SEPATU YANG TIDAK PERNAH LULUS

100%

SEPATU YANG TIDAK PERNAH LULUS

SEPATU YANG TIDAK PERNAH LULUS

Wira Nawasena


Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar selesai mengusir kabut dari atap-atap rumah, Raka selalu memeriksa sepatunya. Bukan untuk memastikan tali sepatunya terikat. Ia memeriksa apakah lubangnya bertambah. Sepatu hitam itu sudah kehilangan bentuk aslinya. Kulit sintetis di bagian depan mengelupas, sol sebelah kanan mulai terlepas, dan pada bagian ibu jari terdapat lubang sebesar uang logam. Kalau hujan turun, air akan masuk dari sana. Kalau matahari terlalu terik, panas aspal akan merambat sampai telapak kakinya.

Raka sudah hafal cara mengakalinya. Ia menyelipkan potongan kardus tipis dari kotak mi instan ke dalam sepatu sebelum berangkat sekolah. Kardus itu akan menjadi alas sementara. Setidaknya sampai basah.

Pagi itu, ia menemukan lubang baru. Raka menatapnya lama.

“Tambah lagi,” gumamnya.

Ibunya yang sedang memasukkan nasi ke dalam rantang menoleh.

“Apa?”

“Tidak apa-apa.”

Ibunya tidak bertanya lagi. Ia tahu ada beberapa jawaban yang lebih baik tidak dipaksa keluar dari mulut anak. Di meja hanya ada nasi, telur dadar tipis, dan sambal.

“Uang bekal,” kata ibunya sambil menyodorkan beberapa lembar uang. Raka menerimanya.

“Bu.”

“Iya?”

“Sepatu Raka masih bisa dipakai.”

Ibunya diam. Lalu tersenyum kecil.

“Kalau masih bisa dipakai, pakai saja.”

Raka mengangguk. Mereka sama-sama tahu bahwa kalimat itu bukan jawaban. Itu adalah cara orang miskin menyebut keadaan yang tidak bisa mereka ubah.

Di sekolah, sepatu Raka selalu berjalan lebih pelan daripada pemiliknya. Ia tidak pernah berlari di halaman meskipun bel masuk hampir berbunyi. Ia tidak pernah melompat ketika bermain bola. Ia bahkan belajar mengangkat kaki sedikit lebih tinggi ketika melewati genangan.

Bukan karena takut jatuh. Ia takut seseorang melihat lubang itu. Di kelas, Raka duduk di bangku paling belakang. Bukan karena ia bodoh. Ia hanya menemukan bahwa bangku paling belakang adalah tempat terbaik untuk menyembunyikan sesuatu.

Di depan kelas, Bu Ratih sedang menjelaskan tentang keadilan sosial.

“Setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan,” katanya.

Raka menulis kalimat itu di buku catatan. Hurufnya kecil-kecil dan rapi. Ia menyukai kalimat tersebut. Ada sesuatu yang indah dalam kalimat itu. Seperti pintu yang seharusnya terbuka untuk semua orang. Namun ketika Bu Ratih selesai menjelaskan, wali kelas mereka masuk membawa selembar kertas.

“Mulai minggu depan,” katanya,

“sekolah akan lebih memperketat aturan mengenai kerapian dan kelengkapan seragam.”

Beberapa murid mengeluh.

“Sepatu harus hitam polos. Tidak boleh rusak. Tidak boleh berbeda warna. Kaos kaki harus sesuai ketentuan.”

Raka berhenti menulis.

“Ini demi kedisiplinan,” lanjutnya.

Kata itu terdengar biasa saja. Tetapi bagi Raka, kata disiplin tiba-tiba terasa seperti batu kecil yang jatuh ke dalam dada. Ia menunduk dan memasukkan kedua kakinya ke bawah bangku. Hari itu, untuk pertama kalinya, ia berharap hujan turun sebelum jam pulang.

 

Senin berikutnya, Raka datang lebih pagi. Ia menghitamkan bagian sepatu yang terkelupas menggunakan tinta pulpen. Pada lubang di bagian depan, ia menempelkan potongan plastik tipis.

Dari kejauhan, sepatu itu tampak baik-baik saja. Dari dekat, sepatu itu seperti seseorang yang sedang tersenyum sambil menyembunyikan giginya yang patah. Raka berjalan melewati gerbang. Satpam sekolah memeriksa seragam para siswa.

“Sepatu.” Raka berhenti.

Satpam melihat ke bawah. “Ini rusak.”

Raka diam.

“Sudah dibilang, kan? Minggu ini harus diganti.”

“Masih bisa dipakai, Pak.”

“Bukan soal bisa atau tidak. Ini aturan sekolah.”

Raka mengangguk.

Ia berjalan masuk. Sepanjang lorong, ia merasa semua orang melihat kakinya. Padahal mungkin tidak. Begitulah rasa malu bekerja. Ia membuat seseorang merasa menjadi pusat perhatian bahkan ketika dunia sedang sibuk dengan urusannya sendiri.

Di kelas, Bu Ratih melihat sepatu itu.

“Raka.”

“Iya, Bu.”

“Sepatumu belum diganti?”

Raka menggeleng.

“Belum ada uang, Bu.”

Kelas mendadak sunyi. Seseorang di belakang tertawa kecil. Raka menunduk. Bu Ratih memandangnya beberapa detik.

“Besok coba pakai yang lebih layak, ya.”

Raka mengangguk.

“Baik, Bu.”

Tidak ada kemarahan dalam suara Bu Ratih. Tidak ada penghinaan. Hanya sebuah kalimat sederhana. Tetapi terkadang, manusia bisa terluka bukan karena seseorang berniat menyakiti, melainkan karena seseorang tidak tahu betapa mahalnya sebuah permintaan bagi orang lain.

 

Malam itu, Raka tidak makan banyak. Ia duduk di lantai sambil membersihkan sepatunya. Ibunya memperhatikannya dari dapur.

“Besok harus diganti?” tanyanya.

Raka mengangguk.

“Berapa?”

Raka menyebutkan harganya.

Ibunya terdiam. Di atas meja ada beberapa lembar uang yang sebenarnya sudah memiliki tujuan masing-masing. Untuk Listrik; untuk beras; untuk obat nenek; untuk uang sekolah adiknya.

Uang itu seperti sekumpulan manusia miskin yang dipaksa memilih siapa di antara mereka yang boleh hidup. Ibunya mengambil uang tersebut, menghitungnya. Kemudian memasukkannya kembali ke dalam dompet.

“Besok Ibu usahakan.”

Raka menatap wajah ibunya.

“Kalau tidak bisa, tidak apa-apa, Bu.”

Ibunya tersenyum.

“Kenapa?”

“Raka masih bisa pakai ini.”

Ia mengangkat sepatu. Ibunya menatap lubang di bagian depan. Untuk beberapa saat, perempuan itu tidak mengatakan apa-apa. Kemudian ia memalingkan wajah. Raka pura-pura tidak melihat. Ia tahu ibunya sedang menangis. Dan ia tahu, ada jenis tangis yang harus dibiarkan sendirian karena tidak ada kalimat yang cukup murah untuk menghiburnya.

 

Dua hari kemudian, Raka tidak masuk sekolah. Hari berikutnya juga. Pada hari ketiga, Bu Ratih bertanya kepada ketua kelas.

“Raka kenapa?”

“Katanya sakit, Bu.”

Bu Ratih mengangguk.

Namun entah mengapa, ia merasa ada sesuatu yang tidak selesai. Sepulang sekolah, ia datang ke rumah Raka. Rumah itu berada di ujung gang sempit, berdinding papan, dengan halaman yang hanya cukup untuk menjemur dua helai pakaian.

Ibunya membuka pintu.

“Bu Ratih?”

“Iya. Raka sakit?”

Perempuan itu tersenyum kaku.

“Sudah agak membaik.”

Bu Ratih melihat ke dalam. Raka sedang duduk di lantai. Di sampingnya ada sepatunya. Sepatu itu sudah tidak berbentuk.

“Kenapa tidak masuk sekolah?” tanya Bu Ratih.

Raka menunduk.

“Sepatunya rusak, Bu.”

“Kan bisa pakai sandal?”

Raka tersenyum.

“Tidak boleh.”

Bu Ratih terdiam.

Ia baru sadar bahwa selama ini ia terlalu mudah mengatakan aturan. Kata itu sederhana bagi orang yang memiliki cukup uang. Bagi orang lain, aturan bisa berarti utang. Bisa berarti menahan lapar. Bisa berarti seorang ibu harus memilih antara membeli sepatu anaknya atau membeli obat untuk neneknya.

“Kenapa tidak bilang?”

Raka mengangkat bahu.

“Bilang juga tidak membuat sepatunya jadi baru, Bu.”

Kalimat itu sederhana. Namun Bu Ratih merasa seperti baru saja ditampar.

 

Keesokan harinya, Raka kembali ke sekolah. Ia memakai sepatu yang sama. Lubangnya sudah ditutup dengan jahitan tangan. Benangnya berwarna putih. Sangat mencolok. Beberapa anak tertawa. Raka berjalan menuju bangkunya. Bu Ratih masuk beberapa menit kemudian. Ia melihat sepatu Raka. Lalu melihat seluruh kelas.

“Siapa yang menertawakan sepatu Raka?”

Tidak ada yang menjawab.

“Tidak ada?”

Kelas sunyi. Bu Ratih meletakkan buku di meja.

“Hari ini kita tidak belajar dari buku.”

Beberapa murid saling pandang.

“Kita belajar dari sepatu.”

Raka mengangkat wajah. Bu Ratih berjalan ke belakang kelas. Ia berhenti di samping Raka.

“Sepatu ini rusak,” katanya.

Beberapa anak tersenyum.

“Tapi yang lebih rusak adalah cara kita melihat seseorang hanya dari apa yang ia pakai.”

Tidak ada suara.

“Sekolah mengajarkan kita bahwa semua anak memiliki hak yang sama. Tetapi kalau seorang anak harus takut datang ke sekolah hanya karena sepatunya berlubang, mungkin ada sesuatu yang salah dengan cara kita menjalankan pendidikan.”

Raka menatap lantai. Bu Ratih tidak menyebut namanya lagi. Tidak perlu. Semua orang tahu siapa yang sedang dibicarakan. Hari itu, pelajaran selesai lebih cepat.

Seminggu kemudian, Raka dipanggil ke ruang guru. Di atas meja ada sebuah kotak.

“Ini untuk kamu.”

Raka membukanya. Sepasang sepatu baru hitam, mengilap dan ukurannya pas. Raka menyentuhnya pelan.

“Dari siapa, Bu?”

“Dari beberapa guru.”

Raka diam.

“Pakai.”

Ia mengangguk.

Hari berikutnya, Raka datang dengan sepatu baru. Tidak ada yang menertawakan. Tidak ada yang melihat kakinya terlalu lama. Ia berjalan melewati halaman seperti anak-anak lain. Untuk pertama kalinya, ia berlari ketika bel hampir berbunyi. Ia tertawa ketika bermain bola. Ia melompat melewati genangan air. Seolah-olah sebuah benda sederhana telah mengembalikan sesuatu yang pernah dirampas darinya.

Namun malamnya, Raka menyimpan sepatu lamanya di bawah tempat tidur. Sepatu yang berlubang itu masih ada. Kotor. Bau tanah. Solnya hampir terlepas. Di bagian depan, jahitan putih buatan ibunya masih terlihat. Ibunya bertanya,

“Kenapa tidak dibuang?”

Raka menggeleng.

“Jangan.”

“Buat apa?”

Raka tidak langsung menjawab. Ia mengusap permukaan sepatu itu.

“Biar Raka ingat.”

“Ingat apa?”

Raka menatap lubang di bagian depan.

Bahwa pernah ada masa ketika ia hampir berhenti sekolah bukan karena ia tidak ingin belajar, tetapi karena ia tidak mampu membeli sesuatu yang oleh sekolah disebut sebagai kedisiplinan.

Bahwa pernah ada pagi ketika ia menundukkan kepala bukan karena bersalah, tetapi karena miskin. Bahwa pernah ada seorang ibu yang harus memilih antara obat dan sepatu. Dan bahwa pernah ada sebuah sekolah yang mengajarinya tentang keadilan, sebelum hampir membuatnya malu karena tidak mampu membelinya.

Raka memasukkan sepatu itu kembali ke bawah tempat tidur. Di luar, hujan mulai turun. Air mengalir di sepanjang selokan. Malam semakin dingin. Raka menarik selimut dan memejamkan mata. Di bawah tempat tidurnya, sepatu lama itu tetap diam. Ia tidak pernah lagi dipakai. Tetapi ia juga tidak pernah benar-benar ditinggalkan. Sebab ada hal-hal yang memang tidak diciptakan untuk dipakai kembali.

Ada yang disimpan agar seseorang tidak lupa dari mana ia pernah berjalan. Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika Raka sudah menjadi guru dan berdiri di depan kelasnya sendiri, ia akan mengingat sepasang sepatu itu. Ia akan mengingat bahwa pendidikan bukan hanya tentang siapa yang mendapat nilai tertinggi.

Bukan tentang seragam paling rapi.

Bukan tentang sepatu yang paling bersih.

Pendidikan seharusnya membuat seorang anak berani berjalan tanpa harus menyembunyikan kemiskinannya.

Sebab kalau sekolah hanya mengajarkan anak-anak bagaimana terlihat layak di hadapan dunia, tetapi tidak mengajarkan dunia bagaimana memperlakukan mereka yang tidak mampu, barangkali yang sedang kita didik bukan manusia.

Hanya penampilan mereka. Dan di bawah tempat tidur Raka, sebuah sepatu berlubang masih menyimpan satu pertanyaan yang belum pernah dijawab sekolah mana pun:

Jika pendidikan adalah jalan menuju masa depan, mengapa sebagian anak harus menghabiskan masa kecilnya hanya untuk belajar bagaimana bertahan di jalan itu?


Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke: