Not yet available in the requested language -- showing the original version.
“Eh, bengong.”
Sebuah tepukan yang kukenal mendarat di punggungku dari arah belakang. Aku mengembuskan napas panjang, sedikit kesal karena lamunanku buyar, lalu menoleh. Mataku langsung menatap tajam ke arah Daniel.
“Ih, Bang Daniel.”
Daniel hanya terkekeh. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum lebar yang selalu berhasil meredam kekesalanku, memperlihatkan deretan giginya yang putih. “Maaf,” katanya ringan, lalu menjatuhkan diri di bangku kayu di sebelahku.
Aku kembali menatap lurus ke depan. Di tengah lapangan rumput panti asuhan, Bang Ganendra sedang bermain bola bersama beberapa anak kecil. Kemejanya sudah sedikit kusut dan rambutnya berantakan diterpa angin, tetapi senyum di wajahnya tidak berubah. Seorang anak menendang bola terlalu keras hingga keluar lapangan. Ganendra segera berlari mengejarnya, lalu mengoper kembali bola itu sambil tertawa ketika anak-anak tersebut bersorak kegirangan.
Aku tersenyum tanpa sadar.
Sudah lima tahun aku mengagumi laki-laki itu. Lima tahun pula Daniel tahu tentang perasaanku.
“Kenapa enggak bilang aja ke Ganendra kalau kamu suka sama dia?” tanya Daniel.
Aku meliriknya. Nada suaranya terdengar santai, tetapi entah mengapa kali ini terasa berbeda. Ganendra yang baru saja mencetak gol kecil melambaikan tangan ke arah kami. Daniel membalasnya dengan senyum tipis sebelum kembali menatap lapangan.
Tawa getir lolos dari bibirku. “Kalau aku bilang sama Bang Ganendra, apa hubungan ini akan berubah? Enggak, kan?”
Daniel tidak langsung menjawab. Ia hanya menyandarkan punggung pada bangku dan mendongak ke langit sore yang mulai berubah jingga.
“Setidaknya sudah berusaha mengungkapkannya, Kiran.”
Aku menunduk. Selama lima tahun, Daniel tahu semuanya. Ia tahu kapan aku mulai menyukai Ganendra, tahu alasan sederhana yang membuatku kagum pada laki-laki itu, bahkan tahu bahwa setiap kali Ganendra datang ke panti, aku selalu mencari alasan untuk berada di sekitar lapangan.
Tapi anehnya, Daniel tidak pernah menertawakanku. Tidak pernah menyuruhku melupakan Ganendra. Ia hanya selalu ada—membawakan minuman ketika aku lupa membawa botol sendiri, menunggu ketika aku terlalu lama mengobrol dengan anak-anak panti, mengomel ketika aku pulang terlalu sore, dan menjadi orang pertama yang kucari setiap kali hariku terasa buruk.
“Kalaupun aku mengatakannya, bukannya persahabatan ini malah meregang? Lagian, Bang Ganendra udah punya tunangan.” Aku memainkan ujung gelang di pergelangan tangan. “Aku tidak mau merusak kebahagiaan mereka atau membuat dia merasa canggung.”
Daniel mengangguk pelan. Kali ini, ia tidak membantah.
“Cukuplah aku mengaguminya dari jauh tanpa harus mengubah apa pun. Mengagumi sikapnya yang dermawan, cara berpikirnya yang kritis, dan gelak tawanya yang selalu ada.” Aku menarik napas, lalu kembali menatap Ganendra. “Bukankah tanpa memilikinya pun, itu termasuk cinta?”
Daniel terdiam cukup lama. Kemudian, aku merasakan tatapannya berpindah kepadaku.
“Sadarkah kamu kalau seseorang di sampingmu juga menyukaimu, Kiran?”
Aku terkekeh kecil. “Tentu saja aku tahu.”
“Lalu?” Suaranya merendah. “Tidak bisakah aku menyusup ke ruang dadamu, menggantikan tempat kekagumanmu itu?”
Tawaku terhenti. Untuk beberapa detik, hanya suara anak-anak yang bermain dan angin sore yang terdengar di antara kami. Aku menatap Daniel. Ada sesuatu dalam sorot matanya yang belum pernah kulihat sebelumnya. Atau mungkin, selama ini aku hanya tidak pernah benar-benar mau melihatnya.
Aku menundukkan kepala, membiarkan jemariku saling bertaut di pangkuan. “Kalian berdua sama-sama berharga untukku. Bang Ganendra adalah seseorang yang selalu aku kagumi. Dan kamu ...” Aku menoleh kepadanya. “Kamu adalah abang yang selalu ada ketika aku sedih maupun senang. Kamu selalu berusaha membuatku tertawa tanpa pernah memikirkan dirimu sendiri.”
Daniel masih diam.
Aku menopang dagu dengan tangan dan menatap mata abu-abunya. “Bang Ganendra memang seseorang yang ideal, dermawan, bijaksana, lembut, dan gigih. Dia definisi pacar atau suami idaman. Siapa juga yang tidak mau?” Aku tersenyum kecil. “Tapi orang yang aku sayangi ... orang yang berhasil membuatku nyaman sampai rasa itu menetap ...” Aku sengaja berhenti sejenak, membiarkan tatapan kami bertemu. “Justru sedang aku pandang saat ini.”
Daniel membeku. Matanya membesar dan berkedip beberapa kali, seolah memastikan bahwa ia tidak salah dengar. Bibirnya sedikit terbuka, tetapi tidak ada satu kata pun yang keluar.
Aku tidak tahan lagi. Tawa kecil pecah dari bibirku. Aku melompat turun dari bangku dan berlari menuju lapangan. “Bang Ganen, tolong aku!”
Ganendra menoleh cepat. “Eh, kenapa?" tanyanya panik.
Aku menoleh ke belakang sambil tertawa. Daniel masih duduk terpaku, tetapi beberapa detik kemudian ia tersadar. Lalu, bangkit dari bangku.
“Kiran!” teriak Daniel sambil berlari menyusul Kiran.
Aku semakin mempercepat langkah. “Jangan kejar aku!”
“Siapa suruh bikin orang hampir copot jantungnya?!”
Aku tertawa semakin keras. Daniel mengejarku melewati lapangan. Anak-anak panti yang melihat kami langsung bersorak, beberapa bahkan ikut berlari di belakang kami. Ganendra yang masih memegang bola menatap kami dengan wajah bingung.
“Kalian kenapa?” tanya Ganendra heran.
“Bang Daniel marah!” teriakku.
“Bohong!” sahut Daniel.
Tawa kami pecah bersamaan.
Untuk beberapa saat, semuanya terasa sederhana. Tidak ada Ganendra. Tidak ada perasaan yang harus kusembunyikan. Tidak ada pertanyaan tentang siapa yang seharusnya kucintai.
Hanya ada Daniel, laki-laki yang selama ini selalu berada beberapa langkah di belakangku, menungguku, menemaniku, dan tanpa kusadari telah menjadi bagian paling nyaman dalam hidupku.
Semilir angin senja menerpa wajahku ketika aku akhirnya berhenti berlari. Matahari perlahan turun di balik pepohonan, meninggalkan semburat jingga di langit. Daniel berdiri beberapa langkah di belakangku sambil terengah-engah.
“Capek?” tanyaku.
“Gara-gara siapa?”
Aku tertawa, lalu menatapnya. Untuk pertama kalinya, aku tidak lagi mencari sosok lain di antara keramaian. Tatapanku justru berhenti pada Daniel.
Hei, Daniel.
Aku memang mengagumi Ganendra.
Tapi yang kucintai adalah kamu.
Sepertinya, aku sudah siap menyusup ke ruang dadamu dan menetap di sana.
Sebab, kagum itu seperti melihat bintang—indah, jauh dan tak bisa disentuh. Sedangkan cinta adalah ketika aku menyadari bahwa rumah bukanlah seseorang yang hanya ingin kupandang dari kejauhan, melainkan seseorang yang selalu berjalan di sampingku.
Dan mungkin, selama ini, rumah itu adalah kamu.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya