Dicintai Ugal-ugalan Sama Mas Bule
Bab 1 dari 3
Belum tersedia dalam bahasa yang diminta -- menampilkan versi asli.
"Indonesia.... I'm coming!!"
Jane melangkah dengan mantap di antara keramaian bandara yang penuh sesak, menggeret koper besarnya yang berisi segala keperluannya. Di tangannya, ia memegang erat paspor, visa,dan tiket pesawat yang menjadi tiket menuju kehidupan barunya.
Mata Jane melirik kiri kanan, tak ingin melewatkan satu momen pun dari bandara terbesar di negeri ginseng tersebut. Setiap langkah yang diambilnya terasa ringan, seolah mendukung semangat yang membara di dalam diri Jane.
Suasana bandara yang hiruk pikuk menjadi saksi bisu bagaimana Jane merasa optimis dengan petualangan yang akan segera dimulai.
"Selamat tinggal, semuanya," bisik Jane.
Ia akan meninggalkan semua kenangan masa lalunya disini. Terlahir di keluarga konglomerat tidak membuat hidupnya bahagia tapi malah semakin tersiksa. Ayahnya yang seorang pengusaha tenar di Seoul sangat mengekang hidupnya dan tidak memberikannya ruang untuk hidup.
Ditambah beberapa hari lalu, Ayahnya mengatakan akan menikahkannya dengan seorang kliennya sebagai bentuk aliansi bisnis. Hal itu semakin membuat Jane marah sehingga ia memilih untuk pergi dari rumah.
Brukk....
Saking sibuknya melamun, Jane sampai tidak sadar menabrak sebuah tiang. Eh! sepertinya bukan tiang, karena matanya menangkap sebuah jaket kulit didepan matanya.
"What the fuck," gumam orang itu.
Bak gerakan slow motion, orang itu berbalik menatap Jane. Sepasang mata berwarna hitam malam menatap netra Jane dengan dramatis.
"Jalsaenggyeotda (tampan)," gumam Jane terpukau.
Pria itu sangat tinggi dengan badan yang proporsional serta rambut coklatnya yang acak-acakan sangat menawan di mata Jane. Bisa gadis itu tebak kalau pria itu adalah bule.
"Tuan, ada yang menganggu Anda?" tanya seorang pria berbaju hitam menghampiri mereka.
Pria itu berdecak pelan. "Apakah jaketku terkena make up?" tanya pria itu dengan suara baritonnya.
Seketika Jane membulatkan matanya. Perasaan kagum tadi runtuh karena ucapan laknat pria ini. Apa-apaan, dia pikir Jane memakai make up murahan yang suka nempel sana nempel sini.
"Yakk!!!... Apa-apaan mulutmu itu" teriak Jane tidak terima.
Kedua pria itu menatap Jane dengan bingung.
"Kau, dasar pria bodoh," tunjuk Jane pada wajah pria tadi.
"Nona, jaga bicara Anda," balas bodyguard tadi sambil bergerak melindungi atasannya.
"Justru bossmu yang suruh jaga mulut. Dia pikir make up ku ini abal-abal," amuk Jane.
Sementara pria tadi hanya tersenyum sinis. Kakinya melangkah lebih dekat ke arah Jane yang tengah emosi.
"I don't say that," kata pria itu dengan seringainya.
Tuk...
Pria itu menjentik kening Jane dengan keras.
"Awsshh," ringis Jane menyentuh keningnya yang berdenyut.
Pria itu tersenyum kecil dan membalikkan tubuhnya lalu berjalan menjauh.
"Yak!!, Mau kemana kau sialan," jerit Jane kesal dan berniat menyusul pria itu tapi bodyguardnya sudah lebih dulu menahannya.
"Nona, jangan seperti itu. Nanti Nona kena masalah," kata bodyguard tersebut mulai kewalahan menghadapi aksi bar-bar Jane.
"Diam kau, kau sama saja dengan bossmu itu," kata Jane dengan kesal sambil menjambak bodyguard tersebut.
"Aduh..Nona. Lepaskan," ringis bodyguard itu.
Sebenarnya mudah saja ia melepaskannya, hanya saja mereka sedang diruang publik. Dan atasannya bukan orang sembarangan, ia takut jika membuat kesalahan maka akan berdampak dengan reputasi atasannya.
"Aku tidak akan berhenti, rasakan ini," kata Jane bersiap memberikan serangan lagi namun bodyguard itu sudah duluan ngacir.
"Heh!!. Mau kemana kau, sialan," teriak Jane membuat semua orang menatap kearahnya.
"Shibal (Sial)," rutuk Jane menahan rasa malunya dan segera pergi dari sana. Sial sekali dirinya hari ini karena bertemu dengan pria sombong.
"Aku sumpahi kau akan mendapatkan istri yang galak dan akan memerintahmu seumur hidup, sialan," maki Jane.
--------------
Indonesia adalah negara yang dituju Jane sebagai tempat dimulainya kehidupan barunya. Ia sudah banyak melakukan searching-searching di internet terkait tempat ini dan hasil ulasannya sangat bagus. Dan menurutnya, negara ini sangat cocok untuknya. Ditambah ia memiliki sahabat yang ia kenal dari internet dan berdomisili di negeri ini, Livia.
Kepala Jane celingak-celinguk mencari keberadaan Livia yang katanya sudah berada di bandara. Well, mereka baru bertemu sekali sih saat gadis itu liburan di Seoul pada musim semi lalu.
"Jane?"
Sang pemilik nama menoleh ke sumber suara dan mendapati seorang gadis cantik dengan tinggi semampai dan rambut hitam khasnya tengah tersenyum kearahnya.
"Livia!!" seru Jane senang dan segera menghampiri Livia yang berdiri tidak jauh darinya.
Keduanya berpelukan singkat.
"Gue nggak telat kan?" tanya Livia agak khawatir.
"Enggak kok," jawab Jane.
Sebelum memutuskan untuk pindah ke Indonesia, ia sudah belajar bahasa Indonesia terlebih dahulu dimulai dari yang formal sampai informal. Karena bagaimanapun tidak mungkin ia berbahasa formal sepanjang waktu 'kan. Jadinya, ia meminta bantuan Livia untuk mengajarinya bahasa informal juga.
"Seperti yang udah gue bilang minggu lalu kalo lo bakal tinggal sama gue. Nanti gue bakal bantuin lo cari kerjaan. Selamat datang di Indonesia, yah. Semoga lo betah," jelas Livia.
Jane merasa terharu dengan kebaikan Livia. Seumur hidupnya baru kali ini ia menemukan seseorang yang mau bersusah-susah untuknya. Saat ia tinggal di Korea, semua orang tampak sibuk dengan hidup mereka masing-masing membuatnya tidak bisa bersosialisasi dengan baik.
"Makasih yah, Liv. Kamu baik banget."
"Hahahh... sans, Jane. Lo kan udah banyak bantu gue pas di Seoul bulan lalu. Dan juga pake 'lo-gue' aja yah supaya nggak formal-formal banget."
Jane mengangguk pelan.
"Ayo kita pulang," kata Livia menarik Jane untuk melangkah keluar dari bandara.
-------
Ceklekk...
"Silahkan masuk, Jane," kata Livia ketika membuka pintu penthousenya dan menyuruh Jane untuk masuk.
Penthouse milik Livia terlihat besar dan rapi. Semua perabotan tertata dengan rapi sesuai tempatnya dan memberikan kesan nyaman. Jane tidak heran juga sih, karena Livia itu seorang model terkenal di negeri ini jadilah hal ini sangat mudah baginya.
"Anggap aja kayak rumah sendiri. Kamar lo di ujung sana." Jane menoleh kearah yang ditunjuk Livia.
"Sekali lagi makasih yah, Liv. Gue janji setelah dapet kerja nanti, gue bakal bantuin lo urus keperluan di penthouse ini."
"Iya-iya," balas Livia santai dan duduk di sofa untuk mengistirahatkan dirinya.
"Duduk, Jane," sambung Livia sambil mengambil remote untuk menyalakan TV didepannya.
"Gue simpen koper gue dulu, yah," balas Jane sambil menggeret kopernya ke arah kamar tadi.
"Oh, oke deh. Kalau lo mau istirahat juga gapapa kok. Entar gue bangunin kalo udah jam makan malam," kata Livia.
"Iya, Liv,"balas Jane tersenyum tipis dan berlalu dari sana.
---------
Tok...
Tok...
Tokk....
Jane tersentak pelan dari tidurnya ketika mendengarkan suara ketukan di pintu kamarnya. Perlahan ia membuka kelopak matanya dan ternyata hari sudah malam. Terlihat dari bayangan langit hitam dibalik jendelanya. Saking lelahnya, Jane sampai tertidur selama ini.
Dengan segera Jane turun dari kasurnya dan berjalan kearah pintu lalu membukanya. Nampak Livia tengah berdiri didepan kamarnya.
"Maaf yah, Liv. Gue tadi ketiduran," ringis Jane tidak enak.
"Gapapa, Jane. Gue ngerti kok. Btw, udah waktunya makan malam. Lo cuci muka gih trus makan malam bareng gue," kata Livia.
Jane semakin merasa beruntung memiliki Livia yang memiliki sikap pengertian seperti ini.
"Oke, Liv. Gue bakal cepet-cepet."
"Gue tunggu," kata Livia sebelum berlalu dari sana.
---------
"Lo masak semua ini?" tanya Jane ketika melihat semua makanan yang tersaji.
"Nggak lah, yakali. Gue pesen online tadi, tau sendiri kan gue mana ada waktu buat belajar masak," balas Livia.
"Ohh... ".
Jane pun duduk didepan Livia sambil mengambil makanan yang akan ia santap. Semuanya terlihat asing di mata Jane tapi ia harus membiasakannya. Tidak ada lagi kimchi ataupun makanan yang disusun dengan piring-piring kecil serta sumpit yang akan selalu siap diatas meja. Mulai hari ini, ia harus terbiasa dengan gaya makan ala Indonesia.
Setelah mengambil makanan sesuai porsi makannya. Livia dan Jane pun makan dengan tenang.
Drttt...
Drttt...
Drttt....
Suara ponsel Livia yang berdering diatas meja makan dan memecahkan keheningan diantara mereka. Awalnya, sang pemilik ponsel mengabaikannya tapi lama-lama ia kesal juga karena sang penelpon rasanya tidak menyerah.
"Siapa sih yang nelpon-nelpon, ganggu aja. Orang lagi makan juga," gerutu Livia kesal namun tetap mengangkat telfon tersebut.
"Halo, Liv."
"Hmm.. Napa Seth?" tanya Livia to the point.
"Lo mau nggak jadi sekretaris sementara di perusahaan gue?" tanya Seth.
"Nggak bisa, jadwal gue udah penuh. Gue mesti pemotretan sebuah brand trus syuting beberapa iklan juga. Jadi mana sempet," tolak Livia.
"Kan udah gue bilang kalo Dante itu nggak suka cewek yang jadi model kek gitu."
Perkataan Seth barusan membuat Livia tertunduk lesu. Dante merupakan crushnya yang bersahabat baik dengan Seth temannya ini. Livia sudah naksir berat dengan pria blasteran Indonesia-Amerika itu sejak pertemuan pertama mereka dan diam-diam ia mencari informasi tentangnya lewat Seth.
"Yaelah, jangan ngomong gitu dong. Gue kan jadi sedih," balas Livia lemas.
"Kan gue cuman ngomong jujur," bela Seth.
"Mau gimana lagi dong, udah terlanjur tandatangan kontrak. Dendanya juga mahal."
"Ck, terserah deh. Lo mau ato enggak nih, gue butuh secepatnya. Entar gue diomelin lagi sama tuh 'orang'."
Livia menggembungkan pipinya kesal karena ucapan laknat dari Seth. Dirinya ingin sekali menerima tawaran tersebut tapi ia tidak bisa. Beberapa saat kemudian, netranya tidak sengaja menatap Jane yang tengah mengunyah makan malamnya. Sebuah ide yang menurutnya tiba-tiba terlintas di benaknya.
"Eh, bisa nggak kalau temen gue aja. Dia orangnya pinter dan lulusan bisnis juga. Gue jamin dia bisa jadi sekretaris yang baik," saran Livia. Tidak ada balasan dari Seth, mungkin pria itu tengah menimang-nimang sarannya.
"Emm... Boleh deh. Yang penting dia kerjanya bagus dan tahan banting. Soalnya kalo nggak, gue yang dibanting."
"Beres itu mah," balas Livia percaya diri.
"Yaudah, lo anterin dia besok ke perusahaan gue jam 9 pagi tanpa telat," titah Seth.
"Ada duit calo nggak nih?"
Seth menghela nafas pelan, sudah ia duga bahwa Livia tidak akan melakukannya secara sukarela.
"Entar gue atur dinner antara lo sama Dante kalo dia lagi di Indo."
"Yess... Menyala abang kuhh," kata Livia bersorak senang. Saking senangnya, pikirannya sampai dipenuhi skenario-skenario makan malam romantis bersama Dante. Dan itu membuatnya tertawa kesenangan.
"Udah yah, pokoknya itu tadi. Gue tutup dulu, sampe ketemu besok," kata Seth sebelum mengakhiri sambungan telfonnya.
Livia meletakkan ponselnya kembali diatas meja dan melanjutkan acara makan malamnya dengan perasaan berbunga-bunga. Rasanya sesuatu tengah menggelitiki perutnya.
"Jane, gue udah dapet kerjaan buat lo."
Jane mengangkat wajahnya dan menatap Livia dengan raut wajah bingung.
"Cepet banget."
"Tadi temen gue nelfon kalo dia lagi perlu sekretaris sementara di perusahaannya. Jadi gue rekomendasiin elo karena lo kan lulusan bisnis di SNU 'kan?".
Jane mengangguk pelan.
"Tenang aja, gajinya gede karena pake dollar. Keren pokoknya," sambung Livia lagi.
"Kenapa nggak lo ambil?" tanya Jane.
"Gue udah terlanjur teken kontrak buat beberapa bulan ke depan jadi nggak bisa. Kalo lo mau, besok gue anterin ke perusahaannya," jawab Livia.
Jane terlihat berpikir sejenak untuk memutuskan pilihannya. Ini kesempatan yang sangat bagus karena ia dengan cepat bisa bekerja sehingga ia tidak terlalu membebani Livia terlalu lama. Lagipula, ia sudah cukup berpengalaman di dunia bisnis karena dulu ia pernah bekerja di perusahaan keluarganya di Korea.
"Iya, gue mau," kata Jane setuju.
"Bagus deh. Abis makan malam lo bisa siap-siap buat besok yah. Tidur yang cukup supaya lo bangun dengan keadaan fresh," saran Livia.
"Oke, Liv. Sekali lagi makasih yah atas bantuannya."
Livia mengangguk sambil tersenyum kearah Jane. Akhirnya ia bisa terbebas dari jeratan boss menyebalkan seperti kakak Seth yang sangat otoriter.
~tbc~
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya