Customer Service

Sepatu Bolong

100%

Sepatu Bolong

Not yet available in the requested language -- showing the original version.

Pada mulanya, yang berlubang hanyalah sepatu.


Lubang kecil di ujung jempol kaki kiri, sebesar biji kemiri, yang kian hari kian menganga seperti mulut seseorang yang terlalu lama menahan lapar. Setiap kali hujan turun, air merembes masuk, membasahi kaus kaki, lalu menetap di sela-sela jari. Pada musim kemarau, debu jalanan masuk menggantikan air, mengendap di antara kuku dan kulit, menjadikan kaki bocah itu serupa tanah yang gagal ditanami.


Namanya Arka.


Ia berusia tujuh belas tahun, duduk di bangku kelas dua belas sebuah sekolah menengah kejuruan di pinggiran kota. Tubuhnya kurus, rambutnya selalu tersisir rapi, dan seragamnya senantiasa bersih meskipun warnanya telah memudar seperti bendera yang terlalu lama dibiarkan di bawah matahari.


Arka memiliki satu kebiasaan: setiap pagi, sebelum berangkat sekolah, ia akan duduk di ambang pintu rumahnya dan memandangi sepatu hitam itu.


Bukan karena ia menyukainya.


Melainkan karena ia sedang menghitung berapa lama lagi sepatu itu mampu bertahan.

Ibunya pernah menjanjikan sepatu baru setelah menerima upah dari pekerjaan mencuci pakaian tetangga. Namun, janji itu kandas ketika adiknya demam tinggi dan harus dibawa ke puskesmas. Uang yang telah dikumpulkan selama tiga bulan berpindah tangan menjadi biaya obat, ongkos kendaraan, dan kebutuhan-kebutuhan kecil yang, bagi keluarga miskin, selalu tumbuh menjadi gunung.


Sejak itu, Arka berhenti meminta.


Ia telah belajar bahwa kemiskinan bukan sekadar keadaan ketika seseorang tidak mempunyai uang. Kemiskinan adalah seni memadamkan keinginan sebelum keinginan itu sempat tumbuh.


"Sepatumu makin parah, Ka," kata ibunya suatu pagi.


Arka tersenyum sembari mengikat tali sepatunya yang hampir putus.


"Masih bisa dipakai, Bu."


Ia tidak mengatakan bahwa setiap langkah membuat ujung sepatunya semakin terbuka. Ia tidak mengatakan bahwa teman-temannya mulai memperhatikan. Ia juga tidak mengatakan bahwa ia terkadang sengaja berjalan di belakang rombongan agar tak seorang pun melihat kakinya.


Ada kesedihan yang tidak membutuhkan air mata untuk menjadi nyata. Cukup sepasang sepatu, seutas tali yang rapuh, dan seorang anak yang mulai merasa malu atas sesuatu yang tidak pernah menjadi kesalahannya.


Di sekolah, Arka belajar tentang Indonesia.


Tentang kemerdekaan yang diperjuangkan dengan darah.


Tentang keadilan sosial bagi seluruh rakyat.


Tentang cita-cita luhur bangsa yang tertulis dengan tinta emas dalam buku Pendidikan Pancasila.


Guru berdiri di depan kelas, menjelaskan bahwa setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan. Arka mencatat kalimat itu dengan saksama, kemudian menatap sepatunya sendiri.


Ia ingin bertanya.


Jika pendidikan adalah hak setiap warga negara, mengapa hak itu terasa seperti barang mewah yang hanya dapat dinikmati dengan uang?


Namun, ia mengurungkan niatnya. Bukan karena tak memiliki keberanian, melainkan karena ia telah cukup lama hidup untuk memahami bahwa tidak semua pertanyaan mendapat tempat di ruang kelas. Sebagian pertanyaan dianggap sebagai tanda ketidakdisiplinan. Sebagian lainnya dianggap sebagai pembangkangan. Dan sisanya akan dibungkam oleh kalimat yang paling ampuh untuk menghentikan pemikiran seorang murid:


"Jangan banyak alasan. Semua siswa punya masalah masing-masing."


Kalimat itu pernah diucapkan wali kelasnya ketika Arka terlambat mengumpulkan tugas praktik.


Tugas itu sebetulnya telah selesai tiga hari sebelum tenggat waktu. Namun, komputer di rumahnya rusak, listrik sempat diputus karena tunggakan, dan ia harus menyelesaikan pekerjaannya di sebuah warung internet dengan uang yang semestinya dipakai untuk membeli makan siang.


Ia terlambat satu hari.


Nilainya dikurangi.


Sementara itu, seorang murid lain mengumpulkan tugas tepat waktu dengan hasil yang hampir serupa. Murid itu mempunyai laptop sendiri, koneksi internet di rumah, dan seorang ayah yang bekerja sebagai pejabat di kantor pemerintahan setempat.


Nilainya sempurna.


Arka tidak membenci anak itu. Ia bahkan cukup mengenalnya untuk tahu bahwa mereka sama-sama berjuang dengan cara masing-masing.


Yang dibencinya adalah sebuah sistem yang menganggap keduanya berangkat dari garis yang sama, padahal seorang memulai perlombaan dengan sepatu baru, sedangkan yang lain harus memastikan telapak kakinya tidak berdarah sebelum mencapai garis akhir.


Di papan tulis, guru menulis sebuah kata: meritokrasi.


Arka menatapnya lama-lama.


Betapa indahnya sebuah kata ketika tidak pernah dipaksa hidup di tengah kenyataan.


Hari Senin adalah hari ketika sekolah mengenakan wajah paling gagahnya.


Bendera Merah Putih dikibarkan. Barisan murid dirapikan. Sepatu diperiksa. Kancing diperhatikan. Rambut diukur. Kedisiplinan dijunjung setinggi langit, seolah-olah nasib bangsa ditentukan oleh panjang rambut dan kilap kulit sepatu.


Arka berdiri di barisan ketiga.


Ketika guru piket berjalan melewati barisan kelas dua belas, pandangannya berhenti pada kaki Arka.

"Kamu! Keluar dari barisan."


Arka melangkah maju.


"Sepatumu kenapa begitu?"


"Bolong, Pak."


"Ya saya lihat bolong. Kenapa tidak diganti?"


Pertanyaan itu terdengar begitu sederhana. Bahkan beberapa murid menahan tawa, seolah-olah kemiskinan adalah lelucon yang kebetulan datang ke upacara pagi.


Arka menunduk.


"Belum ada uang, Pak."


Guru itu menghela napas, kemudian berkata di hadapan ratusan siswa, "Kalau mau sekolah, ya harus memenuhi aturan sekolah. Jangan menjadikan keadaan sebagai alasan."


Arka mengangguk.


Ia kembali ke barisan dengan wajah yang sedih.


Di hadapannya, bendera berkibar gagah diterpa angin. Merahnya adalah keberanian, putihnya adalah kesucian, kata pembina upacara dalam amanat yang baru saja disampaikan. Di bawah bendera itu berdiri anak-anak dengan impian yang berbeda-beda, tetapi tidak semuanya memiliki kesempatan yang sama untuk meraihnya.


Arka memandang langit.


Ia bertanya-tanya, apakah kemerdekaan juga memiliki ukuran sepatu.


Apakah seseorang harus terlebih dahulu mampu membeli sepasang sepatu yang layak sebelum dianggap pantas menerima pendidikan?


Ataukah bangsa ini memang telah terlalu lama salah memahami kemerdekaan, mengira bahwa kebebasan untuk bersekolah berarti kewajiban untuk menanggung seluruh biaya agar dapat bertahan di dalamnya?


Pagi itu, Arka belajar sesuatu.


Bahwa manusia dapat dipermalukan bukan karena melakukan kesalahan, melainkan karena tidak mampu membeli sesuatu yang dianggap wajar oleh orang lain.


Beberapa minggu kemudian, sekolah mengumumkan sebuah program bantuan pendidikan.


Kepala sekolah berdiri di aula dengan senyum yang terlatih. Di belakangnya terpampang spanduk besar bertuliskan:


MEWUJUDKAN GENERASI EMAS INDONESIA MELALUI PENDIDIKAN BERKUALITAS.


Para murid bertepuk tangan.


Arka juga bertepuk tangan, meskipun ia tidak tahu untuk siapa.


Bantuan itu diperuntukkan bagi siswa kurang mampu yang memenuhi sejumlah persyaratan administratif. Fotokopi kartu keluarga, surat keterangan penghasilan orang tua, dokumen kependudukan, surat pernyataan, tanda tangan, dan beberapa lembar lain yang masing-masing memiliki kekuatan untuk menentukan apakah seorang anak layak ditolong.


Arka membawa semua dokumen yang diminta.


Ia berjalan dari sekolah ke kantor desa, dari kantor desa ke rumah, kemudian kembali ke sekolah. Ada surat yang belum ditandatangani, ada berkas yang perlu diperbarui, ada dokumen yang harus difotokopi. Setiap kekurangan mengharuskannya mengulang perjalanan.


Pada akhirnya, ia mengetahui bahwa salah satu berkasnya tidak dapat diproses sebelum data keluarganya diperbarui dalam sistem.


"Kalau begitu, saya harus bagaimana, Bu?" tanyanya kepada petugas administrasi sekolah.


"Lengkapi dulu."


"Tapi batas pengumpulannya besok."


Petugas itu mengangkat bahu.


"Ya, itu bukan urusan saya."


Arka memandangi tumpukan kertas di tangannya. Ia hampir tertawa.


Untuk mendapatkan bantuan agar dapat bersekolah, ia harus terlebih dahulu mengeluarkan uang untuk mengurus dokumen, membayar ongkos perjalanan, dan meninggalkan pelajaran demi mendatangi kantor-kantor yang jam kerjanya sama dengan jam sekolahnya.


Kemiskinan rupanya memiliki birokrasi sendiri.


Dan birokrasi itu tidak pernah mengenal belas kasihan.


Ia gagal mengumpulkan berkas tepat waktu.


Bantuan tersebut diberikan kepada siswa lain yang memenuhi seluruh persyaratan.


Tidak ada yang salah dengan siswa itu. Tidak pula ada yang salah dengan kebutuhan akan administrasi yang tertib.


Namun, di antara lembar-lembar persyaratan yang dianggap netral itu, Arka melihat sesuatu yang jauh lebih menyakitkan: aturan yang sama dapat melahirkan ketidakadilan ketika diterapkan kepada orang-orang yang tidak memiliki kemampuan yang sama untuk mematuhinya.


Ia pulang dengan berjalan kaki.


Sepatunya menganga lebih lebar.


Di ujung jalan, seorang anak kecil berlari mengejar layang-layang yang terputus. Arka memperhatikannya sampai anak itu menghilang di tikungan. Ia teringat masa kecilnya, ketika cita-cita masih terasa ringan, ketika ia pernah ingin menjadi seseorang yang dapat mengubah dunia.


Sekarang, ia hanya ingin memiliki sepatu yang tidak membuatnya malu.


Betapa jauhnya manusia dapat jatuh dari impiannya sendiri.


Di ruang kelas, Arka bukanlah murid yang bodoh.


Ia hanya tidak selalu memiliki waktu untuk menjadi pintar.


Sepulang sekolah, ia membantu ibunya mengangkat cucian, menjaga adiknya, dan sesekali mengerjakan desain sederhana untuk pelanggan yang membayar seadanya. Ia belajar pada malam hari ketika matanya belum terlalu berat dan ketika listrik di rumah mereka masih menyala.


Ada hari-hari ketika ia tertidur di atas buku.


Ada hari-hari ketika ia tidak mengerjakan tugas karena harus memilih antara menyelesaikan pekerjaan berbayar atau menyelesaikan pekerjaan sekolah.


Pilihan itu selalu membuatnya merasa bersalah.


Jika ia memilih bekerja, ia dianggap tidak bertanggung jawab sebagai murid.


Jika ia memilih belajar, ia tidak membantu keluarganya.


Di antara kedua pilihan tersebut, tidak ada satu pun yang benar-benar memberinya kesempatan untuk menjadi anak seusianya.


Sekolah mengajarkan bahwa masa depan harus diperjuangkan. Namun, tidak pernah ada pelajaran tentang bagaimana seorang anak harus memperjuangkan masa depan ketika hari ini saja sudah menghabiskan seluruh tenaganya.


Pada suatu sore, guru produktif membagikan tugas baru. Semua murid diminta membuat sebuah karya digital menggunakan perangkat lunak yang cukup berat.


"Boleh menggunakan laptop pribadi," kata beliau.


Kalimat itu disampaikan tanpa maksud buruk. Sang guru bahkan tampak bersemangat melihat kemungkinan karya-karya yang akan dihasilkan muridnya.


Namun, bagi Arka, kata pribadi terdengar seperti pintu yang ditutup perlahan.

Ia tidak memiliki laptop.


Komputer di laboratorium sekolah hanya dapat digunakan pada jam tertentu. Jumlahnya terbatas, beberapa unit rusak, dan jadwal pemakaiannya sering berbenturan dengan mata pelajaran lain. Sementara tenggat tugas tidak berubah hanya karena fasilitas tidak tersedia.


Arka akhirnya mengerjakan tugas itu melalui telepon genggam pinjaman milik ibunya. Ia harus memperbesar layar, menggeser elemen dengan ujung jari, menyimpan pekerjaan berkali-kali, dan mengulang beberapa bagian yang hilang ketika aplikasi tertutup.


Ia menghabiskan tiga malam.


Hasilnya jauh dari sempurna.


Nilainya tujuh puluh dua.


Pada lembar penilaian, tertulis sebuah komentar:


Kurang eksplorasi. Perlu meningkatkan kreativitas dan penguasaan teknis.


Arka membaca kalimat itu berulang kali.


Ia tidak menyangkal bahwa karyanya memiliki kekurangan. Ia tahu betul apa yang belum berhasil ia kerjakan. Ia bahkan dapat menyebutkan setiap bagian yang ingin diperbaikinya jika saja ia memiliki waktu dan perangkat yang memadai.


Yang membuatnya sakit hati bukanlah angka tujuh puluh dua.


Melainkan kenyataan bahwa tidak seorang pun pernah bertanya mengapa ia harus mengerjakan tugas yang sama dengan fasilitas yang berbeda.


Sekolah menilai hasil akhir, lalu menyebut penilaian itu objektif.


Seolah-olah objektivitas berarti menutup mata terhadap segala sesuatu yang terjadi sebelum sebuah karya dikumpulkan.


Seolah-olah seorang anak yang berlari dengan kaki telanjang harus dinilai berdasarkan kecepatan yang sama dengan anak yang mengenakan sepatu terbaik.


Pada bulan terakhir sebelum kelulusan, Arka menerima sebuah tugas esai.


Temanya adalah Pendidikan sebagai Jalan Menuju Indonesia Emas 2045.


Ia menatap judul itu selama hampir satu jam.


Kemudian ia mulai menulis.


Ia menulis tentang sekolah yang bangunannya dicat setiap menjelang kunjungan pejabat, tetapi perpustakaannya jarang dibuka. Tentang laboratorium yang terlihat lengkap dalam laporan, tetapi tidak seluruh peralatannya dapat digunakan. Tentang murid yang dihukum karena terlambat, tanpa seorang pun bertanya apakah ia harus berjalan kaki dari rumah yang terlalu jauh.


Ia menulis tentang guru-guru yang tetap mengajar meskipun gajinya tidak sebanding dengan pengorbanannya, tentang tenaga pendidik yang bekerja di bawah beban administrasi yang tidak masuk akal, dan tentang mereka yang sungguh-sungguh ingin mencerdaskan bangsa, tetapi harus berjuang di dalam sistem yang kerap lebih sibuk memenuhi indikator daripada memenuhi kebutuhan manusia.


Ia tidak menyalahkan semua guru.


Ia tahu ada guru yang diam-diam membelikannya alat tulis. Ada guru yang memberinya tambahan waktu. Ada guru yang memahami bahwa murid bukan mesin yang dapat terus menghasilkan nilai tanpa pernah kehabisan tenaga.

Justru karena itu, ia semakin marah.


Sebab, jika orang-orang baik di dalamnya pun harus terus bertarung melawan keadaan, mungkin persoalannya bukan sekadar siapa yang berdiri di depan kelas.


Mungkin ada sesuatu yang jauh lebih besar yang telah lama dibiarkan rusak.

Di bagian akhir esainya, Arka menulis:


Bangsa ini menginginkan generasi emas, tetapi terlalu sering memperlakukan anak-anaknya seperti bijih mentah yang harus dipukul hingga menyerupai bentuk yang dikehendaki.


Pendidikan semestinya menjadi jalan menuju pembebasan, bukan sekadar perlombaan untuk menentukan siapa yang paling mampu bertahan dari ketidakadilan.


Apabila sekolah hanya mengajarkan anak-anak untuk mematuhi aturan tanpa mengajarkan mereka untuk mempertanyakan ketidakadilan, maka yang sedang kita bangun bukanlah kecerdasan, melainkan kepatuhan yang diberi ijazah.


Dan jika keberhasilan pendidikan hanya diukur dari angka, peringkat, serta nama-nama yang berhasil melanjutkan studi, siapa yang akan menghitung anak-anak yang kehilangan kesempatan bahkan sebelum mereka sempat bertanding?


Arka menyerahkan esainya keesokan hari.


Gurunya membaca tulisan itu dengan dahi berkerut. Setelah beberapa saat, beliau memanggil Arka ke ruang guru.


"Kamu menulis ini sendiri?"


"Iya, Bu."


"Bahasanya terlalu keras."


Arka terdiam.


"Beberapa hal memang benar," lanjut gurunya, "tetapi kamu harus belajar menyampaikan kritik dengan cara yang lebih baik. Jangan sampai tulisanmu terkesan menyalahkan semua orang."


"Saya tidak menyalahkan semua orang, Bu."


"Lalu?"


Arka mengangkat wajah.


"Saya cuma bertanya, Bu. Kalau sistemnya sudah baik, kenapa banyak orang harus terluka hanya untuk mendapatkan hak yang katanya sudah dijamin?"


Ruangan itu mendadak sunyi.


Sang guru tidak segera menjawab. Beliau memandang Arka, lalu memandang esai di tangannya. Barangkali, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, sebuah tugas sekolah tidak terasa seperti tugas sekolah.


"Ada hal-hal yang tidak bisa kamu ubah sendirian," katanya akhirnya.


Arka mengangguk pelan.


"Saya tahu, Bu. Tapi kalau semua orang menunggu sampai ada yang bisa mengubahnya, kapan mulainya?"


Tidak ada jawaban.


Arka kembali ke kelas.


Esainya mendapat nilai delapan puluh lima.


Pada bagian bawah kertas, gurunya menulis:


Tulisan yang baik. Pertahankan keberanianmu, tetapi jangan kehilangan kebijaksanaan.


Arka menyimpan kertas itu di dalam tas.


Ia tidak tahu apakah keberanian dan kebijaksanaa


n dapat hidup berdampingan dalam sebuah sistem yang sering menganggap pertanyaan sebagai ancaman. Namun, ia tahu satu hal: diam tidak pernah benar-benar menyelesaikan apa pun. Ia hanya membuat kerusakan terdengar lebih sopan.


Hari kelulusan tiba.


Lapangan sekolah dipenuhi murid-murid yang mengenakan pakaian terbaik mereka. Beberapa orang tua datang membawa bunga. Kamera-kamera telepon genggam menyala. Tawa dan tangis bercampur menjadi satu, mengabadikan sebuah akhir yang bagi banyak orang terasa seperti permulaan.


Kepala sekolah menyampaikan pidato tentang masa depan.


Beliau berbicara tentang daya saing global, transformasi digital, bonus demografi, dan generasi emas Indonesia. Kata-kata besar mengalir dari pengeras suara, membungkus halaman sekolah dalam sebuah harapan yang nyaris terasa nyata.


Arka duduk di barisan belakang.


Sepatunya masih sama.


Lubang di ujungnya kini cukup lebar untuk memperlihatkan sebagian besar jempol kaki kirinya. Ia telah mencoba menambalnya dengan lem, tetapi bahan kainnya terlampau tipis. Setiap kali ia melangkah, tambalan itu terangkat sedikit demi sedikit.


Ia sudah tidak malu lagi.


Atau barangkali, ia telah terlalu lelah untuk terus merasa malu.


Ketika namanya dipanggil, Arka berjalan menuju panggung. Ia menerima map kelulusan, berjabat tangan dengan kepala sekolah, lalu berdiri menghadap kamera.


Seseorang berkata, "Senyum!"


Arka tersenyum.


Foto itu kelak akan disimpan di dalam album keluarga, menjadi bukti bahwa seorang anak dari keluarga sederhana telah berhasil menyelesaikan pendidikannya.


Tidak akan ada yang melihat sepatunya.


Tidak akan ada yang mengetahui berapa banyak makan siang yang ia lewatkan, berapa malam yang ia habiskan untuk bekerja, berapa kali ia menahan keinginan agar keluarganya tidak merasa gagal, atau berapa banyak kesempatan yang harus ia relakan hanya agar dapat berdiri di panggung itu.


Foto tersebut akan terlihat indah.


Seperti banyak laporan pendidikan yang terlihat indah di atas kertas.


Sementara di luar bingkai, kenyataan akan tetap berjalan dengan kakinya sendiri.


Beberapa bulan kemudian, Arka belum melanjutkan kuliah.


Ia bekerja serabutan, mengambil pekerjaan desain kecil-kecilan, dan membantu ibunya di rumah. Sesekali ia membuka kembali esai yang pernah ditulisnya. Kertas itu sudah sedikit kusut, sudut-sudutnya terlipat, tetapi tulisannya masih terbaca.


Ia sering memikirkan teman-temannya.


Ada yang berhasil masuk perguruan tinggi negeri. Ada yang diterima di kampus swasta. Ada yang bekerja di pabrik, di toko, di bengkel, atau di tempat-tempat yang bahkan tidak pernah mereka bayangkan ketika masih mengenakan seragam putih abu-abu.


Ada pula seorang teman yang tidak melanjutkan pendidikan karena keluarganya tidak sanggup membiayai kebutuhan awal kuliah.


Namanya Dimas.


Nilai Dimas selalu lebih tinggi daripada Arka. Ia memenangkan beberapa perlombaan akademik dan pernah menjadi juara kelas. Guru-guru menyebutnya sebagai salah satu murid paling cemerlang di angkatannya.


Namun, kecemerlangan itu tidak cukup untuk membeli waktu.


Ayahnya kehilangan pekerjaan. Ibunya sakit. Dimas harus memilih antara mendaftar kuliah atau membantu keluarganya membayar kebutuhan sehari-hari.


Ia memilih bekerja.


Tidak ada upacara untuk keputusan itu.


Tidak ada kepala sekolah yang berdiri di lapangan untuk menyampaikan pidato tentang seorang murid berprestasi yang kehilangan kesempatan. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada medali. Tidak ada foto yang akan dipajang di dinding sekolah.


Dimas hanya menghilang dari percakapan tentang masa depan.

Namanya perlahan-lahan berhenti disebut.


Dan dunia terus bergerak, seolah-olah tidak ada sesuatu yang hilang.


Arka memahami bahwa ketidakadilan tidak selalu hadir sebagai kekerasan yang terlihat. Terkadang, ia hadir sebagai kemungkinan yang tidak pernah sempat diwujudkan. Sebagai mimpi yang dikubur dengan tenang, tanpa nisan, tanpa saksi, tanpa seorang pun merasa bersalah.


Di negeri ini, anak-anak tidak selalu gagal karena kurang berusaha.


Sebagian gagal karena mereka dipaksa mengerahkan seluruh usaha hanya untuk mencapai tempat orang lain mulai berjalan.


Suatu malam, hujan turun dengan deras.


Arka duduk di teras rumah, memandangi sepatu hitamnya yang telah ia letakkan di samping pintu. Sepatu itu tidak lagi dapat dipakai. Solnya terlepas, kainnya robek, dan ujungnya terbuka lebar seperti mulut yang akhirnya selesai menelan segala keluhan.


Ibunya keluar membawa dua cangkir teh.


"Besok beli sepatu baru, ya, Ka," katanya.


Arka menoleh.


"Dari mana uangnya, Bu?"


Ibunya tersenyum kecil.


"Sudah ada sedikit."


Arka memandangi wajah ibunya. Garis-garis lelah mengendap di sana, lebih jelas daripada tahun sebelumnya. Ia ingin mengatakan bahwa ia tidak membutuhkan sepatu baru. Bahwa ada hal-hal lain yang lebih mendesak. Bahwa ia dapat bertahan beberapa waktu lagi dengan sandal yang biasa dipakainya di rumah.


Namun, ia tidak sanggup menolak.


Ia tahu ibunya ingin memberinya sesuatu yang sederhana, sesuatu yang semestinya tidak perlu diperjuangkan selama ini.


"Terima kasih, Bu."


Ibunya mengusap rambutnya.


"Kamu harus terus belajar, ya."


Arka mengangguk.


Malam semakin larut. Dari kejauhan, terdengar suara kendaraan melintasi jalan yang basah. Di dalam rumah, adiknya telah tertidur. Ibunya masuk lebih dahulu, meninggalkan Arka sendirian bersama hujan.


Ia mengambil sepatunya.


Menatap lubang di ujungnya.


Lalu tertawa kecil.


Bukan tawa bahagia, bukan pula tawa orang yang telah menyerah. Hanya sebuah bunyi pendek dari seseorang yang akhirnya memahami betapa absurdnya dunia: sebuah negara dapat berbicara tentang masa depan dengan begitu megah, tetapi seorang anak harus menunggu berbulan-bulan hanya untuk mendapatkan alas kaki yang layak.

Arka teringat pelajaran Bahasa Sanskerta yang pernah dibacanya dalam sebuah buku di perpustakaan sekolah.


Satyam eva jayate.


Kebenaranlah yang menang.


Ia mengulang kalimat itu di dalam hati.


Lantas ia bertanya, jika kebenaran memang akan menang, mengapa begitu banyak orang harus hidup dan mati tanpa pernah menyaksikan kemenangannya?


Barangkali kebenaran tidak selalu kalah.


Barangkali ia hanya terlalu lama dibiarkan berdiri sendirian.


Arka meletakkan sepatu itu kembali di lantai.


Besok, ia akan mencari pekerjaan lagi. Ia akan belajar lagi. Ia akan mencoba mendaftar kuliah ketika kesempatan itu datang. Ia tidak tahu apakah nasib akan berpihak kepadanya, tetapi ia tahu bahwa hidupnya belum selesai hanya karena sebuah sistem gagal memberinya jalan yang layak.


Ia tidak ingin menjadi emas.


Ia hanya ingin menjadi manusia.


Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa keinginan itu ternyata jauh lebih sulit daripada yang pernah diajarkan sekolah.


Bertahun-tahun kemudian, sepatu bolong itu masih tersimpan di dalam sebuah kardus di sudut lemari Arka.


Ia tidak menyimpannya sebagai kenang-kenangan masa sekolah. Benda itu terlalu menyakitkan untuk disebut kenangan indah. Ia menyimpannya karena ada hal-hal yang tidak boleh dibuang sebelum seseorang memahami mengapa hal-hal itu pernah terjadi.


Pada hari ketika Arka akhirnya berdiri di sebuah ruang kelas sebagai pembicara dalam kegiatan pendidikan, seseorang bertanya kepadanya tentang kunci keberhasilan.


Arka diam sejenak.


Ia dapat saja berbicara tentang kerja keras, kedisiplinan, konsistensi, dan keberanian untuk bermimpi. Semua itu benar. Semua itu penting.


Namun, ia teringat Dimas.


Ia teringat anak-anak yang berhenti sekolah karena biaya. Terbayang guru-guru yang kehabisan tenaga menghadapi administrasi. Terbayang ruang kelas yang kekurangan fasilitas, murid-murid yang dipaksa bersaing dengan sumber daya yang tidak setara, serta keluarga-keluarga yang harus memilih antara memenuhi kebutuhan hari ini dan membiayai harapan untuk hari esok.


Maka ia menjawab:


"Kerja keras itu penting. Tetapi jangan pernah menggunakan kata kerja keras untuk membenarkan sebuah sistem yang membuat sebagian orang harus bekerja sepuluh kali lebih keras hanya untuk memperoleh kesempatan yang sama."


Ruangan itu sunyi.


Arka melanjutkan.


"Kita sering bertanya mengapa seorang anak gagal. Kita memeriksa nilainya, kedisiplinannya, motivasinya, bahkan karakternya. Namun, kita jarang bertanya apakah sekolah telah menyediakan kondisi yang memungkinkan anak itu berhasil."


Ia berhenti.


"Barangkali yang perlu kita evaluasi bukan hanya murid yang tidak mencapai standar. Barangkali standar kita juga harus dievaluasi, terutama ketika ia dibangun tanpa mempertimbangkan kenyataan hidup orang-orang yang harus memenuhinya."


Seseorang mengangguk. Seseorang mencatat. Seseorang mungkin akan mengutip ucapannya dalam sebuah laporan.


Arka tidak tahu apakah kata-katanya akan mengubah sesuatu.


Ia hanya tahu bahwa setiap perubahan harus dimulai dari keberanian untuk menyebut luka dengan nama yang sebenarnya.


Dan ia telah terlalu lama hidup bersama luka itu untuk berpura-pura tidak melihatnya.


Di luar ruangan, matahari menyinari halaman sekolah. Anak-anak berlarian, tertawa, saling mengejar dengan sepatu yang beraneka warna. Beberapa di antara mereka akan tumbuh menjadi dokter, guru, seniman, ilmuwan, atau siapa pun yang kelak mereka inginkan.


Sebagian lainnya mungkin akan menghadapi jalan yang lebih terjal.


Arka memandangi mereka dengan perasaan yang sulit dijelaskan.


Ia berharap suatu hari nanti, tidak ada lagi anak yang harus menyembunyikan kakinya karena sepatunya bolong.


Tidak ada murid yang dianggap malas hanya karena hidupnya menuntut terlalu banyak. Tidak ada mimpi yang harus dikuburkan semata-mata karena keluarga pemiliknya tidak mampu membayar ongkos perjalanan menuju masa depan.


Ia berharap suatu hari nanti, pendidikan benar-benar menjadi hak, bukan hadiah bagi mereka yang kebetulan dilahirkan dengan cukup uang.


Sebab bangsa yang besar bukanlah bangsa yang mampu menghasilkan segelintir pemenang di tengah jutaan orang yang tertinggal.


Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak membiarkan anak-anaknya kehilangan masa depan hanya karena mereka tidak memiliki sesuatu yang sesederhana sepasang sepatu.


Dan apabila kelak Indonesia benar-benar menjadi negeri yang adil, barangkali tak seorang pun akan mengingat nama Arka.


Tak mengapa.


Ia tidak membutuhkan namanya diabadikan.


Ia hanya ingin, suatu pagi nanti, seorang anak dapat berangkat ke sekolah tanpa perlu menghitung berapa lama lagi sepatunya mampu bertahan.


Karena pada mulanya, yang berlubang hanyalah sepatu.


Namun, jika tak seorang pun peduli, lubang itu akan membesar.


Hingga suatu hari, yang tersisa bukan lagi sekadar kain dan sol yang koyak, melainkan lubang menganga di tengah cita-cita sebuah bangsa.


Dan dari sana, seluruh dunia akan dapat melihat betapa gelapnya sesuatu yang selama ini kita sebut pendidikan.


Tamat.


Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke: