puan rupawan yang mungkin tak bertuan.
sore tadi, sang surya singgah sebentar
di depan kamarku.
tak bisa terlalu lama,
karena tubuhnya sudah terlalu renta
kalau pulang kelewat malam.
ia lalu bercerita,
cukup singkat dan terbata-bata.
tentang puan,
yang selalu berpapasan dengannya
sewaktu dalam perjalanan pulang,
tujuh sore seminggu.
puan selalu menyapanya
dengan senyum tipis yang menenangkan.
senyuman yang mampu membendung air matanya,
sehingga tak sempat diejek bumi.
senyuman yang mampu memapahnya,
seolah mengerti,
bahwa di punggungnya begitu banyak beban
yang ia topang sendiri.
senyuman yang mampu membuat harinya
merasa diberkati.
kini,
sudah lima sore ia tak berpapasan dengan puan.
ia menahan cemas.
nampak dari kerut dahinya yang melengkung
ketika bercerita tentang puan.
matanya menggenang,
bibirnya tergigit,
ujung kirinya agak terkelupas.
hatinya koyak,
khawatir kalau esok,
sorenya yang muram akan menjadi enam.
ia lantas hanya bisa mengucap doa klise yang penuh harap;
“puan rupawan yang mungkin tak bertuan,
semoga puan selalu bersanding mesra
dengan kebahagiaan.”
agar setidaknya esok hari,
senyuman puan sudah kembali menyapanya,
memapahnya pulang
dengan hati berselambu tenang.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya