Customer Service

Dara

100%

Dara


Jakarta, 2024


Siang itu jam istirahat, Dara yang seorang karyawan swasta menyempatkan diri untuk makan siang di sebuah Warung Padang yang terletak tepat di depan sekolah SMA. Pada jam yang sama, banyak siswa bertebaran keluar dari gerbang sekolah untuk mencari makanan di sekitar sana. Suasana menjadi ramai oleh suara tawa dan obrolan para siswa yang menikmati waktu istirahat mereka.

Dari kejauhan, Dara memperhatikan mereka. Senyum tipis muncul di wajahnya. Melihat seragam putih abu-abu yang mereka kenakan, pikirannya perlahan kembali ke masa lalu, ke masa ketika ia masih duduk di bangku SMA. Masa yang menyimpan begitu banyak kenangan, baik suka maupun duka, yang hingga kini masih melekat dalam ingatannya.


Bandung,  2008


Sebagian besar siswa sudah kembali ke ruang kelas masing-masing untuk mengikuti ujian. Dari koridor, Dara masih bisa mendengar suara kursi yang digeser dan lembar soal yang dibagikan. Sementara itu, ia duduk sendirian di bangku panjang di luar ruang kelas.


Kartu ujiannya tidak ada.

Kartu ujian hanya dapat diperolah setelah seluruh uang sekolah dilunasi. Sementara Dara, uang sekolahnya telah menunggak selama enam bulan. Tanpa kartu ujian, ia tidak diperbolehkan mengikuti ujian.


Malam sebelumnya, Dara sudah menangis, air mata sudah terkuras. Ia telah memohon pada ayahnya agar bisa membayar uang sekolah yang menunggak enam bulan, agar bisa mengikuti ujian, tetapi permintaannya tidak diindahkan. Waktu itu setelah keempat adiknya tertidur, Dara masih duduk di ruang depan. Dengan surat pemberitahuan dari sekolah tentang peringatan pembayaran uang sekolahnya yang  terlipat di tangannya. Sejak pulang sekolah tadi, ia terus memikirkan bagaimana menyampaikannya pada Ayahnya.

Ia tahu keadaan rumah mereka sedang tidak baik-baik saja. Ayahnya hanya bekerja sebagai sopir angkutan umum. Penghasilan ayahnya tidak seberapa. Setiap hari, Ayah dara hanya memberikan lima puluh ribu rupiah,  sementara uang itu harus mencukupi kebutuhan lima anaknya. Belum lagi kebiasaan ayahnya berjudi dan minum, acapkali membuat uang yang dibawa pulang entah kemana.


Suara Langkah kaki khas ayah Dara terdengar dari depan rumah.


Dara segera berdiri.

Ayahnya masuk dengan langkah sedikit sempoyongan.

 Bau alkohol langsung tercium ketika ia melewati Dara. Wajahnya tampak lelah, matanya sedikit merah.


“Pak…”


Ayahnya menoleh.


“Kenapa ??!! ” dengan nada kesal ayahnya menjawab


Dara menyodorkan Surat Pemberitahuan dari sekolah untuk ayahnya.


“Dara mau minta uang buat bayar uang Sekolah.”


Ayahnya diam sebentar.


Kemudian mengembuskan napas panjang.


“ minta sama mamamu sana, pergi kalian dari sini pergi dengan mamahmu”


Belum sempat mengatakan apa-apa lagi, ayahnya langsung berubah nada.


“Memangnya saya ini, bank pribadi kamu !! minta uang seenaknya, cari duitmu sendiri ” ungkap Ayah Dara.


Dara terdiam.


“Enak saja minta uang seenaknya. Uang sekolah, uang sekolah terus. Kau yang sekolah kau cari uangmu sendiri ”


“Tapi, Pak…”


“Tidak ada!” Suara ayahnya meninggi.


Dara langsung menunduk.


“Sudah tahu keadaan di rumah begini masih saja minta uang.” Ungkap ayah Dara.

Dara tidak menjawab.


Ayahnya kemudian pergi lagi keluar rumah, meninggalkan Dara sendirian di ruang depan.

Dara masih duduk di tempatnya. Kertas yang sejak tadi ia pegang perlahan diremas di tangannya.


Sebenarnya ia tidak berharap banyak. Tapi malam itu, dia mencoba memberanikan diri, memaksakan dirinya untuk meminta uang kepada Ayahnya. Mencoba sedikit saja harapan bahwa ayahnya akan membantunya .

Dan harapan kecil itu baru saja patah.


Dara masuk ke kamar tanpa berkata apa-apa. Ia termenung duduk terdiam di tepi tempat tidur, memandangi surat yang masih berada di tangannya. Rasa sesak di dadanya menguncangnya, kepedihan itu luruh bersama air mata yang tak lagi mampu dia bendung. Ia segera menutup mulutnya, menahan suara tangis agar tidak terdengar keempat adiknya yang tidur sekamar dengannya. 

Pikiran Dara berkecamuk. Masih adakah kesempatan baginya untuk mengikuti ujian ? Ia ingin bersekolah, tetapi ucapanya ayahnya membuatnya pesimis, Haruskah ia mengubur keingingannya dan meninggalkan sekolah ?


Jakarta,  2024


Dara menghela napas pelan, lalu tersenyum tipis. Kini, ia bukan lagi gadis berusia lima belas tahun yang menangis diam-diam karena takut tidak bisa melanjutkan sekolah. Waktu telah membawanya melewati banyak hal, mengajarkannya untuk bertahan dan berjuang meski keadaan tidak selalu berpihak kepadanya.


Ia kembali menatap para siswa yang mulai bergegas masuk ke sekolah. Dalam hati, Dara berharap mereka tidak perlu merasakan kesulitan yang pernah dialaminya dahulu.

Yang paling ia ingat justru suara ayahnya.

“Memangnya saya ini, bank pribadi kamu !! minta uang seenaknya, cari duitmu sendiri ”

Kata-kata yang selalu terngiang-ngiang dalam benaknya. Mungkin bagi ayahnya, kalimat itu sudah lama terlupakan.

Tapi bagi Dara, tidak.

Ada kata-kata yang hanya lewat begitu saja setelah diucapkan.

Ada juga yang tinggal jauh lebih lama daripada orang yang mengucapkannya.

Rasa sakit hati itu ikut tersimpan bersamanya.

Kadang, ketika hidup membawanya pada keadaan yang sulit, Ucapan Ayahnya lah yang paling sering muncul.

Dara menarik napas panjang.

Ingatan itu Kembali membawanya pada masa ketika semuanya belum selesai.


Bandung, 2008


Pagi itu, seharusnya Dara mengikuti ujian. Tetapi dia hanya bisa menunduk malu, duduk terdiam sambil menatap pintu ruang guru. Dara Ingin mengikuti ujian, sama seperti teman-temannya.

Kejadian serupa pernah dialami Dara pada semester sebelumnya. Ia terpaksa mengikuti ujian sepekan setelah teman-temannya selesai. Saat hari ujian tiba, ia tetap datang ke sekolah, tetapi harus pulang karena tidak memiliki kartu ujian. Ia hanya bisa menunggu sampai ibunya memiliki cukup uang untuk membayar tunggakan sekolahnya. Baru seminggu setelah ujian berakhir, Dara akhirnya bisa mengikuti ujian susulan. Itu pun seorang diri, duduk di meja guru, ketika teman-temannya sudah lebih dulu menyelesaikan ujian mereka. Perasaan malu menyelimuti Dara, karena lagi – lagi  hanya dirinya yang harus menunggu di luar saat teman – temannya mengikuti ujian.


Dara tidak beranjak dari tempat duduknya. Selama masih ada kemungkinan untuk mengikuti ujian hari itu, sekecil apa pun, ia ingin tetap berharap. Sampai akhirnya, salah seorang datang menghampiri Dara, orang itu yang baru saja keluar dari ruangan guru.

“Dara, kamu dipanggil Bu Kadar ke ruang guru.”

“saya, bu ?” tanyanya, meski ia sudah tahu jawabannya.

“Iya.”

Dara beranjak meninggalkan bangku panjang kolidor. Dara mengendong tasnya, lalu berdiri. Sepanjang jalan, ia sempat menarik napas panjang.


Dara dikenal sebagai anak yang ceria dan cukup aktif di sekolah, saat itu di masih duduk di bangku kelas 2 SMK Swasta salah satu yg terbaik di daerah kabupaten Bandung. Dara bukan murid yang selalu mendapat peringkat tiga besar, tetapi nilainya cukup baik dan ia rajin mengikuti kegiatan sekolah, Ia ikut OSIS dan beberapa kegiatan ekstrakurikuler. Hampir semua guru mengenalnya. Tetapi peraturan di sekolah menegaskan bahwa murid yang belum bayar uang sekolah tidak boleh mengikuti ujian.


Dara berjalan menuju ruang guru sambil mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja. 

Ketika sampai di ruang guru, Bu Kadar sudah menunggunya.


“Dara, sini. Duduk dulu.”

Dara menarik kursi di hadapan Bu Kadar.

Guru itu memandangnya beberapa saat sebelum bertanya,

“Dara, uang sekolah kamu belum dibayar, ya?”

Dara mengangguk.

“Maaf belum, Bu.”

“Kenapa?”

Dara menunduk malu. Ia ragu harus mulai menjelaskan dari mana.

“ Ibu saya sedang di Jakarta, Bu ” jawab Dara pelan. “ Saya belum bisa menghubungin ibu saya”

Sudah sebulan, ibunya berada di Jakarta untuk mengikuti pelatihan sebagai salah satu syarat agar bisa bekerja di Malaysia.

Ia terpaksa meninggalkan anak-anaknya demi mencari penghidupan yang lebih baik, sebab ia tak bisa lagi bergantung pada suaminya. Bukan karena Dara ingin berbohong. Gadis yang ceria itu memang tak pernah terbiasa bercerita tentang keadaan keluarganya, bahkan ketika gurunya bertanya. Ia hanya tidak tahu harus mulai menjelaskan dari mana.

Bagaimana dia menjelaskan, Dara tidak bisa menghubungi ibunya yang kini berada jauh di Jakarta. Memiliki telepon genggam masih menjadi sesuatu yang mahal bagi keluarga mereka.

Bagaimana menjelaskan bahwa ibunya harus membagi penghasilan yang pas-pasan untuk lima orang anaknya ?

Dan bagaimana ia harus menjelaskan tentang seorang ayah yang seharusnya ikut bertanggung jawab, tetapi justru sering menghabiskan uang untuk sesuatu yang tidak pernah membawa hasil apa pun bagi keluarganya?


Semua menumpuk di kelapa Dara.


Dara mengangkat wajahnya. Dengan ragu, ia bertanya,

“Saya masih boleh sekolah, kan, Bu?”

Bu Kadar terdiam.

Untuk pertama kalinya pagi itu, Dara tidak mampu menyembunyikan rasa takutnya.

Bu Kadar menghela napas pelan.

“Dara, Ibu bukan mau melarang kamu sekolah.”

Dara menunduk kembali.

“Justru karena Ibu ingin kamu tetap sekolah, Ibu ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.”

Dara menunduk terdiam. Ia tak tahu harus menjawab apa.

“Dara, di rumah ada Bapak atau Ibu?”

“Bapak pulang malam, Bu. Ibu masih di Jakarta bu, Dara tidak tau kapan pulangnya.”

“Kalau begitu, kamu pulang dulu. Nanti Ibu datang ke rumah.”

“Ke rumah saya?” ucap Dara

“Iya.”

“Baik, Bu.”

Ada rasa lega yang muncul, tetapi bersamaan dengan itu ada juga rasa takut, malu, dan canggung.

Selama ini, Dara selalu berusaha membuat semuanya terlihat baik-baik saja.

 

Sorenya , Bu Kadar datang ke rumah kontrakan Dara. Rumah itu hanya ada satu kamar tidur, sebuah ruang tengah, dan dapur terbuka di bagian belakang. Dara tinggal bersama kedua orang tua dan empat saudaranya di sebuah rumah kecil yang sederhana. Dara menyambut Bu Kadar bersama dua adiknya yang baru pulang sekolah. Keduanya masih mengenakan seragam, sementara dua adiknya yang lain belum terlihat di rumah.


“Silakan masuk, Bu,”  ujar Dara sambil mempersilakan gurunya duduk.


Bu Kadar melangkah masuk dan mengamati sekeliling rumah itu sekilas. Ada banyak hal yang tidak pernah ia ketahui tentang kehidupan siswinya tersebut. Selama di sekolah, Dara dikenal sebagai gadis yang ceria dan aktif. Tetapi, sore itu, Bu Kadar mulai memahami bahwa kehidupan Dara di luar sekolah tidaklah semudah yang selama ini ia bayangkan.

Setelah berbasa-basi sebentar, Bu Kadar mulai menanyakan keadaan keluarganya.


Awalnya, Dara hanya menjawab seperlunya. Ia tidak terbiasa menceritakan urusan rumah kepada orang lain, apalagi kepada gurunya sendiri. Namun, ketika Bu Kadar terus menanyakan keadaannya dengan penuh perhatian, Dara akhirnya memberanikan diri untuk bercerita. Ayahnya seorang pemabuk dan penjudi. Sementara itu, ibunya sedang berada di Jakarta untuk mengikuti pelatihan sebagai calon tenaga kerja Indonesia yang akan diberangkatkan ke Malaysia. Selama ibunya pergi, Dara kesulitan menghubunginya.

Di rumah, Dara harus membantu mengurus keempat adiknya yang masih bersekolah. Adik keduanya duduk di kelas 2 SMP, adik ketiganya kelas 5 SD, sementara dua adik bungsunya masing-masing duduk di kelas 1 dan 2 SD. Mengurus pekerjaan rumah dan memenuhi kebutuhan adik-adiknya sudah menjadi bagian dari keseharian Dara. Padahal, ia sendiri masih harus belajar dan menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya.

Bu Kadar mendengarkan tanpa menyela. Ia mulai memahami mengapa Dara jarang membicarakan keluarganya dan mengapa terkadang ada hal-hal yang tidak bisa ia lakukan seperti teman-temannya. Setelah Dara selesai bercerita, Bu Kadar terdiam sejenak sebelum akhirnya menyampaikan maksud kedatangannya.

“Dara, Ibu sebenarnya datang untuk menyampaikan kabar dari sekolah. Besok kamu sudah boleh mengikuti ujian, ya. Sama seperti teman-temanmu yang lain.”

Dara terdiam sesaat.

“Besok, Bu?”

“Iya. Kamu tidak perlu khawatir soal itu lagi. Pihak sekolah sudah membicarakan keadaanmu. Selain itu, sekolah juga akan memberikan bantuan untuk pembayaran uang sekolah.”

Dara menatap Bu Kadar, seolah ingin memastikan bahwa dirinya tidak salah mendengar.

Ia tidak pernah membayangkan gurunya akan datang membawa kabar baik. Selama ini, Dara hanya mengharapan kelonggaran waktu sampai ibunya kembali dan berusaha mencari cara agar tetap bisa bersekolah di tengah keadaan rumah yang tidak pernah benar-benar memberinya ruang untuk bernapas lega. Kini, seperti suatu keajaiban yang tidak pernah dia bayangkan, tanpa pernah ia minta secara langsung, sekolah memberinya kesempatan untuk tetap melanjutkan pendidikannya.

“Tapi, nanti tolong minta salah satu orang tuamu datang ke sekolah, ya,” lanjut Bu Kadar.

 “Ibu dan pihak sekolah perlu menjelaskan langsung mengenai bantuan ini kepada mereka.”

Senyum kecil yang mulai muncul di wajah Dara perlahan memudar. Ia mengangguk, meski pikirannya kembali dipenuhi pertanyaan.

“Iya, Bu,” jawabnya pelan.

Ia tidak tahu bagaimana harus menyampaikan kabar tersebut kepada kedua orang tuanya. Ibunya masih berada di Jakarta, sedangkan ayahnya bukan orang yang mudah diajak membicarakan urusan sekolah, pikirnya saat itu lebih baik menunggu ibunya pulang.

Setidaknya, besok ia masih bisa mengikuti ujian bersama teman-temannya.

“Terima kasih, Bu,” ucap Dara Sambil tersenyum lega.

Bu Kadar mengangguk. “Yang penting, kamu tetap semangat sekolah, Dara. Jangan menyerah, ya.”

Dara bersyukur meski, Ia bukan siswa dengan nilai tertinggi di kelas. Ia juga bukan juara umum yang selalu menjadi kebanggaan sekolah. Tapi, dia diberikan bantuan sekolah selama ini yang dia tau, kalo Beasiswa hanya di peruntukan untuk murid yg berprestasi saja.Bu Kadar datang membawa kabar  yang tidak pernah berani Dara harapkan, kesempatan untuk tetap melanjutkan sekolahnya.

Sepekan setelah ujian selesai, ibunya Dara Kembali pulang ke rumah. Hari itu, Dara tidak lagi mampu menyimpan semuanya sendirian. Dengan air mata yang terus mengalir, ia menceritakan apa yang selama ini terjadi selama ibunya pergi. Tentang keadaan rumah, tentang ayahnya, tentang keempat adiknya yang harus ia urus, juga tentang sekolah yang hampir tidak bisa ia lanjutkan karena masalah biaya.

Ibunya mendengarkan dalam diam. Semakin banyak yang diceritakan Dara, semakin berat pula perasaan yang menekan dadanya. Ia tidak pernah membayangkan bahwa putri sulungnya harus menanggung begitu banyak hal di usia yang seharusnya dihabiskan untuk belajar dan bermain bersama teman-temannya. Tapi pada siapa lagi dia berbagi kesedihan itu selain pada putri sulungnya yg terpaksa dewasa oleh keadaaan.

Hati seorang ibu mana yang tidak hancur mendengar anaknya mengalami semua itu?

Ia memeluk Dara erat-erat, mengusap rambut putrinya sambil berulang kali meminta maaf.

“Maafkan Ibu, ya, Nak. Maaf karena Ibu meninggalkan kamu dan membiarkan kamu menghadapi semuanya sendirian.”

Dara menangis dalam pelukan ibunya. Ada begitu banyak hal yang ingin ia ceritakan, begitu banyak perasaan yang selama ini ia pendam. Namun, sore itu, ia hanya ingin menjadi seorang anak yang bisa menangis di pelukan ibunya tanpa harus memikirkan apa yang akan terjadi esok hari.

Ibunya berjanji tidak akan pergi jauh lagi. Ia memutuskan untuk mencari pekerjaan di dekat rumah dan akhirnya bekerja sebagai buruh pabrik. Penghasilannya mungkin tidak seberapa, tetapi setidaknya ia bisa pulang setiap hari dan mendampingi anak-anaknya.

Seharusnya, Dara tidak perlu memikirkan bagaimana membayar biaya sekolahnya. Ia seharusnya bisa belajar dengan tenang, mengerjakan tugas, dan menikmati masa remajanya seperti anak-anak lain. Urusan memenuhi kebutuhan keluarga dan memastikan anak-anak tetap bersekolah semestinya menjadi tanggung jawab orang tua, terlebih ayahnya yang seharusnya turut menjalankan peran itu.


Begitulah kehidupan tidak selalu berjalan seperti angan-angan.


Ia tumbuh dengan seorang ayah yang tidak bertanggung jawab, bukan hanya dalam memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga dalam memberikan perhatian dan perlindungan yang seharusnya diterima seorang anak. Sejak kecil, Dara belajar memahami keadaan yang bahkan belum sepenuhnya ia mengerti. Ia belajar mengalah, mengurus adik-adiknya, dan menyimpan persoalannya sendiri karena tidak selalu ada orang dewasa yang bisa ia andalkan.

Luka itu tidak hilang begitu saja ketika ia beranjak dewasa.

Ada bagian dari masa kecilnya yang tetap ia bawa, bahkan ketika ia sudah mampu menjalani hidupnya sendiri.Tumbuh menjadi dewasa tidak selalu berarti sembuh dari apa yang pernah dialami. Terkadang, seseorang hanya belajar melanjutkan hidup bersama hal-hal yang tidak pernah benar-benar selesai.

Dara pun tumbuh menjadi perempuan yang terbiasa mengandalkan dirinya sendiri. Keadaan memaksanya menjadi dewasa lebih cepat daripada yang seharusnya. Ia belajar bertahan sebelum sempat belajar meminta pertolongan, dan belajar memikirkan orang lain bahkan ketika dirinya sendiri membutuhkan bantuan. Di tengah semua kekacauan kehidupan rumah tangga orangtuanya, Dara tetap melanjutkan pendidikannya. Ia berjuang hingga akhirnya berhasil menyelesaikan kuliah S-1.

Barangkali, bagi orang lain, gelar sarjana hanyalah sebuah pencapaian akademis. Bagi Dara, gelar itu adalah bukti dari perjalanan panjang yang tidak pernah mudah. Ada hari-hari ketika ia harus mengesampingkan keinginannya sendiri, ada tanggung jawab yang terlalu besar untuk usianya, dan ada masa ketika ia hampir kehilangan kesempatan untuk melanjutkan sekolah.

Ia berhasil sampai di titik ini, bukan karena hidup memberinya banyak kemudahan, melainkan karena ia terus berusaha berjalan, bahkan ketika keadaan membuatnya ingin berhenti.


Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke: