Customer Service

Udara Ini Milik Negara

100%

Udara Ini Milik Negara

Not yet available in the requested language -- showing the original version.

“Kita meninjau bersama-sama ternyata tidak parah. Heli pun tidak ada hari ini. Biasanya kalau parah heli itu akan menyiram, ini tidak ada. Artinya tidak parah.”

Aku mengerjap mendengar pria berseragam mengatakan hal seperti itu. Hati ini terasa panas dengan sebab yang tidak ingin aku utarakan.

Tangan meraih remot yang tergeletak tidak jauh dari diriku.

Siaran itu berganti.

“...Bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi.”

Ekspresiku berubah seperti baru saja menelan lemon. Aku tidak menyangka ada seseorang yang akan mengatakan hal itu, di media massa pula.

“Mungkin bapak itu tidak berhasil dalam hubungan berumah tangga,” ucapku penuh sarkas. Aku menggeleng sebab pernyataan itu sama memuakkan dengan yang sebelumnya.

“Kualitas udara untuk _____ ___ alhamdulilah masih semuanya aman—”

“Apa sih berita kok kayak gini! gak ada solusi sama sekali, hanya omong kosong!” Aku membanting remot itu ke lantai.

Tarik napas…

Buang perlahan.

“Uhuk! Le, kenapa?”

Wajah Simbok muncul dari balik tirai kamar. Sepertinya dia terbangun akibat diriku yang membuat suara berisik di rumah ini.

“Ah maaf, Mbok. Ujang ganggu istirahatnya.” Aku menatap wanita itu penuh dengan simpati. Rambut putihnya yang tergerai panjang tampak kusut dengan keringat yang membuatnya menempel pada dahi. “Ujang gak akan berisik lagi deh, Mbok. Simbok balik istirahat saja, kata dokter obat terbaiknya sekarang hanya itu.”

Simbok kembali terbatuk, kali ini terjadi berkali-kali, lebih parah dari sebelumnya. Tubuh itu sampai membusur. Ia menepuk dadanya sendiri, mencoba melapangkan celah sempit di tenggorokannya yang terus-menerus terhalangi.

“Jangan lupa maskernya di pakai, Mbok.” Aku mengingatkan perempuan itu ketika ia sudah bisa kembali bernapas.

“Oh, iya hampir lupa.” Sudut matanya sedikit berair tetapi wanita tua itu masih sanggup untuk tersenyum. Ia kemudian menaikkan kembali kain yang ia jadikan masker itu hingga menutupi sebagian dari wajahnya.

Helaan napas panjang keluar dari sang anak akan kelalaian yang dilakukan orang tuanya. “Besok Ujang cari masker yang lebih standar di kota, soalnya kalau di sini harganya sudah di luar nalar.”

“Simbok baik-baik saja pakai ini, Le.”

Di balik kain itu suara paraunya sampai di telingaku. Dadanya naik-turun kempis bagai pompa tua yang aus. Sulit rasanya membayangkan bagaimana bernapas pada kondisi paru-paru yang seperti itu. Apalagi digit usia wanita itu telah memasuki kelompok rentan.

“Biar Ujang ambilkan air hangat dulu, Mbok,” kataku seraya bergegas ke dapur.

Aku memutar kran galon. Air bening mengucur lentur ke dalam gelas kaca bertangkai. Di bawah sinar lampu dapur, aku bisa melihat partikel-partikel debu abu tipis melayang-layang di udara, menari-nari sebelum akhirnya mengapung di atas permukaan air gelas itu.

Pandanganku menengok sesaat ke arah jendela. Sejenak aku memperhatikan dunia yang menjadi jingga, hingga aku hampir lupa pada air galon yang masih mengalir.

Dunia ini tidak kunjung membaik.

Aku tidak tahu sampai kapan kami berdua akan bertahan di tempat ini sebelum bantuan datang. Memang rumahku ini cukup jauh dengan area yang terbakar, tapi berapa lama lagi hingga api itu sampai.

“Kira-kira siapa yang lebih dulu datang?” bisikku penuh pertanyaan.

Aku menepis debu di atas gelas dengan telunjuk, lalu membawanya cepat-cepat ke kamar Simbok.

“Ini, Mbok. Minum dulu pelan-pelan.”

Simbok menyangga tubuhnya sendiri, bertumpu pada siku yang gemetar. Ia menerima gelas dariku dan menyeruput air itu sedikit demi sedikit. Napasnya masih terdengar pendek dan penuh jeda, sesekali menghasilkan bunyi seperti gesekan dua ampelas kasar.

“Di luar… masih oranye, Le?” suara Simbok serak, menyisakan jarak di tiap kata.

“Iya, Mbok.”

Aku terdiam setelah menjawab pertanyaan itu. Tidak lagi aku ingin memberikan informasi palsu yang berupa harapan, karena pada kenyataannya hampir tidak ada harapan untuk kami berdua.

“Kalau begitu… kita hanya bi–uhuk! bisa berdoa, serahkan… semuanya sama yang Maha Kuasa. Semoga ada yang bantu kita.”

Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat. Lidahku mendadak kelat. Ingin rasanya aku berteriak bahwa pria-pria berseragam rapi di TV yang bahkan berlibur ke negara tetangga—melarikan diri mencari tempat aman, dan meninggalkan warganya sendiri dalam penderitaan.

“Aku juga berharap seperti itu, Mbok.” Suara ini terasa berat seakan dadaku ditindih batu saat mengucapkan setiap huruf yang terangkai itu.

Harapan? Pada siapa mereka berdua berharap? Mungkin diluar sana akan ada relawan baik hati yang peduli.

Aku duduk terdiam dengan pikiran yang tidak lagi ada di tempat ini. Berandai-andai pada nasib kehidupan yang lebih baik. Jika saja mereka tinggal di pulau lain, pastilah penderitaan ini tidak terjadi.

Dada ini rasanya ikut terbakar—bukan oleh asap yang menyusup ke paru-paruku, melainkan oleh nasib perempuan di hadapanku yang hanya bisa terbaring di ranjang. Satu dari sekian ratus ribu orang di luar sana mengalami hal yang sama. Bagaimana aku tidak marah?

Udara ini milik negara, batinku sengit seraya menatap langit-langit kamar yang perlahan berbayang kabut tipis. Dimana hak kami untuk bernapas? Udara bersih pun seolah-olah barang mewah yang hanya boleh dihirup oleh mereka yang memiliki posisi istimewa.

“Le…” panggil Simbok lirih. Matanya sudah terpejam separuh, mengantuk oleh efek obat generik puskesmas.

“Iya, Mbok?”

“Besok… kalau hujan turun, bangunkan Simbok, ya. Simbok mau cium bau tanah basah lagi. Rindu rasanya, setelah berhari-hari sesak dada Simbok.”

Aku menelan ludah yang terasa menyumbat di kerongkongan. “Iya, Mbok. Besok kalau hujan turun, Ujang bangunkan.”

Simbok mengangguk pelan, lalu perlahan-lahan napasnya melambat.

Aku duduk di samping tempat tidurnya, mengamati Simbok yang telah terlelap dalam tidurnya. Kain selimut tipis itu aku raih untuk menutupi badan rapuh itu. Simbok sama sekali tidak bergeming.

Di luar, angin malam berembus membawa bau sangit kayu terbakar yang semakin tajam, mengabarkan bahwa malam ini, tidak akan ada hujan yang datang menolong kami.

Kepalaku bertumpu pada pinggiran ranjang Simbok. Rasa lelah, kantuk, dan kesal yang menumpuk seharian akhirnya menumbangkan kesadaranku.

Aku tak tahu berapa lama aku tertidur, sampai tiba-tiba aku terbangun oleh rasa cekikan yang menusuk di pangkal tenggorokan.

“Khhh… uhuk! Uhuk!”

Aku tersentak, terduduk tegak seraya memegangi leher. Dada ini terasa baru saja di hantam oleh seseorang. Pangkal tenggorokanku juga kering penuh dengan duri. Setiap kali mencoba menarik udara, bukan kesegaran yang masuk, melainkan hawa panas yang membakar jalan napas. Penglihatanku samar. Lampu bohlam lima watt di sudut kamar kini tertutup gumpalan kabut putih yang makin tebal. Asap itu sudah sepenuhnya merayap masuk, memenuhi ruangan.

Ketika itu aku mendengar keributan dari luar rumah.

Suara klakson mobil, ketukan tiang listrik yang dipukul berturut-turut, dan teriakan orang-orang saling bersahutan memecah hening malam.

“Evakuasi! Evakuasi! Bapak-Ibu, segera keluar rumah! Masker! Bayi dan lansia, prioritas!”

Bantuan akhirnya datang.

Hatiku riang. Akhirnya sesuatu yang kami berdua tunggu datang juga.

Aku terbatuk-batuk hebat, memaksakan diri berdiri walau kepalaku berputar hebat akibat kekurangan oksigen. Meraba-raba dinding, aku berlari ke luar rumah.

Di jalanan, sirine mobil bak terbuka meraung-raung. Orang-orang berseragam dengan rompi menyala tampak membagikan masker respirator—masker yang jauh lebih layak dari selembar kain tipis milik warga.

“Pak! Mas! Tolong!” teriakku seraya terbatuk-batuk, suaraku parau menyerupai bisikan kasar. Aku melambaikan tangan, menerobos kerumunan warga yang panik. “Tolong… Simbok di dalam! Simbok butuh bantuan, napasnya sesak!”

Seorang relawan berompi merah menyergap bahuku.

“Sabar, Mas! Ini, pakai ini dulu!”

Dia memasangkan sebuah masker respirator rapat ke wajahku. Udara menyerap lewat filter, sedikit lebih dingin, tapi ini membuatku kembali merasakan napas yang lebih sehat setelah berhari-hari hanya bertahan dengan kain.

Aku mulai kembali bisa berpikir dengan jernih.

“Di mana rumahmu? Ayo!” tegas relawan itu. Dua orang rekannya mengekor di belakang seraya membawa tandu lipat.

“Di sini, Mas! Di kamar!”

Aku berlari menuntun mereka masuk kembali ke dalam rumah yang makin pekat oleh asap. Aku memandu mereka menerobos tirai kamar Simbok.

“Mbok! Bangun, Mbok! Bantuan sudah datang, ada masker bagus buat Simbok!” panggilku riang, berusaha menutupi panik yang mulai menjalar di ceruk hatiku.

Lampu gantung mengayun pelan. Simbok masih berbaring miring di atas bantal kapuknya, persis dalam posisi saat aku tertidur tadi.

Tetapi, tidak ada suara batuk yang menyambutku. Tidak ada suara napas yang sudah menjadi sangat familiar di telingaku beberapa hari ini.

“Mbok?”

Langkahku terhenti tepat di samping ranjang. Mata Simbok terpejam amat. Kain selimutnya masih rapi.

Namun tidak ada gerakan naik turun di sana.

“Mas mundur dulu, ya,” potong relawan itu dengan suara pelan namun tegas. Ia menepuk bahuku, mendorong tubuhku pelan ke belakang agar memberi ruang.

Aku berdiri mematung di ambang pintu, menatap dua relawan yang kini membungkuk di atas tubuh Simbok. Salah satu dari mereka memeriksa denyut di leher Simbok, lalu menyusul dengan menempelkan dua jarinya tepat di bawah hidung tua itu.

Relawan itu terdiam. Ia menatap rekannya, lalu menggelengkan kepala pelan tanpa bersuara.

Aku sudah memiliki kesimpulan bahkan sebelum mereka berdua mengeceknya. Aku berharap kesimpulanku salah. Tapi…

Duniaku mendadak kehilangan gravitasi.

Semua ini gara-gara udara di negara ini telah di monopolisasi. Kalau tidak ada kebakaran, Simbok pasti masih akan bangun, tersenyum, dan memanggil namaku.

Aku melihat kain itu perlahan dinaikkan hingga tidak lagi aku melihat wajah itu. Senyumannya telah pergi untuk selamanya.

Seseorang menuntunku pergi, karena aku telah buta. Air mata ini mengalir dan hujan tidak sanggup menyembunyikannya. Kalau saja hujan datang. Apa simbok akan bangun?

***

Dua minggu telah berlalu sejak kepergian Simbok, kini aku tahu jawaban dari pertanyaan terakhir yang memenuhi pikiranku.

Aku sadar, apapun yang terjadi esok paginya—mau itu hujan atau tidak—simbok tidak akan bangun. Simbok memilih untuk istirahat dengan tenang setelah berjuang cukup lama di dunia.

Tapi, aku masih ada di sini. Itu artinya perjuanganku masih akan terus berlanjut.

Langit di atas kota kami belum sepenuhnya pulih—aku bahkan hampir lupa warna langit yang sesungguhnya. Di atas mimbar-mimbar berita, pria-pria berjas rapi mungkin sudah berpindah memperebutkan topik lain yang lebih menjual. Namun, aku tidak sepayah mereka yang hanya bisa mengemis suara di awal, kemudian gelap mata.

Hari ini, aku tidak lagi berdiri di ambang pintu meratapi takdir.

Aku mengenakan rompi jingga lusuh di tubuhku. Di pinggangku terikat satu-satunya kain yang pernah menjadi penyaring kematian.

Hari itu aku selamat, dan kini aku berdiri bersama saudara-saudariku untuk melakukan sesuatu yang berarti.

Agar tidak ada lagi orang yang bernasib seperti Simbok.

“Komandan Posko Lapangan melaporkan, titik api di sektor barat meluas hingga radius dua kilometer dari batas pemukiman. Angin kencang dari arah tenggara mempercepat penyebaran…”

Aku menarik tali masker tebal yang kini menutupi separuh wajahku. Memastikan sekali lagi sudah terpasang dengan benar.

Tangan ini memegang selang dan berlari menembus belukar kering yang memerah oleh bara. Aku bisa merasakan panas mencoba menyusup melalui pakaian standar ini. Tapi aku tidak mundur.

Simbok mungkin tidak sempat menikmati udara bersih dan mencium bau tanah basah yang ia rindukan. Tapi selama aku masih bernapas, aku tidak akan membiarkan ada orang lain yang mengalami hal yang sama.

Jika negara menganggap udara bersih hanyalah angka statistik di atas kertas dan milik mereka yang berkuasa, maka kami—rakyat kecil yang dilupakan ini—akan merebutnya kembali dengan tangan kami sendiri.

Punggungku membungkuk, mengarahkan semprotan air tepat ke jantung bara di bawah tanah.

Di bawah langit yang masih berabu, kami terus menyiram. Bukan karena percaya pada janji para pejabat di TV, melainkan karena kami percaya pada satu sama lain.

***

Beberapa hari selanjutnya Yang Maha Kuasa memberikan rahmatnya kepada kami.

Aku berdiri di bawah hujan dengan semangat yang semakin membara.




Disclaimer:

Cerita ini adalah karya fiksi. Nama, tokoh, tempat, dan peristiwa dalam cerita ini merupakan hasil imajinasi penulis atau digunakan secara fiktif. Kemiripan dengan peristiwa nyata adalah bentuk kritik sosial dan satir.

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke: