BARANGKALI AKU HANYA TERLAMBAT MENJADI SESEORANG
BARANGKALI AKU HANYA TERLAMBAT MENJADI SESEORANG
Wira Nawasena
Pada pukul sebelas malam, ketika sebagian besar manusia telah selesai berdamai dengan hari, aku masih menggulirkan layar ponsel.
Ø Satu unggahan.
Ø Dua unggahan.
Ø Lima.
Ø Sepuluh.
Ø Seseorang baru saja menikah.
Ø Seseorang mendapat pekerjaan.
Ø Seseorang membeli mobil.
Ø Seseorang berangkat ke luar negeri.
Ø Seseorang mengunggah foto wisuda dengan orang tua di sampingnya.
Ø Seseorang membuka usaha.
Ø Seseorang mendapatkan beasiswa.
Ø Seseorang bertunangan.
Ø Seseorang, entah bagaimana, selalu menjadi seseorang.
Aku mematikan layer; Kamar kembali gelap.
Beberapa detik kemudian, tanganku meraba ponsel lagi.
Layar menyala.
Aku membuka media sosial.
Manusia memang makhluk yang aneh. Kita tahu sesuatu akan membuat kita merasa buruk, tetapi tetap mendatanginya dengan sukarela.
Namaku Damar.
Usiaku dua puluh tiga.
Dan belakangan ini, aku merasa hidup orang lain berjalan menggunakan kereta, sementara hidupku masih sibuk mencari halte.
Pagi itu ibu mengetuk pintu.
“Mar.”
“Iya, Bu.”
“Ada surat.”
Aku bangun dari kasur. Sebuah amplop putih diletakkan di atas meja. Aku sudah tahu isinya sebelum membukanya.
Lamaran pekerjaan; Penolakan; Lagi.
Aku sudah mengirim dua puluh tujuh lamaran dalam tiga bulan terakhir.
Dua puluh tujuh.
Sebagian tidak membalas.
Sebagian mengirim email otomatis.
Sebagian mengundang wawancara lalu menghilang seperti orang yang tiba-tiba menyadari utang emosionalnya. Dan sebagian lagi menulis kalimat yang paling sering kutemui:
“Kami menghargai ketertarikan Anda, tetapi...”
Aku tidak pernah tahu apa yang terjadi setelah kata “tetapi”.
Biasanya sesuatu yang tidak kuinginkan. Ibu berdiri di depan pintu.
“Dari perusahaan yang kemarin?” Aku mengangguk.
“Belum berhasil?” Aku tersenyum. “Belum.” Ibu tidak berkata apa-apa. Ia mengambil pakaian yang tergeletak di kursi dan membawanya keluar. Sebelum pintu tertutup, ia berkata,
“Tidak apa-apa.”
Kalimat itu sederhana.
Tetapi semakin sering seseorang mengucapkan “tidak apa-apa”, semakin kita sadar bahwa sebenarnya ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja.
Aku bertemu Arga sore itu di sebuah kedai kopi dekat kampus.
Kami sudah lama tidak bertemu.
Dulu kami duduk di bangku yang sama, mengeluh tentang tugas yang sama, mengumpulkan uang untuk membeli makan siang, dan bermimpi dengan cara yang sama-sama berlebihan.
Kami pernah yakin akan mengubah dunia.
Sekarang, kami hanya ingin dunia memberi kami pekerjaan tetap.
Arga datang menggunakan kemeja biru; Jam tangannya bagus; Sepatunya bersih.
Ia meletakkan tas laptop di kursi.
“Lama, Dam.”
“Lu makin gemuk.”
Ia tertawa.
“Kerja, bro.”
“Di mana sekarang?”
Ia menyebut sebuah perusahaan besar.
Aku pernah mendengar namanya.
“Gaji?”
Arga menyebut nominalnya.
Aku tertawa.
Bukan karena lucu.
Karena kalau tidak tertawa, mungkin aku akan merasa lebih kecil.
“Gila.”
“Lu sendiri?”
Aku meneguk kopi.
“Masih cari.”
“Belum dapat?”
Aku menggeleng.
Arga terdiam sebentar.
“Lu sebenarnya mau kerja apa?”
Aku mengangkat bahu.
“Yang penting kerja.”
“Jangan begitu.”
“Begitu bagaimana?”
“Lu punya kemampuan.”
Aku tersenyum.
Kalimat itu sering dikatakan orang yang tidak sedang berada di posisiku.
Kemampuan.
Kata yang indah.
Tetapi kemampuan tidak selalu membayar tagihan.
Malamnya aku membuka laptop. Aku berniat memperbarui CV. Di folder dokumen, ada sebuah file bernama:
CV_DAMAR_FINAL.pdf
Aku membukanya. Kemudian menemukan:
CV_DAMAR_FINAL_REVISI.pdf
Lalu:
CV_DAMAR_FINAL_BANGET.pdf
Kemudian:
CV_DAMAR_FINAL_BANGET_FIX.pdf
Aku tertawa sendiri.
Ternyata bahkan CV-ku mengalami krisis identitas.
Aku menggulir halaman.
Pendidikan.
Pengalaman organisasi.
Sertifikat.
Keahlian.
Tidak ada yang istimewa.
Tidak ada yang buruk.
Hanya biasa.
Dan di zaman ketika semua orang berusaha terlihat luar biasa, menjadi biasa terasa seperti sebuah kesalahan.
Aku menutup laptop. Kemudian kembali mengambil ponsel. Satu unggahan baru muncul. Seorang teman lama sedang berada di Jepang. Foto di depan sebuah stasiun. Caption-nya:
“Akhirnya, mimpi masa kecil terwujud.”
Aku melihat foto itu cukup lama.
Aku ikut senang.
Sungguh.
Tetapi di bawah rasa senang itu ada sesuatu yang kecil dan gelap.
Iri.
Aku membenci perasaan itu.
Aku bahkan membenci diriku sendiri karena memilikinya.
Aku meletakkan ponsel.
Kemudian berbaring.
Di langit-langit kamar, bayangan kipas bergerak pelan.
Aku bertanya kepada diri sendiri:
Apa yang salah denganku?
Pertanyaan itu datang hampir setiap malam. Tidak pernah membawa jawaban.
Seminggu kemudian, aku mendapat panggilan wawancara. Sebuah perusahaan di pusat kota. Aku menyiapkan semuanya sejak malam sebelumnya.
- Kemeja putih.
- Celana hitam.
- Sepatu yang sudah dipoles.
- Map berisi dokumen.
- CV.
- Fotokopi ijazah.
- Sertifikat.
Aku bangun lebih pagi dari biasanya. Ibu membuatkan sarapan.
“Semoga kali ini.”
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Aku mengangguk.
“Doakan saja.”
Sebelum pergi, ibu memasukkan uang ke tanganku.
“Buat ongkos.”
“Aku punya.”
“Ambil.”
“Masih ada.”
“Ambil saja.”
Aku akhirnya menerima.
Aku tidak tahu mengapa hal-hal kecil seperti itu kadang terasa lebih berat daripada kegagalan.
Gedung perusahaan itu tinggi. Dinding kacanya memantulkan tubuhku. Aku berdiri di depannya selama beberapa detik. Melihat pantulan diri sendiri. Kemeja putih, Celana hitam, Map cokelat dan Wajah lelah.
Aku tampak seperti seseorang yang siap menghadapi masa depan. Padahal aku hanya takut ditolak lagi.
Wawancara berlangsung dua puluh menit. Pertanyaan demi pertanyaan; Tentang pengalaman; Tentang kemampuan; Tentang target; Tentang kontribusi. Aku menjawab sebaik mungkin Pewawancara tersenyum.
“Baik, nanti kami kabari.”
Aku tahu kalimat itu.
Aku sudah mengenalnya.
Ia adalah saudara jauh dari kalimat:
“Kami menghargai ketertarikan Anda, tetapi...”
Aku keluar dari gedung. Di trotoar, orang-orang berjalan cepat. Mereka semua tampak memiliki tujuan. Aku berjalan tanpa tujuan. Hanya mengikuti arus manusia.
Di lampu merah, aku melihat seorang lelaki tua menjual koran.
Aku membeli satu.
Bukan karena ingin membacanya.
Aku hanya ingin berhenti sebentar.
Di halaman depan ada berita tentang ekonomi.
Di halaman berikutnya ada berita tentang investasi. Di halaman lain ada seseorang yang baru saja menjadi pengusaha sukses di usia muda.
Aku melipat koran itu. Ternyata bahkan koran pun tidak membiarkan orang gagal beristirahat.
Tiga hari kemudian, email itu datang.
Aku membukanya pukul 09.17.
Tidak diterima.
Aku membaca sekali.
Kemudian dua kali.
Tidak ada perasaan apa-apa.
Aneh.
Mungkin hati manusia punya batas kapasitas.
Setelah terlalu sering patah, sesuatu di dalam diri kita berhenti menghasilkan suara.
Aku keluar kamar.
Ibu sedang menyapu halaman.
“Bagaimana?”
Aku berdiri di ambang pintu.
“Belum.”
Ibu berhenti menyapu.
Kemudian tersenyum.
“Coba lagi.”
Aku mengangguk.
Tetapi hari itu aku tidak percaya pada kalimat itu.
Aku masuk kembali ke kamar.
Mengunci pintu.
Menarik tirai.
Duduk di lantai.
Aku tidak menangis.
Aku hanya merasa kosong.
Dan kekosongan ternyata jauh lebih melelahkan daripada kesedihan.
Sore menjelang malam ketika ayah pulang.Aku mendengar suara motornya. Beberapa menit kemudian, pintu kamar diketuk.
“Mar.”
“Iya.”
Ayah masuk.
Ia duduk di ujung kasur.
Tidak bertanya tentang pekerjaan.
Tidak bertanya tentang wawancara.
Ia hanya duduk.
Beberapa menit.
Kemudian berkata,
“Dulu waktu seumuran kamu, Ayah juga pernah merasa semua orang sudah lebih jauh.”
Aku menoleh.
Ayah jarang bercerita tentang dirinya.
“Terus?”
“Terus ya tetap hidup.”
Aku tertawa kecil.
“Sesederhana itu?”
“Tidak.”
Ayah melihat ke luar jendela.
“Cuma waktu itu Ayah belum tahu kalau hidup bukan perlombaan.”
Aku diam.
Ayah melanjutkan,
“Kalau hidup perlombaan, berarti ada garis akhir.”
Ia menatapku.
“Padahal tidak ada.”
Aku menunduk.
“Ayah pernah gagal?”
“Sering.”
“Kenapa tidak pernah cerita?”
Ayah tersenyum.
“Karena waktu kamu kecil, kamu cuma perlu tahu Ayah bisa memperbaiki sepeda kamu.”
Aku terdiam.
“Bukan tahu bahwa Ayah pernah tidak tahu bagaimana memperbaiki hidup sendiri.”
Untuk pertama kalinya malam itu, sesuatu dalam diriku runtuh. Bukan karena sedih.
Karena aku tiba-tiba menyadari bahwa selama ini aku membandingkan hidupku dengan orang lain seolah-olah semua orang memulai dari tempat yang sama.
Padahal tidak.
Ada yang lahir dengan pintu yang sudah terbuka. Ada yang harus membuat pintunya sendiri. Ada yang bahkan harus mencari rumah terlebih dahulu.
Malam itu aku membuka media sosial. Aku melihat unggahan Arga. Ia sedang berada di sebuah restoran bersama teman-teman kantornya.
Aku menatapnya.
Kemudian menekan tombol keluar.
Bukan menghapus akun.
Bukan juga memutuskan untuk membenci media sosial. Aku hanya berhenti menggunakannya sebagai cermin. Karena cermin seharusnya menunjukkan wajah kita.
Bukan menunjukkan bagaimana hidup orang lain seharusnya membuat kita merasa.
Aku membuka laptop.
Membuat dokumen baru.
Bukan CV.
Bukan lamaran pekerjaan.
Aku menulis:
Hal-hal yang sudah kulakukan.
Aku menulis satu per satu.
Lulus kuliah.
Membantu ibu mengurus rumah.
Menyelesaikan berbagai pekerjaan meskipun tidak selalu berhasil.
Menjaga beberapa persahabatan.
Belajar hal-hal baru.
Bertahan melewati hari-hari yang tidak mudah.
Daftarnya tidak panjang.
Tetapi untuk pertama kalinya, aku tidak merasa hidupku kosong.
Aku hanya selama ini terlalu sibuk menghitung apa yang belum kumiliki sampai lupa melihat apa yang sudah kulewati.
Aku membuka jendela.
Udara malam masuk.
Di kejauhan, lampu kota menyala.
Aku membayangkan semua orang di balik jendela-jendela itu.
Mungkin ada yang sedang merayakan keberhasilan.
Mungkin ada yang sedang menangis.
Mungkin ada yang sedang memeluk anaknya.
Mungkin ada yang baru kehilangan pekerjaan.
Mungkin ada yang sedang menyusun rencana.
Mungkin ada yang seperti aku.
Duduk sendirian dan bertanya apakah dirinya terlambat.
Aku tersenyum tipis.
Barangkali aku memang terlambat.
Tetapi terlambat bukan berarti tidak sampai.
Kereta yang datang belakangan tetap bisa membawa kita ke tempat tujuan.
Jalan yang lebih panjang tetap merupakan jalan. Dan seseorang tidak menjadi gagal hanya karena orang lain sampai lebih dahulu.
Aku kembali melihat buku catatan di meja.
Di halaman pertama, kutulis:
Aku tidak terlambat.
Aku berhenti.
Kalimat itu terasa terlalu mudah.
Aku mencoretnya.
Kemudian menggantinya:
Barangkali aku hanya terlambat menjadi seseorang.
Aku membaca kalimat itu.
Lalu menambahkan:
Dan mungkin, aku tidak harus menjadi seseorang menurut ukuran mereka.
Aku menutup buku.
Besok aku akan mengirim lamaran lagi.
Mungkin akan ditolak.
Mungkin tidak.
Aku tidak tahu.
Untuk pertama kalinya, ketidaktahuan itu tidak terasa seperti ancaman. Ia hanya ketidakpastian. Dan hidup, rupanya, memang dibangun dari banyak hal yang tidak kita ketahui.
Malam semakin larut. Aku mematikan lampu.
Sebelum tidur, aku melihat ponsel yang tergeletak di meja. Tidak ada notifikasi; Tidak ada kabar pekerjaan; Tidak ada pencapaian baru; Tidak ada alasan untuk merasa hebat.
Tetapi malam itu aku tidak merasa kalah. Aku hanya merasa sedang berjalan. Pelan, Sangat pelan Namun tetap berjalan.
Barangkali itulah yang tidak pernah diajarkan siapa pun kepada kita; bahwa hidup tidak selalu meminta kita untuk menjadi yang pertama. Kadang-kadang hidup hanya meminta kita untuk tidak berhenti.
Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika aku akhirnya sampai di tempat yang selama ini kucari, aku akan menoleh ke belakang dan mengerti:
ternyata aku bukan tertinggal. Aku hanya mengambil jalan yang lebih panjang.
Dan jalan panjang, betapapun melelahkannya, tetap memiliki pemandangan yang tidak akan pernah dilihat oleh mereka yang terburu-buru.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya