Not yet available in the requested language -- showing the original version.
Pukul lima pagi. Alarm menjerit-jerit kek ibu-ibu lagi kehilangan sendal di masjid. Dengan nyawa yang baru kumpul 40%, aku maksa duduk di tepi kasur.
“Gusti, paringana kuat...” bisikku pelan sambil ngucek mata. Wajahku di cermin kamar mandi udah kek orang abis make. Gimana enggk? Semalam aku baru menyelesaikan bikin laporan Praktik Kerja Lapangan (PKL) tebal 80 halaman, diselingi mikirin konfigurasi routing Mikrotik buat ujian kompetensi besok.
Sampai di sekolah, lab komputer TKJ udah kayak pasar malem. Suasananya hectic banget. Anak-anak bukannya lagi asyik diskusi jaringan, tapi lagi ngejalanin ritual pagi, yaitu Operasi Jiplak Berjamaah .
"Bro! Lu dapet IP Address sama gateway buat soal VLAN nomor tiga dari mana? Punya gue RTO terus nih!" seru Dimas, mukanya udah panik kayak orang mau kena tilang.
"Udah, tenang. Lu samain aja Topologinya kayak punya si Budi. Nanti Subnet Mask -nya lu ubah dikit biar gak kelihatan," sautku santai.
Ironisnya, di bengkel TKJ ada spanduk gede bertuliskan: “Siap Kerja, Santun, Mandiri, Kreatif” . Tapi realitanya? Peralatan di lab sekolah kita itu peninggalan jaman purba. Tang crimping-nya udah pada tumpul bikin tangan pada kapalan, konektor RJ45 dibatasi cuma dapet dua biji per anak (kalau gagal ya beli dewek), dan PC lab-nya sering blue screen kalau dipakai buka Cisco Packet Tracer. Tapi saat ujian, kita dituntut lancar kayak engkongnya Onno Widodo aja. Kalau praktiknya gagal, nilaimu merah, dan kamu dianggap tidak siap kerja.
Jam pertama, Pak Qodar masuk ke lab. Beliau mengajarkan materi Keamanan Jaringan. Tapi bayangan kita bakal belajar hacking ala hacker retas situs pemerintah langsung sirna. Pak Qodar hanya menyalakan proyektor, nampilin slide PowerPoint penuh tulisan, terus ngebaca materi itu kata demi kata dengan nada datar tanpa jeda.
Kita cuma bisa ngangguk-angguk palsu. Takut bertanya , pura-pura paham padahal otak udah nge-blank. Suara Pak Qodar lebih ampuh dari obat tidur mana pun. Mataku berat banget, serasa ditempeli lem Powerblue. Tapi kalau sampai ketahuan merem, siap-siap aja disuruh push-up di depan kelas.
Di SMK, kita disuruh milih jurusan dari umur 15 tahun dan dituntut langsung jadi “profesional”. Tapi anehnya, sekolah hanya ngejar angka dan persentase yang keterima kerja, bukan benar-benar memastikan kita jago atau siap menghadapi dunia kerja yang sebenarnya.
Sore harinya, perjuangan belom selesai, balik ke rumah bukannya bisa napas lega. Rumah malah berasa kayak ruang wawancara kerja yang mengintimidasi.
Di meja makan, Ibu langsung menyambutku bukan dengan klimat“Mau makan apa, Le?”, melainkan...
"Gimana persiapan ujiannya Le? Anak Bu RT sebelah sekolah di SMA udah diterima SNMPTN lho. Kamu lulus nanti beneran langsung dapet kerja di perusahaan komputer kan?"
Aku cuma bisa mengunyah tempe goreng dingin sambil menunduk. “Sabar, iki ujian...” batinku.
Orang tua sering mikir masuk SMK itu jalan pintas biar cepet ngasilin duit. Mereka gak tahu kalau di luar sana, lowongan kerja IT minta pengalamannya udah kayak veteran perang, padahal kita baru lulus seragam putih-abu. Sistem pendidikan dan ekspektasi orang tua seolah kompak. Anak SMK dianggap sukses hanya kalau sudah megang ijazah plus kontrak kerja.
Malamnya, di kamar yang remang, aku natap tang crimping dan potongan kabel UTP di meja belajar. Aku sadar, di sini kita bukan cuma lagi merangkai kabel jaringan, tapi lagi berusaha nyambungin harapan orang tua sama realita pahitnya dunia kerja. Aku sadar, sekolah seharusnya menjadi tempat tumbuhnya rasa ingin tahu. Namun, di tengah tuntutan angka dan peringkat, kami sering lupa kenapa dulu kami datang untuk belajar.
Kami mengejar nilai, mengumpulkan tugas, menghafal materi, lalu melupakannya setelah ujian selesai.
Pada akhirnya, aku mulai mengerti kenapa judulnya terasa begitu cocok: Siswa Kertas.
Kami punya rapot, sertifikat, dan sederet angka yang bisa dipamerkan. Tapi apakah semua itu cukup untuk membuktikan bahwa kami benar-benar telah belajar?
Sebab kertas bisa mencatat nilai kami, tetapi tak pernah benar-benar menceritakan apa yang kami perjuangkan.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya