Customer Service

Terima Kasih, Kartini

100%

Terima Kasih, Kartini

Not yet available in the requested language -- showing the original version.

“Kami memahami apa yang menjadi kegelisahan dalam pendidikan di negeri ini,” Ucap Bapak Presiden saat melakukan pidato di Istana Negara, yang disaksikan oleh Kartini secara siaran langsung di televisi, “salah satunya adalah hak-hak guru, terutama guru honorer yang dianggap tidak diberikan hak dan kewajiban yang seimbang. Namun perlu dipahami, ketersediaan anggaran pendapatan dan belanja negara saat ini harus difokuskan untuk urgensi yang lebih …” Kartini langsung mematikan televisinya. Mengunyah sereal murahan yang sedang disantapnya dengan malas-malasan di bawah rumah peninggalan orangtuanya yang atapnya pun sudah keropos, sambil memikirkan nanti siang mau makan apa, juga menghitung apakah sisa uangnya cukup sampai bulan berikutnya, dan mungkin saja masih banyak masalah hidup serupa yang sedang mengaduh-gaduh di kepalanya.

“Apa sebaiknya aku berhenti saja? Tapi dulu aku sangat antusias dan berjuang mati-matian, mencari beasiswa ke sana-kemari demi mendapat gelar Sarjana Pendidikan, untuk mendidik anak-anak bangsa. Aku sudah mendapatkan gelarnya setahun yang lalu, di usia dua puluh tiga, tapi kemana perginya semangatku? Aku memang miskin dari keturunan. Menjadi guru adalah hal yang mulia, tapi perlakuan pemerintah tentang kesejahteraan guru sepertiku semakin membuatku terpojok.” Logika dan hati nurani Kartini saling beradu ideologi. Namun saat jam sudah menunjukkan waktu untuk pergi ke Sekolah Menengah Negeri, tempat dia mendidik para generasi penerus bangsa, dia langsung bergegas, apa yang ada di pikirannya sebelumnya hilang begitu saja, meskipun mungkin hanya sementara seperti biasanya. Seperti ada sesuatu yang membuatnya tetap bertahan.

***

“Selamat pagi, Bu.” Sapa semua siswa yang antusias menyambut saat Kartini satu langkah masuk ke ruang kelas. Itu adalah salah-satu hal yang membuat Kartini tetap mempertahankan profesinya sebagai guru. Meskipun itu tidak membuatnya sejahtera, tapi sedikit cukup untuk menyembunyikan keputusasaannya. Kartini selalu menyambut sapaan mereka dengan senyuman yang paling tulus. Bahkan para siswa mengakui, tidak ada guru matematika yang seramah Kartini.

“Ibu Kartini, hari ini kita sudah sampai bab empat, tentang geometri dan trigonometri. Saya sudah mempelajarinya tadi malam, tapi ada beberapa hal yang masih tidak Saya mengerti.” Dari kursi paling depan yang disoroti cahaya matahari melalui atap sekolah yang bolong, tepat di depan kursi guru yang ditempati oleh Kartini, adalah Gadis, seorang siswi dengan seragam sekolah lusuh yang berusaha keras berbaur di antara anak-anak lainnya di sana, yang selalu antusias mengikuti pelajaran Kartini. Setiap giliran Kartini mengajar di kelasnya, tak pernah sekalipun Gadis tidak memulai duluan membahas pelajaran, bahkan Kartini saja baru duduk.

“Bagaimana aku bisa benar-benar kehilangan semangatku? Anak ini sudah terkenal miskin, hidup serba kekurangan, tapi dia saja sangat antusias untuk mengikuti setiap pelajaranku, pelajaran matematika, pula. Anak orang kaya yang punya banyak motivasi saja tidak seantusias dirinya.” Ucap Kartini dalam hati, sambil menatap Gadis. Meskipun Kartini adalah guru, tapi ada rasa hormat dalam pandangannya pada Gadis sebagai murid. “Seperti biasa, Gadis, kamu selalu mendahului Ibu memulai pelajaran.” Ucap Kartini yang kini terang-terangan keluar dari bibirnya.

Gadis membalas dengan senyum.

Saat Kartini membuka laci meja guru untuk mengambil peralatan mengajar, dia melihat ada sebuah amplop.

“Ini punya siapa?” Ibu Kartini bertanya kepada seluruh siswa, tapi tak ada yang mengakuinya.

Jika itu hanya amplop kosong yang tidak disegel dengan lem, atau amplop yang benar-benar polos, Kartini bisa saja mengacuhkannya. Masalahnya, di sisi luar amplop itu tertulis pesan, “Mohon diterima, Ibu Kartini, untuk makan siang.”

Bukan baru sekali Kartini mengalami hal semacam itu. Beberapa hari yang lalu, dia juga pernah mendapat rezeki, namun entah siapa oknum yang memberi. Tapi, ada satu pola yang pasti, dia hanya mendapatkannya jika pada hari itu jadwalnya mengajar di kelas Gadis. Karena Kartini pun berada di kondisi yang sulit, dia menerimanya tanpa banyak merasa curiga. Dia yakin saja jika yang memberinya adalah orang yang peduli padanya. Kartini tidak menyadari di balik kejadian itu, Gadis diam-diam tersenyum melihatnya kebingungan.

***

“Gadis, belum tidur?”

“Belum, Pa. Aku masih belajar geometri dan trigonometri. Besok pagi giliran Ibu Kartini yang mengajar.”

“Kenapa kamu selalu antusias saat guru baru itu yang mengajar? Bukankah dia guru pengganti wali kelasmu yang sudah pensiun?”

“Benar, Pa, aku menyukai semangatnya. Semua orang di sekolah tahu beliau adalah satu-satunya guru yang tidak sejahtera di sana. Tapi aku melihat dia tidak pernah kehilangan semangat. Caranya mengajar matematika membuatku mudah memahaminya. Aku tidak merasa kesulitan, justru malah semakin penasaran. Ibu Kartini membuatku merasa matematika bukanlah hal sulit, tapi hanya seperti permainan teka-teki.”

Bapa tersenyum, “Sebelumnya, kamu sering merengek ingin berhenti sekolah karena mau membantu Bapa mencari rezeki, kamu tidak berminat meneruskan sekolah. Tapi sekarang Bapa bersyukur kamu bisa menemukan motiva … uhuk … uhuk ….” Batuk kronis Bapa kembali kumat.

Senyum Gadis perlahan memudar, “Pa, Aku mungkin bisa melakukan penggalangan dana di beberapa simpangan lampu lalu lintas untuk …”

Belum selesai Gadis berbicara, Bapa langsung memotong, “Gadis, kita boleh miskin, boleh terdesak, bahkan boleh nyaris hancur. Tapi jangan pernah biarkan dunia tahu. Manusia tidak perlu tahu bagaimana kita bertahan hidup. Mereka hanya perlu melihat kita masih berdiri. Kita boleh menerima kalau memang ada yang memberi, tapi jangan sengaja memintanya secara cuma-cuma.” Ucapan itu, yang sering diulang-ulang oleh Bapa, perlahan-lahan seolah menjadi bagian dari organ tubuh, menjadi keyakinan yang telah dipegang teguh hingga mati.

“Kita miskin dari keturunan, bahkan Bapa gagal memutus tali kesialan itu, Mama-mu pergi dengan pria lain yang lebih kaya, itu saja sudah membuat harga diri kita terinjak-injak, jangan lagi merendahkan diri dengan meminta-minta,. Karena itu, Bapa tetap menjadi pemulung, sementara kamu fokus belajar dan bersekolah. Jadilah orang yang terpandang di masa depan. Kita jalankan peran kita sebaik mungkin, bekerja sama sebaik mungkin.” Lanjut Bapa.

Gadis menghela napas, “Istirahatlah, Pa. Jangan sampai kelelahan.” Bukannya apa, tapi semakin ke sini, batuk kronis Bapa semakin menjadi-jadi. Penghasilan Bapa dari memulung hanya cukup untuk makan sehari-hari. Anak mana yang tidak cemas melihat keadaan orangtuanya semakin memburuk? Masih bisa fokus sekolah dan belajar di keadaan seperti itu saja Gadis sudah untung.

“Oiya, besok kamu tidak akan Bapa bawakan bekal makanan.”

Gadis reflek menatap Bapa, matanya berbinar.

“Kamu akan Bapa berikan uang saku. Tidak banyak, tapi cukup untukmu memakan apapun yang kamu mau di kantin sekolah sana, seperti teman-temanmu. Bapa sudah pastikan uangnya bisa kamu gunakan untuk sedikit berfoya-foya di kantin sekolah, dan untuk membayar iuran pembangunan yang diminta pihak sekolah. Lagi pula, aneh-aneh saja sekolah negerimu itu. Benar kita miskin dari sananya, tapi sekolah negerimu yang sering meminta iuran pembangunan membuat keadaan kita semakin sulit. Nominalnya pun terkadang bisa untuk makan seharian. Kita pernah sengaja tidak membayarnya, tapi kenyataanya mereka selalu mendatangimu di dalam kelas, berteriak menanyakan kapan kamu akan membayar iuran di depan banyak orang, seolah sengaja membuat malu.” Keluh Bapa.

Ada aturan yang seharusnya menjaga agar penggalangan dana pendidikan tidak berubah menjadi pungutan wajib, tapi seolah kehilangan makna ketika berhadapan dengan kenyataan. Di atas kertas, sumbangan adalah wujud gotong royong; sesuatu yang lahir dari kerelaan, bukan keterpaksaan. Namun, bagi keluarga Gadis, kerelaan itu telah berubah menjadi kewajiban yang tak berani mereka tolak. Mereka bukan sekadar diminta menyumbang untuk membangun sekolah, melainkan dipaksa memilih antara mempertahankan sedikit uang untuk bertahan hidup atau menanggung malu di hadapan orang banyak. Barangkali aturan itu memang telah ditulis dengan benar. Hanya saja, apa artinya sebuah aturan jika mereka yang seharusnya dilindungi justru tidak pernah merasakan perlindungannya?

“Maafkan aku, Pa.” Gadis merasa bersalah.

“Tapi, untung Bapa adalah orangtua yang hebat.” Bapa langsung mengoreksi kalimatnya dan mengembalikan senyum di wajah Gadis. Sebab apa yang dikeluhkan Bapa memang bukanlah kesalahan anaknya.

“Oiya, satu lagi,” lanjut Bapa sebelum pergi ke kamarnya untuk istirahat, “soal sepatumu, bersabarlah sebentar, Bapa sedang mencarikan uangnya. Kamu tidak perlu menabung uang yang Bapa berikan, kamu layak hidup seperti anak-anak lainnya, merasakan jajan, bukan setiap hari hanya bawa bekal nasi dan lauk seadanya.”

“Terima kasih, Pa.” Gadis sedikit lega. Dia tidak perlu cemas untuk berbelanja esok hari. Selain itu, mungkin sudah sekitar enam bulan Gadis menggunakan sepatunya yang sekarang. Beberapa bulan sebelum Kartini mengajar di sekolahnya. Sepatunya tidak rusak, meskipun kumuh karena Bapa mendapatkannya di tempat pembuangan, setidaknya lebih baik dibanding sepatu Gadis sebelumnya yang bagian depannya sudah terbuka seperti mulut buaya. Hanya saja, ukuran kaki Gadis adalah 37, sepatunya yang sekarang adalah 34. Tidak sengaja menemukan sepatu sebagus itu di tempat pembuangan pun ibarat menemukan jarum di tumpukan jerami, dengan rasio kemungkinan satu banding seribu.

***

Beberapa hari setelahnya, sekolah mengadakan sebuah acara, yang mewajibkan para guru dan siswa untuk membawa bekal masing-masing dari rumah, lalu dimakan bersama-sama di dalam kelas. Masing-masing wali kelas akan mendampingi kelasnya untuk melakukan kegiatan makan bersama tersebut. Kartini tentu saja mendampingi kelas Gadis.

“Semua makanannya sudah ditaruh di atas meja masing-masing?” Seru Kartini, sambil berkeliling, menyapa para siswa sekaligus memeriksa persiapan makan siang mereka.

“Sudah, Bu.” Jawab para siswa dengan antusias. Tidak sabar menyantap makanannya setelah dari pagi melalui rangkaian acara sekolah yang cukup panjang hingga siang.

Bekal para siswa cukup beragam, mulai dari roti dengan isian daging dan sayuran, onigiri, chicken katsu, pasta, nasi padang, bahkan sampai beef teriyaki. “Oh, Tuhan.” Kartini terbungkam melihat menu bekal siswanya, berbeda jauh dengan Kartini yang hanya membawa nasi dan satu telur mata sapi. Ada satu hal yang membuat hati Kartini tergores, bukan karena kemewahan bekal para siswa yang melampauinya, bukan rasa iri ataupun dengki, tapi karena tidak sengaja melihat Gadis yang pada hari itu hanya membawa sedikit nasi tanpa lauk apapun. Ketika Gadis dengan ragu mengintip di balik kotak bekalnya, Kartini tak sengaja ikut melihatnya.

“Ibu, saya izin pergi ke toilet sebentar.” Tak lama setelah momen Kartini menangkap basah apa yang dibawa Gadis di dalam kotak bekalnya, dia langsung izin pergi sejenak meninggalkan ruang kelas. Satu hal yang Kartini tahu, kondisi hati anak itu sedang tidak baik-baik saja.

Gadis tidak ingin buang air. Di dalam toilet, dia hanya duduk di atas kloset, diam dan merenung. Pada hari-hari biasanya, dia tidak terlalu memperdulikan perbedaan bekalnya dengan makanan anak-anak lainnya. Sebab makanan yang mereka beli di kantin juga tidak jauh berbeda. Tapi untuk hari ini, dia merasakan hal lain. Untuk pertama kalinya, secara tidak langsung, Gadis telah merasakan apa itu kesenjangan sosial.

“Ah, kenapa aku seperti ini?” Gadis mulai berusaha menyadari apa yang telah dia lakukan. “Itu adalah nasi pemberian Bapa, susah-payah Bapa mencari uang demi memberiku makan. Sikapku yang seperti ini, sama saja menunjukkan kalau aku tidak bersyukur.” Gadis menyeka matanya yang berkaca-kaca. Mengusap wajahnya dengan air, memastikan tidak ada lagi bekas kesedihan di wajahnya, lantas memantapkan hati untuk melangkahkan kaki, kembali ke dalam ruang kelas.

Satu langkah masuk ke dalam ruang kelas, wajah sedih Gadis sudah hilang. Bukan karena dia menyembunyikannya, tapi dia sudah berlapang dada menerima keadaan. Para siswa lainnya sudah asyik untuk menyantap makanannya masing-masing. Sepertinya kegiatan makan bersama baru saja dimulai. “Syukurlah, aku tidak tertinggal terlalu jauh.”

Gadis sudah siap untuk membuka kotal bekal dan mulai menyantap makanan yang disediakan oleh Bapa dengan sepenuh hati. Namun Gadis kebingungan. Ada hal yang aneh, kotak bekal yang sebelumnya hanya berisi nasi, kini di dalamnya ada satu telur mata sapi, potongan roti isi, chicken katsu, sedikit pasta, beberapa lembar beef teriyaki, lauk padang, dan beberapa menu lainnya yang disusun rapi sesuai kolom-kolom di dalamnya. Kanan-kiri Gadis menengok orang-orang di sekitarnya, tidak ada yang tahu-menahu. Gadis tidak sadar bahwa teman-temannya senyum dalam sembunyi-sembunyi saat mengetahui dia sedang kebingungan, Gadis tidak melihat bahwa tepat di depannya, Kartini tersenyum lebar memperhatikannya saat itu.

Perutnya sudah keroncongan, tanpa banyak bertanya-tanya, dia langsung melahap apa yang ada di hadapannya dengan penuh antusias.

***

Dari berhari-hari, berminggu-minggu, sampai minggu sudah menjadi bulan, Bapa menjanjikan hal yang sama tentang sepatu. Tapi Gadis tidak pernah mengeluhkan hal itu kepada Bapa. Gadis tidak pernah menceritakan bahwa belakangan ini kakinya mulai sakit, bahwa dia berusaha berjalan dengan cara normal setiap harinya. Dia tahu Bapa memahami posisi Gadis, hanya saja kondisi memang belum memungkinkan bagi Bapa untuk menepati janjinya. Yang terpenting baginya, Bapa sudah memiliki niat baik, maka itu sudah cukup.

 “Selamat pagi, Bu.” Sapa para siswa seperti biasanya saat Kartini masuk kelas. Pagi yang biasa dan hari yang normal. Setidaknya sampai Kartini duduk di meja guru, kemudian menyadari satu hal, Gadis tidak ada di hadapannya. “Ada yang tahu Gadis di mana?” Tanya Kartini pada seluruh kelas. Tak satupun dari mereka memiliki keyakinan untuk menjawab. Hanya wajah kebingungan dan saling menatap ke satu sama lain yang dilihat oleh Kartini. “Mungkin Gadis sedang terlambat.” Ucap Kartini dalam hatinya. Meskipun kata “terlambat” juga adalah hal aneh jika berbicara soal Gadis.

Kenyataannya, Gadis sama sekali tak terlihat batang hidungnya sampai sepulang sekolah. Kartini tidak melihat Gadis pergi ke kantin melewati ruang guru, karena itu adalah satu-satunya jalur siswa menuju ke kantin. Meskipun Gadis memang hanya sesekali berada di kantin, satu bulan pun belum tentu dia ada di sana. Namun beberapa kali Kartini bolak-balik di depan kelas Gadis, untuk mengajar di kelas lain, mejanya tetap kosong.

“Ada apa dengan anak itu?” Tanya Kartini mulai cemas.

Tidak hanya satu hari, sudah jadwal ketiga Kartini mengajar di kelas Gadis. Artinya, sudah satu minggu berlalu sejak hari pertama Gadis absen dari kelas. Dia masih tidak hadir, tidak ada surat izin, tidak ada telepon dari pihak terkait, tidak ada kabar burung atau gosip apapun. Kartini memutuskan untuk membicarakannya kepada wakil kepala sekolah bagian kesiswaan, meminta data-data Gadis. Tidak ada nomor telepon, hanya ada alamat rumah. Kartini mendapat perintah untuk mengecek kondisi Gadis di alamat tersebut.

Sesampainya di sana, entah bangunan yang ada di hadapannya bisa disebut apa. Bangunan dengan atap yang berlubang di sana-sini, lantai depan yang beberapa papannya sudah patah karena dimakan usia, “Ya Tuhan, rumah ini tidak layak menampung anak berpotensi seperti Gadis.” Ada kepedihan yang dirasakan Kartini, yang tidak mampu dieja dengan kata. Perlahan, Kartini menghampiri rumah tersebut, jika itu memang layak disebut sebagai rumah.

Tok, tok … tok

“Permisi.” Setelah dua-tiga kali ketukan, pintu yang sudah tidak mampu menjaga penghuni rumah itu pun terbuka. Kartini disambut oleh seorang pria lansia, dengan tubuh yang kurus ceking, rambutnya putih jarang-jarang.

“Maaf, apa ini alamat rumah Gadis?” Tanya Kartini dengan sopan.

Bapa hanya menjawab dengan satu anggukan kepala.

“Saya dapat perintah dari pihak sekolah untuk mengecek kondisi Gadis. Apa ada sesuatu yang dia alami? Gadis sudah satu minggu tidak masuk sekolah.”

Bapa tidak menjawabnya, hingga sepersekian detik kemudian, dia hanya masuk ke dalam rumah, bahasa tubuhnya meminta Kartini untuk mengikutinya. Maka masuklah Kartini ke dalam rumah itu. Melewati lantai papan yang berdecit, seolah mengatakan bahwa lantai-lantai itu sudah tak sanggup lagi menopang berat manusia.

Di dalam sana, Kartini mendapati Gadis terbaring lemah dengan mata terpejam dan wajah sepucat kain kafan. Sebelah kakinya membengkak, membiru, dengan lebam yang menjalar hingga nyaris ke lutut. Kondisinya tidak terlihat seperti sakit yang baru seminggu, entah sudah berapa lama Gadis telah menyembunyikan rasa sakit itu di balik seragam sekolahnya. Kartini terpaku. Sesaat dia seperti kehilangan kata-kata, tak siap menyaksikan tubuh Gadis yang terbaring dalam keadaan demikian, “Apa yang terjadi?”

“Anda menanyakan apa yang bisa dibantu? Lihat anak ini. Sekolah kalian berada di bawah naungan pemerintah, tapi terus-menerus meminta iuran pembangunan rutin, entah pembangunan seperti apa.” Bapa yang awalnya sedih, berubah menjadi marah, wajahnya perlahan memerah. “Bagi orang kaya-raya di luar sana, mungkin rasanya hanya seperti mengeluarkan uang receh yang tak ada artinya. Tapi bagi kami, jika tidak diberikan ke pihak sekolah, recehan itu bisa kami kumpulkan untuk membeli sepatu baru bagi Gadis, atau minimal hanya sekadar sebagai biaya darurat untuk kondisi seperti ini. Meskipun tidak seberapa, tapi kami bisa memanfaatkannya untuk kehidup … uhuk … uhuk ….” Omelan Bapa terpotong oleh batuk kronisnya.

Kartini diam seribu bahasa, melihat ke arah Gadis. Apa yang disampaikan oleh Bapa memang benar adanya. Kartini memahami betul emosi yang dirasakan Bapa. Bagaimana hidup yang sudah tersesak masih harus merasakan desak oleh hal-hal di ruang lingkup pendidikan yang tak rasional. Seolah-olah kesulitan hidup belum cukup menyiksa, hingga mereka yang telah terseok-seok justru dipaksa menanggung beban tambahan oleh sistem yang semestinya memberi jalan, memberi jaminan masa depan.

“Lantas, jika pihak sekolah saja tidak peduli. Jika kelompok yang lebih besar dan lebih berkuasa saja tidak peduli. Apa yang bisa kita lakukan?” tanya Bapa pada Kartini yang dari tadi menatap kondisi Gadis. Anak yang mengembalikan semangatnya untuk terus melanjutkan karir yang tak jelas, dengan iming-iming berkontribusi mencerdaskan kehidupan bangsa, kini sumber semangatnya harus merasakan derita.

Kartini mengusap air matanya. Semua keluhan Bapa seolah meminta Kartini melakukan sesuatu untuk mengubah sistem. Itu tindakan yang sangat besar. Berbanding terbalik dengan posisi Kartini yang bukan siapa-siapa. “Anak ini akan memiliki masa depan yang baik. Saya yakin dia akan menjadi orang terpandang di masa depan. Dia cerdas dan berbakat. Saya menyukai semangatnya. Semangat yang saya lihat setiap kali mengajar di kelasnya. Semangat itulah yang membuat saya bertahan sebagai guru.”

Bapa reflek memandang Kartini, tertegun mendengar kalimat yang tidak asing.

“Bapak fokuslah untuk menjaga Gadis. Teruslah memberinya pertolongan dasar. Saya akan kembali lagi beberapa hari ke depan untuk memberikan bantuan. Butuh waktu, tapi saya akan berusaha secepat mungkin.” Tak lama setelah itu, Kartini berpamitan. Menyerahkan Gadis pada Bapa untuk beberapa hari lagi.

***

Penggalangan dana berlangsung selama beberapa hari di lingkungan sekolah. Kartini memulainya dengan mengajak sejumlah guru dan siswa untuk menyisihkan sebagian uang mereka, seberapa pun jumlahnya. Tidak semua orang dapat memberi, dan tidak sedikit pula yang hanya mampu menyumbangkan uang receh dari sisa uang jajan. Namun, sedikit demi sedikit, kepedulian itu terkumpul menjadi sesuatu yang berarti. Penghasilan terbesar datang dari teman-teman sekelas Gadis. Mereka yang sehari-hari duduk berdekatan dengannya, berbagi cerita dan pelajaran, kini berusaha membantu dengan cara yang mereka mampu.

Mengetahui kondisi Gadis, pihak sekolah akhirnya memutuskan untuk tidak lagi memasukkan nama Gadis dalam daftar siswa yang akan diminta iuran pembangunan di masa mendatang. Keputusan itu setidaknya meringankan satu beban yang selama ini menghimpit Gadis dan keluarganya, meski tak serta-merta mengubah keadaan mereka. Setelah beberapa hari, dana yang terkumpul akhirnya dirasa cukup untuk membantu biaya pengobatan Gadis. Kartini pun menepati janjinya, dia kembali ke rumah Gadis, membawa hasil penggalangan dana itu dengan harapan dapat membantu keluarga tersebut memperoleh pertolongan medis yang selama ini sulit mereka jangkau.

***

Tok, tok … tok

Bapa membuka pintu.

“Pak, saya sudah mengumpulkan penggalangan dana. Harusnya lebih dari cukup untuk membawa Gadis berobat.”

Bapa tidak menjawabnya. Dia hanya diam, sama seperti saat pertama kali Kartini ke rumah itu. Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Kepala Bapa sedikit tertunduk, di wajahnya, perlahan mengalir air mata tanpa suara, air mata yang seolah berusaha mengeluarkan duka dari palung dada yang teramat dalam, melampiaskan riak sunyi yang tak pernah didengar oleh telinga dunia.

Melihat wajah Bapa, Kartini sendiri langsung cemas bukan main, tapi dia mencoba untuk tetap tenang, mencoba tetap tersenyum, “Pak, kita bawa Kartini ke rumah sakit, saya akan hubungi ambulan.”

Bapa menggelengkan kepala dengan lemas, “Tidak ada gunanya. Almarhumah Gadis sudah dimakamkan dua hari yang lalu.”

“Apa …” Kartini tertegun. Senyum yang sejak tadi dipertahankannya perlahan luruh dari wajahnya, menyisakan sepasang mata yang membeku dalam ketidakpercayaan. Untuk sesaat, dia merasa seolah-olah seluruh suara di sekelilingnya lenyap, menyisakan kalimat Bapa yang terus bergema di kepalanya. Almarhumah. Dimakamkan dua hari yang lalu. Dua kalimat pendek itu terasa begitu kejam, meruntuhkan harapan yang telah susah payah dia kumpulkan selama berhari-hari. Tangannya yang menggenggam uang mendadak gemetar. Dia menatap Bapa, lalu menunduk pada uang di tangannya, seolah-olah benda itu masih bisa mengubah sesuatu, seolah-olah dia hanya perlu datang sedikit lebih cepat untuk menyelamatkan Gadis. Namun, waktu tidak pernah menunggu siapa pun, dan kali ini, Kartini terlambat menyadarinya. Bibirnya bergetar, tetapi tak sepatah kata pun sanggup keluar. Air matanya jatuh tanpa sempat terbendung. Dia datang dengan harapan membawa pertolongan, tetapi justru mendapati dirinya berdiri di hadapan kehilangan yang tak mungkin diperbaiki. Uang yang terkumpul itu terasa begitu berat dalam genggamannya, bukan karena jumlahnya, melainkan karena kesadaran bahwa segala upayanya sia-sia ketika harapan terakhir keluarga itu telah dikuburkan bersama Gadis.

Bapa mengusap wajahnya dengan telapak tangan yang keriput. Napasnya terdengar berat, diselingi batuk panjang yang mengguncang dadanya. Setelah beberapa saat, dia kembali menatap Kartini dengan mata sembap, “Gadis sempat menitipkan pesan untuk Anda,” ucapnya lirih, “dia bilang, terima kasih.”

Kartini terdiam. Dadanya terasa sesak mendengar dua kata sederhana itu. Terima kasih. Dia bahkan belum sempat melakukan apa-apa untuk Gadis, tetapi anak itu masih menyempatkan diri meninggalkan ucapan terima kasih untuknya. Kartini menunduk, menggigit bibirnya yang bergetar, sementara air mata kembali mengalir membasahi pipinya. Ada masa depan yang ingin dilihatnya pada diri Gadis, ada janji besar yang baru saja ingin dia tepati, tetapi kini semuanya hanya bisa dia simpan bersama penyesalan yang tak akan pernah menemukan tempat untuk pulang.

“Jangan merasa bersalah, Bu, semua ini terjadi karena kesalahan saya. Jika saya mencari pertolongan sejak awal …”

Perlahan, Kartini mengangkat wajahnya. Dia memandang Bapa yang masih batuknya semakin berat, tubuh renta itu tampak semakin rapuh setelah kehilangan satu-satunya anak yang selama ini menemaninya. Kartini menggenggam uang di tangannya, lalu berkata dengan suara yang nyaris patah, “Pak, uang ini tetap akan berguna. Kalau memang sudah terlambat untuk Gadis, biarkan saya membantu Bapak berobat. Kondisi Bapak tidak boleh dibiarkan terus seperti ini.”

Bapa hendak menolak, merasa bersalah atas apa yang terjadi, tetapi Kartini menggeleng pelan. Kali ini, dia tak ingin membiarkan pertolongan kembali datang terlambat. Uang yang semula dikumpulkan untuk menyelamatkan Gadis itu akhirnya diserahkan kepada Bapa, agar dapat digunakan untuk memeriksakan dan mengobati batuk kronis yang selama ini dideritanya, “Saya tahu uang itu tidak akan menghapus duka. Tapi setidaknya, saya masih bisa melakukan sesuatu bagi Bapak, orang kesayangan Gadis.

***

Pada waktu-waktu berikutnya, Kartini tetap mengajar. Bukan karena dia percaya bahwa ketulusan seorang guru mampu memperbaiki segalanya, melainkan karena dia tahu murid seperti Gadis masih membutuhkan seseorang yang peduli. Tetapi dia juga tahu, kepedulian seorang guru tak seharusnya menjadi pengganti tanggungjawab sebuah kelompok yang lebih besar. Selama pendidikan hanya sibuk menuntut pengabdian tanpa memastikan kesejahteraan, selama kemiskinan guru dianggap urusan pribadi dan penderitaan murid sekadar angka dalam laporan, akan selalu ada Gadis-Gadis lain yang kehilangan masa depan dalam diam, sementara dunia tetap merasa bahwa pendidikan di negeri ini sedang baik-baik saja.

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke: