Rangga, Mak Sumi, sedang meneliti sepatu sekolah Rangga. Dengan bantuan benang kasur dan jarum sol besar yang melengkung, tangan Mak Sumi yang kasar berusaha menembus kulit sintetis yang sudah mengeras.

"Aww!" Mak Sumi meringis. Jarum besar itu meleset dan menusuk ibu jarinya. Darah segar menetes di atas kain sepatu Rangga.

"Ibu!" Rangga cekatan mengambil kain lap kusam dan mengusap ibu jari ibunya. "Sudah, Bu... jangan dijahit lagi. Biar Rangga pakai sandal jepit saja besok."

"Jangan," suara Mak Sumi terdengar serak namun tegas. "Di sekolah ada aturan. Kalau kamu pakai sandal jepit, nanti kamu ditegur Pak Kepala Sekolah, dinilai tidak sopan. Kamu harus tetap sekolah, Rangga. Biar Bapak sama Ibu susah, kamu jangan sampai putus sekolah seperti kakakmu."

Rangga menunduk. Kakaknya, Bayu, berhenti sekolah saat kelas 2 SMP karena keluarga mereka tak sanggup membayar "biaya kenang-kenangan", uang seragam baru, dan biaya ujian berbasis komputer yang diwajibkan sekolah meski pemerintah berkali-kali mengumandangkan slogan sekolah gratis. Sekarang Bayu menjadi kernet truk antarkota yang jarang pulang.

"Tapi Bu," cicit Rangga pelan, "kenapa sepatu Fadil tidak pernah rusak? Kenapa dia punya banyak sepatu? Kata Fadil, ayahnya bayar uang masuk sekolah lebih banyak makanya dapat kelas yang ada AC-nya di kota dulu, tapi terus pindah ke sini karena ayahnya ikut dinas."

Mak Sumi menghentikan jemarinya. Ia menatap anak bungsunya dengan mata yang berkaca-kaca. Bagaimana caranya menjelaskan konsep ketimpangan struktural kepada anak berusia sepuluh tahun? Bagaimana menjelaskan bahwa dunia ini telah terbagi menjadi dua, mereka yang lahir dengan sendok emas dan jalan tol menuju masa depan, serta mereka yang lahir dengan kaki telanjang di atas jalan berliku penuh duri?

"Dunia ini luas, Rangga," kata Mak Sumi akhirnya, mengusap kepala anaknya. "Orang punya jalan sendiri-sendiri. Tugas kamu sekarang cuma belajar yang rajin. Kalau kamu pintar, nanti kamu bisa beli sepatu paling bagus di dunia."

"Apa benar kalau pintar pasti bisa sukses, Bu?" tanya Rangga polos.

Pertanyaan jujur dari Rangga itu bagaikan sembilu yang menusuk dada Mak Sumi. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Pendidikan, yang selama ini diagung-agungkan sebagai eskalator sosial untuk memutus rantai kemiskinan, sering kali terasa seperti janji palsu yang digantung terlalu tinggi.


Hari Jumat pagi. Udara terasa dingin dan langit mendung menggelayut rendah di atas SD Negeri 03 Pasir Munjul.

Jadwal pelajaran pertama adalah Olahraga. Pak Darmo, guru olahraga yang juga merangkap sebagai guru agama, mengumpulkan siswa kelas IV di lapangan tanah yang becek.

"Hari ini kita latihan lari estafet!" seru Pak Darmo dengan peluit menggantung di lehernya. "Ayo buat dua barisan! Yang tidak pakai sepatu olahraga atau sepatunya rusak, berdiri di pinggir!"

Rangga pelan-pelan melangkah mundur, hendak menuju tepi lapangan. Sepatu ber-sol melambai hasil jaitan benang kasur ibunya tadi malam memang masih bertahan, tetapi warnanya dan bentuknya sangat menyolok.

Namun, Fadil mendadak berteriak, "Pak! Rangga pakai sepatu bolong lagi! Nanti kalau lari, sepatunya copot terus ganggu jalur lari saya!"

Beberapa siswa tertawa. Rangga membeku di tempatnya. Wajahnya memerah panas, dadanya bergemuruh. Rasa malu yang menumpuk selama berbulan-bulan mendadak memuncak menjadi gelombang emosi yang tak tertahankan.

"Sudah, sudah! Rangga, kamu duduk di bangku pinggir saja, catat siapa yang menang," kata Pak Darmo santai, tanpa menyadari atau mungkin tidak peduli betapa dalam kata-katanya menggores hati Rangga. Bagi Pak Darmo, itu hanya keputusan praktis agar pelajaran berjalan cepat.

Rangga tidak bergerak ke bangku. Ia menatap jalanan lumpur di bawah kakinya, lalu menatap Fadil yang tersenyum mengejek, dan menatap Pak Darmo yang sudah bersiap meniti peluit.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Rangga melepas kedua sepatunya. Ia melempar sepatu tua itu ke dalam semak-semak di pinggir lapangan. Lalu, dengan kaki telanjang, ia berlari keluar dari gerbang sekolah.

"Rangga! Rangga, mau ke mana kamu?!" teriak Pak Darmo kaget.

Dari jendela ruang guru, Pak Seno melihat kejadian itu. Tanpa berpikir panjang, Pak Seno menyambar jaketnya dan berlari mengejar Rangga.


Rangga berlari sekuat tenaga. Kaki telanjangnya menghantam kerikil tajam, tanah liat yang licin, dan rumput gajah yang memercikkan air embun. Ia tidak peduli sakitnya. Rasa sakit di telapak kakinya tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa sesak di dadanya.

Ia berhenti di bawah pohon ketapang rindang di tepi sungai desa, tempat yang biasa ia datangi jika sedang merindukan kakaknya. Rangga duduk melipat lutut, membenamkan wajahnya di sana, dan menangis sesenggukan. Bahunya naik turun secara tidak teratur.

Suara derap langkah kaki yang terengah-engah mendekat. Pak Seno berlutut di samping Rangga. Napas guru muda itu berburu, dadanya kempas-kempis.

"Rangga..." panggil Pak Seno lembut.

Rangga tidak mengangkat wajahnya. "Saya tidak mau sekolah lagi, Pak! Saya benci sekolah! Sekolah cuma buat orang yang punya sepatu bagus! Orang miskin seperti Rangga cuma jadi bahan tertawaan!"

Pak Seno memejamkan mata. Setiap kata yang diucapkan Rangga terasa seperti cermin yang memantulkan seluruh kekecewaan dan keputusasaannya sendiri terhadap dunia pendidikan yang sedang mereka jalani.

Pak Seno kemudian melepas sepatunya sendiri. Ia melepas kaus kakinya yang sudah tipis dan berlubang di bagian tumit. Ia melangkah mendekati tepi sungai dengan kaki telanjang, berdiri tepat di sebelah Rangga.

"Lihat kaki Bapak, Rangga," kata Pak Seno.

Rangga perlahan mengangkat wajahnya yang belepotan air mata dan tanah. Ia melihat telapak kaki Pak Seno yang kapalan.

"Bapak mengajar tiap hari, membaca puluhan buku, kuliah empat tahun... tapi sepatu Bapak juga tidak jauh beda sama punya kamu," kata Pak Seno sambil tersenyum pahit. "Bapak pernah merasa marah sekali, Rangga. Bapak marah pada keadaan, marah pada orang-orang di atas sana yang cuma bisa bikin aturan tanpa tahu rasanya lapar di dalam kelas. Bapak pernah ingin berhenti mengajar."

Rangga menatap gurunya dengan mata sembap. "Kenapa Pak Seno tidak berhenti?"

Pak Seno berjongkok, menatap lurus ke dalam mata Rangga.

"Karena kalau Bapak berhenti, dan kalau kamu berhenti sekolah, maka orang-orang yang meremehkan kita itulah yang menang," tegur Pak Seno dengan suara mantap, mengalirkan kekuatan yang belum pernah Rangga rasakan sebelumnya.

"Pendidikan di negeri kita ini memang sedang sakit, Rangga. Banyak gedung sekolah yang hampir roboh, banyak buku yang tak pernah sampai, banyak guru yang tidak dihargai, dan banyak anak jujur seperti kamu yang terpinggirkan hanya karena tidak punya uang. Itu Sisi Gelap yang nyata, dan kita tidak boleh pura-pura tidak melihatnya."

Pak Seno memegang kedua bahu Rangga. "Tapi, ilmu yang masuk ke kepala kamu, rasa ingin tahu kamu, kejujuran kamu... itu satu-satunya hal yang tidak bisa dicuri oleh siapa pun. Sepatu kamu boleh bolong, Rangga. Tapi mimpi kamu tidak boleh ikut bolong."

Air mata Rangga menetes lagi, namun kali ini bukan karena malu, melainkan karena merasa dimengerti. Di tengah sistem yang dingin dan acuh tak acuh, ia menemukan satu jiwa yang benar-benar peduli.


Senin pagi berikutnya. Udara terasa lebih hangat.

Rangga berjalan menuju sekolah dengan perasaan waswas. Ia memakai sepatu karet murahan berwarna putih polos,sepatu petani untuk ke sawah yang dibelikan ibunya dari hasil menjual dua ekor ayam kampung peliharaan mereka. Harganya tidak seberapa, dan bentuknya aneh untuk dipakai ke sekolah, tapi setidaknya jari kakinya tidak lagi menyembul keluar.

Ketika ia memasuki kelas IV, suasana agak berbeda. Di meja gurunya, Pak Seno sedang menata sebuah kotak kayu berukuran sedang yang dicat warna biru terang. Di bagian depannya tertulis huruf kapital yang dilukis indah KOTAK HARAPAN & PERBAIKAN.

"Anak-anak," kata Pak Seno saat bel masuk berbunyi. "Mulai hari ini, kelas kita punya aturan baru. Di dalam kotak biru ini, siapa saja boleh memasukkan tulisan tentang apa saja. Tentang cita-cita kalian, tentang kesulitan belajar kalian, atau... tentang hal-hal yang menurut kalian tidak adil di sekolah ini."

Seluruh siswa saling berpandangan.

"Tidak perlu diberi nama," lanjut Pak Seno. "Bapak akan membaca setiap kertas di dalamnya setiap hari Jumat. Jika ada meja yang rusak, kita akan perbaiki bersama. Jika ada pelajaran yang sulit, kita akan cari cara belajar yang baru. Dan jika ada teman yang merasa disakiti atau dipojokkan... kita akan selesaikan bersama sebagai keluarga."

Pak Seno kemudian menatap ke arah Fadil, lalu ke arah Rangga.

Fadil menunduk, tampak merasa bersalah. Perlahan, Fadil merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah kotak sepatu merek terkenal yang masih baru, sepatu olahraga yang ukurannya kekecilan untuknya karena salah dibelikan oleh ibunya minggu lalu.

Setelah jam pelajaran usai, saat anak-anak lain berlarian keluar kelas untuk jajan, Fadil berjalan mendekati meja Rangga. Ia meletakkan kotak sepatu itu di atas meja Rangga tanpa bersuara.

"Ini... buat kamu," kata Fadil gagap, wajahnya memerah. "Ukurannya sama dengan kaki kamu. Ayahku salah beli minggu lalu, dan kata ibuku daripada disimpan di lemari, lebih baik buat teman."

Rangga tertegun. Ia menatap kotak sepatu bersampul mengilap itu, lalu menatap Fadil. Ada ketulusan yang polos di mata Fadil bukan lagi ejekan seperti hari Jumat lalu.

Rangga tidak langsung mengambilnya. Ia menoleh ke arah Pak Seno yang sedang membersihkan papan tulis di depan. Pak Seno mengangguk pelan sambil tersenyum.

"Terima kasih, Fadil," kata Rangga tulus. "Tapi besok, ajari aku cara main bola yang benar, ya?"

Fadil tersenyum lebar. "Sip!!"


Malam harinya, di dalam kamar sempitnya yang beratap bocor, Pak Seno duduk di depan meja belajar kayu yang sudah dimakan rayap. Sebuah lampu minyak menerangi kertas-kertas di hadapannya.

Uang gajinya yang tersisa tiga ratus ribu rupiah setelah dibelikan beras dan obat untuk istrinya tergeletak di samping laptop tuanya. Malam itu, ia tidak sedang menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang penuh dengan istilah-istilah administratif rumit yang diwajibkan oleh dinas, istilah keren yang sering kali hanya menjadi tumpukan kertas formalitas tanpa makna di lapangan.

Jari-jari Pak Seno menari di atas keyboard laptopnya yang beberapa tombolnya sudah tidak membal. Ia sedang menulis sebuah surat terbuka.


Kepada Yth.

Bapak/Ibu Pemangku Kebijakan Pendidikan

Di Tempat yang Serba Mewah dan Ber-AC


Saya menulis surat ini bukan dari gedung pembuat kebijakan yang megah, melainkan dari sebuah ruang kelas berdinding retak di mana suara hujan selalu berhasil mengalahkan suara guru yang sedang mengajar.

Beberapa hari lalu, saya melihat seorang anak berusia sepuluh tahun berlari meninggalkan sekolah karena malu. Sepatunya bolong, solnya menganga, dan jarinya berdarah. Bukan karena ia malas, melainkan karena keluarganya harus memilih antara membeli beras atau membeli sepatu baru.


Tuan dan Puan yang terhormat,

Kalian sibuk bicara tentang Digitalisasi Pendidikan, Artificial Intelligence, dan Kurikulum Masa Depan yang berganti nama setiap kali berganti menteri. Namun, pernahkah kalian turun dan melihat langsung? Di bawah sana, anak-anak kami masih bertaruh nyawa menyeberangi jembatan tali yang lapuk demi sampai ke sekolah. Guru-guru honorer kami dibayar dengan janji manis dan selipan amplop lima ratus ribu rupiah per tiga bulan, sementara laporan keuangan dituntut sempurna tanpa cela.


Pendidikan kita sedang sakit berat. Kita mengagungkan angka-angka di atas kertas, tetapi kita membunuh rasa kemanusiaan di dalam kelas. Kita memaksa sekolah membeli aplikasi mahal yang tak terpakai, demi memberi makan para vendor yang bermain mata dengan pejabat, sementara genteng sekolah kami runtuh satu per satu.


Jangan biarkan sepatu-sepatu bolong anak murid kami menjadi saksi bisu atas kebobrokan moral sistem ini. Jika kalian tidak bisa memberi mereka komputer atau internet cepat, setidaknya berikan mereka ruang belajar yang aman, guru yang dihargai sebagai manusia, dan sistem yang tidak mengajarkan kepalsuan sejak dini.


Dari seorang guru honorer yang sepatunya juga hampir terbelah dua,

Seno Prasetyo


Pak Seno mengklik tombol Send pada unggahan media sosial dan blog pribadinya. Ia tahu, surat ini mungkin akan ditenggelamkan oleh ribuan konten hiburan di internet. Ia tahu, ada risiko ia akan dipanggil oleh Kepala Dinas besok pagi, dituntut klarifikasi, atau bahkan dipecat dari status honorernya karena dianggap "mencemarkan nama baik instansi".

Namun, untuk pertama kalinya dalam lima tahun mengajar, Pak Seno merasa dadanya lapang. Rasa takutnya telah menguap, digantikan oleh kebenaran yang mutlak.


Matahari terbit di ufuk timur, memancarkan sinar keemasan yang menembus celah-celah pepohonan di Desa Pasir Munjul. Bau embun pagi bercampur dengan aroma tanah hangat yang menyegarkan.

Rangga berdiri di depan pintu rumahnya. Di kakinya, terpasang sepatu olahraga baru pemberian Fadil. Warnanya biru tua dengan garis putih yang tegas. Sepatu itu terasa sangat empuk, membungkus jempol kakinya dengan hangat dan aman.

Ia melompat kecil di atas tanah basah. Tidak ada lagi suara plok, plok, plok. Tidak ada lagi rasa dingin air lumpur yang merembes masuk melukai kulitnya.

"Rangga! Ayo berangkat!" teriak Pak Seno dari ujung jalan desa.

Guru muda itu sedang mengayuh sepeda ontel tuanya. Rantainya masih berderit, tetapi Pak Seno mengayuhnya dengan kepala tegak. Di boncengan sepedanya, terdapat sebuah kotak kayu berisi buku-buku cerita bekas yang ia kumpulkan dari temannya di kota untuk perpustakaan mini kelas IV.

"Iya, Pak!" seru Rangga penuh semangat.

Rangga berlari menyusul Pak Seno. Langkah kakinya terasa ringan, memancarkan ritme kehidupan yang baru.


Pendidikan di tanah air ini mungkin masih penuh dengan kegelapan, ketimpangan, dan permainan birokrasi yang culas. Masih ada ribuan sekolah dengan atap bocor, jutaan anak dengan sepatu bolong, dan ribuan guru yang mengabdi dalam kesenyapan tanpa kepastian masa depan.

Namun pagi ini, di jalan tanah Pasir Munjul yang berdebu, ada seorang guru yang menolak untuk menyerah pada sistem, dan ada seorang murid yang kembali berani bermimpi. Selama api kecil kejujuran itu masih menyala di dalam kelas-kelas kecil di pelosok negeri, harapan itu tidak akan pernah benar-benar padam.


Mereka terus melangkah maju. Menembus kabut pagi, menyongsong hari esok yang semoga jauh lebih adil.


Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke: