Customer Service

Yang Diajarkan, yang Dibiarkan

100%

Yang Diajarkan, yang Dibiarkan

Not yet available in the requested language -- showing the original version.

YANG DI AJARKAN, YANG DI BIARKAN

Rizkay

 

Saya menempuh perjalanan yang cukup panjang untuk sampai di tempat saya berdiri hari ini. Saya memulai pendidikan dari sekolah dasar, kemudian melanjutkan ke pondok pesantren. Ada masa ketika perjalanan itu terhenti, sebelum akhirnya saya kembali melanjutkan sekolah menengah atas, menempuh pendidikan sarjana, lalu magister. Sampai sekarang, saya belum menyandang gelar doktor, apalagi profesor. Namun, saya tidak pernah menganggap bahwa hal itu membuat kedudukan saya sebagai manusia menjadi lebih rendah.

Saya percaya bahwa di hadapan Allah, gelar bukanlah ukuran mutlak kemuliaan seseorang. Gelar menunjukkan perjalanan akademik yang telah ditempuh, tetapi tidak dengan sendirinya menunjukkan seberapa baik seseorang memperlakukan orang lain, seberapa jujur ia menjalankan kewajibannya, atau seberapa besar tanggung jawab yang sanggup ia pikul.

Saya memahami keyakinan itu bukan hanya dari buku atau pelajaran yang saya terima. Saya juga belajar dari perjalanan panjang yang tidak mungkin saya tempuh sendirian. Ada orang tua yang mendukung saya ketika keadaan tidak selalu mudah. Ada pengorbanan, doa, dan harapan yang membuat saya terus melangkah. Mereka tidak sekadar menginginkan saya memperoleh gelar. Mereka ingin saya memiliki kehidupan yang lebih baik.

Karena itulah, ketika akhirnya menjadi dosen, saya membawa keyakinan yang sederhana: pendidikan seharusnya membuat manusia berkembang, bukan hanya membuat namanya bertambah panjang dengan gelar. Seseorang yang telah belajar bertahun-tahun semestinya tidak hanya mengetahui lebih banyak hal, tetapi juga belajar memahami tanggung jawabnya. Setidaknya, itulah yang saya harapkan dari diri saya sendiri.

Saya tidak pernah menganggap diri saya sebagai pendidik yang paling baik. Saya masih memiliki kekurangan, masih bisa salah mengambil keputusan, dan masih harus belajar dari banyak orang. Namun, saya ingin menjadi dosen yang tidak hanya datang ke kelas untuk menyampaikan materi, memberikan tugas, lalu mengisi nilai. Saya ingin mahasiswa melihat bahwa hal-hal yang saya ajarkan memang berusaha saya jalankan dalam kehidupan sehari-hari.

Saya ingin mereka memahami bahwa kejujuran tidak hanya diperlukan ketika ada orang yang mengawasi. Tanggung jawab tidak hanya berlaku ketika seseorang takut mendapatkan hukuman. Dan pendidikan tidak seharusnya berhenti pada keberhasilan seseorang memperoleh ijazah.

Setidaknya, dahulu saya berpikir demikian.

Suatu pagi, saya datang ke kampus dengan jadwal yang cukup padat. Pukul delapan hingga sepuluh saya harus mengajar, sementara pukul sembilan ada rapat jurusan yang membahas evaluasi perkuliahan. Saya tahu jadwal itu bertabrakan. Saya memutuskan masuk kelas terlebih dahulu, lalu meminta izin meninggalkan perkuliahan lebih awal agar dapat menghadiri rapat.

Sebelum masuk kelas, saya bertemu Pak Wafi di ruang dosen. Beliau telah menyandang gelar doktor dan termasuk dosen yang lebih senior daripada saya.

“Pak, bukannya sekarang ada jadwal mengajar?” tanya saya.

“Iya, Bu. Saya mau ke kantin dulu. Belum sempat makan dari rumah,” jawabnya.

“Lalu kelasnya bagaimana, Pak?”

“Anak-anak presentasi mandiri saja. Mereka sudah dewasa, pasti mengerti sendiri mana yang harus dilakukan.”

Saya tidak banyak menanggapi. Saya hanya berpamitan dan melanjutkan langkah menuju kelas.

Bagi orang lain, mungkin percakapan itu tidak berarti apa-apa. Barangkali Pak Wafi memang memiliki alasan yang tidak saya ketahui. Saya tidak ingin menghakimi seseorang hanya berdasarkan satu kejadian. Namun, pagi itu saya kembali memikirkan sesuatu yang sejak lama saya yakini: gelar akademik dan tanggung jawab pribadi adalah dua hal yang berbeda.

Di mata masyarakat, gelar doktor sering kali menjadi tanda bahwa seseorang telah mencapai tingkat pendidikan yang tinggi. Saya pun menghormati pencapaian itu. Akan tetapi, gelar tersebut tidak otomatis membuat setiap tindakannya menjadi benar. Begitu pula gelar magister yang saya miliki tidak menjadikan saya lebih bermoral daripada beliau.

Kami sama-sama manusia. Kami sama-sama memiliki kebutuhan, kepentingan, kelemahan, dan kewajiban. Yang membedakan kami bukan semata-mata gelar yang tertulis di belakang nama, melainkan apa yang kami pilih untuk dilakukan ketika berhadapan dengan tanggung jawab masing-masing.

Saya kemudian masuk kelas, membuka perkuliahan, dan mempersilakan mahasiswa mempresentasikan tugas mereka. Saya mendengarkan penjelasan mereka, memberikan pertanyaan, dan meluruskan beberapa hal yang belum tepat. Sebelum meninggalkan kelas, saya menyampaikan bahwa saya harus menghadiri rapat.

“Belajar itu untuk kalian sendiri,” kata saya. “Bukan hanya supaya mendapat nilai atau supaya dosen menganggap kalian rajin. Kalau kalian memilih tidak belajar, kalian sendiri yang akan menghadapi akibatnya. Tugas saya membimbing dan mengarahkan. Saya tidak bisa menjalani proses belajar itu untuk kalian.”

Saya percaya pada apa yang saya katakan. Saya tidak dapat memaksa setiap mahasiswa menjadi rajin, sebagaimana saya tidak dapat memastikan semua orang akan mengikuti nasihat saya. Saya hanya bisa memberikan kesempatan, menunjukkan arah, dan berusaha menjadi contoh.

Namun, ketika melewati kelas di sebelah, saya melihat mahasiswa Pak Wafi sudah keluar.

“Sudah selesai, Mas?” tanya saya.

“Sudah, Bu.”

“Ini kelasnya Pak Wafi, kan? Bukannya jadwalnya sampai pukul sepuluh?”

“Iya, Bu. Tadi kami presentasi mandiri. Setelah selesai, kami boleh pulang.”

Saya mengangguk, lalu melanjutkan perjalanan.

Entah mengapa, saya teringat kembali pada perkataan saya sendiri di kelas. Saya baru saja meminta mahasiswa memahami tanggung jawab mereka, sementara di ruangan lain, sebuah perkuliahan telah berakhir lebih awal setelah dosennya memilih tidak berada di sana. Saya tidak tahu apakah mahasiswa benar-benar memperoleh pemahaman yang seharusnya mereka dapatkan hari itu. Saya juga tidak tahu apakah mereka menganggap kejadian tersebut sebagai sesuatu yang biasa.

Barangkali justru di situlah persoalannya. Ketika sesuatu terjadi berulang kali, orang perlahan-lahan berhenti mempertanyakannya. Hal yang semula terasa janggal dapat berubah menjadi kebiasaan. Setelah menjadi kebiasaan, ia tidak lagi dianggap sebagai persoalan, melainkan sebagai bagian dari kehidupan yang harus diterima.

Saya sendiri tidak ingin merasa paling benar. Saya pun memiliki kekurangan dan terkadang harus memilih di antara beberapa kewajiban yang sama-sama penting. Namun, saya mulai menyadari bahwa seseorang dapat menghabiskan bertahun-tahun untuk mempelajari sesuatu tanpa selalu berhasil menerapkannya dalam kehidupan. Kita dapat mengetahui apa yang seharusnya dilakukan, tetapi pengetahuan itu tidak selalu menjadi tindakan.

Pukul sembilan lewat sedikit, saya tiba di ruang rapat. Beberapa rekan dosen sudah hadir, sementara yang lain belum datang. Kami menunggu sampai peserta yang diperlukan berkumpul, lalu memulai pembahasan tentang evaluasi perkuliahan dan persiapan akreditasi program studi.

Saya menyambut pembahasan itu dengan perasaan senang. Saya ingin jurusan kami berkembang. Saya ingin mahasiswa memperoleh pendidikan yang baik, dosen dapat bekerja dengan layak, dan program studi memiliki reputasi yang membanggakan. Bagi saya, memperoleh akreditasi yang lebih baik bukan sesuatu yang perlu dicurigai. Jika kualitas pembelajaran memang meningkat, pengelolaan semakin tertib, dan pelayanan akademik semakin baik, tentu pengakuan itu patut disyukuri.

Pada awalnya, saya mengira itulah yang sedang kami perjuangkan bersama.

Pembicaraan kemudian beralih pada hasil evaluasi mahasiswa. Ada beberapa mahasiswa yang nilainya belum memenuhi standar. Sebagian jarang hadir, sebagian belum mengerjakan tugas dengan baik, dan sebagian lainnya memperoleh hasil ujian yang tidak memuaskan.

Saya mengenal beberapa nama yang disebutkan. Zein dan Omar sering bermasalah dengan kehadiran. Bayu, Agus, dan Laila belum menunjukkan hasil ujian yang memadai. Saya tidak pernah menganggap mereka tidak memiliki masa depan hanya karena hasil belajarnya belum baik. Nilai bukan ukuran mutlak kemampuan manusia, dan kegagalan dalam satu mata kuliah bukan akhir dari segalanya.

Namun, saya juga percaya bahwa mahasiswa perlu diberi gambaran yang jujur tentang hasil belajarnya. Jika mereka belum memahami materi, mereka perlu mengetahui bagian mana yang harus diperbaiki. Jika mereka tidak memenuhi kewajiban, mereka perlu memahami konsekuensinya. Jika mereka masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri melalui tugas atau ujian susulan sesuai ketentuan, kesempatan itu patut diberikan.

Yang saya harapkan adalah perbaikan yang benar-benar membantu mereka belajar, bukan sekadar perubahan angka agar laporan terlihat lebih baik.

Ketika pembicaraan berlangsung, muncul usulan agar nilai mahasiswa yang rendah ditinjau dan diperbaiki. Pada awalnya, saya menganggap usulan itu sebagai kesempatan untuk memeriksa kembali penilaian. Barangkali ada kesalahan penginputan. Barangkali ada komponen yang belum tercatat. Saya sendiri tidak keberatan mengoreksi kesalahan jika memang ditemukan.

Akan tetapi, pembicaraan berikutnya membuat saya memahami bahwa yang diharapkan lebih dari sekadar pemeriksaan. Ada dorongan agar dosen memberikan kelonggaran nilai demi memperbaiki hasil akhir mahasiswa dan mendukung target jurusan.

Saya terdiam.

Saya memahami bahwa angka kelulusan dan hasil evaluasi dapat memengaruhi penilaian terhadap sebuah program studi. Saya juga memahami bahwa jurusan harus mempertanggungjawabkan kualitasnya. Namun, saya mulai bertanya-tanya: jika hasil yang ingin ditampilkan tidak sesuai dengan kemampuan yang sebenarnya, apa yang sedang kami perbaiki?

Apakah kami sedang memperbaiki pendidikan, atau hanya memperbaiki gambaran tentang pendidikan?

Pertanyaan itu terus berputar di kepala saya.

Saya membayangkan seorang mahasiswa yang telah belajar dengan sungguh-sungguh, mengikuti perkuliahan, mengerjakan tugas, dan memperoleh nilai sesuai kemampuannya. Di sisi lain, ada mahasiswa yang tidak menjalankan kewajibannya, tetapi akhirnya memperoleh nilai yang tidak mencerminkan proses belajarnya. Jika keduanya mendapatkan hasil yang sama tanpa dasar akademik yang dapat dipertanggungjawabkan, apa arti usaha yang selama ini kami minta dari mahasiswa?

Lebih jauh lagi, jika mahasiswa memperoleh nilai yang baik tanpa menguasai kompetensi yang seharusnya, apakah kami benar-benar membantu mereka? Atau kami hanya menunda pertemuan mereka dengan kenyataan?

Saya membayangkan mereka kelak lulus dan membawa ijazah yang membanggakan. Mereka akan memasuki dunia kerja, melanjutkan pendidikan, atau mengambil tanggung jawab yang lebih besar di masyarakat. Orang lain akan melihat gelar dan nilai mereka sebagai tanda bahwa mereka telah melewati suatu proses pendidikan.

Namun, orang lain tidak selalu dapat melihat apa yang sebenarnya terjadi selama proses itu berlangsung. Mereka tidak mengetahui siapa yang sungguh-sungguh belajar, siapa yang mendapatkan kesempatan memperbaiki diri, dan siapa yang memperoleh hasil yang tidak sebanding dengan kemampuannya.

Ijazah seharusnya menjadi bukti bahwa seseorang telah menjalani proses pendidikan. Tetapi jika prosesnya kehilangan kejujuran, seberapa jauh bukti itu dapat dipercaya?

Saya tidak sedang mengatakan bahwa setiap nilai tinggi merupakan kebohongan atau setiap kelulusan adalah hasil kecurangan. Saya tahu banyak dosen bekerja dengan sungguh-sungguh dan banyak mahasiswa berjuang untuk memperoleh hasil yang layak. Justru karena saya percaya bahwa pendidikan memiliki makna, saya merasa terganggu ketika angka mulai diperlakukan seolah-olah lebih penting daripada kenyataan yang seharusnya diwakilinya.

Beberapa hari kemudian, saya mendapat kesempatan berbicara dengan kaprodi. Beliau seorang profesor yang telah lama berkecimpung dalam dunia akademik. Saya menghormati pengalaman dan pengetahuannya. Saya membayangkan bahwa orang yang telah melewati perjalanan panjang dalam pendidikan tentu memiliki banyak hal yang bisa saya pelajari.

“Bu Adila, saya ingin kita bisa bekerja sama dengan baik,” katanya. “Kita sedang berusaha membawa jurusan ini menjadi lebih baik. Kalau ada persoalan, kita selesaikan bersama-sama.”

Saya mendengarkan.

“Mahasiswa juga perlu kita pikirkan. Jangan sampai banyak yang tertahan. Kita perlu menjaga agar jurusan ini tetap berkembang. Dosen-dosen juga punya tanggung jawab masing-masing. Kalau kita bisa saling membantu, semuanya akan lebih mudah.”

Saya mengerti bahwa beliau sedang membicarakan kepentingan yang lebih luas. Sebuah jurusan bukan hanya terdiri atas satu dosen dan satu kelas. Ada mahasiswa yang membayar biaya pendidikan, ada tenaga kependidikan yang bekerja, ada dosen yang menggantungkan penghidupannya pada pekerjaan, dan ada institusi yang harus menjaga keberlangsungannya.

Saya tidak menolak kenyataan itu. Saya juga tidak ingin jurusan kami kehilangan mahasiswa atau mengalami kesulitan. Saya ingin semua orang dapat bekerja dengan baik.

Namun, ketika saya kembali menyampaikan bahwa nilai harus tetap memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan, arah pembicaraan mulai berubah.

“Bu, kita ini bekerja bersama. Ibu juga harus memikirkan ke depannya. Jangan sampai karena persoalan seperti ini, hubungan dengan rekan-rekan menjadi tidak baik.”

Saya diam.

“Kalau nanti Ibu berbeda sendiri, bagaimana? Kalau Ibu tidak mendapat dukungan dari yang lain, apakah Ibu nyaman bekerja di sini? Kita harus realistis. Jangan hanya memikirkan satu sisi. Pikirkan juga mahasiswa, dosen, dan keberlangsungan jurusan.”

Kata realistis itu terus terngiang dalam pikiran saya setelah pertemuan selesai.

Selama ini, saya memahami sikap realistis sebagai kemampuan melihat keadaan sebagaimana adanya, mempertimbangkan keterbatasan, dan mencari jalan keluar yang dapat dijalankan. Saya tidak pernah menganggap bahwa setiap persoalan harus diselesaikan dengan sikap keras atau bahwa semua kompromi pasti salah.

Namun, hari itu saya mulai melihat bagaimana kata realistis dapat memiliki arti yang berbeda. Ia bisa menjadi ajakan untuk memahami keadaan, tetapi juga bisa menjadi alasan untuk berhenti mempertanyakan sesuatu. Ia bisa membantu seseorang mencari solusi, tetapi bisa pula digunakan untuk membuat seseorang merasa bahwa mempertahankan prinsip adalah tindakan yang tidak masuk akal.

Saya mulai bertanya kepada diri sendiri: apakah saya memang terlalu polos karena menginginkan nilai yang sesuai dengan hasil belajar? Apakah saya belum memahami kenyataan dunia kerja? Atau justru saya sedang diminta menerima sesuatu yang keliru hanya karena terlalu banyak orang telah terbiasa melakukannya?

Saya tidak menemukan jawaban yang mudah.

Mungkin kaprodi benar bahwa keputusan saya dapat memengaruhi hubungan dengan rekan kerja. Mungkin saya memang harus mempertimbangkan masa depan pekerjaan saya. Saya belum memiliki jabatan tinggi. Saya masih membangun karier dan masih membutuhkan penghasilan untuk menjalani kehidupan. Saya juga memiliki keluarga yang tidak seharusnya menanggung akibat dari setiap persoalan yang terjadi di tempat kerja saya.

Saya teringat perjalanan pendidikan saya sendiri. Semua tahun yang telah saya lewati, dukungan orang tua, waktu yang saya habiskan untuk belajar, dan harapan yang saya bawa ketika memilih menjadi pendidik. Saya ingin menjaga semua itu. Saya ingin tetap bekerja, membantu keluarga, dan menjalani kehidupan dengan tenang.

Saya mulai memahami mengapa seseorang dapat mengalah meskipun tahu ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keyakinannya. Tidak selalu karena ia tidak mengetahui mana yang benar. Terkadang ia mengetahui persoalannya, tetapi takut kehilangan sesuatu yang telah lama ia perjuangkan. Terkadang ia berharap bahwa dengan mengikuti keadaan, masalah akan selesai tanpa membawa akibat yang lebih besar.

Saya pun mulai membayangkan diri saya berada di posisi orang-orang yang lebih senior. Barangkali sebagian dari mereka dahulu pernah memiliki kegelisahan seperti yang saya rasakan. Barangkali mereka pernah berusaha mempertahankan prinsip, lalu perlahan-lahan belajar menerima berbagai keadaan. Saya tidak tahu. Saya tidak berhak mengarang perjalanan hidup mereka.

Namun, saya tahu satu hal: sesuatu yang terus dibiarkan dapat menjadi kebiasaan, dan kebiasaan yang berlangsung lama dapat berubah menjadi sesuatu yang dianggap wajar. Pada saat itulah orang mungkin tidak lagi merasa sedang mengambil keputusan moral. Mereka hanya merasa sedang melakukan apa yang biasa dilakukan agar semuanya tetap berjalan.

Saya mulai takut bahwa suatu hari nanti saya pun akan sampai pada titik itu. Saya akan mendengar usulan yang sama, melihat persoalan yang sama, lalu mengangguk tanpa lagi merasa perlu bertanya. Bukan karena persoalannya telah menjadi benar, melainkan karena saya telah terlalu terbiasa untuk merasa terganggu.

Pada akhirnya, saya memilih mengikuti keputusan yang berlaku di jurusan. Saya berhenti memperpanjang keberatan dan membiarkan penyesuaian nilai yang saya ragukan itu berjalan. Saya tidak bisa mengatakan bahwa keputusan tersebut sepenuhnya lahir dari keyakinan saya. Ada ketakutan, kebutuhan, dan pertimbangan tentang keluarga yang ikut memengaruhinya.

Saya mengatakan kepada diri sendiri bahwa saya sedang berusaha menjaga kehidupan tetap berjalan. Saya tidak ingin kehilangan pekerjaan. Saya tidak ingin hubungan dengan rekan kerja menjadi buruk. Saya ingin keluarga saya tetap aman dan damai.

Semua alasan itu terasa masuk akal. Bahkan, ketika saya mengucapkannya dalam hati, saya dapat memahami mengapa saya memilih jalan tersebut.

Tetapi memahami alasan di balik sebuah keputusan tidak selalu membuat keputusan itu benar.

Saya tetap datang ke kampus. Saya tetap menyapa rekan kerja. Saya tetap membuka kelas, menjelaskan materi, memeriksa tugas, dan mengingatkan mahasiswa agar bertanggung jawab atas pilihan mereka. Dari luar, tidak banyak yang berubah. Saya masih dosen yang sama, dengan pekerjaan dan rutinitas yang sama.

Hanya saja, saya mulai merasa ada jarak antara apa yang saya ajarkan dan apa yang saya biarkan terjadi.

Ketika saya berbicara tentang kejujuran, saya teringat keputusan yang tidak lagi saya pertanyakan. Ketika saya menjelaskan bahwa nilai harus diperoleh melalui usaha, saya teringat bagaimana nilai dapat kehilangan maknanya ketika diperlakukan sebagai angka yang harus dibuat sesuai harapan. Ketika saya meminta mahasiswa bertanggung jawab, saya teringat bahwa saya sendiri pernah memilih untuk tidak memperpanjang keberatan demi menjaga ketenangan hidup.

Saya tidak berhenti percaya bahwa pendidikan itu penting. Saya juga tidak tiba-tiba menganggap semua pekerjaan saya sia-sia. Masih ada mahasiswa yang sungguh-sungguh belajar, masih ada dosen yang menjalankan kewajibannya dengan baik, dan masih ada orang-orang yang berusaha memperbaiki keadaan tanpa mengorbankan integritas.

Namun, saya mulai memahami bahwa kerusakan pendidikan tidak selalu datang dalam bentuk kejadian besar yang mudah dikenali. Ia bisa muncul ketika tanggung jawab dianggap sebagai sesuatu yang dapat ditunda tanpa alasan yang jelas. Ia bisa tumbuh ketika nilai lebih dipentingkan daripada kemampuan, ketika laporan lebih diperhatikan daripada kenyataan, atau ketika orang memilih diam karena takut kehilangan kedudukan dan kenyamanan.

Tidak semua yang tampak baik benar-benar menunjukkan keadaan yang baik. Sebuah laporan bisa tersusun rapi, angka kelulusan bisa terlihat memuaskan, dan sebuah program studi bisa memperoleh pengakuan. Semua itu mungkin memiliki nilai penting. Tetapi jika di baliknya ada proses yang tidak jujur, keberhasilan tersebut menyisakan pertanyaan yang tidak bisa dijawab hanya dengan sebuah dokumen.

Saya mulai berpikir bahwa pendidikan dapat kehilangan maknanya bukan karena manusia berhenti belajar, melainkan karena tujuan belajar itu sendiri perlahan-lahan digantikan oleh hal lain. Kita datang untuk mendidik, tetapi sibuk memastikan hasil terlihat baik. Kita meminta mahasiswa mengembangkan kemampuan, tetapi merasa puas ketika angka memenuhi harapan. Kita mengajarkan tanggung jawab, tetapi mencari alasan untuk menghindarinya ketika tanggung jawab itu mulai terasa berat.

Yang lebih menyakitkan, semua itu tidak selalu dilakukan oleh orang yang menganggap dirinya jahat. Bisa jadi mereka merasa sedang menyelamatkan jurusan, membantu mahasiswa, menjaga pekerjaan, atau mempertahankan kehidupan yang telah dibangun bertahun-tahun. Saya sendiri menggunakan alasan yang tidak jauh berbeda.

Saya tidak bisa berdiri di hadapan mereka dan mengatakan bahwa hanya merekalah yang bermasalah. Saya telah mengambil bagian dalam keadaan yang saya pertanyakan. Saya mungkin tidak memulainya, tetapi ketika saya memilih membiarkannya berjalan, saya tidak bisa berpura-pura bahwa keputusan saya sama sekali tidak memiliki arti.

Di situlah saya mulai memahami bahwa menjadi pendidik tidak cukup hanya dengan menguasai ilmu, memiliki gelar, atau berdiri di depan kelas. Pendidikan juga menuntut keberanian untuk mempertanggungjawabkan apa yang kita lakukan, terutama ketika keputusan yang benar tidak selalu memberikan hasil yang nyaman bagi diri sendiri.

Saya belum menjadi pendidik yang sempurna. Saya masih manusia yang membutuhkan pekerjaan, menginginkan ketenangan, dan takut kehilangan hal-hal yang berarti dalam hidup saya. Saya tidak ingin menyembunyikan kenyataan itu. Namun, saya juga tidak ingin menjadikan kelemahan saya sebagai alasan untuk menganggap semua pilihan sama benarnya.

Saya masih ingin mempercayai pendidikan. Saya masih ingin mahasiswa saya tumbuh menjadi manusia yang lebih baik daripada sebelumnya. Saya masih ingin jurusan tempat saya bekerja berkembang dan memperoleh pengakuan yang layak. Tetapi sekarang saya tahu bahwa semua harapan itu tidak cukup jika saya hanya menginginkan hasil yang baik tanpa memikirkan cara mencapainya.

Sebab, jika pendidikan hanya dinilai dari gelar yang diperoleh, angka kelulusan yang dicapai, dan pengakuan yang diberikan oleh orang lain, lalu di mana tempat bagi proses yang jujur? Jika seorang pendidik hanya dinilai dari jabatan dan pencapaiannya, lalu bagaimana kita menilai tanggung jawab yang tidak tercatat dalam laporan mana pun?

Saya tidak memiliki jawaban yang dapat menyelesaikan semua persoalan itu. Saya hanya tahu bahwa saya pernah berada di antara keyakinan dan ketakutan, antara apa yang saya anggap benar dan apa yang saya pilih untuk dilakukan. Saya memilih ketenangan bagi keluarga saya, tetapi pilihan itu tidak serta-merta menghilangkan pertanyaan yang tertinggal di dalam diri saya.

Mungkin orang lain akan mengatakan bahwa saya harus lebih realistis. Mungkin mereka akan mengatakan bahwa kehidupan tidak sesederhana membedakan benar dan salah. Saya pun mengerti bahwa kenyataan sering kali lebih rumit daripada prinsip yang kita ucapkan.

Namun, saya mulai bertanya-tanya, sejak kapan menjadi realistis berarti membiasakan diri dengan sesuatu yang kita tahu perlu dipertanyakan? Sejak kapan menjaga kedamaian berarti tidak lagi berani membicarakan hal yang keliru? Dan sejak kapan keberhasilan pendidikan lebih ditentukan oleh bagaimana ia terlihat di mata manusia daripada oleh apa yang benar-benar diberikan kepada manusia?

Setiap pagi, saya masih datang ke kampus. Saya masih mengajar seperti biasa. Mahasiswa masih duduk di hadapan saya, menunggu materi disampaikan. Saya masih mengatakan bahwa kejujuran dan tanggung jawab adalah hal penting yang harus mereka bawa ke mana pun mereka pergi.

Tetapi sekarang, sebelum mengucapkan semua itu, saya terkadang teringat pada diri saya sendiri.

Saya teringat bahwa pendidikan yang saya perjuangkan selama bertahun-tahun bukan hanya tentang gelar yang berhasil saya peroleh. Saya teringat orang tua yang mendukung perjalanan saya, dan alasan saya memilih menjadi pendidik. Saya juga teringat keputusan yang pernah saya ambil ketika prinsip saya berbenturan dengan kepentingan hidup.

Saya tidak tahu apakah suatu hari nanti saya akan memiliki keberanian yang lebih besar atau justru semakin terbiasa dengan keadaan. Saya tidak ingin menganggap diri saya pasti akan selalu benar. Namun, saya berharap kegelisahan ini tidak sepenuhnya hilang, sebab mungkin justru kegelisahan itulah yang mengingatkan saya bahwa masih ada sesuatu yang perlu saya pertanggungjawabkan.

Saya pernah berpikir bahwa pendidikan akan membuat manusia berbeda: lebih berpengetahuan, lebih bijaksana, dan lebih bertanggung jawab. Sekarang saya memahami bahwa pendidikan hanya membuka jalan. Ia tidak menjamin seseorang akan memilih jalan itu dengan sungguh-sungguh.

Gelar bisa bertambah. Jabatan bisa naik. Sebuah institusi bisa memperoleh pengakuan yang lebih tinggi. Nama kita bisa semakin dihormati oleh masyarakat. Namun, semua itu tidak otomatis menjawab pertanyaan tentang siapa diri kita ketika tidak ada orang yang melihat, ketika tidak ada laporan yang harus diperiksa, dan ketika tidak ada penghargaan yang menunggu di ujung pekerjaan.

Saya masih seorang dosen. Saya masih ingin menjadi pendidik yang baik. Namun, saya tidak lagi berani mengukur keberhasilan diri hanya dari apa yang telah saya capai atau dari bagaimana orang lain memandang saya.

Sebab, mungkin sisi paling gelap dari pendidikan bukan hanya ketika seseorang mengabaikan tanggung jawabnya, atau ketika sebuah nilai dibuat lebih baik daripada kenyataannya. Mungkin sisi paling gelap itu muncul ketika kita mengetahui bahwa ada sesuatu yang telah kehilangan makna, tetapi tetap membiarkannya berjalan karena kita merasa terlalu banyak yang akan dipertaruhkan jika berusaha menghentikannya.

Dan saya, yang dahulu begitu percaya bahwa pendidikan harus membentuk manusia menjadi lebih baik, kini harus menghadapi pertanyaan yang paling sulit justru dari diri sendiri.

Jika saya masih mengajarkan kejujuran kepada mahasiswa, tetapi memilih diam ketika kejujuran itu menuntut sesuatu dari saya, apakah saya masih sedang mendidik mereka, atau hanya sedang mengajarkan sesuatu yang belum sanggup saya pertahankan?

Saya belum menemukan jawaban yang membuat hati saya tenang.

Besok, saya akan kembali ke kelas. Saya akan membuka buku, menjelaskan materi, dan menyapa mahasiswa seperti biasa. Kehidupan akan terus berjalan, sebagaimana pekerjaan dan berbagai urusan di kampus akan terus berjalan.

Namun, saya berharap suatu hari nanti saya tidak hanya mampu mengajarkan apa yang benar, tetapi juga berani menghadapi harga yang harus dibayar ketika memilih untuk melakukannya.

Sebab, saya akhirnya mengerti bahwa pendidikan tidak kehilangan maknanya hanya ketika orang berhenti belajar. Pendidikan juga kehilangan maknanya ketika mereka yang telah belajar begitu lama mulai merasa bahwa mengetahui yang benar sudah cukup, meskipun mereka tidak lagi berusaha menjalaninya.

 


Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke: