Not yet available in the requested language -- showing the original version.
Bendera kuning di tiang bambu depan rumah Laras masih ada. Kainnya yang melambai tipis dihembus angin pagi tampak agak kusam, terikat pada patok kayu di samping pintu kayu yang sudah lapuk. Baru tujuh hari lalu bendera itu dipasang waktu para tetangga menggotong jenazah Ayah dari puskesmas kecamatan. Bau bunga kamboja kering dan sisa sisa aroma tanah basah masih tertinggal di ingatan Laras setiap kali gadis kecil berusia sebelas tahun itu melangkahkan kaki keluar rumah.
Namun, Senin tidak mau menunggu berduka. Bagi murid kelas lima SD Negeri 03 Margoasri, hari Senin adalah hari yang penuh patokan tegak lurus.
Laras berdiri di ambang pintu, menatap dua buah benda hitam yang tergeletak di atas ubin semen. Sepatu kain murahan yang dibeli Ayah dua tahun lalu saat Laras naik ke kelas empat. Sepatu kanan sudah parah. Sol karet bawahnya belah di bagian tengah. Kalau ditarik sedikit saja, bagian tapaknya akan langsung terlepas total dari kain atasnya. Sementara sepatu kiri tak kalah menyedihkan benang jahitannya terangkat dan moncong depannya sudah menganga seperti mulut ikan kering.
"Bu..." panggil Laras pelan, ragu-ragu.
Di sudut dapur, Ibu sedang membungkus dua ikat daun singkong dengan kantong plastik hitam. Wajah Ibu kusam, matanya sembap, dan lingkar hitam di bawah matanya makin jelas sejak Ayah pergi. Ibu bekerja mencuci pakaian di tiga rumah warga dan kadang memotong sayur di pasar kalau ada tetangga yang membutuhkan tenaga bantuan.
"Kenapa, Ras? Seragammu sudah rapi, 'kan?" Ibu menoleh tanpa menghentikan jemarinya yang cekatan.
"Sepatunya, Bu. Yang kanan solnya mau lepas sama sekali. Yang kiri jahitannya jebol." Laras menunduk, menatap kakinya sendiri yang sudah terbungkus kaos kaki putih bersih. Kaos kaki itu panjangnya melampaui lutut, ditarik kencang tanpa lipatan sedikit pun, sesuai aturan sekolah.
Ibu menghentikan pekerjaannya. Matanya tertuju pada sepatu usang di dekat pintu. Ada keheningan yang menyesakkan di antara mereka berdua, keheningan yang dipenuhi oleh perhitung-hitungan rupiah yang tidak pernah cukup.
"Ibu belum ada uang, Le..." suara Ibu nyaris tenggelam oleh desis air mendidih di atas kompor. "Uang duka dari sekolah kemarin habis buat beli beras sama bayar selamatan tujuh hari Ayah semalam. Nanti... kalau upah nyuci dari Bu RT keluar hari Rabu, kita cari sepatu bekas di pasar ya?"
Laras tidak menjawab. Ia tahu tidak ada guna menawar. Ia tahu betul berapa lembar uang yang tersisa di dompet kain milik Ibunya.
"Pakai saja dulu ya, Ras. Pelan-pelan jalannya," bisik Ibu sambil mengusap kepala Laras.
Laras mengangguk. Ia berjongkok, pelan-pelan memasukkan kakinya ke dalam sepatu hitam itu. Ia tidak berani mengikat tali sepatu terlalu kencang karena takut kainnya makin tertarik dan robek seketika.
SD Negeri 03 Margoasri adalah sekolah yang terkenal sangat disiplin di distrik tersebut. Kepala Sekolah, Pak Haryono, selalu membanggakan ketertiban murid-muridnya di setiap rapat kecamatan. Setiap Senin pagi, beliau sendiri yang berdiri di balik gerbang besi sekolah bersama Pak Kasmanto, guru kesiswaan yang terkenal dingin dan tanpa kompromi.
Peraturannya jelas dan tertulis tebal di papan pengumuman depan kantor: Setiap hari Senin, murid wajib mengenakan seragam putih-merah lengkap dengan topi, dasi, kaos kaki putih polos di atas lutut tanpa logo, dan sepatu kain hitam polos tanpa corak. Pelanggaran atas kerapian akan dikenakan sanksi berdiri di depan tiang bendera selama upacara berlangsung dan pemanggilan orang tua.
Bagi Laras, berdiri di depan tiang bendera bukan cuma soal rasa malu. Itu artinya nama Ibunya akan dipanggil ke sekolah. Ibu harus meninggalkan cuciannya, berjalan kaki dua kilometer ke sekolah, dan mendengarkan teguran Pak Haryono tentang "pentingnya menjaga kewibawaan dan keseragaman instansi pendidikan". Laras tidak mau Ibunya yang sedang berduka harus menanggung malu itu.
Laras mulai berjalan keluar rumah. Matahari pagi baru saja menyembul tipis di balik pepohonan kelapa. Langkah Laras sangat pelan, hampir menyeret. Kaki kanannya menginjak jalanan tanah berpadas dengan sangat hati-hati.
Namun, baru berjalan sekitar tiga ratus meter dari rumah, tepat di dekat belokan jalan desa yang berbatu tajam, hal yang ditakutkannya terjadi.
Srek.
Laras menghentikan langkah. Ia merasakan perbedaan janggal pada telapak kaki kanannya. Ketika ia mengangkat kakinya, sol karet sepatu kanan tidak ikut terangkat. Benda hitam melengkung itu tertinggal di atas batu jalanan, sementara kakinya hanya dilapisi kain sepatu tipis yang bawahnya sudah bolong total.
"Ya Allah..." bisik Laras. Matanya mendadak panas.
Ia berjongkok dan mencoba memasangkan kembali sol itu. Tapi sambungan karetnya sudah mati, tak ada lagi lem yang tersisa. Begitu ia berdiri dan melangkah satu kali, sol itu terlepas lagi, terguling ke selokan kering di pinggir jalan.
Laras berdiri terpaku di pinggir jalanan yang sepi. Jam di tangannya, jam plastik murah hadiah ulang tahun dari Ayah dua tahun lalu menunjukkan pukul 06.30 WIB. Pintu gerbang sekolah akan dikunci rapat tepat pukul 07.00 WIB.
Jika ia pulang untuk berganti sepatu, ia tidak punya sepatu lain. Sepatu sandal plastiknya berwarna biru terang jadi pelanggaran berat lainnya. Jika ia lanjut berjalan, bagian bawah kaos kaki putihnya akan langsung menyentuh tanah dan batu.
Dengan bibir tergetar, Laras melanjutkan langkah. Kaki kanannya kini melangkah hanya beralaskan kaos kaki putih tipis pada bagian bawah, meski kain sepatu atasnya masih membungkus punggung kakinya. Rasa dingin tanah pagi dan tajamnya kerikil kecil langsung menembus benang-benang kaos kakinya. Setiap kali tumitnya menapak batu tajam, Laras meringis pelan, menahan perih yang mulai menjalar.
Ia mempercepat langkahnya. Jalanan menuju sekolah makin ramai oleh anak-anak lain yang diantar menggunakan sepeda motor oleh orang tua mereka. Sepatu-sepatu mereka hitam mengkilat, kaos kaki mereka putih kaku tanpa noda. Laras menunduk dalam-dalam, berusaha berjalan rapat di pinggir tembok rumah warga agar tidak ada yang menyadari kaki kanannya yang aneh.
Pukul 06.45 WIB. Kompleks sekolah sudah terlihat di ujung jalan.
Laras bernapas lega secara prematur. Tinggal lima puluh meter lagi menuju gerbang. Ia berpikir, asal bisa masuk ke dalam barisan kelas lima dan bersembunyi di tengah-tengah teman-temannya yang bertubuh lebih tinggi, ia akan aman sampai upacara selesai.
Namun, saat Laras hendak melompati parit kecil di depan pagar luar sekolah.
PRAK!
Langkah kakinya tersandung tepi semen yang agak tinggi. Bagian depan sepatu kirinya yang memang sudah terkoyak, menghantam sudut beton yang tajam. Kain atasnya terbelah total dari solnya. Sementara sepatu kanannya yang tak bertapak ikut terdorong kencang, membuat kain atas sepatu kanan lepas sepenuhnya dari tali.
Laras mengambil sepatunya baik yang kiri maupun kanan. Ia memakai sepatu kanan yg lepas itu dan mengikatnya kembali di kakinya meski moncongnya hilang sementara yang kiri bagian atasny terbelah namun, msh bisa diikat dengan dengan pelan.
Kaos kaki putih di atas lutut itu kini bagian bawahnya penuh noda tanah cokelat pekat, dan di bagian telapaknya sudah koyak terkena kerikil, memperlihatkan kulit tumitnya yang memerah dan sedikit berdarah. Laras membersihkan noda yang menempel di kaos kakinya, ia membeku. Matanya menatap lurus ke arah gerbang sekolah yang berjarak tiga puluh meter di depannya.
Di sana, di bawah naungan pohon beringin rindang dekat gerbang, Pak Haryono sudah berdiri tegak dengan seragam KORPRI yang rapi dan kaku. Tangannya bersedekap di dada. Di sampingnya, Pak Kasmanto memegang buku catatan pelanggaran bersampul merah. Mereka sedang mengamati satu per satu murid yang melintasi gerbang.
Laras menarik kaos kakinya ke bawah, berusaha menutupi jempolnya yang mencuat, tapi tidak bisa. Kaos kaki itu terlalu panjang dan ketat. Kalau ia mencopot sepatuanya atau kaos kakinya dan berjalan telanjang kaki, hukumannya akan dua kali lipat lebih berat. Tanpa sepatu dan kaos kaki berarti dianggap sengaja menghina ketertiban upacara.
"Ayo masuk, Laras! Nanti gerbang dikunci!" teriak Sintia, teman sekelasnya, yang lewat sambil berlari kecil dengan sepatu hitam mulusnya.
Laras hanya bisa mengangguk kaku, tak mampu bersuara.
Ketakutan mematung di dadanya. Wajah Pak Haryono yang dingin, bayangan buku catatan pelanggaran Pak Kasmanto, dan surat panggilan untuk Ibu melintas bergantian di kepalanya. Ibu baru saja selesai menangis semalam karena merindukan Ayah. Bagaimana mungkin Laras menambah beban Ibunya pagi ini hanya karena dua pasang sepatu tua yang menyerah pada zaman?
Laras mundur perlahan. Ia menarik tubuhnya ke balik tembok pembatas toko kelontong yang masih tutup, tidak jauh dari sekolah. Air matanya menetes satu per satu, menimpa kaos kakinya yang kotor.
Tiba-tiba, suara deru mesin pickup tua memecah keheningan jalanan. Sebuah mobil bak terbuka berhenti tepat di depan rumah kosong di sebelah toko kelontong. Dari atas bak, turun empat orang laki-laki dewasa berkaos lusuh dengan celana penuh bercak cat dried. Mereka membawa tangga lipat, kaleng-kaleng kaleng besar, dan rol pengecat.
"Ayo, buruan. Tembok depan ini harus selesai dicat sebelum siang," kata salah seorang kuli yang agak tua, bertopi kumal.
Laras memperhatikan mereka. Salah satu kuli membentangkan terpal di atas tanah, lalu membuka sebuah kaleng cat berukuran sedang.
Mata Laras terpaku pada kaleng itu.
Cat kayu dan besi berwarna hitam pekat. Hitam pekat yang kental, mengkilat, dan menutup sempurna.
Sebuah pemikiran yang nekat, absurd, dan lahir dari keputusasaan yang amat sangat mendadak muncul di kepala Laras. Jam di tangannya menunjukkan pukul 06.52 WIB. Bel sekolah akan berbunyi delapan menit lagi.
Laras menghapus air matanya dengan lengan baju seragamnya. Dengan langkah gemetar dan rasa perih di telapak kaki kanannya, ia mendekati kuli bertopi kumal yang sedang mengaduk cat.
"P-Pak..." panggil Laras dengan suara sangat pelan.
Kuli tua itu menoleh, terkejut melihat seorang anak SD berseragam rapi berdiri di depannya dengan wajah pucat dan kaki tanpa sepatu.
"Lho, Nduk? Kenapa belum masuk sekolah? Itu gerbangnya mau ditutup," kata kuli itu heran.
Laras menunduk, menunjuk kakinya yang sedikit telanjang bagian kanan depan hanya terbungkus kaos kaki putih kotor. "Sepatu saya lepas di jalan, Pak... pecah. Saya tidak berani masuk. Nanti dihukum sama Kepala Sekolah. Ibu saya juga nanti dipanggil..."
Kuli itu menatap kaki Laras, lalu menatap wajah anak kecil yang gemetar itu. Ada rasa prihatin yang dalam melintas di matanya. "Walah, Nduk... Terus piye? Rumahmu jauh?"
"Jauh, Pak. Kalau pulang pasti terlambat," Laras menelan ludah, matanya menatap kaleng cat hitam di atas terpal. "Pak... boleh saya minta cat hitamnya sedikit saja? Sedikit saja, Pak..."
Kuli tua itu melotot kaget. "Lho, buat apa cat? Mau cat apa?"
"Buat... buat kaki saya, Pak," bisik Laras, air matanya menetes lagi. "Supaya kaos kaki yang muncul ini kelihatan warna hitam dari jauh. Supaya saya tidak kelihatan tidak pakai sepatu yang rapih kalau berdiri di barisan upacara..."
Ketiga kuli lainnya berhenti bekerja. Mereka saling pandang, lalu menatap Laras dengan mata tak percaya. Suasana di tempat itu mendadak hening. Tak ada canda tawa kuli lagi. Yang ada hanya kepedihan dari seorang anak kecil yang begitu takut pada sebuah sistem bernama kedisiplinan.
Kuli tua itu menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang sangat berat. Tanpa mengatakan apapun lagi, ia berjongkok di depan Laras. Ia mengambil kuas cat berukuran tiga inci yang masih bersih, lalu mencelupkannya ke dalam cat hitam kental itu.
"Sini kakimu, Nduk," katanya pelan, suaranya agak serak.
Laras maju satu langkah. Kuli tua itu menyapukan kuas basah itu ke bagian atas kaos kaki Laras lalu berikutnya sepatu kiri yang terkoyak agar warna keduanya menjadi sama.
Rasa dingin yang pekat dan berbau menyengat langsung meresap menembus kain kaos kaki putih. Cat minyak itu tebal dan lengket. Saat kuas itu mengolesi bagian telapak kaki Laras yang luka terkena batu, rasa perih seperti ditusuk-tusuk jarum langsung membakar kulitnya. Cat kimia yang meresap ke dalam luka terbuka rasanya luar biasa panas.
Laras menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga berdarah. Ia tidak mengaduh. Ia memejamkan mata erat-erat, membiarkan rasa terbakar itu menjalar dari telapak kakinya hingga ke pergelangan.
Kuli tua itu mengoleskan cat hitam itu dengan sangat hati-hati, melapisi seluruh permukaan kaos kaki kanan dan kiri Laras mulai dari bagian jari hingga ke atas tumit, membentuk pola menyerupai sepatu pantofel hitam. Ia bahkan mengoleskan lapisan ekstra tebal di bagian bawah telapak kaki untuk menutup lubang kain yang robek.
"Sudah, Nduk..." kata kuli itu pelan setelah selesai. Ia menatap karyanya dengan mata yang tampak berkaca-kaca. "Jangan lari ya. Nanti catnya blepotan."
Dari jauh, dari jarak tiga meter, kaki Laras memang terlihat seperti menggunakan sepatu hitam pendek dengan kaos kaki putih tinggi di atasnya. Sebuah ilusi optik yang lahir dari penderitaan.
"Terima kasih, Pak... Terima kasih banyak. Sekarang kaki kanan aku sudah kayak sepatukan pak?" kata Laras sambil membungkukkan badan dalam-dalam.
"Iya nduk. Sana masuk, Nduk. Yang kuat ya," jawab kuli itu sambil mengibaskan tangannya, tak sanggup menatap mata Laras lebih lama.
TET! TET! TET!
Bel sekolah berbunyi nyaring dari arah halaman. Suara itu seperti sirine darurat di telinga Laras.
Laras tidak berlari. Ia tidak bisa berlari karena setiap kali kakinya menapak tanah, cat hitam yang belum kering itu lengket di permukaan bumi, dan rasa terbakar pada lukanya makin menjadi-jadi. Kimia keras dari cat minyak itu rasanya seperti membakar jaringan kulit halus di telapak kakinya. Tapi Laras terus berjalan, menahan rasa sakit dengan menegakkan punggungnya.
Ia melangkah melewati gerbang sekolah persis saat Pak Kasmanto hendak mendorong pintu besi itu untuk dikunci.
"Cepat, Laras! Hampir saja kamu terlambat!" tegur Pak Kasmanto tegas, matanya melirik sebentar ke arah bawah.
Laras menghentikan langkahnya sebentar, menahan napas.
Dari ketinggian berdiri seorang guru, kombinasi kaos kaki putih tinggi dan sapuan cat hitam tebal di bagian bawah kaki Laras terlihat cukup meyakinkan sebagai sepatu hitam pendek. Pak Kasmanto tidak melihat ada yang aneh. Beliau hanya melihat seorang murid yang mengenakan seragam lengkap dari kepala hingga ujung kaki.
"Langsung masuk barisan kelas lima! Jangan ngobrol!" perintah Pak Kasmanto.
"Baik, Pak," jawab Laras pelan.
Ia berjalan menuju lapangan upacara yang beralaskan semen keras. Matahari pagi mulai terasa menyengat. Semen lapangan yang mulai memanas berinteraksi dengan cat minyak yang menempel di kakinya. Cat itu mulai mengering, mengeras, dan mengkerutkan kain kaos kakinya, menjepit kulit kakinya seperti cengkeraman besi. Rasa panas dari reaksi kimia cat dan semen yang terpanggang matahari membuat telapak kaki kanan Laras terasa seperti sedang dipanggang di atas bara api.
Laras berdiri di barisan ketiga kelas lima B. Di sekelilingnya, teman-temannya berdiri tegak.
"Laporan! Masing-masing pemimpin barisan, siapkan barisannya!" suara komando dari pemimpin upacara menggema melalui pengeras suara yang gemerisik.
"Kepada Pembina Upacara... Hormat, grak!"
Semua tangan terangkat ke pelipis. Laras mengikutinya dengan sempurna. Punggungnya tegak lurus, pandangannya lurus menatap bendera merah-putih yang perlahan berkibar naik ke atas tiang aluminium yang berkilau dijemur matahari.
Di depan sana, di atas podium yang tinggi dan bersih, Pak Haryono berdiri anggun. Beliau memandang ke arah ratusan muridnya dengan tatapan bangga.
"Anak-anakku sekalian," suara Pak Haryono terdengar lantang melalui mikrofon. "Kedisiplinan adalah napas dari keberhasilan. Kerapian seragam kalian pagi ini adalah cermin dari kesiapan kalian menjadi pemimpin di masa depan. Sekolah ini tidak akan pernah menoleransi kelalaian dalam hal aturan. Keseragaman adalah bukti bahwa kita semua berdiri setara dalam naungan pendidikan!"
Apresiasi dan tepuk tangan pelan terdengar dari jajaran guru yang berdiri rapi di sisi kiri lapangan. Semuanya mengenakan pakaian resmi yang licin disetrika. Semua sepatu mereka hitam mengkilat, memantulkan bayangan langit pagi.
Di barisan tengah, Laras menggigit bagian dalam pipinya hingga terasa asinnya darah. Rasa sakit di telapak kakinya sudah mencapai puncaknya. Cat hitam itu kini sudah benar-benar kering, menyatu dengan darah dan benang kaos kakinya, mengeras menjadi kerak tebal yang terus menggerogoti kulitnya yang terkelupas. Setiap kali angin bertiup, bau tiner dan cat minyak yang menyengat naik dari bawah, menusuk hidungnya sendiri.
Namun, di tengah rasa sakit yang luar biasa itu, bibir kecil Laras perlahan mengukir sebuah senyuman.
Ia tersenyum. Bukan karena ia bahagia, bukan pula karena ia bangga.
Ia tersenyum karena hari ini ia berhasil menipu sebuah sistem yang besar. Hari ini, ia berhasil menyelamatkan Ibunya dari rasa malu. Hari ini, ia terhindar dari bentakan dan hukuman karena telah berhasil berpura-pura menjadi murid yang "sempurna" dan "seragam".
Sisi gelap pendidikan di sekolahnya berdiri megah di atas podium itu sebuah tempat di mana potongan kain, warna sepatu, dan kerapian lahiriah dinilai jauh lebih berharga daripada apakah seorang anak sudah makan pagi ini, atau apakah seorang anak baru saja kehilangan ayahnya seminggu yang lalu. Di tempat ini, keseragaman dipaksakan dengan cara membunuh kemanusiaan, dan aturan berdiri tegak di atas luka-luka yang disembunyikan di balik warna hitam.
Laras menatap ke atas, ke arah bendera merah-putih yang kini sudah sampai di puncak tiang.
Di bawah sana, di atas semen lapangan yang panas, Laras berdiri tegak dengan kaki kanan yang terus berdarah di dalam balutan cat hitam. Ia tahu, nanti siang saat ia harus mengelupas kaos kaki itu dari kulitnya, rasa sakitnya akan bertambah sepuluh kali lipat. Kain itu pasti akan membawa serta kulitnya yang menempel pada cat.
Tapi untuk saat ini, selama empat puluh lima menit durasi upacara bendera, Laras merasa ia telah menang. Ia menang atas aturan yang buta, meski kemenangan itu harus ia bayar dengan rasa terbakar di telapak kakinya sendiri.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya