Broken Mirrors: When Time Gives You a Choice
Bab 1 dari 6
Belum tersedia dalam bahasa yang diminta -- menampilkan versi asli.
Dingin, gelap, dan sunyi, itulah yang harus dilaluinya. Dinding sel terasa begitu dekat, hanya berukuran satu kali tiga meter dan terdapat satu kotak celah di atas untuk masuknya cahaya. Bahkan, ruangan yang sekarang ditempatinya sangat kecil untuk satu orang. Dinding dingin membatasi diri sang laki-laki dewasa sehingga menjadi penuh kesuraman.
Kilauan redup dari bulan mengintip melalui celah jendela besi. Hanya mampu menerangi sebagian kecil dari ruangan dingin yang menjadi tempat hukumannya, karena dia melakukan sebuah pelanggaran. Dia hanya diam duduk di sudut, punggungnya menempel pada dinding yang terasa dingin.
Wajah oval nan tirusnya dipenuhi bekas pukulan yang sudah membiru. Sepasang mata cokelat gelap, menerawang kosong melihat langit-langit dinding. Seakan berusaha menembus dinding tebal, meraih sesuatu yang sudah jauh di luar jangkauan.
Hukuman yang diterima atas perkelahian antar penghuni lapas terasa begitu berat. Dulu, dia adalah pemuda penuh semangat dengan sejuta mimpi yang ingin diraih. Akan tetapi, sebuah kesalahan telah membawa dia ke tempat ini. Tempat yang sama sekali tidak pernah diinginkan atau bahkan dibayangkan, sunyi dan sepi.
Pikirannya terbang menuju masa lalu. Dia teringat akan hari-hari indah bersama pasangan hidup yang sangat dicintai. Bermain bersama anak laki-laki nya, tertawa penuh riang, dan juga, saat dia hidup dengan sang ibu. Mengingat kembali kenangan hangat dan menyakitkan secara bersamaan, dia hanya tersenyum penuh kesakitan. Matanya berbinar sakit, kepala dan hati tidak lagi sinkron. Kepala memberikan perintah untuk tetap kuat, tetapi tidak dengan hatinya.
Seketika, air bening yang hangat jatuh dengan deras, membasahi kedua pipi. Dia menangis sejadinya, isakan yang ditahan dalam lubuk hati keluar begitu saja. Sesak di dalam dirinya tidak dapat dikunci lagi.
Air matanya membasahi kenangan indah yang kini terasa begitu jauh. Diterpa rasa penyesalan mendalam, dia menyadari bahwa telah menyia-nyiakan semua yang diberikan kepadanya. Dia sangat menyesali tindakan impulsif yang telah membuatnya berakhir di sini. Andaikan. Dirinya terus berandai dan jikalau tidak bertindak gegabah. Apa nasibnya akan berbeda?
Sejak pertama kali tiba di tempat ini, dia selalu memikirkannya. Akan tetapi, seperti pepatah terkenal, ‘Nasi sudah menjadi bubur’ di mana semua tidak dapat diubah ataupun diulang. Dalam tangisnya, dia berteriak. Memukul kepala dengan kedua tangan berkali-kali dan berkata kepada diri sendiri, “Bodoh! Kamu sangat bodoh! Mati saja sana!”
~~~••••~~~
Sudah beberapa hari dia lalui di sel hukuman yang panjang dan berat. Hari ini, masa hukuman yang dia dapatkan sudah selesai. Langkahnya terlihat gontai saat dia kembali menyusuri lorong dingin menuju ruang tahanan yang biasa. Pintu besi tersebut berderit saat dibuka. Dia melangkah masuk, disambut kembali oleh suasana suram yang sudah biasa.
Tidak ada satu pun yang mendekatinya hanya untuk menyapa atau menanyakan keadaan sang laki-laki. Semua hanya melihat sebentar, lalu, kembali ke kegiatan masing-masing. Tanpa banyak berpikir, dia duduk di ujung ruangan, tempat yang selama ini menjadi sudutnya.
Di wajahnya terlukis jelas, kehampaan dan kelesuan yang mendalam. Tidak ada sorot kebahagiaan atau kelegaan di mata, hanya kekosongan yang dipancarkannya. Suasana hening dan berat seketika menyelimuti seluruh penjuru ruangan. Sedetik kemudian, suara petugas terdengar memecah kesunyian di antara mereka, mengumumkan waktunya untuk tidur.
Seketika, malam menjadi sunyi senyap di dalam sel. Hanya detik jarum jam, dengkuran halus, dan napas teratur memenuhi ruangan yang gelap. Semua narapidana telah terlelap dalam mimpi masing-masing, mencari pelarian sementara dari kerasnya realita hidup yang dialami di dalam penjara.
Namun, hanya dirinya yang masih duduk dan terjaga. Tatapannya kosong, dia kembali menerawang menembus dinding sel yang dingin. Entah apa yang dipikirkan, raut wajahnya tampak sendu dan lelah.
Secara mendadak, suara langkah kaki memecah kesunyian. Seorang sipir dengan senter yang menyala di tangannya, berjalan menyusuri lorong sel. Cahaya senter menyorot ke dalam sel di mana dia berada dan menyilaukan matanya sejenak.
“Hey, kamu! Sudah waktunya untuk tidur!” suara dalam sipir itu terdengar tegas, tetapi tidak kasar.
Dia menoleh, menatap sipir dengan tatapan sayu. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia beranjak dari duduk dan merebahkan diri di atas kasur tipisnya. Dia membalikkan badan memunggungi sipir, menarik selimut lusuhnya hingga menutupi sebagian wajah.
Sang sipir mengamatinya sejenak, memastikan dia benar-benar berbaring. Setelahnya, sipir tersebut kembali melanjutkan patroli. Langkah kaki perlahan menghilang di kejauhan, meninggalkan dia dalam kesunyian dan kegelapan sel. Dia memejamkan matanya, pergi menuju dunia mimpi dan melupakan sejenak masalah untuk hari ini.
~~~••••~~~
Seperti biasa, setiap hari akan diadakan pembagian tugas yang berbeda dan bergantian. Sekarang, sudah waktunya bagi dia mendapat giliran tugas, membersihkan tempat mandi bersama teman satu kamar. Dengan gerakan tenang tanpa banyak bicara, dia mulai menjalankan tugasnya.
Dia membersihkan setiap sudut dengan teliti, tidak menyisakan satu lumut sama sekali. Suasana yang tadinya tenang, secara mendadak berubah tegang saat beberapa orang masuk ke tempat mandi. Mereka memberi isyarat kepada semua orang yang ada di sana untuk pergi dari tempat mandi.
Meninggalkan dia sendirian yang sangat fokus dengan tugasnya. Bahkan, dia tidak mengetahui kedatangan orang-orang yang selalu berusaha mencari masalah dan menghajarnya kapan pun. Seakan ada yang membayar mereka untuk melakukan tindakan kasar dan pemukulan secara rutin. Seketika, tempat mandi menjadi sunyi, hanya menyisakan dia dan mereka. Salah satu dari mereka, kembali memberikan isyarat kepada temannya.
Beberapa orang memaksa dia menghentikan tugasnya. Dengan wajah garang dan senyum mengejek, orang yang memberikan mereka perintah, menyematkan satu pukulan keras ke wajahnya. Selanjutnya, orang yang lain pun mulai mengarahkan pukulan tangan dan kaki ke seluruh tubuh dia.
Pukulan serta tendangan yang didapat tubuhnya membuat dia meringkuk. Menerima seluruh pukulan tanpa adanya perlawanan. Bahkan, dia tidak membalas dan hanya diam. Raut wajahnya tidak menunjukkan emosi apa pun, seakan semua sakit dari pukulan serta tendangan merupakan hal remeh yang bahkan dapat ditanggungnya.
Setelah puas melampiaskan semua kejahilan dan amarah mereka. Para pelaku pemukulan pergi meninggalkan dia yang terbaring meringkuk di lantai tempat mandi. Tubuhnya gemetar, meski rasa sakit menyengat di sekujur tubuh. Dari sudut bibir sebelah kiri, mengeluarkan sedikit darah. Dia masih menahan semua rasa sakit, tidak menampakkan raut kesakitan.
Perlahan, dia mencoba mengumpulkan kesadaran di tengah denyutan nyeri yang hebat. Dalam posisi meringkuk, dia dengan susah payah mengatur napas yang tersengal. Tiba-tiba, di tengah kesakitan yang ditahan, dia merasakan kehadiran seseorang.
Dia mendongak secara perlahan dengan keadaan mata perih dan pandangan kabur. Dia melihat seorang perempuan muda dengan mengenakan sepatu hak tinggi, berdiri tepat di hadapannya. Sang perempuan mengenakan pakaian serba merah jambu, mulai dari celana panjang, kaos, dan blazer. Rambut panjang hitam panjangnya dibiarkan tergerai. Sang perempuan menatapnya tanpa menampilkan emosi apa pun di wajah dengan riasan tebal.
Lalu, perempuan yang dilihatnya berjongkok, berkata dengan tersenyum ramah, “Apa Anda membutuhkan bantuan?”
Mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut sang perempuan, dia hanya diam dan tidak ada niatan untuk menjawab. Kemudian dia berdiri dengan susah payah. Dia melangkah pergi, lalu berhenti saat mendengar perkataan dari sang perempuan, “Anda sangat malang! Kehilangan anak, pasangan hidup, Ibu, harta, dan seluruh hidup! Anda juga sangat bodoh dan menyedihkan!”
Emosi yang sudah ditahan, akhirnya meledak. Dia membalikan badan dan melangkah mendekati sang perempuan dengan menghilangkan rasa sakit di tubuh. Dia berdiri tepat di depan sang perempuan, mengeluarkan seluruh kemarahan dan emosinya, “Memang Anda tahu apa tentang saya? Anda siapa? Dengan mudahnya mengatakan itu, seakan mengetahui kesulitan dan rasa sakit yang saya rasakan. Memang benar, semua yang Anda katakan, saya kehilangan segalanya. Apa yang Anda inginkan?”
Sang perempuan hanya tersenyum kecil, melihatnya mengeluarkan semua perasaan sakit di dalam hati terdalam yang tersenyum karena takut untuk keluar. Sang perempuan kembali bertanya, “Apa Anda membutuhkan bantuan?”
Dia yang tadinya tidak paham, kemudian membalas kembali dengan penuh emosi dan frustasi, “Memangnya, bantuan apa yang bisa Anda lakukan? Mengeluarkan saya dari penjara ini? Menangkap pelaku sebenarnya? Membunuh mereka? Apa itu?”
Perempuan itu kembali membalasnya, “Saya dapat membantu Anda untuk mengulang kembali waktu.”
Dia tersenyum tidak percaya dengan perkataan sang perempuan. Bahwa dirinya dapat mengulang kembali waktu, dengan amarah yang kembali lebih memuncak, dia berkata penuh pertanyaan, “Apa Anda bercanda? Apa hidupku lucu? Dan apa itu, mengulang kembali waktu? Anda kira ini film atau drama yang semua hal bisa terjadi! Hah, saya sudah lelah dengan orang-orang suruhan itu yang setiap saat memukuli saya. Jadi, berhenti bercanda!”
Perkataannya membuat sang perempuan kesal dan menunjukkan sedikit kemampuan yang dimiliki. Sekarang, kamar mandi berubah menjadi sebuah padang rumput yang luas, penuh dengan bunga berbagai bentuk dan warna.
Dia yang melihatnya pun terkejut dan penuh keheranan, tetapi juga takjub, kemudian dia bertanya, “Di mana ini?”
Sang perempuan membalas pertanyaan yang dia lontarkan, “Ini dimensi yang saya buat, sekarang, dengarkan dulu. Hah, mari kita jangan pakai bahasa formal! Apa Anda setuju?”
Tanpa memusingkannya, dia mengiyakan. Sang perempuan kembali mengganti tempat, dari yang tadinya di padang rumput menjadi sebuah kafe dengan nuansa klasik. Kafe bernuansa klasik penuh dengan barang-barang dan ornamen bangunan berwarna cokelat tua serta jendela besar. Lampu gantung di kafe memancarkan cahaya kuning hangat.
Sang perempuan yang melihatnya menatap penuh takjub, langsung menyuruh dia untuk duduk. Kemudian, sang perempuan berdiri dan menjelaskan tentang dirinya dan semua hal yang perlu diketahui.
“Baiklah, mari kita mulai! Perkenalkan, aku seorang penyihir abu-abu bernama Lunara Shadowfen, yah, panggil seperti itu saja. Manusia lebih mudah menyebutku seperti itu, daripada Dewa atau Dewi. Usia, yah, sekitar 500 tahun. Jadi, aku jelas lebih tua dari kamu, tapi tenang saja … aku sangat bersahabat, kok,” ucap sang perempuan yang memiliki nama Lunara Shadowfen, dia menjelaskan dengan senyum ramah dan kemudian melanjutkan penjelasannya.
“Jadi, aku memberikan penawaran dan kesempatan menarik untuk mengulang kembali waktu. Ini kesempatan sangat langka, dari triliunan manusia, kamu menjadi yang terpilih. Mereset seluruh hidup, melukis kembali hidup kamu. Mengubah dan membuang yang tidak kamu inginkan. Bagaimana? Apa kamu tertarik? Dan apa kamu akan mengambil kesempatan ini?” tanya Lunara dengan senyum merekah di wajah. Lunara berharap dia menerima penawaran dan kesempatan yang diberikan olehnya.
Setelah mendengar penjelasan singkat dari Lunara, dia masih terlihat tidak percaya. Kemudian, Lunara mengerahkan seluruh usaha untuk meyakinkan dia agar percaya.
Dengan sedikit keyakinan dan kepercayaan, dia kemudian bertanya, “Berapa harganya?”
Lunara yang mendengar pertanyaannya tersenyum lebar, kemudian menjelaskan lagi, “Bukan berapa, tapi apa.”
Lunara berjalan mendekati dia yang tengah duduk, berdiri tepat di depannya. Kemudian berkata, “Air mata! Itu harganya.”
Kembali, dia bertanya dengan masih kebingungan dengan maksudnya, “Air mata? Hanya air mata?”
Lunara mengangguk saat laki-laki di depannya ini kembali bertanya untuk memastikan harga yang harus dibayar.
Dirinya kembali terdiam sejenak dan berpikir lebih dalam lagi, dia tidak ingin jika nanti menyesal. Ditambah, keraguan pada dirinya tentang kepercayaan, ‘Apa aku harus percaya orang itu? Mengulang waktu? Apa itu mungkin? Tapi, orang ini bisa melakukannya. Mereka berpindah tempat, apa yang harus aku lakukan?’ semua pertanyaan itu selalu muncul di pikirannya.
Ketika dia tengah berpikir, Lunara kembali berkata untuk lebih meyakinkannya, “Kesempatan tidak datang dua kali! Kamu orang terpilih dan aku sangat sulit menyeleksi. Harus melihat latar belakang orang itu, orang-orang di sekitarnya seperti apa, dan masih banyak pertimbangan lain. Dan yang terpilih kamu!”
Setelah mempertimbangkan dengan mantap, dia setuju untuk melakukan pengulangan waktu. Lunara mengeluarkan sebuah kertas perjanjian. Kertas di atas meja tampak kuno dan ditulis dengan kaligrafi yang indah. Tanpa ragu, dia menandatangani perjanjian. Seketika, Lunara menghilang dan kembali dengan sebuah botol kecil berisi cairan berwarna emas yang berkilauan.
Lunara memberikan botol kecil kepadanya dan berkata, “Minumlah!”
Kemudian dia meminum seluruh cairan yang berada di dalam botol kecil itu. Detik berikutnya, seketika pusing dan sakit melanda, mata kunang-kunang, bahkan seluruh tubuh terasa sakit seperti akan remuk. Mendadak dia terjatuh dan dalam kesadaran yang mulai memudar. Dia melihat kafe itu perlahan berganti menjadi tempat mandi. Dia juga melihat Lunara yang berjalan menjauhi darinya.
Ketika kesadaran semakin memudar, orang-orang datang dan mencoba untuk menyelamatkan dirinya. Akan tetapi, dua puluh detik kemudian, kesadarannya hilang total.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya