Bab 1 dari 10
Belum tersedia dalam bahasa yang diminta -- menampilkan versi asli.
Seumur hidup, aku tidak pernah takut pada hantu. Bukan karena aku pemberani. Melainkan karena setiap kali melihatku, merekalah yang lebih dulu ketakutan. Aku baru berusia enam tahun saat pertama kali menyadarinya. Malam itu listrik padam. Rumah kami tenggelam dalam gelap. Ibu sedang menyalakan lilin, sementara aku duduk sendirian di ruang tamu. Di sudut ruangan, seorang perempuan berambut panjang berdiri membelakangiku. Gaunnya putih lusuh. Rambut hitamnya menjuntai hingga menyentuh lantai. Aku tahu dia bukan manusia. Meski masih kecil, entah bagaimana aku bisa melihat mereka. "Ibu," panggilku polos. "Ada tante." Ibu menoleh. "Mana?" Aku menunjuk perempuan itu. Namun sebelum ibu sempat melihat ke arah yang kutunjuk, perempuan itu perlahan memutar kepalanya. Wajahnya pucat. Matanya kosong. Tatapannya bertemu denganku. Beberapa detik kami saling diam. Lalu... Perempuan itu menjerit. Jeritannya begitu melengking hingga kaca jendela bergetar. Ia berlari secepat mungkin menembus dinding rumah. Menghilang begitu saja. Aku hanya berkedip bingung. "Ibunya pergi," kataku polos. Ibu menghela napas panjang. "Kamu terlalu banyak berimajinasi." Saat itu aku percaya ibu benar. Namun kejadian yang sama terus berulang. Di sekolah. Di jalan. Di rumah sakit. Di mana pun aku melihat sosok yang tidak kasatmata, mereka selalu bereaksi sama. Mereka menatapku. Wajah mereka berubah pucat. Lalu kabur. Seolah aku adalah sesuatu yang jauh lebih menyeramkan daripada mereka. --- Bertahun-tahun berlalu. Kini usiaku dua puluh tiga tahun. Aku tinggal sendiri di sebuah rumah kontrakan kecil di pinggir kota. Kemampuan melihat hantu masih belum hilang. Aku sudah terbiasa mengabaikan mereka. Karena toh mereka juga tidak pernah menggangguku. Justru mereka menghindariku. Malam ini hujan turun deras. Aku baru pulang bekerja. Tubuhku lelah. Setelah mandi dan makan seadanya, aku langsung merebahkan diri di atas kasur. Mataku mulai terasa berat. Namun... Tok. Tok. Tok. Ada suara ketukan dari balik jendela. Aku membuka mata. Tirai bergerak pelan tertiup angin. Ketukan itu terdengar lagi. Tok. Tok. Tok. Dengan malas aku bangkit. Saat tirai kusibakkan, tidak ada siapa pun. Hanya hujan yang membasahi halaman. Aku hendak menutup kembali jendela ketika tiba-tiba sosok anak kecil muncul tepat di balik kaca. Wajahnya penuh luka. Matanya hitam seluruhnya. Ia menatapku tanpa berkedip. Aku menghela napas. "Kalau mau menakut-nakuti orang lain saja." Anak itu tetap diam. Beberapa detik kemudian... Matanya membelalak. Tubuhnya gemetar hebat. Ia mundur perlahan. Lalu berbalik dan berlari secepat mungkin ke tengah hujan. Dalam hitungan detik, sosoknya lenyap. Aku menggeleng pelan. "Aneh." Kupikir malam itu akan berlalu seperti biasa. Aku mematikan lampu. Memejamkan mata. Dan tertidur. --- Entah sudah berapa lama aku tidur ketika tiba-tiba mendengar suara bisikan. "...bangun..." Aku mengernyit. "...jangan bangun..." Suara itu terdengar sangat dekat. Seolah seseorang sedang berbisik tepat di telingaku. "...tetaplah tidur..." Aku ingin membuka mata. Namun seluruh tubuhku terasa sangat berat. Gelap. Sunyi. Lalu... Sebuah tawa pelan bergema dari dalam kegelapan. Bukan di luar kamarku. Bukan pula di dalam mimpiku. Melainkan... Dari dalam kepalaku sendiri. --- Keesokan paginya, aku terbangun dengan tubuh yang sangat lemas. Ponselku bergetar tanpa henti. Puluhan notifikasi berita memenuhi layar. "Seorang pria ditemukan tewas secara mengenaskan di sebuah gang sempit dini hari tadi." Aku hanya melirik sekilas. Lalu bersiap berangkat kerja. Aku sama sekali tidak tahu. Bahwa malam tadi... Seseorang telah merekam sesosok bayangan hitam keluar dari gang tempat pria itu ditemukan tewas. Dan bayangan itu... Memiliki wajah yang sama persis denganku.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya