Not yet available in the requested language -- showing the original version.
Hujan selalu membuat Raka teringat pada ibunya. Bukan karena hujan itu dingin. Melainkan karena setiap kali hujan turun, ibunya akan duduk di depan rumah, menghitung uang hasil jualan gorengan dengan jari-jari yang masih berbau minyak. Malam itu, seperti biasa, Raka duduk di sampingnya. Di atas tampah bambu tersisa beberapa tempe goreng, tahu goreng, dan bakwan yang sudah dingin.
“Berapa, Bu?”
Siti tidak langsung menjawab. Ia merapikan lembaran uang yang kusut, memisahkan uang dua ribuan, lima ribuan, dan recehan.
“Seratus dua puluh tujuh ribu.”
Raka tersenyum.
“Lumayan.”
Siti ikut tersenyum.
“Lumayan.”
Padahal Raka tahu, uang itu tidak pernah benar-benar lumayan. Sebagian untuk membeli tempe. Sebagian untuk minyak. Sebagian untuk beras. Sebagian lagi untuk membayar listrik. Dan kalau masih ada sisa, baru untuk kebutuhan sekolahnya. Raka menatap seragam yang tergantung di dekat pintu. Seragam putih birunya sudah mulai kusam. Celananya sedikit kependekan karena tubuh Raka tumbuh lebih cepat daripada kemampuan ibunya membeli seragam baru.
“Bu.”
“Iya?”
“Besok sekolah minta uang lagi.”
Tangan Siti berhenti menghitung.
“Berapa?”
“Seratus lima puluh ribu.”
“Untuk apa?”
“Katanya uang kegiatan sekolah.”
Siti diam. Raka buru-buru menambahkan.
“Kalau belum ada, nggak apa-apa, Bu. Kata wali kelas boleh menyusul.”
“Besok terakhir?”
Raka mengangguk. Siti memasukkan uang ke dalam dompet kecil yang warnanya sudah pudar.
“Besok Ibu usahakan.”
Raka menunduk. Kalimat itu sudah terlalu sering ia dengar. Dua kata yang bagi anak-anak lain mungkin terdengar biasa. Tetapi bagi Raka, dua kata itu berarti ibunya harus bangun lebih pagi. Harus membuat lebih banyak gorengan. Harus berkeliling lebih jauh. Harus menahan sakit punggung. Kadang harus pulang ketika hari sudah gelap.
^^^
Di sekolah, Raka termasuk anak yang pintar. Nilai matematikanya selalu di atas sembilan puluh.
Ia pernah menjadi juara dua lomba cerdas cermat tingkat kecamatan. Guru IPA bahkan pernah mengatakan bahwa Raka memiliki rasa ingin tahu yang besar.
“Kamu mau jadi apa kalau besar nanti?” tanya Pak Arif suatu hari.
“Guru, Pak.”
“Kenapa?”
Raka berpikir sebentar.
“Karena saya ingin membuat anak-anak pintar.”
Pak Arif tertawa.
“Bagus. Tapi kalau mau jadi guru, kamu harus sekolah tinggi.”
Raka mengangguk mantap.
“Saya akan sekolah sampai tinggi.”
Ia benar-benar percaya pada kalimat itu. Sebab sejak kecil Raka diajari ibunya bahwa sekolah adalah jalan keluar dari kemiskinan.
“Belajarlah yang rajin,” kata Siti setiap pagi sambil membungkus gorengan.
“Kenapa?”
“Supaya hidupmu tidak sesusah Ibu.”
Raka selalu menjawab dengan senyum. Tetapi semakin tinggi kelasnya, ia mulai menyadari sesuatu. Sekolah ternyata tidak selalu menjadi jalan keluar. Kadang sekolah juga membutuhkan uang. Uang untuk seragam. Uang untuk buku. Uang untuk kegiatan. Uang untuk ujian. Uang untuk kunjungan. Uang untuk ini. Uang untuk itu. Dan bagi Raka, setiap lembar uang seperti potongan kecil dari tubuh ibunya.
^^^
Suatu hari, sekolah mengumumkan seleksi untuk mengikuti olimpiade sains tingkat kabupaten. Raka langsung mendaftar. Ia belajar setiap malam. Buku latihan dipinjam dari perpustakaan. Soal-soal lama ia salin dengan tangan karena tidak memiliki printer. Pak Arif melihat kesungguhannya.
“Kamu punya peluang besar, Rak.”
Raka tersenyum.
“Benarkah, Pak?”
“Benar.”
Hari pengumuman seleksi tiba. Nama Raka tidak ada. Ia membaca daftar itu berulang kali.
Tidak ada. Padahal ia tahu nilainya lebih tinggi daripada beberapa siswa yang lolos.
“Pak, boleh saya tanya?”
Pak Arif melihat wajahnya.
“Apa?”
“Kenapa saya tidak lolos?”
Pak Arif terdiam. Di koridor sekolah, suara anak-anak terdengar ramai.
“Yang ikut seleksi itu katanya harus punya biaya transportasi sendiri.”
Raka mengerutkan kening.
“Bukannya sekolah yang membiayai?”
Pak Arif tidak menjawab. Raka akhirnya mengerti. Ada anak yang orang tuanya bisa membayar les. Ada yang punya laptop. Ada yang bisa membeli buku latihan terbaru. Ada yang bisa mengikuti bimbingan khusus. Sementara Raka belajar di bawah lampu ruang tamu sambil menunggu ibunya selesai menggoreng. Bukan karena Raka kurang pintar. Ia hanya lahir di keluarga yang tidak punya cukup uang untuk membeli kesempatan.
^^^
Beberapa minggu kemudian, masalah lain datang. Raka dipanggil ke ruang guru. Wali kelasnya menunjukkan selembar surat.
“Raka, uang kegiatan sekolahmu belum lunas.”
“Ibu akan membayar, Bu.”
“Kapan?”
“Secepatnya.”
Guru itu menarik napas.
“Kalau belum dibayar, kamu tidak bisa ikut kegiatan.”
Raka mengangguk. Ia sudah terbiasa. Namun sebelum keluar ruangan, ia mendengar dua orang guru berbicara di belakangnya.
“Anak itu sebenarnya pintar.”
“Iya.”
“Sayang ekonominya begitu.”
Kalimat itu sederhana. Tetapi sepanjang perjalanan pulang, kalimat itu terus terngiang. Seolah-olah kemiskinan adalah penyakit. Seolah-olah menjadi miskin adalah kesalahan. Seolah-olah kecerdasan seorang anak bisa berkurang hanya karena ibunya menjual gorengan.
^^^
Sore itu hujan turun deras. Raka membantu ibunya membereskan dagangan. Tangannya terkena minyak panas.
Ia meringis.
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
Siti mengambil tangannya.
“Biar Ibu lihat.”
Raka menarik tangan.
“Bu…”
“Iya?”
“Kalau Raka berhenti sekolah, bagaimana?”
Siti terdiam. Hujan terdengar semakin keras.
“Apa?”
“Raka bisa bantu Ibu jualan.”
Siti memandang anaknya lama. Kemudian, tanpa berkata apa-apa, ia menampar pipi Raka.
Pelan. Bukan karena marah. Melainkan karena terlalu sakit mendengar anaknya mengucapkan kalimat itu.
“Jangan pernah bilang begitu lagi.”
Raka menangis.
“Ibu capek.”
“Ibu memang capek.”
“Uang sekolah banyak.”
“Ibu tahu.”
“Raka cuma mau bantu.”
Siti memeluk anaknya.
“Kalau kamu berhenti sekolah karena ingin membantu Ibu, lalu semua perjuangan Ibu selama ini untuk apa?”
Raka menangis semakin keras. Siti mengusap kepalanya.
“Dengar.”
“Iya…”
“Gorengan bisa Ibu jual lagi besok.”
“…”
“Uang bisa dicari lagi.”
“…”
“Tapi kalau cita-citamu hilang, Ibu harus mencarinya di mana?”
Raka tidak menjawab. Untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa bahwa cita-cita bukan hanya miliknya. Ibunya juga menitipkan harapan di sana.
^^^
Keesokan harinya, sesuatu yang tidak disangka terjadi. Pak Arif masuk ke kelas membawa beberapa buku.
Ia meletakkannya di meja Raka.
“Ini untuk kamu.”
Raka bingung.
“Buku apa, Pak?”
“Buku latihan olimpiade.”
Raka membuka salah satunya. Buku itu masih baru.
“Kenapa saya diberi?”
“Karena kamu pintar.”
Raka terdiam.
“Tapi saya tidak lolos seleksi.”
Pak Arif duduk di sampingnya.
“Kadang orang pintar kalah bukan karena kurang pintar.”
“Karena apa, Pak?”
“Karena tidak semua anak memulai perlombaan dari garis yang sama.”
Raka menatap gurunya.
“Jadi saya harus bagaimana?”
Pak Arif tersenyum.
“Terus berlari.”
^^^
Hari-hari berikutnya tidak langsung menjadi mudah. Siti tetap berjualan gorengan. Raka tetap memakai seragam lama. Mereka tetap menghitung uang setiap malam. Pungutan sekolah tetap ada. Buku tetap harus dibeli. Dan dunia pendidikan tidak tiba-tiba berubah hanya karena satu anak berani bermimpi. Tetapi sesuatu berubah dalam diri Raka. Ia tidak lagi malu menjadi anak penjual gorengan. Ketika teman-temannya bertanya pekerjaan ibunya, ia menjawab dengan kepala tegak.
“Ibu saya jualan tempe dan tahu goreng.”
“Setiap hari?”
“Iya.”
“Capek dong.”
Raka tersenyum.
“Makanya saya harus pintar.”
Suatu pagi, Pak Arif mengumumkan bahwa sekolah akan mengadakan seleksi ulang untuk lomba sains. Kali ini tidak ada syarat tambahan. Tidak ada biaya pendaftaran. Tidak ada rekomendasi berdasarkan siapa yang mampu mengikuti bimbingan. Semua siswa boleh ikut. Raka pulang dengan wajah berseri-seri.
“Bu!”
Siti sedang memasukkan bakwan ke dalam plastik.
“Apa?”
“Raka mau ikut lomba lagi.”
Siti tersenyum.
“Ya ikut.”
“Kalau kalah?”
“Ya pulang.”
“Kalau menang?”
Siti berpikir sejenak.
“Ya pulang juga.”
Raka tertawa.
“Kenapa pulang terus?”
“Karena ke mana pun kamu pergi, rumahmu tetap di sini.”
Raka memeluk ibunya. Di luar, hujan mulai turun. Tidak deras. Hanya gerimis kecil yang membuat jalanan kampung berkilau diterpa cahaya senja. Di atas meja, ada tampah berisi tempe goreng, tahu goreng, dan bakwan. Di sebelahnya, ada buku pelajaran Raka. Dua benda yang tampaknya tidak memiliki hubungan. Namun bagi mereka, keduanya sama-sama menjadi simbol perjuangan. Satu untuk bertahan hidup. Satu untuk mengubah hidup. Raka memandang ibunya.
“Bu.”
“Iya?”
“Kalau nanti Raka sudah sukses…”
Siti langsung memotong.
“Jangan bicara soal sukses.”
“Kenapa?”
“Karena Ibu tidak pernah meminta kamu menjadi kaya.”
“Terus?”
“Jadilah orang yang tidak membuat orang lain merasa kecil hanya karena mereka tidak punya uang.”
Raka terdiam. Kalimat itu masuk jauh ke dalam hatinya. Bertahun-tahun kemudian, Raka mungkin akan lupa berapa banyak medali yang pernah ia dapatkan. Ia mungkin lupa berapa kali memenangkan lomba.
Ia mungkin lupa nama-nama buku yang pernah ia baca. Tetapi ia tidak akan pernah lupa satu hal. Bahwa di sebuah rumah kecil dengan atap yang bocor, seorang ibu penjual gorengan pernah mempertaruhkan seluruh hidupnya agar anaknya tetap memiliki hak untuk bermimpi. Dan bahwa pendidikan seharusnya tidak hanya menjadi milik mereka yang mampu membelinya.
Pendidikan seharusnya menjadi tempat setiap anak percaya bahwa masa depan masih mungkin. Sebab anak miskin tidak kekurangan mimpi. Mereka hanya sering kekurangan kesempatan. Raka menggenggam tangan ibunya. Tangannya kasar. Ada bekas luka minyak panas di sana.
Tetapi bagi Raka, tangan itu adalah tangan paling kuat yang pernah ia kenal. Hujan terus turun. Rumah mereka tetap sederhana. Gorengan tetap harus dijual esok pagi. Perjuangan belum selesai. Namun malam itu Raka tersenyum. Sebab ia tahu selama masih ada ibunya, ia masih punya alasan untuk berjuang.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya