Customer Service

Ada yang Hilang dari Cara Kita Tertawa

100%

Ada yang Hilang dari Cara Kita Tertawa

Ada yang Hilang dari Cara Kita Tertawa

Wira Nawasena

 

Aku baru menyadari bahwa ada sesuatu yang berubah dari cara kami tertawa ketika melihat sebuah video lama.

Video itu berdurasi tiga puluh tujuh detik.

Tidak ada yang istimewa.

Hanya kami bertiga duduk di lantai kamar kos milik Rian, makan mi instan tengah malam sambil membicarakan hal-hal bodoh yang sekarang bahkan tidak bisa kuingat.

Dalam video itu, aku tertawa paling keras.

Rian hampir tersedak.

Sementara Saka memukul-mukul lantai karena terlalu banyak tertawa.

Aku menontonnya dua kali.

Kemudian tiga kali.

Lalu entah mengapa, aku merasa sedih.

Bukan karena mereka.

Bukan karena masa lalu.

Aku sedih karena baru menyadari bahwa aku sudah lama tidak tertawa seperti itu.

Dulu aku pikir menjadi dewasa berarti memiliki lebih banyak hal.

Lebih banyak uang.

Lebih banyak pengalaman.

Lebih banyak teman.

Lebih banyak kebebasan.

Ternyata aku salah.

Menjadi dewasa kadang justru berarti memiliki semakin banyak hal yang harus dipikirkan sebelum tertawa.

Tagihan.

Pekerjaan.

Keluarga.

Masa depan.

Ekspektasi.

Orang-orang yang harus dijaga perasaannya.

Dan kalimat yang paling sering menghantuiku:

"Kamu sekarang sudah bukan anak-anak."

Kalimat itu terdengar sederhana.

Tetapi semakin sering didengar, semakin lama ia terasa seperti larangan.

Jangan terlalu berisik.

Jangan terlalu banyak bercanda.

Jangan terlalu jujur.

Jangan terlalu percaya.

Jangan terlalu berharap.

Jangan terlihat lemah.

Jangan gagal.

Jangan membuat orang tua kecewa.

Jangan membuat orang lain berpikir buruk.

Akhirnya, tanpa sadar, aku menjadi seseorang yang sangat pandai terlihat baik-baik saja.

Pagi itu aku berangkat kerja seperti biasa.

Kemeja putih.

Celana hitam.

Sepatu yang mulai mengelupas di bagian depan.

Bus penuh manusia yang semuanya tampak sedang berusaha menyelamatkan hidup masing-masing.

Aku duduk di dekat jendela.

Seorang anak sekolah di depanku tertawa bersama temannya.

Tertawa tanpa alasan.

Tertawa karena sesuatu yang bahkan tidak cukup lucu.

Aku tersenyum melihat mereka.

Kemudian memalingkan wajah.

Aku iri.

Bukan kepada seragam mereka.

Bukan kepada usia mereka.

Aku iri pada cara mereka tertawa.

Tidak ada yang mereka sembunyikan.

Tidak ada yang perlu mereka pertimbangkan.

Tidak ada yang harus mereka buktikan.

Mereka hanya tertawa.

Dan dunia membiarkan mereka.

Di kantor, aku dikenal sebagai orang yang tenang.

"Enak ya kamu, selalu santai."

Itu kata Sinta, rekan kerjaku.

Aku tertawa.

"Padahal dalam kepala sudah kebakaran."

Dia ikut tertawa.

Aku juga.

Begitulah caraku bertahan.

Membuat lelucon tentang sesuatu yang sebenarnya menyakitkan.

Ketika gaji terlambat, aku bercanda.

Ketika pekerjaan menumpuk, aku bercanda.

Ketika ibuku menelepon dan bertanya kapan aku pulang, aku bercanda.

Ketika seseorang bertanya kapan menikah, aku bercanda.

Ketika seseorang bertanya apakah pekerjaanku baik-baik saja, aku menjawab:

"Baik. Tinggal nunggu kaya."

Semua orang tertawa.

Aku juga.

Tetapi kadang aku berpikir, mungkin aku sudah terlalu lama menggunakan humor sebagai cara untuk menghindari percakapan yang sebenarnya.

Hari Jumat, aku pulang terlambat.

Pukul sebelas malam.

Ibuku masih terjaga.

Lampu ruang tengah menyala.

"Kok belum tidur?"

"Nunggu kamu."

Aku meletakkan tas.

"Ibu nggak perlu nunggu."

"Ibu tahu."

Ia tersenyum.

Kemudian mengambilkan nasi.

"Ayo makan."

Aku duduk.

Kami makan berdua.

Tidak banyak percakapan.

Sampai ibu tiba-tiba bertanya,

"Kamu bahagia?"

Tanganku berhenti.

Aku hampir tertawa.

Pertanyaan itu terlalu sederhana.

Dan justru karena sederhana, ia terasa sulit dijawab.

"Ya."

Ibuku menatapku.

"Benar?"

Aku tersenyum.

"Kenapa tanya begitu?"

"Karena kamu sekarang jarang cerita."

Aku menunduk.

"Nggak ada yang perlu diceritakan."

Ibu diam.

Lalu berkata,

"Kalau memang tidak ada, ya sudah."

Aku tahu ia tidak percaya.

Tetapi ia tidak memaksaku.

Mungkin karena seorang ibu tahu ada pintu yang hanya bisa dibuka dari dalam.

Malam itu aku masuk kamar.

Membuka laptop.

Mengerjakan pekerjaan yang belum selesai.

Pukul satu.

Pukul dua.

Pukul tiga.

Aku berhenti.

Di layar komputer, ada dokumen kosong.

Aku tidak tahu sejak kapan aku berhenti menulis.

Dulu aku suka menulis.

Cerita pendek.

Puisi.

Catatan kecil yang tidak pernah kubagikan kepada siapa pun.

Aku pernah menulis karena ingin mengatakan sesuatu.

Sekarang aku menulis hanya ketika harus.

Kata-kata yang dulu terasa seperti rumah berubah menjadi pekerjaan.

Aku membuka folder lama.

Ada ratusan dokumen.

Beberapa judul membuatku tersenyum.

Beberapa membuatku malu.

Beberapa bahkan tidak selesai.

Aku membuka salah satunya.

Tulisan itu dibuat lima tahun lalu.

Di bagian akhir ada kalimat:

"Aku ingin hidup yang ketika mengingatnya nanti, aku tidak merasa hanya pernah bertahan."

Aku membaca kalimat itu berkali-kali.

Kemudian menutup laptop.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku bertanya kepada diri sendiri:

Kapan tepatnya aku berhenti hidup dan mulai hanya bertahan?

Beberapa hari kemudian, Rian menghubungiku.

Ngopi?

Aku hampir menolak.

Kemudian teringat video lama itu.

Di mana?

Tempat biasa.

Aku datang.

Rian sudah duduk di sudut.

Saka datang dua puluh menit kemudian.

Tidak banyak yang berubah.

Rian masih terlambat.

Saka masih memesan kopi paling mahal.

Aku masih memilih kopi hitam.

Kami mulai bercerita.

Tentang pekerjaan.

Tentang keluarga.

Tentang hubungan.

Tentang uang.

Tentang hidup.

Kemudian Rian berkata,

"Kalian sadar nggak?"

"Apa?"

"Kita sekarang kalau ketemu isinya keluhan semua."

Kami tertawa.

Kemudian diam.

Saka mengangguk.

"Benar juga."

Aku melihat dua orang di depanku.

Kami pernah begitu bahagia hanya karena punya uang cukup untuk membeli tiga bungkus mi instan.

Sekarang kami punya penghasilan.

Punya kendaraan.

Punya pekerjaan.

Punya kartu debit.

Punya cicilan.

Tetapi entah mengapa, kami seperti kehilangan sesuatu.

Rian mengangkat gelasnya.

"Untuk apa kita kerja kalau nggak pernah sempat menikmati hidup?"

Tidak ada yang menjawab.

Karena pertanyaan itu terlalu dekat dengan sesuatu yang selama ini kami hindari.

Malam semakin larut.

Kami mulai membicarakan masa sekolah.

Tentang guru yang galak.

Tentang teman yang pernah kami kerjai.

Tentang pertandingan futsal.

Tentang seseorang yang pernah kami sukai diam-diam.

Saka menceritakan kembali kejadian ketika Rian pernah jatuh dari sepeda di depan sekolah.

Aku tertawa.

Awalnya kecil.

Kemudian semakin keras.

Rian ikut tertawa.

Saka tertawa.

Kami bertiga sampai tidak bisa bicara.

Pelayan warung menatap kami dengan bingung.

Dan untuk beberapa detik, aku kembali menjadi diriku yang dulu.

Tidak memikirkan pekerjaan.

Tidak memikirkan uang.

Tidak memikirkan masa depan.

Tidak memikirkan apakah aku sudah cukup berhasil.

Aku hanya tertawa.

Ketika kami berhenti, aku mengusap sudut mata.

Rian menatapku.

"Lu masih bisa ketawa ternyata."

Aku terdiam.

"Kenapa?"

Ia mengangkat bahu.

"Entah. Gue kira lu sudah lupa caranya."

Aku tersenyum.

Mungkin ia bercanda.

Tetapi ada beberapa lelucon yang diam-diam membawa kebenaran.

Setelah malam itu, aku mulai melakukan hal-hal kecil.

Aku membeli buku lagi.

Bukan untuk bekerja.

Aku menulis satu halaman setiap malam.

Tidak selalu bagus.

Tidak selalu berarti.

Kadang hanya tentang hujan.

Kadang tentang kopi.

Kadang tentang seseorang yang kutemui di bus.

Kadang hanya satu kalimat.

Aku juga mulai berjalan kaki pulang jika pekerjaan selesai lebih awal.

Sesekali aku membeli gorengan dan duduk di taman.

Aku menelepon ibu tanpa menunggu ia menelepon lebih dulu.

Aku mengunjungi teman-teman.

Aku belajar mengatakan "tidak" tanpa merasa harus menjelaskan seluruh hidupku.

Dan yang paling sulit:

Aku belajar mengakui ketika aku sedang tidak baik-baik saja.

Ternyata mengaku lelah tidak membuat seseorang menjadi lemah.

Mengaku takut tidak membuat seseorang menjadi pengecut.

Dan menangis tidak membuat seseorang gagal menjadi dewasa.

Suatu sore, aku kembali membuka video lama itu.

Tiga puluh tujuh detik.

Aku menontonnya sampai selesai.

Kali ini aku tidak sedih.

Aku tersenyum.

Aku sadar sesuatu.

Orang yang ada dalam video itu sebenarnya belum hilang.

Ia hanya terlalu lama kusuruh diam.

Terlalu lama kuajari bahwa hidup harus serius.

Terlalu lama kuberi tahu bahwa menjadi dewasa berarti berhenti melakukan hal-hal yang membuat bahagia.

Padahal mungkin menjadi dewasa bukan tentang membunuh sisi kanak-kanak dalam diri kita.

Mungkin menjadi dewasa adalah belajar menjaganya.

Supaya ia tetap hidup ketika dunia mulai terlalu bising.

Beberapa bulan kemudian, kami bertiga kembali berkumpul.

Tidak ada alasan khusus.

Tidak ada yang ulang tahun.

Tidak ada yang mendapat promosi.

Tidak ada yang menikah.

Kami hanya ingin bertemu.

Rian membawa kamera.

Saka membawa makanan.

Aku membawa buku catatan.

Kami duduk di tempat yang sama.

Berbicara sampai malam.

Kemudian seseorang mengatakan sesuatu yang bodoh.

Kami tertawa.

Lagi.

Aku mendengar suara tawaku sendiri.

Aneh.

Sudah lama sekali aku tidak mendengarnya seperti itu.

Bukan tawa yang dibuat agar orang lain tidak bertanya.

Bukan tawa untuk menutupi kesedihan.

Bukan tawa karena harus terlihat baik-baik saja.

Hanya tawa.

Sederhana.

Jujur.

Milikku sendiri.

Aku menatap dua sahabatku.

Mereka juga sudah berubah.

Kami semua sudah berubah.

Tetapi mungkin tidak semua perubahan harus membawa sesuatu pergi.

Sebagian perubahan justru mengajarkan kita cara mengambil kembali sesuatu yang pernah kita tinggalkan.

Malam itu kami pulang hampir tengah malam.

Aku berjalan sendirian menuju rumah.

Langit gelap.

Jalanan sepi.

Tetapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa hidupku tidak sedang menungguku di suatu tempat yang jauh.

Ia ada di sini.

Di langkah kaki.

Di udara malam.

Di pesan singkat dari teman.

Di meja makan bersama ibu.

Di halaman kosong yang kembali terisi tulisan.

Di tawa yang tidak perlu disembunyikan.

Aku berhenti sebentar di depan rumah.

Memandang pantulan wajahku di kaca.

Wajah yang masih sama.

Hanya matanya yang sedikit berbeda.

Aku tersenyum.

Kemudian tertawa kecil.

Dan kali ini, aku tidak mencari alasan untuk menjelaskan kenapa.

Barangkali memang ada yang hilang dari cara kita tertawa.

Bukan karena hidup mengambilnya.

Kadang kitalah yang menyerahkannya sedikit demi sedikit kepada ketakutan, tuntutan, dan keinginan untuk terlihat baik-baik saja.

Tetapi sesuatu yang pernah hilang tidak selalu benar-benar pergi.

Kadang ia hanya menunggu.

Menunggu satu malam.

Satu teman.

Satu percakapan.

Atau satu keberanian kecil untuk berkata kepada diri sendiri:

"Aku ingin hidup lagi."

Aku membuka pintu rumah.

Ibu belum tidur.

"Kok senyum-senyum?"

Aku menaruh tas.

"Nggak tahu, Bu."

Ibu ikut tersenyum.

"Bagus."

Aku mengangguk.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidur tanpa merasa harus menjadi siapa-siapa.

Dan mungkin, untuk sementara, itu sudah cukup.

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke: