Customer Service

Bagaimana hasilnya?

100%

Bagaimana hasilnya?

Bagaimana hasilnya?


Benar kata orang. Waktu adalah emas. Ia sangat berharga. Selain itu waktu terkadang terasa sangat singkat, serta penuh bak antrian penumpang kereta api. Seakan dunia dikejar waktu yang tak pernah cukup. Hal semacam itulah yang Tara rasakan sekarang. Sebagai siswa dari keluarga biasa ia harus tetap mempertahankan nilai tingginya untuk mempertahankan beasiswanya di sekolah. Mungkin di alam sebelum ia lahir saat pembagian kekayaan Tara sedang terlambat, namun ketika pembagian kepintaran ia datang awal. Menjadikannya sebagai anak peringkat atas di sekolahnya. Tapi beasiswa hanya meringankan biaya administrasi serta uang gedung, tidak dengan biaya operasionalnya serta biaya hidup keluarganya. Maka Tara bekerja menjaga toko serba ada pada bagian shift sore menuju malam. Tidak jarang Tara merasa seakan waktu berjalan begitu saja, ia lelah bekerja sekaligus belajar. Tidak mudah melakukannya. Ia harus membantu ibunya untuk menghidupi dirinya serta ketiga adiknya. Dimana ayahnya? Tuhan sudah memanggilnya lebih dulu.

“Semisal kamu bisa lolos sertifikatnya bisa buat kamu daftar kuliah” di ruang guru yang sejuk oleh hembusan udara dari air conditioner, Bu Ayu–sedang mengutak-ngatik komputer di depannya sebelum akhirnya berbicara kepada Tara.

“Ee, tapi saya ga ada waktu Bu, lebih baik murid lain saja.” Lomba Olimpiade sains nasional akan segera diadakan, para wali kelas diminta menyerahkan nama siswa yang berminat ikut. Tara tahu betul namanya akan ikut terseret, tapi ia menolaknya karena dia benar-benar tidak punya waktu untuk belajar lebih. Tapi karena bu Ayu berusaha meyakinkannya dengan bilang bahwa jika berhasil tembus tingkat nasional maka syarat perpanjangan beasiswanya akan diringankan. Guru itu pintar sekali membujuk, sehingga tak mungkin Tara menolaknya. Tentu saja siapa yang mau kehilangan beasiswa.

Namun alangkah mengejutkannya bagi Tara. Sekolah seenak jidat memasukkan Tara ke Olimpiade matematika. 

Weh perasaan aku bilangnya maunya Biologi wey, gerutu Tara dalam hati. 

Tapi itu bukan masalah besar karena Tara memang dasarnya pintar. Bermain dengan  angka bercampur lambang dengan huruf cantik tidak cukup sulit baginya. 

Tapi melihat daftar siswa di kelas bimbingan olimpiade matematika Tara tersenyum menyeringai melihat nama siswa tersebut. Siapa lagi jika bukan Mr. never out of top three–julukan untuk Ali Putra Wijaya. Tidak ada asal usul resmi akan julukan itu, semuanya terjadi spontanitas dari siswa-siswa sekolah. Ali Putra Wijaya. Tingkat konsisten akan peringkat atasnya selalu mengagumkan. Tidak pernah keluar dari tiga besar satu angkatan di pemeringkatan raport sekolah lebih sering mendapat peringkat satu. Dan karena dia sekelas dengan Tara, dialah yang menjadi penghalang untuk tara mendapat ranking satu di  kelas. 

Di rumahnya Ali sedang protes kepada ayahnya.

“Aku bisa ikut lomba yang sastra saja aku tidak mau matematika Pa.” Keluhnya pada ayahnya. Ayahnya pemilik yayasan SMA airlangga yang sangat menjaga citra keluarganya sebagai golongan berpendidikan. Baginya yang memiliki kecerdasan ilmu matematika serta sains akan lebih dipandang dibanding sastra.

“Ali, sudah berapa kali papa bilang. papa ini pemilik yayasan sekolah serta owner bimbingan belajar terbesar di negeri ini, dengan kamu memilih sastra dibanding matematika yang menjadi favorit semua orang itu bisa merusak branding yayasan dan bimbel kita Ali.”

“Tapi ini hanya kompetisi Pa, papa sendiri tahu aku tidak terlalu  menyukai matematika dan sains meski aku bisa” 

“Papa selalu akan membuatnya  lebih mudah untukmu, sebagai anakku kau bisa dapat akses bimbel yang lebih memadai dibanding siswa lain.  Maka berhenti omong kosong dan kembali ke kamarmu, belajar Ali!”

Dengan kesal Ali kembali ke kamarnya. Entah apa lagi hal yang harus ia jelaskan supaya ayahnya mengerti bahwa sastra itu tidak buruk. Seperti hei sastra itu bisa membuatmu mengatakan orang itu jelek tanpa bilang ia jelek, menyenangkan bukan. 

Saat kelas bimbingan Tara benar-benar terlihat seperti siswa salah masuk kelas. Bagaimana tidak, mejanya penuh dengan kertas coretan dan catatan yang eh tidak rapi. Kontras dengan siswa lain yang membawa buku tulis dan buku paket latihan saja. Tara menulis semua catatan di lembaran kertas yang ia staples.

“Biar hemat buku” jawab Tara ketika ditanya tentang catatannya yang terlihat tidak bermodal itu. Tara memang cerdas, tetapi ia tidak rapi. 

Diantara semua cabang olimpiade, matematika menjadi paling favorit, tak heran kelas bimbingan matematika menjadi paling ramai. Karena beda kelas berapa ada yang sibuk berkenalan, kecuali Ali. Lelaki itu seakan jiwanya tidak bersamanya. Dia hanya diam menatap jendela ruangan yang menyuguhkan pemandangan pohon dan langit yang cerah.

Seleksi tingkat sekolah menyisakan lima anak yang nantinya akan diikutkan untuk seleksi olimpiade tahap kabupaten. Nama Tara tercantum dalam pengumuman hasil seleksi bersama empat peserta lainnya. Tapi alangkah terkejutnya Tara, bahkan hampir seisi sekolah, pasalnya Mr. never out of top three mereka tidak ada dalam papan pengumuman.  Coba cari di pengumuman cabang lain mungkin ia ikut cabang lain, nihil namanya tidak ada di cabang olimpiade apapun.

Untuk memenuhi rasa penasarannya Tara bertanya langsung pada yang bersangkutan. Bukan mengapa pasalnya jika Ali tidak ikut mewakili sekolah untuk olimpiade, pihak sekolah akan memberi beban ekspektasi kepadanya. Merepotkan.

“Sudah tahu pengumuman seleksi?”

Ali melirik Tara sebentar, lalu bangkit mengambil pensilnya yang tadi terlempar.

Tara kini duduk di depan Ali, pemilik bangkunya sedang pergi. 

“Sudah, anda lolos selamat” ucap Ali singkat.

“Udah, gitu aja, heh kau itu ga mungkin tersingkiran dengan saingan cuma sama kami-kami saja” ucap Tara langsung to the point.

“Kalau aku gagal, ya gagal Tara, repot sekali kau ini”

Tidak puas dengan jawaban lelaki itu, Tara hanya senyum menyeringai berdiri,  hendak pergi sebelum lelaki itu menarik lengannya, mencegahnya pergi.

Tara menoleh ke Ali, mereka bersitatap sejenak. 

“Tunggu sebentar” Ali tampak mengambil sesuatu dari laci mejanya. 

 Ali meraih tangan Tara, meletakkan tumpukan buku tebal di atasnya. Itu adalah buku dari bimbel milik ayah Ali. 

“Kabar baik untukmu, bimbel ayahku menjadi sponsor olimpiade, beberapa soal tipenya  akan tidak asing dengan yang ada di dalam ini. Semoga beruntung anak rajin” tepat setelah kata terakhir itu keluar senyum terukir di wajah Ali, tapi senyum itu jelas mengejek dan tertuju pada Tara. Kemudian Ali beranjak pergi. Hendak ke kantin

Tara sedikit protes, ia  belum selesai bicara dengan Ali. Tapi Ali mengabaikannya.

Tara benar-benar tidak mengerti jalan pikiran pria itu. Itu kesempatan bagus untuknya. Seperti heh, bukankah dia kaya, ayahnya mendukung penuh kebutuhan pendidikannya tapi dia melepas kesempatan olimpiadenya begitu saja. Sedangkan Tara, ia harus belajar lebih keras untuk mengimbangi murid-murid berprestasi  lainnya, ia tidak pernah ikut bimbel manapun. Tidak ada cukup uang untuk itu. 

Jika saja aku terlahir seperti seorang Ali,semua bimbel aku ikuti, semua kompetisi kutamatkan, lah dia malah kabur, ucap Tara dalam hati.

“Tapi dia cukup baik hati memberiku buku mahal ini, jadi terserah dia lah, hihi” Tara terkekeh.

Buku pemberian Ali sangat berguna bagi Tara. Banyak tipe soal rumit yang belum pernah ia temui dapat ia temukan di buku bimbel itu. menjadikannya memiliki amunisi lebih untuk menghajar soal olimpiade. Tapi bagian tersulitnya adalah waktu. Sulit sekali menyeimbangkan waktu untuk sekolah, bekerja, dan kini ditambah ia harus belajar ‘menghajar’ soal untuk olimpiade.

Menatap papan pengumuman hasil seleksi tingkat kabupaten Tara tidak tahu harus senang atau sedih mendapati namanya tertera di sana. Bukan tanpa alasan jika Tara sedih, pasalnya dari cabang matematika hanya ada namanya. Ini benar-benar membebaninya. Lolos tingkat kabupaten memang membuat perpanjangan beasiswanya aman,tapi itu memberi ekspektasi lebih terhadap dirinya. 

Puas menatap papan pengumuman Tara berbalik, mendapati sesosok lelaki jakung yang juga melihat hasil pengumuman–Ali.

“Wah,anak rajin kau lolos rupanya, selamat” Ucap Ali tersenyum lebar sekali. Tepuk tangan pelan ia lakukan di depan wajah Tara. Tapi Tara tahu itu senyum dan gestur mengejek karena sebenarnya orang yang bisa di posisi itu adalah Ali. Bahkan jika lebih dipercaya untuk lolos tahap provinsi Ali lebih meyakinkan.

“Kau sengaja kan? Entah apa yang kau tulis di kertas jawaban sehingga kau tidak lolos” Ucapan Tara yang ini  menghentikan langkah kaki Ali yang hendak pergi. Ia menoleh ke Tara. kedua mata mereka bersitatap sejenak. 

“Biar apa” lanjut Tara “Biar apa aku tanya?”

“Biarin. Daripada memikirkan orang lain  pikirkan  saja nasibmu di seleksi provinsi nanti anak rajin” Ali senyum menyeringai.

“Kenapa kau tidak mengikuti kompetisinya, bukankah kau punya gelar yang   harus dipertahankan”

“Maaf Tara, tapi aku sudah tidak berminat bermain dengan angka-angka cantik, itu bukan gayaku”

Demi mendengar itu Tara segera pergi agar rasa kesalnya tidak menjadi-jadi. Entah mengapa ia merasa kesal kepada Ali, harusnya tidak. Bagi Tara Ali benar benar menyia nyiakan kesempatan yang Tara inginkan. Ali bisa mendapat akses belajar dengan mudah sedangkan Tara harus rajin mencuri-curi waktu jika ingin untuk mencapai garis yang sama dengan siswa lain bahkan harus paling depan.

Setelahnya seperti prosedur Tara akan ikut olimpiade tingkat provinsi. Ia benar-benar berusaha  keras untuk itu. Tapi usahanya sepertinya tidak sebesar peserta lainya. ia tidak lolos tingkat provinsi. Sebenarnya Tara juga biasa saja mengetahui hasil itu, Tidak sedih, tidak perlu, dia sudah bosan. Setelah mengerjakan semua soal Olimpiade itu ia benar-benar pasrah akan hasil. Tiidak berharap menang ataupun kalah. Hanya  “Ya sudah biarkan saja”

Lantas bagaimana dengan Ali? bukankah ayahnya akan kesal mengetahui anaknya tidak ikut kompetisi itu. Kegagalan Ali lolos seleksi bahkan masih di tingkat sekolah membuat ayahnya mendadak memiliki kesabaran yang setipis tisu kemudian disiram air. Lenyap

“Jadi ini yang kau mau?” Ayah menatap Ali , nada suaranya tajam

“Aku sudah bilang tidak mau, kenapa harus kulakukan”

“Kamu pikir ini hal yang bisa papa anggap remeh begitu saja, papa sudah jelaskan kalai sains itu branding…” belum sempat kalimat itu usai Ali menyela

“Branding apa Pa, itu cuma tes, tidak membuat hidupku berakhir”

“Kenapa kau keras kepala sekali, kau masih remaja, belum mengerti semuanya, biar papa membimbing kau untuk jadi apa nanti.”

“Itu bukan membimbing Pa, itu namanya memerintah. Perintah satu arah, papa cuma selalu percaya apa yang papa ingin, tuli akan pendapat orang termasuk anak papa sendiri”

“Ali!!” suaranya yang berat menggelegar, menghantam dinding-dinding ruangan yang semula sunyi hingga udara di sekitar mereka terasa mendadak tipis.

Ruangan lenggang sejenak.Ayah menarik nafas dalam-dalam mencoba meraih kesabaran yang tersisa di jiwanya. 

“Baik Ali, baik kau mau apa. Katakan”

Ali senyum menyeringai, apa maksudnya? sudah berkali-kali Ali bilang apa yang dia inginkan, untuk kemudian hanya akan dapat ejekan darinya. Ali tahu bagi ayahnya jalan yang ayah tunjukkan akan memastikan masa depan Ali baik-baik saja, tapi keduinsan tersebut tidak memiliki cita-cita yang berbeda. Ali diam. Tidak menjawab, karena ia tahu adegan selanjutnya jika ia menjawab.

“Kali ini papa akan mentolerir kamu, peringkat sekolah seangkatan kamu tidak boleh mendapat posisi selain nomor satu Ali”

Begitulah sekiranya percakapan antara ayah dan anak yang hubungannya bisa dibilang rumit. Ali tahu ayahnya menyayanginya, tapi Ali tidak setuju jika semua hal harus menurut padanya. Ayahnya yang memiliki bimbel terbesar se indonesia memberikannya akses belajar yang sangat mudah.  Membuatnya prihatin pada Tara yang terkadang mencatat dari internet. Belajar sendiri tidak buruk tapi merangkum sendiri semua materi yang tersebar luas di internet membuat Wajah gadis itu selalu mengernyitkan dahi. Entah karena sugesti apa Ali memberikan buku bimbelnya ke Tara.


Mengetahui gadis itu terhenti di tingkat provinsi Ali menghampiri Tara. Berniat menghiburnya eh ralat maksudnya mengejek.

Belum sempat Ali mengucapkan kalimatnya Tara mendahului percakapan

“Aku minta maaf”

“Kenapa”

“Aku sempat kesal dengan kau karena kau tidak ikut olimpiade, itu memberikan beban ekspektasi sekolah padaku. maaf seharusnya aku tidak perlu kesal dnegan kau, seharusnya aku berterima kasih kau memberiku buku itu.

Ali sedikit kikuk, batal mengejek. “Oh, iya, sama-sama”

“Tapi, beritahu aku, kenapa kau tidak ikut”


“Kenapa kau tidak ikut olimpiade?” tanya Tara.

Ali terdiam sejenak. “Karena aku tidak mau.”

“Sesederhana itu?”

“Memangnya harus serumit apa?”

Tara menghembuskan napas. “Entahlah. Aku cuma berpikir, kalau punya kesempatan sepertimu, aku yakin bisa berbuat lebih baik darimu.”

“Dan aku berpikir, kalau punya keadaan sepertimu, mungkin aku akan lebih menghargai kesempatan yang kumiliki.”

Tara mengerutkan dahi. “Jangan sok tahu. Kau tidak tahu bagaimana rasanya menjadi aku.”

Ali mengangguk. “Begitu juga kau.”

Untuk sesaat, keduanya terdiam.

Tara tidak pernah benar-benar tahu bagaimana rasanya menjadi Ali. Ia tidak tahu bagaimana rasanya memiliki segala fasilitas belajar tetapi tidak bebas menentukan apa yang ingin dipelajari. Sebaliknya, Ali juga tidak pernah tahu bagaimana rasanya menghitung waktu belajar berdasarkan jam kerja dan kebutuhan keluarganya.

Mereka memang sama-sama siswa berprestasi. Namun, kehidupan yang mereka jalani tidak pernah benar-benar sama.

Keesokan harinya, sekolah kembali ramai. Para siswa membicarakan nilai ujian, peringkat kelas, dan kompetisi yang akan datang. Nama-nama siswa terbaik kembali disebutkan, sementara nama-nama lainnya perlahan terlupakan.

Tara kembali bekerja sore itu. Ali kembali duduk di kelas, menghadapi pelajaran yang tidak semuanya ingin ia pelajari.

Dunia pendidikan terus berjalan, dengan target-target yang harus dicapai dan angka-angka yang harus dipenuhi.

Hanya saja, tidak ada angka di rapor yang bisa menjelaskan berapa banyak waktu yang harus dikorbankan Tara untuk sampai ke sana, atau berapa banyak keinginan yang harus disimpan Ali agar tetap menjadi anak yang dibanggakan ayahnya. Ketika sistem hanya menghargai angka di atas kertas, peringkat dan kelulusan, menolak peduli bagaimana proses itu dicapai.


Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke: