Customer Service

Perjanjian Kontak

Bab 1 dari 4

Bab 2
100%

Bab 1: Permainan Maut

Belum tersedia dalam bahasa yang diminta -- menampilkan versi asli.

Bau amis dari kopi saset basi dan puntung rokok kretek yang menumpuk di asbak seng berkarat benar-benar membuat lambung Do-jin bergolak. Ia meludah ke lantai semen yang kusam, lalu menyeka mulutnya dengan punggung tangan yang gemetar. Di luar jendela gositel flat petaknya yang sangat sempit di kawasan pinggiran Seoul deru knalpot motor pengantar malam dan klakson mobil bersahutan menembus pengapnya ruangan yang sudah merangkak jauh melewati pukul tiga pagi.

Udara malam ibu kota tidak pernah ramah bagi orang-orang kalah. Terutama bagi Kang Do-jin, mantan penyidik unit pembunuhan yang kini hidupnya tinggal menyisakan puing-puing penyesalan.


Ia tinggal seorang diri di petak sempit itu. Istri dan anak perempuannya tidak pernah ikut menginjakkan kaki di kota besar ini, mereka tetap tinggal di rumah kecil di kampung halaman mereka di Gangwon-do, jauh dari hiruk-pikuk dan noda hitam karier Do-jin. Setiap kali Do-jin menatap layar ponselnya, kerinduan pada tawa kecil anaknya berbenturan dengan rasa bersalah yang teramat dalam karena ia mengirimkan uang nafkah yang semakin lama semakin seret, hingga akhirnya terhenti total akibat kecanduan judinya.

Di atas meja kayu lapuk berukuran satu setengah meter itu, sebuah laptop tua berstiker terkelupas menyala redup, menampilkan grafik bursa taruhan bola online yang sudah lama berubah merah terang. Saldo akunnya.nol koma nol. Bukan lagi krisis keuangan biasa, ini adalah jalan buntu yang sebenarnya.


Dua hari lalu, preman bayaran suruhan Ma Dong-suk, seorang bandar judi bawah tanah kelas kakap di kawasan Gangnam mendatangi pintu flatnya. Mereka tidak banyak bicara. Hanya sebuah ancaman dingin yang diukir dengan pisau lipat di daun pintu kayu. "Tiga hari lagi, kalau utang lima puluh juta won tidak lunas, jemari tangan kananmu yang buat main judi jadi jaminan"


Do-jin menatap jemari kanannya sendiri. Jari-jari yang dulu terbiasa memegang pistol dinas, mencatat detail tempat kejadian perkara dengan teliti, dan menginterogasi para pelaku kriminal kelas kakap. Sekarang, jari-jari itu hanya gemetar hebat karena sakau nikotin, alkohol murahan, dan kecemasan akut.


Ia kehilangan segalanya dalam kurun waktu kurang dari dua tahun. Seragam polisinya dilucuti setelah Dewan Kehormatan Kepolisian memergokinya menggunakan dana sitaan kasus demi menutup tandingan judi bola. Sejak saat itu, Do-jin tenggelam. Ia memilih melarikan diri ke dalam botol soju dan layar ponsel pintar yang menyala setiap kali malam tiba, berharap keajaiban bodoh berupa kemenangan taruhan bisa membalikkan keadaan dan memungkinkannya pulang menemui keluarganya dengan kepala tegak.


Bzzzt...


Getaran pendek dari ponsel murahan di atas meja membuyarkan lamunannya. Do-jin mengabaikannya. Paling-paling pesan dari operator seluler atau pesan penagihan otomatis dari aplikasi pinjol ilegal yang nomornya sudah diblokir belasan kali.


Namun ponsel itu bergetar lagi. Kali ini lebih lama, lebih bertenaga, seolah mendesak perhatian.

Dengan napas berat, Do-jin menyeret tubuhnya ke depan meja. Layar ponsel yang retak di bagian sudut tiba-tiba menyala sendiri, memancarkan cahaya putih menyilaukan yang menusuk matanya yang lelah. Ada yang aneh. Tidak ada wallpaper galeri foto atau notifikasi pesan dari kampung.

Layar itu menampilkan sebuah antarmuka asing berwarna hitam pekat dengan logo minimalis: sebuah mata tertutup berwarna merah darah. Di bawahnya, sebuah teks sistem berjalan otomatis tanpa perintah:


[ SYSTEM INITIATED: CONTACT.APK ]

Mengunduh basis data lokal... Selesai.

Sinkronisasi buku alamat... 100%.


Do-jin mengerutkan kening. "Ponsel sialan kena adware apa lagi ini?" gerutunya serak.

Ia mencoba menekan tombol Power di sisi kanan ponsel untuk mematikan paksa, tetapi sistem mengabaikannya. Layar malah memunculkan kotak dialog baru yang membuat jantungnya mencelos seketika:


Selamat Datang, Detektif Kang Do-jin.

Hadiah Pendaftaran Awal: 1.000.000 Won.

Syarat & Ketentuan: Wajib Menyelesaikan Tugas.


"Satu juta won? Omong kosong apa"

Kalimatnya terpotong di udara saat sebuah nada dering pendek berbunyi nyaring. Notifikasi M-Banking.

Do-jin merampas ponsel itu dengan tangan basah oleh keringat dingin. Ia membuka aplikasi perbankan selulernya dengan jari yang gemetar hebat. Begitu halaman utama terbuka, matanya membelalak lebar, nyaris keluar dari soketnya. Angka saldo di rekening utamanya yang tadinya minus kini berubah drastis. Ada dana segar sebesar satu juta won yang masuk tepat pukul 03.14 dini hari.


Uang itu nyata. Bukan ilusinasi halusinasi kurang tidur akibat tiga hari tidak tidur. Satu juta won tunai, cukup untuk membayar cicilan sewa flat dua bulan atau sekadar bertahan hidup dari ancaman pisau Ma Dong-suk barang sejenak. Tapi di dunia hitam Seoul, tidak ada makan siang gratis. Terlebih bagi seorang mantan detektif yang tahu betul bagaimana sindikat kejahatan beroperasi. Uang muka sekecil itu biasanya adalah harga untuk sebuah nyawa.


Rasa takut yang sudah lama mati di dalam diri Do-jin tiba-tiba merayap naik dari ujung kaki hingga tengkuknya. Insting lamanya, insting seorang pemburu jejak yang terkubur di bawah tumpukan botol kosong, mulai berteriak keras.

Ia membuka kembali aplikasi misterius berikon mata merah itu. Menu utamanya sangat sederhana, hanya ada satu pilihan menu yang bisa diklik Daftar Kontak.

Dengan ragu, ibu jarinya menyentuh layar. Aplikasi itu memuat ulang daftar kontak di ponselnya. Biasanya, buku alamat itu berisi nomor-nomor darurat rentenir, beberapa bandar judi online lokal, dan sisa rekan polisi yang masih sudi mengangkat teleponnya.

Tetapi daftar itu telah lenyap. Digantikan oleh puluhan nama asing yang tersusun rapi berdasarkan tanggal kronologis masa lalu.

Do-jin menahan napas saat membaca tiga nama teratas di layar:


Han Min-ji (12 Oktober 2018 - Kasus Gangnam No. 4)

Park Soo-hyuk (15 Maret 2020 - Kasus Kebakaran Gudang Incheon)

Choi Eun-hee (03 Juni 2021 - Kasus Mayat Koper Hongdae)


Darah di wajah Do-jin seolah tersedot habis. Ia mengenali nama-nama itu di luar kepala. Mereka bukan orang sembarangan. Mereka adalah para korban pembunuhan berantai paling brutal dalam sejarah investigasi unitnya yang gagal total di masa lalu. Kasus-kasus cold case yang dihentikan secara sepihak oleh atasannya karena tekanan politik dan minimnya petunjuk.

Dan yang membuat sekujur tubuhnya merinding hingga bulu kuduknya berdiri tegak: orang-orang itu sudah mati bertahun-tahun lalu. Jasad mereka sudah lama menjadi abu di krematorium atau membusuk di dalam tanah pemakaman umum.

Bagaimana mungkin nomor orang mati bisa masuk ke dalam buku alamat ponselnya?


Sebelum akal sehatnya mampu merangkai jawaban, salah satu nama di daftar itu Han Min-ji berkedip dengan warna merah terang, memancarkan sinyal darurat yang menusuk pandangan.


Bzzzt. Bzzzt....


Ponsel di genggamannya bergetar panjang. Sebuah pesan suara berdurasi empat puluh lima detik masuk secara otomatis dari kontak tersebut. Tanpa sadar, jempol Do-jin menekan tombol Play di layar.


Suara bising langsung memecah keheningan flat sempit itu. Suara deru angin malam yang dingin, gesekan sepatu bot di atas rerumputan basah, dan isak tangis tertahan seorang perempuan muda yang sekarat.


"Tolong... kumohon, jangan bunuh aku..." suara Han Min-ji terdengar begitu nyata, sangat dekat, penuh keputusasaan yang merobek dada. "Siapa kau? Kenapa kau melakukan ini?!"


Lalu, di ujung rekaman itu, terdengar suara langkah kaki berat mendekat. Napas seseorang yang memburu di balik mikrofon, disusul sebuah bisikan serak yang membuat darah Do-jin mendadak membeku


"Karena kau melihat apa yang seharusnya tidak kau lihat, detektif bodoh"


Klik...


Rekaman itu terhenti. Suara bising mati seketika.

Do-jin terduduk lemas di lantai, punggungnya membentur dinding semen yang dingin. Napasnya memburu tak beraturan. Suara bisikan itu... suara langkah kaki itu... ia merasa sangat akrab dengannya. Seolah-olah masa lalu yang terkubur rapat-rapat di sudut pikirannya dipaksa bangkit kembali dengan cara yang paling mengerikan.


Layar ponselnya kembali berubah gelap total. Sebuah teks merah darah perlahan muncul di tengah layar, disertai animasi penghitung waktu digital berdurasi 24 jam yang mulai berdetak mundur. Di bawah angka waktu tersebut, sebuah kalimat sistem terpampang jelas.


Waktu Investigasi: 24 Jam.

Tugas: Temukan pembunuh dan ungkap kebenarannya.

Konsekuensi Kegagalan: Jika gagal hari ini, cobalah hari esok. Jika kau mengabaikan, sebuah tanda kematian akan menubuhmu.


Do-jin menatap angka digital yang terus bergerak turun, mencuri sisa detik hidupnya. Tiba-tiba, rasa ngilu yang tajam menusuk lengan kanannya. Ia menyingkap lengan bajunya dengan panik dan mendapati sebuah titik lebam keunguan menyerupai bekas cengkeraman tangan mati muncul di kulitnya, berdenyut nyeri setiap kali detik waktu berkurang.


Permainan maut ini baru saja dimulai. Siksaan fisik itu akan terus bertambah setiap hari jika ia gagal.

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Selanjutnya

Suka ( 0)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Daftar Bab