Bab 2 dari 4
Belum tersedia dalam bahasa yang diminta -- menampilkan versi asli.
"Aku pulang." Zaluya masuk ke dalam apartemen yang tidak besar, namun juga tidak kecil. Cukup untuk emapt orang di dalamnya.
Apartemen yang mereka bayar dengan sekuat tenaga. Zaluya melangkahkan kakinya masuk ke ruang tengah.
"Mandi dulu, Zalu," ucap wanita yang berumur sekitar empat puluh tahun itu. Ibu Zaluya, Aninta.
Zaluya mengangguk lalu masuk ke dalam kamarnya. Warna kamarnya berbagai macam, karena kamarnya bersatu dengan kamar adik laki-lakinya.
Zaluya duduk sejenak di kasurnya. Dia menghela napasnya, mencari pekerjaan susah sekali nampaknya. Kakinya pegal karena berkeliling kota Firenze seharian.
"Dari mana, Zalu?" tanya Kaluza. Adik laki-laki Zaluya yang hanya berbeda lima menit saja. Mereka tidak hanya saudara, namun mereka kembar.
Mempunyai wajah yang sangat mirip, seperti jiplakan fotokopi. Yang membedakan hanya gender saja.
"Cari kerja di pusat kota," jawab Zaluya. Dia melepaskan jam tangannya.
"Dapat?"
Zaluya menggeleng lesu, namun malah disambut tawa oleh Kaluza.
"Diam atau aku lempar kaus kaki ini!" seru Zaluya.
Kaluza yang asalnya berbaring di kasurnya seketika terduduk. "Sudahlah, Kak. Kau mencari laki-laki saja untuk menikah, soal uang ada aku," ucap Kaluza dengan tertawa kecil.
"Laki-laki? Kenapa tidak kau saja cari perempuan?" balas Zaluya tersenyum miring.
"Sudah, nanti juga aku akan kencan." Kaluza bersidekap dada tersenyum kemenangan.
Zaluya berdecih. Kehadiran Kaluza di kamar kecil ini berhasil membuat Zaluya kesal setiap harinya karena kelakuan kembarannya itu.
"Zalu, sudah pulang, Nak?" Himan. Ayah kedua anak itu membuka pintu dan melihat anak gadisnya.
Melihat ayahnya dia cemberut, lalu menghampirinya dengan sedikit hentakan di kakinya. "Ayah, lihat dia! Kalu ngejek aku!" adunya. Tangan kanannya memeluk pinggang ayahnya dan tangan kirinya dia gunakan untuk menunjuk Kaluza yang memutar bola matanya malas.
Kepalanya menyender di dada ayahnya. Meskipun sudah berkepala dua, dia tidak segan untuk bermanja kepada ayahnya.
Tangan Himan terangkat mengelus rambut Zaluya. Matanya menajam menatap putranya. "Kau mengganggu Kakak lagi Kalu? Awas saja kau mendapat pukulan dari Ayah," kata Himan.
Pandangan yang tadinya tajam, berubah lembut menatap anak gadisnya. "Ke mana saja hari ini?" tanyanya.
Zaluya mendongak, menatap ayahnya. "Aku cari kerja di pusat kota, tapi ya begitu, belum ada apa-apa," jawabnya.
"Sudah aku bilang kau menikah saja," balas Kaluza.
Zaluya menghentakkan kakinya, menatap ayahnya untuk meminta pertolongan. "Ayah..."
"Kalu! Kau mau mendapat pukulan dari Ayah, hm? Kakakmu ini baru pulang, biarkan dia beristirahat."
Zaluya tersenyum kemenangan. Tentunya dia putri kesayangan, ayahnya selalu lemah lembut kepadanya, seolah dia adalah berlian berharga yang harus dijaga agar tidak pecah.
"Yasudah, tidak apa-apa, Nak. Kau sekarang mandi, lalu kita makan malam bersama, ya." Himan mengusap punggung putrinya.
Zaluya melepaskan pelukannya lalu mengangguk. Sebelum berlalu pergi dia memberikan senyum miring kepada Kaluza yang tertawa. Sementara itu, Himan menggelengkan kepalanya melihat interaksi dua kembar itu.
"Kau juga, sebelum kencan makanlah agar tidak mengeluarkan uang terlalu banyak," ucap Himan kepada Kaluza dengan senyum meledek, lalu segera pergi.
"Ayah itu perhatian atau meledekku?" gumamnya.
•••
"Makan malam sama apa, Ma?" tanya Zaluya. Dia duduk bergabung dengan keluarganya yang sudah berkumpul untuk makan malam.
"Lihat di meja ini, Sayang..." balas Aninta.
Zaluya menatap makanan yang berada di meja. Wangi tomat tercium, diiringi dengan penglihatannya yang menajam melihat pasta al pamodoro, pasta yang dibumbui saus tomat. Disamping itu ada sebuah mangkuk yang berisi sup kental, dengan sayuran.
Itu adalah ribollita. Zaluya meneguk ludahnya kasar melihat hidangan favoritnya itu, kuahnya yang kental dan hangat, lalu tekstur renyah daru kacang cannellini serta sayuran dan cavolo nero terlihat sangat menggoda.
"Em senyumnya nih anak Ayah," goda Himan.
Zaluya menyengir. "Favorit aku ini, masa nggak senyum," balasnya. Tangannya segera bergerak mengambil piring dan berbagai macam hidangan itu.
"Terima kasih, Mama," ucapnya.
Kaluza bergerak memberi Zaluya segelas air mineral. "Terima kasih Adikku," kata Zaluya dengan senyum bangga nya.
Ayahnya dan Kaluza selalu melayaninya setelah mereka melayani mamanya. Kedua laki-laki itu seolah tidak membiarkan dua perempuan itu bekerja jika di hadapan mereka.
"Ayah," panggil Zaluya.
"Makanlah dahulu," tegur Kaluza.
Zaluya menipiskan bibirnya mendengar itu. "Kenapa Sayang?" tanya Himan.
Zaluya tersenyum meledek kepada Kaluza. "Kita tidak akan berkunjung ke Indonesia?" tanyanya seketika dengan wajah serius.
Ayahnya dan ibunya kompak menghentikan gerakannya, dua pasangan itu saling menatap satu sama lain. "Kenapa tiba-tiba Sayang?" tanya Aninta.
Zaluya maupun Kaluza sudah tidak asing dengan reaksi orang tua mereka terkait obrolan ini. "Aku hanya bertanya saja, kenapa kita tidak pernah ke sana?" kata Zaluya.
Kaluza berusaha memberikan kode kepada Zaluya untuk berhenti karena ekspresi orang tua mereka sudah berbeda. "Sudah makan saja dulu, aku mau berkencan nanti aku telat. Bagaimana kalau aku ditinggalkan lagi?" canda Kaluza.
"Ya paling kau jadi single melarat lagi," balas Zaluya.
"Anak-anak lanjut makan dengan tenang, oke?" sela Himan.
Dua kembar itu kompak terdiam, jika ayahnya sudah memanggil dengan kata anak-anak maka mereka jangan bermain-main lagi. Himan adalah ayah yang sungguh penyanyang, namun bisa juga menjadi sangat tegas dan dingin.
...
Zaluya duduk di hadapan jendela. Matanya menatap hamparan gedung-gedung, lampu yang menyala di setiap gedung dan rumah juga apartemen lain. Tangannya yang memegang kuas mulai bergerak menorehkan cat di kanvas yang masih putih bersih itu.
Matanya menatap lekat-lekat bukit Tuscany yang mengelilingi kota Firenze di seberang sana. Dia berdecak ketika lagi-lagi tangannya tidak menghasilkan gambar yang bagus.
Setiap malam, setiap siang, dan pagi dia selalu berusaha menggambar apa pun yang indah. Kali ini dia ingin mencoba menggambarkan bagaimana indahnya perbukitan itu dengan cahaya malam juga lampu hangat dari perkotaan dan kawasan Novoli itu.
Sayangnya, setiap malam juga dia gagal menciptakan keindahan itu di atas kanvas.
"Bagaimana ini?" monolognya.
Ketukan dari pintu membuat dia menengok. "Masuk saja," jawabnya.
Mamanya datang dengan cangkir yang terdapat asap menguap itu. "Tidak capek?" tanya Aninta.
Zaluya meregangkan ototnya, helaan napasnya terdengar. "Apa itu?" tanyanya.
Aninta tersenyum simpul sembari menghampiri putrinya itu. "Kesukaanmu," jawabnya.
Zalua tersenyum sumringah, dia menerima cangkir itu dengan senang hati. Asap menguap, minuman berwarna hitam dengan terkstur kental hampir seperti puding. Wangi khas cokelat hitam menyeruak di hidung Zaluya.
Zaluya menangkup gelas itu dengan kedua tangannya, hangat terasa di telapaknya. Itulah minuman favoritnya, Cioccolata Calda. Minuman Hot Cokelat ala Italia.
"Terima kasih, Mama cantik," ucapnya.
Anitnta mengelus kepala putrinya. "Sudah malam, sebaiknya tidur. Besok kembali melukis," ucap Aninta.
"Iya, aku akan tidur setelah meminum ini," jawab Zaluya dengan anggukan dan senyum lebar.
"Pelan-pelan saja, jangan terburu-buru, keluargamu di sini."
Zaluya hanya mampu tersenyum mendengar itu, perkataan yang selalu dia dengar setiap harinya. Semua berkata pelan-pelan saja. Aninta keluar setelah mengatakan itu.
Zaluya kembali menatap ke luar jendela. Suasana masih sama cantiknya seperti tadi. Kali ini leibih ringan karena di temani dengan secangkir minuman kesayangannya, juga ditambali dengan perkataan mamanya.
Zaluya tersenyum lega setelah menyesap minuman cokelat hangat itu. Umur dua puluh dua ini terasa ringan jika keluarganya tetap bersamanya.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya