Customer Service

Jika Itu Kamu: Terikat Janji

Bab 2 dari 2

Bab 1
100%

Bab 2: Kembali Bertemu

Belum tersedia dalam bahasa yang diminta -- menampilkan versi asli.

Chapter 1: Bertemu Kembali


Jakarta, 2025.


Di siang itu, seorang laki-laki dewasa dengan rambut hitam pendek yang hanya sepanjang lima sentimeter. Dia mengenakan kaos panjang hijau tua dan celana hitam. Berjalan pelan seorang diri, terus memandangi lukisan-lukisan yang terpajang di dinding. Langkah lebar yang pelan pun terhenti, saat dia menangkap sosok perempuan dewasa berambut panjang berwarna hitam. Dengan pakaian kaos panjang biru muda dan rok hitam di atas mata kaki.


Keterkejutannya tidak dapat disembunyikan, tetapi dia juga masih memiliki keraguan di hati. Sekarang, di kepalanya bermunculan pertanyaan yang tidak dapat dibendung. Seperti, apakah perempuan di depan sana adalah sosok yang dikenalnya ataukah bukan. Dengan gurat gugup dan napas yang mulai tidak teratur, dia berjalan pelan mendekati sang perempuan.


Semakin dekat, napas yang dikeluarkan pun bertambah cepat, degup jantungnya terasa begitu keras. Tubuhnya memberikan reaksi panas dan dingin yang datang bersamaan. Saat dia sudah semakin dekat dan sudah berjarak satu meter. Suara lirihnya pun keluar, memanggil nama yang selama ini terus tersimpan di ingatan tanpa enggan untuk pergi, “Lila Kamala!”


Hanya dalam hitungan detik, perempuan di depannya melihat ke arah asal suara yang memanggilnya. Saat itu juga, mata cokelat kehitaman milik sang laki-laki langsung bertatapan dengan sang perempuan. Betapa terkejutnya, saat dia melihat wajah dari sang perempuan. Suara yang lembut pun keluar dari mulut perempuan tersebut, “Iya, ada apa, Kak?”


Mendengar suara sang perempuan, membuat sang laki-laki terdiam untuk beberapa saat. Dia tidak menyangka jika akan bertemu dengan sosoknya di tempat ini. Dia yang terdiam pun tersadar, saat sang perempuan kembali memberikan pertanyaan kepadanya. Lalu, dia yang tersadar, memasang senyum lebar dan menjawab pertanyaan tersebut dengan tidak nyambung, “Hi, apa kabar?”


Tentu saja, mendengar jawaban yang dikeluarkan oleh mulut sang laki-laki, membuat perempuan itu kebingungan dan kemudian kembali bertanya, “Ah, saya baik. Maaf, tapi Kakak siapa?”


Dengan masih tersenyum, sang laki-laki pun menjawab dengan mengulurkan tangan kanan, “Aku juga baik. Ini aku, Bimo Saputra …”


Untuk beberapa detik, tidak ada balasan dari uluran tangan yang diberikan oleh sang laki-laki—dia ternyata bernama Bimo Saputra. Bahkan, tidak ada senyum di wajah sang perempuan. Di mana, perempuan itu berdiri dalam diam dengan wajah serius. Bimo sendiri bahkan tidak dapat menebak apa yang sedang perempuan tersebut pikirkan. Tentu saja, ada perasaan yang juga tidak yakin kalau sosok di depannya adalah Lila Kamala, seseorang dari masa lalu.


Namun, beberapa detik kemudian, perempuan tersebut menyambut uluran serta membalas jabat tangan yang diberikan Bimo, “Saya Lila Kamala, salam kenal!”


Tangan mulus dari sang perempuan yang bernama Lila Kamala, membuat Bimo semakin tersenyum lebar penuh kegembiraan tidak terbendung. Akan tetapi, dia membuangnya saat melihat Lila yang sama sekali tidak tersenyum. Mereka melepas jabat tangan bersamaan. Bimo kembali bersuara untuk bertanya di tengah-tengah suasana yang terasa mulai canggung, “Apa kamu datang sendiri?”


Lila pun menjawabnya dengan cepat dan mengubah cara bicara juga, “Iya, kamu sendiri?”


“Aku sendiri juga,” jawab Bimo yang diam lagi untuk beberapa detik.


Kemudian dia kembali bertanya kepada Lila, “Apa kamu suka lukisan itu?”


“Ah, itu, hmm … aku tidak begitu suka,” jawab Lila dengan wajah biasa saja, tidak ada rasa yang terukir.


“Kenapa? Lukisan itu penuh dengan makna,” tanya Bimo dengan perasaan ingin tahunya.


“Aku tidak suka karena semua itu beban yang mengikat mereka berdua. Tanpa tahu apakah tali itu akan terus terikat atau tidak,” jawab Lila dengan mengakhirinya dengan helaan napas kasar.


Bimo dengan suara yang sedikit bergetar, membalas perkataan Lila, “Kamu benar, kita memang tidak pernah tahu apa tali itu akan berakhir terikat atau tidak …”


Setelah mengatakannya, Bimo terdiam cukup lama dengan terus memperhatikan lukisan yang dimaksud. Akan tetapi, di tengah-tengah diamnya Bimo, Lila kemudian membuka suara, “Maaf, aku harus pergi!”


“Kalau begitu, aku antar!” jawab Bimo yang menawarkan diri begitu saja.


Namun, Lila menolak dengan suara sedikit keras, “Tidak usah! Aku bisa pulang sendiri!”


Dengan keseriusannya dan tidak dapat ditolak, Bimo kembali berkata, “Aku akan mengantarmu pulang!”


Meski Bimo mengatakannya sekali lagi, Lila tetap pada jawaban awal. Dia tetap menolak niat baik yang diberikan untuknya. Setelahnya, dia meninggalkan Bimo, melangkah keluar dari pameran lukisan. Langkah kecil serta cepat Lila menyusuri jalanan yang ramai orang berlalu-lalang karena baru saja pulang bekerja.


Tanpa Lila sadari, Bimo mengikuti setiap langkahnya. Diam, tidak berniat untuk lebih dekat. Dia hanya berusaha untuk tidak kehilangan jejak Lila. Tatapannya seakan menyimpan segala pertanyaan dan emosi yang bercampur aduk menjadi satu. Entah harus senang, sedih, kesal, ataukah sakit, dia sudah tidak tahu lagi.


Setelah berjalan kurang lebih dua puluh menit, Bimo masih mengikuti langkah Lila yang menaiki anak tangga untuk menuju halte pemberhentian bus. Dia pun tetap mengikuti, hingga memasuki bus yang sama. Duduk di jarak yang jauh, dia tidak ingin jika ketahuan mengikutinya. Di sepanjang perjalanan, dia hanya duduk dengan memperhatikan Lila yang hanya diam menatap keluar jendela.

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Sebelumnya

Suka ( 0)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Daftar Bab