Kembalinya Kaisar Langit

Bab 2 dari 11

Bab 1 Bab 3
100%

Bab 2: Keluarga Mo

Belum tersedia dalam bahasa yang diminta -- menampilkan versi asli.

Beberapa jam kemudian... 


Di dalam kamar yang sempit dan dingin, Mo Xuan merapikan selimut kusamnya dengan tenang.


Suara engsel pintu yang berderit memecah keheningan pagi. 


Dari balik celah pintu kayu, wajah seorang gadis menyembul. 


Ia memiliki mata jernih yang lentik dengan sepasang anting perak menggantung indah di telinganya, Mo Yue, adik perempuannya.


"K-Kakak..." panggilnya dengan suara jernih, namun tersendat oleh keraguan.


Mo Xuan menoleh perlahan, tatapannya begitu tenang tanpa emosi. "Mo Yue? Ada apa?"


Mo Yue melangkah masuk dengan ragu-ragu, jemarinya saling bertautan erat. "Ujian akademi klan tinggal beberapa hari lagi... Apa Kakak benar-benar akan ikut?"


Mendengar pertanyaan itu, Mo Xuan teringat momen serupa di kehidupan masa lalunya. 


Mo Yue sebenarnya menyayanginya sebagai seorang kakak, tetapi gadis yang dibesarkan di lingkungan yang memuja kekuatan ini menyimpan ketakutan tersendiri. 


Ia takut jika Mo Xuan ternyata memiliki bakat yang lebih baik, perhatian kedua orang tua mereka akan terbagi.


Di dalam Klan Ran, nilai seorang anak diukur sepenuhnya dari seberapa besar keuntungan yang bisa dibawa oleh bakat kultivasi mereka.


Mo Xuan menyunggingkan senyuman tipis, mengunci manik mata adiknya dalam tatapan yang sulit diartikan. "Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Fokuslah pada dirimu sendiri, karena kau adalah harapan masa depan keluarga ini."


Tanpa menunggu balasan, Mo Xuan melangkah santai melewati adiknya begitu saja. Meninggalkan Mo Yue yang terpaku di tempat, merasa kebingungan oleh dinginnya aura dan kedalaman emosi yang terpancar dari sang kakak.


Matahari perlahan naik tepat di atas kepala, menyinari halaman utama kediaman Klan Ran yang tertutup salju tipis. 


Mo Xuan saat ini tengah menyapu halaman dengan ritme yang stabil, sementara bisik-bisik tajam dari para pelayan mulai menusuk telinganya.


"Lihat Tuan Muda Pertama itu. Kenapa dia tidak pernah terlihat berlatih dengan serius?" bisik seorang pelayan.


"Kudengar dia lemah dan tidak berguna, sangat jauh berbeda dengan Nona Muda Mo Yue. Wajahnya juga biasa saja, dan dia bahkan tidak pernah diizinkan makan satu meja dengan Tuan dan Nyonya besar."


"Benar. Jika bakatnya nanti di bawah rata-rata saat ujian, dia pasti akan langsung dibuang dan diusir dari keluarga."


Mo Xuan mengabaikan semua cibiran itu. Detak jantungnya sama sekali tidak terpengaruh oleh kata-kata hinaan tersebut.


Ia memang sengaja menyembunyikan seluruh kecerdasan, pemahaman taktik, seni, maupun pengetahuannya yang luas. 


Di dunia kultivasi yang kejam ini, menonjol terlalu cepat tanpa pelindung yang kuat sama sekali bukan anugerah, melainkan tiket cepat menuju kematian.


Di kehidupan sebelumnya, bahkan Mo Yue sempat hampir tewas diracun oleh pihak musuh yang iri atas bakatnya, seolah takdir terus melemparkan ujian mematikan. 


Mo Xuan bertekad untuk menyembunyikan kekuatannya rapat-rapat hingga waktu yang tepat tiba.


"Ibu, terima kasih untuk hadiah pedang giok ini!"


Suara ceria Mo Yue membuyarkan lamunannya. Gadis itu berjalan berdampingan dengan kedua orang tua mereka, Mo Fei dan Ning Xue yang baru saja kembali dari pasar kota.


Saat melewati halaman tempat Mo Xuan menyapu, ketiganya melangkah begitu saja tanpa melirik sedikit pun, memperlakukan Mo Xuan seolah-olah ia hanyalah udara kosong.


Mo Yue sempat menoleh sekilas, menyisakan tatapan bersalah di balik matanya.


"Kau lihat kan? Dia memang sama sekali tidak dianggap di keluarga ini," cibir seorang pelayan dari balik pilar batu.


"Wajar saja. Mendiang ibunya dulu hanyalah pelayan rendahan yang mencoba menggoda Tuan Besar agar diangkat menjadi istri kedua sebelum Nyonya Besar hamil. Sialnya, wanita itu mati setelah melahirkan anak pembawa sial tersebut."


Mo Xuan menatap ujung sapunya yang menyentuh tanah bersalju. Di dalam hatinya, ia tersenyum dingin. "Barisan kata-kata kosong tanpa makna seperti ini tidak akan pernah bisa menggores hatiku lagi."


Beberapa hari kemudian, langit di atas wilayah Klan Ran membentang cerah tanpa butiran salju. Hari penghakiman yang ditunggu-tunggu oleh seluruh warga klan akhirnya tiba.


Mo Xuan berjalan di barisan belakang, mengiringi langkah Mo Yue menuju Paviliun Utama Klan Ran. 


Sepanjang perjalanan, atmosfer desa terasa membara oleh antusiasme para penduduk yang ingin menyaksikan kebangkitan generasi baru.


"Lihat, itu Mo bersaudara! Aku penasaran seberapa jauh jurang perbedaan bakat di antara mereka."


Mo Xuan tersenyum getir di dalam hati. Ia sangat tahu, begitu hasil ujian keluar gelombang cemoohan yang jauh lebih kejam akan menghantamnya.


Di halaman paviliun yang luas, puluhan murid baru berdiri berbaris dengan wajah tegang. 


Di hadapan mereka, Kepala Klan Ran berdiri berwibawa di samping sebuah monolit batu raksasa berwarna hitam legam, didampingi oleh jajaran tetua klan yang menatap tajam penuh tuntutan.


"Wahai para penerus masa depan Klan Ran! Hari ini, kalian akan membuktikan jalan takdir kalian di dunia kultivasi!" seru Kepala Klan dengan suara menggelegar. "Letakkan telapak tangan kalian di atas batu monolit ini. Biarkan dunia melihat tingkat bakat kalian yang sebenarnya: Tingkat A, B, C, atau D!"


Ujian resmi pun dimulai. Satu per satu pemuda maju dengan jantung berdegup kencang. 


Sebagian besar dari mereka hanya mampu memunculkan cahaya redup yang menandakan Bakat Tingkat C, memicu helaan napas kecewa dari para tetua yang menatap dengan pandangan sinis.


"Ran Lin Tian, maju!" panggil pengawas ujian.


Seorang pemuda kurus berbaju hijau maju dan menempelkan tangannya ke batu. Monolit itu berpendar dalam cahaya kuning yang stabil.


"Tingkat B!" seru pengawas, membuat sang tetua mengangguk puas.


Beberapa nama berikutnya maju dengan hasil yang bervariasi, hingga akhirnya suasana di sekitar pelataran mendadak menegang ketika nama yang paling dinantikan diteriakkan.


"Ran Mo Yue, maju ke depan!"


Seluruh pasang mata langsung tertutup penuh antisipasi ke arah sang gadis. 


Bisik-bisik pujian dan kekaguman langsung pecah di antara kerumunan. 


Mo Yue menarik napas dalam-dalam, melangkah maju dengan dada membusung penuh rasa percaya diri.


"Dia adalah jenius langka yang sudah bisa membaca sejak balita! Wajahnya cantik dan berbakat, sangat kontras dengan kakaknya yang bodoh dan penyendiri itu," puji salah satu tetua di barisan depan.


Di tengah kerumunan yang riuh, Mo Xuan justru berdiri santai sambil menguap kecil, tampak tidak peduli sama sekali dengan sorotan lampu pamer tersebut.


Mo Yue menempelkan telapak tangan halusnya ke permukaan batu monolit.


BOOM!


Batu hitam itu bergetar hebat. Kilatan cahaya emas pekat meledak terang, memancarkan silau yang menerangi seluruh sudut halaman paviliun. 


Kepala Klan dan para tetua langsung berdiri serentak dari kursi mereka, mata mereka membelalak lebar karena terkejut.


"Cahaya Emas Murni! Ini... Bakat Tingkat A yang legendaris!"


Sorakan histeris membahana di seluruh pelataran. 


Mo Yue tersenyum lebar, menikmati gelombang rasa bangga dan superioritas yang memenuhi dadanya. 


Di tengah euforia itu, ia sempat melirik sekilas ke arah Mo Xuan, berharap bisa melihat secercah rasa iri di wajah kakaknya. 


Namun, ia justru dibuat tertegun saat melihat Mo Xuan tampak begitu acuh tak acuh.


Setelah seluruh murid selesai diuji, atmosfer mendadak menegang kembali ketika nama terakhir yang paling diabaikan dipanggil.


"Ran Mo Xuan, maju."


Seketika, tatapan antusias warga berubah menjadi pandangan meremehkan penuh cemooh. 


Mo Xuan melangkah maju tanpa beban, lalu menempelkan tangannya pada permukaan batu monolit yang terasa dingin di kulit.


Batu raksasa itu bergeming cukup lama. Tidak ada ledakan cahaya, tidak ada getaran. Hanya muncul binar redup berwarna keabuan yang kusam dan menyedihkan di permukaannya.


"Tingkat D. Bakat sampah," umum pengawas dengan nada datar penuh ejekan.


Tawa lepas dan cemoohan langsung meledak dari kerumunan penonton.


"Sudah kuduga! Darah dari seorang pelayan rendahan tidak akan pernah bisa melahirkan seekor elang sejati!"


"Paling-paling batas pencapaian hidupnya hanya sampai di Ranah Tingkat Dua Puncak. Benar-benar aib bagi keluarga kita!"


Di atas panggung, Mo Yue menatap kakaknya dengan ekspresi sedih yang sengaja dipoles. 


Namun, jauh di lubuk hatinya, ada kelegaan besar yang tidak bisa disembunyikannya, ia tetap menjadi satu-satunya bintang kebanggaan di keluarga Mo.


Mo Xuan menarik tangannya perlahan, menyunggingkan senyuman tipis penuh rahasia di dalam hatinya. 


Tingkat D? Vonis gagal yang di kehidupan lalu berhasil menghancurkan mentalnya. 


Namun hari ini? Angka itu sama sekali tidak ada artinya di mata seseorang yang membawa pengalaman empat ratus tahun.


Kepala Klan mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat agar kerumunan massa kembali tenang.


"Cukup! Selamat kepada kalian yang berhasil lolos standar minimum akademi. Mulai besok, Akademi Klan resmi dibuka secara penuh. Siapa pun di antara kalian yang berhasil menembus Tingkat 1 Tahap Awal dengan kecepatan tercepat akan keluar sebagai juara utama dan berhak mendapatkan pasokan sumber daya kultivasi istimewa dari klan!"

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Sebelumnya Bab Selanjutnya

Suka ( 1)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Daftar Bab