Not yet available in the requested language -- showing the original version.
Suara gemuruh anak-anak datang dari seberang jalan membuatku mendongakkan kepala.
Sejenak kutinggalkan lap kain lusuh di genggaman tangan dan beranjak pergi. Tak lupa meraih tongkat kayu yang kini menjadi sahabatku.
Dengan pincang aku mengambil langkah keluar rumah.
Senyuman mengembang.
Aku mengamati anak-anak yang bercengkerama, kemudian teringat masa lalu.
Saat itu aku juga seperti mereka. Punya mimpi dan membaginya kepada salah satu sahabatku yang masih aku ingat senyumannya hingga saat ini. Ketika tertawa selalu ada lesung pipi yang terlihat di wajah itu.
Kenangan di masa itu adalah salah satu yang paling berharga di antara yang lainnya.
Indah.
Sederhana.
Dan terasa begitu mudah.
Hanya saja, tanpa kehendak dariku, waktu mulai mengaburkan semua kisah lampau. Rambut telah berubah putih, dan ingatanku tidak lagi sejernih dulu.
“Kakek!”
Suara cempreng seorang anak menyerang indera pendengaran, dan menyita perhatian. Seketika aku menoleh ke arah sumber suara. Di sana, sosok anak kecil yang melambaikan tangan dan tersenyum lebar.
Tanganku terangkat, dan aku memberikan lambaian tangan kepadanya.
Cucuku tampak bahagia.
Langkah kecilnya perlahan berlalu, ikut hanyut dalam hiruk pikuk suara para penjaga mimpi.
Suara derap kaki mereka menyita perhatianku. Sepatu-sepatu kecil itu tampak bagus dan baru. Corak warnanya seakan membawa serpihan cahaya, menerangi jalanan yang dilalui.
Aku teringat pada sepatu tua yang aku simpan hingga saat ini. Warna pudar dan solnya hampir lepas. Namun, di dalamnya juga tersimpan mimpi yang tanpa kusadari telah pergi begitu jauh.
*****
Joko mengayuh sepeda tua itu dengan seluruh tenaganya. Dua kilometer telah terlampaui, sebentar lagi ia akan sampai di sekolah.
Kring!
“Ayo Joko! Ndang budal mengko sekolahe.”
Ia menengok ke arah orang yang menyalip laju sepedanya.
“Pak Trisna!” pekiknya.
Tanpa membuang waktu, Joko kembali mengayuh sepedanya. Kakinya bergerak cepat, bergantian menekan pedal, mengejar pria yang kini telah lebih dahulu memimpin jalan. Angin pagi menerpa wajahnya, membuat rambutnya yang sedikit berantakan semakin tak beraturan.
Beberapa menit kemudian, ia tiba di halaman sekolah.
“Akhirnya sampai juga,” ia menghela lega dan menyandarkan sepeda itu pada dinding.
Pak Trisna datang menghampiri.
“Untung kita gak terlambat ya,” ungkapnya ringan dengan tawa kecil yang tersembunyi di balik setiap kata.
“Iya Pak,” Joko dengan sopan mengangguk.
“Yo wis, kamu cepat taruh tas dan langsung ke lapangan upacara.”
“Nggih Pak. Siap.” Ia bersalaman dan mencium punggung tangan gurunya sebelum berlari menuju kelas.
Melewati teman-teman sekolahnya, Joko bergerak dengan lincah. Tubuh kecilnya tahu apa yang harus dilakukan. Kakinya telah terlatih untuk menghindari tantangan.
Namun, satu meter di depan kelas langkahnya berhenti mendadak.
“Joko! Hati-hati!”
Joko hampir menabrak seseorang yang tiba-tiba keluar dari balik pintu.
Tubuh kecil Adam terdorong mundur. Tangannya spontan meraih bahu Joko agar tidak kehilangan keseimbangan.
Prak!
Sesuatu jatuh membentur tanah.
Kini wajah Adam nampak jelas. Keningnya berkerut dan wajah pucat.
Ia masih memegang bahu sahabatnya dengan sangat erat, hingga Joko meringis sakit. Napasnya sedikit berat, bukan karena berlari seperti Joko, melainkan karena langkah tergesa barusan rupanya sudah cukup membuat kaki yang sejak lama bermasalah itu kembali terasa nyeri.
“Aduh, maaf, Dam! Kamu nggak apa-apa, kan?” Joko tersenyum dengan wajah bersalah.
Ia memandangi sahabatnya dari atas ke bawah, mencari tahu jika ada yang tidak beres, tapi sejauh pengamatannya, Adam baik-baik saja.
Adam mengerang dan sengaja mengeratkan tangannya di pundak Joko. “Ini sebagai balasan sudah buat aku hampir jatuh!”
“Auuu! Sakit tahu!” Joko memekik kesakitan. “Maaf deh, maaf!”
Adam mencebikkan bibir sambil melepaskan cengkeramannya. “Tuh, ambilkan tongkatku!”
“Iya, iya, ini ditolongin…” Joko berjongkok dan mengambil tongkat yang dijadikan oleh Adam sebagai alat bantu berjalan.
Joko menyerahkan tongkat itu kembali ke tangan Adam.
Ia kemudian bergegas menaruh tas lusuh yang digendongnya di samping bangku dengan ransel hitam milik Adam.
Kedua anak itu kemudian berjalan beriringan menuju lapangan.
Di mana ada Joko, di situ ada Adam.
Persahabatan mereka tidak akan pernah bisa dipisahkan begitu saja, meski keduanya memiliki latar belakang yang berbeda. Adam lahir dari keluarga serba kecukupan. Bahkan hanya keluarganya yang memiliki televisi di kampung itu. Sementara Joko, ia bertahan dengan sepatunya yang sudah ditambal.
Di sekolah itu, perbedaan di antara mereka seolah menjadi samar.
Semuanya adalah teman, tanpa terkecuali.
Tahun ini, mereka adalah angkatan terakhir yang akan mengisi bangku-bangku kayu di sekolah. Setelah mereka lulus, tidak akan ada lagi suara anak-anak memenuhi ruang kelas dan belajar bersama lagi.
Semua yang berkumpul di bawah pusaka hari itu adalah suara terakhir sebelum semuanya menjadi sunyi.
“Pftt!” Adam menahan tawanya.
Joko menatap ke arah sahabatnya, bibirnya bergerak membentuk kata ‘kenapa’ tanpa ada suara yang keluar.
Adam menunjuk ke arah kaki Joko.
Di sana tanpa disadari oleh pemiliknya, jari kelingking kaki itu keluar dari dalam sepatu yang berlubang. Bukannya merasa malu dan segera menyembunyikan jari kakinya, Joko malah menggerakkannya seakan ulat yang menggeliat di atas sepatu.
Singgungan senyumnya melebar saat ia tahu bahwa Adam akan segera meledak, oleh tawa.
Plak! Plak!
Kedua anak itu merasakan rasa sakit di belakang kepalanya akibat serangan misterius dari orang yang berdiri di belakang mereka. Secara bersamaan dan perlahan Joko dan Adam menoleh ke belakang.
Pak Trisna berdiri dengan menyilangkan tangannya di depan dada. Salah satu tangannya membawa kertas yang telah digulung menyerupai sebuah pipa.
Tidak dapat diragukan lagi, sosok yang bertanggung jawab atas rasa sakit itu.
“Upacara bendera jangan ketawa ketiwi.” Ia sengaja memberikan jeda. “Kalian berdua selesai upacara temui saya di kantor.”
Joko yang berwajah merah melirik sekilas kepada Adam. Ia merasa bersalah sudah membuat mereka berdua jatuh ke dalam masalah. Kebingungan melanda saat Adam tidak terlihat marah, malah seperti anak yang sedang menahan tawanya.
Tatapannya kembali ke arah Pak Trisna yang menyelidiki mereka berdua dengan tajam sebelum berlalu dengan peringatan.
Ia kini menatap depan, ke arah saka merah putih yang berkibar di titik tertinggi tiang bendera.
Entah apa yang merasukinya kali ini, tapi sekali lagi Joko mengeluarkan jari kelingkingnya dari lubang itu.
Ada kebahagiaan tersendiri saat dirinya kembali mendengar tawa sahabatnya yang telah hilang dalam kurun waktu yang cukup lama. Mereka berdua yang dulu selalu kejar-kejaran di koridor sekolah, kini tidak bisa lagi melakukannya, sebab kaki Adam…
Joko menengok ke arah kaki kiri sahabatnya yang tidak lagi menapak tanah dan membutuhkan tongkat sebagai alat bantu berjalan.
Dengan segera ia membuang muka, memahami bahwa Adam tidak butuh rasa kasihan, tapi membutuhkan orang yang bisa melanjutkan mimpinya.
Jadi ketika lomba lari antar sekolah diadakan, Joko tidak segan untuk mendaftarkan diri. Ia hanya butuh jawaban ‘ya’ dari Adam untuk berani menanggung segala risiko yang hadir di depan mata.
“Joko.” Pak Trisna memanggil di sela-sela latihannya.
“Nggih, Pak?”
Ia berhenti di lintasan lari dan menghampiri guru olahraga yang mendampingi sesi latihannya di pinggir lapangan.
Joko dengan senang hati menerima botol minuman yang diberikan oleh Adam. “Terima kasih,” gumamnya sebelum fokusnya kembali pada Pak Trisna.
“Dalam lomba lari kali ini yang terpenting adalah tidak menyerah sebelum semuanya berakhir. Kecepatanmu sudah sangat konsisten. Bapak berharap kamu bisa membanggakan sekolah ini.”
Joko mengangguk dan tersenyum. Ia sangat senang dengan kalimat Pak Trisna yang mampu memberikannya semangat untuk terus maju.
“Ya sudah. Kamu pokoknya tiga hari ini istirahat yang cukup. Gak ada lagi yang namanya latihan. Mengerti?”
“Ya, Pak.”
Pak Trisna mengangguk puas. Ia kemudian beralih ke arah Adam. “Awasi temanmu ini ya, jangan sampai dia kecapekan. Kita butuh pendekar dalam performa terbaiknya.”
“Tentu Pak. Tenang saja, nanti Joko biar diantar-jemput sama Pak Zain pakai mobil.”
Joko menyiku Adam. Mereka berdua bahkan belum berdiskusi tentang masalah tersebut.
“Ish, Dam! Apa sih pake jemput-jemput segala.” bisik Joko menepuk bahu sahabatnya.
Anak itu tidak sadar bahwa Pak Trisna memberikan mereka berdua senyuman kecil sebelum berlalu pergi.
“Biarin, toh kata Pak Trisna kamu harus simpan tenaga.”
Joko memutar bola matanya, jawaban yang diberikan oleh Adam membuat dirinya seperti anak kecil dengan tenaga kukang.
“Aku masih kuat genjot sepeda, kok! Jangan aneh-aneh, lah. Aku juga gak mau repotin kamu dan Pak Zain.”
“Repot dari mananya? Aku sudah bilang Pak Zain dari kemarin lusa dan dia mau. Ya sudah, beres, kan?” Tangan Adam melayang ke bahu Joko. “Gak apa-apalah Joko, hitung-hitung ini sebagai kontribusi dariku yang ingin kamu menang.”
Joko tidak bisa membantah maupun mengelak. Setiap kata yang tumbuh dari kebaikan sahabatnya itu tidak akan pernah mudah untuk ditolak, apalagi saat dirinya juga merasakan manfaat dari bantuan itu.
“Benar tidak keberatan?” Ia bertanya sekali lagi hanya untuk memastikan Adam tidak berubah pikiran.
“Seratus persen, yakin.”
Joko memberikan sedikit jeda, hingga akhirnya ia mengangguk dan tersenyum. “Baiklah kalau begitu.”
Ia beruntung memiliki sahabat seperti Adam. Maka dari itu, dirinya berjanji di perlombaan kali ini ia akan membawa pulang hadiah untuk persahabatan mereka berdua.
Tapi ada hal yang masih mengganjal di pikirannya…
“Adam?”
“Hm, kenapa?”
“Aku boleh pinjam sepatumu nggak—pas lomba?” wajahnya seketika memerah. Ia merasa enggan untuk meminta sesuatu pada sahabatnya.
Saat tidak kunjung ada jawaban, kepala itu mendongak.
Joko memperhatikan ekspresi Adam yang mengerutkan dahi. Seketika itu juga, nyalinya mengecil.
Adam mengerjap, dan membuat Joko panik.
“Astaga! Iya, aku malah lupa!” Adam menepuk jidatnya, lalu menatap sepatu Joko yang ditambal kain. “Cepat copot sepatumu!” ia memerintah.
“Hah?!” Joko tidak mempercayai telinganya. “Mau kau apakan sepatuku?”
Joko bertanya, ia tidak ingin berpisah dengan satu-satunya sepatu yang telah dimiliki sejak kelas tiga. Barang yang dibeli oleh ayahnya sebagai hadiah ulang tahunnya.
“Udah, buruan! Kita tukaran sepatu dari sekarang, sampai kamu menang nanti!”
Mata Joko melayang ke arah sepatu Adam yang masih terlihat baru dan mengkilap. Alisnya saling bertaut. Meski dirinya yang menyarankan untuk meminjam sepatu, tapi ada sesuatu di dalam hatinya yang merasa tidak enak.
“Sekarang? Lombanya kan masih empat hari lagi, Dam?”
Tangan yang tadi bersarang di bahu Joko kini mengerat.
“Harus sekarang. Enggak ada tapi-tapi.” Adam berkata penuh penekanan dan desakan.
Sekali lagi dirinya yang tidak ingin beradu argumen mengalah dan mengikuti kata-kata Adam.
Ia berlutut dan melepaskan tali sepatunya. Joko juga melepaskan sepatu Adam dan memakaikan sepatu lama di kaki sahabatnya.
“Hmm… sedikit kekecilan, tapi tidak masalah.” Adam bergumam ketika kedua kakinya memakai sepatu Joko. “Bagaimana denganmu, apa pas?”
Joko mengangguk.
Jawaban itu membuat Adam tersenyum lebar.
*****
Dada Joko rasanya hendak meledak. Udara terik siang itu menghantam tenggorokannya, membuat setiap hembusan napas terasa membakar. Dua ratus meter terakhir.
“Ayoo!”
“Ayo Joko jangan menyerah! Bentar lagi kamu sampai!”
Rasa lelah menjadi ujian terberat yang menahan Joko untuk segera tiba di garis finis.
Dari sudut matanya, bayangan kaos merah milik pelari dari sekolah tetangga mulai mengikis jarak—sejajar, lalu perlahan mendahului setengah badan.
Ayo sedikit lagi! Jangan sekarang! Jangan menyerah di sini!
Joko menggertakkan giginya erat-erat. Kedua kakinya terasa berat seperti ditanam di antara semen. Otot pahanya menjerit meminta berhenti.
“Ayo Joko! Semangat!” suara itu–tidak salah lagi adalah milik sahabatnya.
Pandangannya sekilas jatuh pada salah satu penonton yang menyemangati dari pinggir lintasan lari.
Adam berteriak menyemangati, hingga wajahnya memerah.
Keberadaan sepatu di kakinya kini terasa lebih nyata. Membawa bisikan semangat dan getaran untuk meraih mimpi mereka berdua.
Joko menunduk sekilas, menatap sol sepatu yang menghantam tanah lintasan dengan tangguh. Ia teringat kaki kiri Adam yang tidak lagi menapak tanah, tongkat kayu yang membantu sahabatnya untuk berjalan, dan tawa Adam yang selalu berusaha menutupi rasa kehilangan.
Ia tidak berlari sendirian. Ada Adam yang sedang bertumpu pada pundaknya untuk mewujudkan mimpi mereka bersama.
“AYO JOKO! JANGANN BERHENTIIII!”
Anak itu memantapkan hati. Darahnya kembali mendidih dengan sisa-sisa tenaga yang tidak terduga kembali menyeruak.
Joko memejamkan mata sekejap, lalu memacu kakinya lebih kencang. Ia abaikan rasa panas di paru-parunya, ia hiraukan sendi-sendinya yang gemetar. Fokusnya terkunci rapat pada seutas pita merah di ujung lintasan yang melambai ditiup angin.
Lima puluh meter.
Terngiang wajah sahabatnya saat mereka berdua membicarakan mimpi yang sama. Lesung pipi dan tawa begitu hangat di dalam dada.
Dua puluh meter.
Aku akan membawa sepatu Adam melewati garis finis. Dan mendapatkan juara.
Dada Joko membusung, matanya terpejam erat sewaktu dadanya menabrak pita tipis itu hingga putus.
Suara sorak-sorai mendadak pecah bagaikan ledakan, meredam deru napasnya sendiri yang memburu kencang.
“SELAMATTT! JUARA PERTAMA DIRAIH OLEH JOKO!”
Joko mengerjap. Ia tersenyum ketika menatap ke belakang—ke arah garis yang telah dirinya lalui dan pita yang terjuntai tertiup angin.
“Aku menang,” ucapnya penuh kelegaan.
Kakinya yang lelah tidak ingin istirahat. Masih belum. Ia harus menemukan Adam di antara para penonton yang bersorak.
Tak butuh waktu lama, lautan manusia itu terbuka menyatukan mereka.
“Aku menang!”
“Kamu menang!”
Joko dan Adam berseru secara bersamaan. Keduanya kemudian berpelukan dan tertawa.
Kini ketika kaki Joko menyerah, sahabatnya menjadi sandaran dan orang pertama yang membantu menopang tubuh itu.
“Pelan-pelan,” ujar Adam sambil menahan tubuh Joko yang hampir kembali kehilangan keseimbangan.
“Aku capek.”
“Ya iyalah. Lari segitu jauh masih bilang tidak capek.”
Joko terkekeh. Napasnya masih tersengal-sengal. Namun senyum di wajahnya tidak kunjung menghilang.
Ia kemudian menundukkan kepala. Pandangannya jatuh pada sepatu yang masih melekat di kedua kakinya.
Sepatu Adam.
Dan di kaki sahabatnya, sepatu miliknya terpasang di sana.
Alis Joko berkerut, “Lho, kamu pakai sepatuku?”
“Tentu. Sepatu ini harus hadir saat kamu ikut berlomba. Kalau aku pakai sepatuku yang lain, sepatu ini akan kesepian, padahal dia sudah menemani perjalananmu lama.”
Joko kembali memeluk Adam. Kali ini lebih erat dari yang sebelumnya.
“Terima kasih.”
Adam membalas pelukan dan menepuk pundak itu perlahan.
“Joko,” panggilnya ketika mereka berdua telah berpisah. “Sebagai hadiah dariku, kak boleh memiliki sepatuku itu. Ini juga untuk kenang-kenangan perpisahan kita setelah lulus dari sekolah ini.”
Joko mendongak menatap wajah Adam.
“Aku juga ingin kau membawa mimpiku bersamamu,” lanjut Adam.
Ia masih terkejut dengan pemberian Adam. Mulutnya tertutup dan menganga bagaikan ikan. “Kau serius, Dam?”
“Iya, serius.”
“Beneran buat aku? Enggak bohong, kan?”
Adam memutar bola mata. “Ya iyalah! Biar kamu enggak lupa sama sahabatmu yang ganteng ini dan baik hati ini.” Melihat Joko yang melirik sekilas ke arah sepatu yang ia kenakan, membuat Adam menambahkan, “Sepatumu tetap akan aku kembalikan, tenang saja.”
“Tapi itu tidak adil…”
“Ah, tidak masalah untukku. Tapi kamu harus berjanji jika mengikuti lomba lari di masa depan, kau akan menggunakan sepatuku ini.” Adam mengungkapkan syaratnya, ia kemudian berpikir sejenak. “Tapi kalau sepatuku ini sudah rusak dan tidak layak dipakai, simpan saja di dalam kotak.”
Joko mengimbang-imbang tawaran itu. Ia merasa tidak enak dan masih dipenuhi keraguan. “Tapi—”
“Joko!” Suara Pak Trisna menghentikan percakapan mereka. “Itu sudah dipanggil. Cepat sana naik ke atas panggung!”
Dengan berat hati Joko berjalan meninggalkan Adam yang tersenyum lebar ke arahnya.
Hadiah memang tidak seberapa, tapi senyum yang ditampilkan saat berfoto bersama mampu menerangi masa depan yang gelap.
Di antara riuh para penonton, dua sahabat berjalan beriringan.
Satu membawa piala.
Satu lagi membawa tongkat.
Dan di antara keduanya, dua pasang sepatu terus melangkah menuju pulang.
*****
“Lalu ke mana teman Kakek sekarang?” pertanyaan polos itu keluar dari mulut cucuku.
Senyumnya masih mengembang, sama seperti anak-anak lain setelah mendengarkan cerita luar biasa dari kakeknya.
Tapi, pertanyaan sederhana itu justru membuat senyumku meredup.
Hatiku terasa linu, mengetahui bahwa Adam tidak ada lagi di dunia—sudah sejak lama. Kenangan tentangnya mungkin telah memudar dimakan usia, tetapi rasa kehilangan itu tidak pernah benar-benar pergi. Ada ruang kosong yang tetap tinggal di dalam dada, bahkan setelah puluhan tahun berlalu.
Sesekali aku masih bisa mengingat tawanya. Juga sepasang mata yang selalu terlihat bahagia setiap kali melihatku berlari.
“Hmm… Sahabatku sudah beristirahat dengan tenang, dan mungkin sekarang menjadi pelari andal di atas sana.”
Kesunyian menghampiri, sebelum suara “Oh,” yang lirih itu mengetuk pelan pendengaranku.
Pandanganku jatuh pada sepasang sepatu tua yang kini tergeletak di sampingku.
Aku tidak ingin terlarut begitu lama dalam suasana suram ini. Karenanya hal termudah yang biasa aku lakukan adalah mengganti topik pembicaraan.
“Bagaimana dengan pelajaran olahraga hari ini?”
“Hmm… Menyenangkan!” Anak itu tersenyum lebar. “Mungkin di masa depan aku akan menjadi atlet.”
Untuk sesaat, kulihat seorang anak kecil berlari melewati halaman. Bayangan masa lalu kembali melintas begitu jelas di kepalaku.
Betapa bangganya aku sebagai seorang kakek, ketika cita-cita yang pernah aku miliki kini menurun kepada cucuku sendiri.
Ternyata, mimpi tidak selalu berakhir ketika pemiliknya berhenti mengejarnya.
Kadang, mimpi hanya berpindah tangan.
Dari seorang anak kepada sahabatnya. Kemudian, dari sahabatnya kepada anak yang lain.
“Kalau aku jadi atlet, Kakek tetap mau kan memoles sepatuku biar selalu terlihat bagus?”
Aku tertawa.
Tanganku terulur mengusap rambutnya yang berantakan.
“Tentu saja, itu kan pekerjaan Kakek.”
Cucuku tersenyum puas, lalu berlari kecil meninggalkanku.
Aku memperhatikannya hingga tubuh mungil itu semakin jauh.
Sepatu tua itu aku pungut dan aku masukkan kembali ke dalam kotak untuk disimpan bersama sepatu lain yang tak kalah pentingnya dalam hidupku.
“Sahabatku, sepertinya mimpi kita memiliki kelanjutan cerita. Aku harap kau menyaksikan semua ini dari atas sana.”
Selesai
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya