GENDERUWO
Penunggu Pohon Beringin Tua
Malam di Desa Wanasari selalu memiliki suara.
Suara jangkrik.
Suara katak dari sawah.
Suara bambu yang bergesekan ketika angin melewati kebun.
Namun malam itu berbeda.
Tidak ada satu pun suara.
Bahkan anjing-anjing kampung yang biasanya menggonggong ketika mendengar langkah orang lewat, malam itu memilih diam.
Desa seperti sedang menahan napas.
Di ujung jalan desa berdiri sebuah pohon beringin tua.
Pohon itu begitu besar hingga akar-akarnya menjalar ke mana-mana, mencengkeram tanah seperti tangan manusia.
Warga menyebut tempat itu Watu Gede.
Tidak ada yang berani mendekat setelah matahari tenggelam.
Bukan karena tempat itu gelap.
Melainkan karena ada sesuatu yang dipercaya tinggal di sana.
Sesuatu yang sudah ada jauh sebelum rumah-rumah warga dibangun.
Sesuatu yang menurut cerita para sesepuh desa...
bukan manusia.
Namanya hanya disebut dengan suara pelan.
Genderuwo.
Orang-orang tua selalu mengatakan satu hal.
"Kalau malam-malam kamu mendengar seseorang memanggil namamu dari arah pohon beringin, jangan pernah menjawab."
Sebab menurut mereka, Genderuwo tidak selalu memperlihatkan wujudnya.
Kadang ia hanya memanggil.
Kadang ia meniru suara orang yang kita kenal.
Dan jika kita menjawab...
berarti kita sudah memberinya izin untuk mendekat.
---
Damar sebenarnya tidak percaya cerita itu.
Usianya dua puluh tujuh tahun.
Ia bekerja di kota dan baru pulang ke kampung setelah bertahun-tahun merantau.
Cerita tentang Genderuwo menurutnya hanyalah dongeng yang digunakan orang-orang tua untuk menakut-nakuti anak kecil.
Malam itu, ia baru selesai berkumpul dengan teman-temannya.
Hujan turun sejak sore.
Jalan utama desa berubah menjadi genangan.
Motor tidak mungkin melewatinya.
Damar berdiri di persimpangan sambil melihat layar ponselnya.
23.48.
"Kalau muter, bisa setengah jam."
Ia memandang jalan kecil di sebelah kiri.
Jalan itu melewati kebun singkong.
Dan di ujungnya...
pohon beringin tua.
Damar menarik napas.
"Ah, paling cuma sepuluh menit."
Ia memilih jalan itu.
Motor dinyalakan.
Lampunya menembus kabut tipis.
Semakin jauh ia masuk ke jalan setapak, semakin sunyi keadaan.
Damar mulai merasa tidak nyaman.
Ia mematikan musik dari ponselnya.
Kini hanya suara mesin motor yang terdengar.
Ngeng... ngeng...
Lalu tiba-tiba...
mesinnya mati.
Damar mengerutkan kening.
"Jangan sekarang."
Ia mencoba menyalakan kembali.
Sekali.
Gagal.
Dua kali.
Gagal.
Tiga kali.
Mesin menyala.
Damar tersenyum lega.
Namun saat hendak menarik gas...
ia mendengar suara perempuan dari belakang.
"Damar..."
Tangannya langsung berhenti.
Ia menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya jalan gelap yang diselimuti kabut.
Damar tertawa kecil.
"Mungkin orang lewat."
Ia kembali menjalankan motor.
"Damar..."
Suara itu terdengar lagi.
Kali ini lebih jelas.
Dan lebih dekat.
Damar merasakan tengkuknya dingin.
Ia tidak menoleh.
Motor terus berjalan.
Sampai akhirnya lampu motor menerangi sesuatu di depannya.
Pohon beringin.
Damar menelan ludah.
Ia sudah sampai.
Namun anehnya...
jalan di depannya terlihat jauh lebih gelap daripada sebelumnya.
Kemudian motor mati lagi.
Kali ini tidak mau menyala.
Damar turun.
"Ya ampun..."
Ia mencoba menyalakan mesin berkali-kali.
Tetap gagal.
Akhirnya ia mengambil senter dari ponsel.
"Jalan kaki saja."
Ia meninggalkan motornya.
Baru beberapa langkah...
ia mendengar suara langkah lain.
Plak...
Damar berhenti.
Langkah itu berhenti.
Ia berjalan lagi.
Plak... plak...
Suara itu mengikuti.
Damar mempercepat langkah.
Suara tersebut ikut cepat.
Ia berhenti mendadak.
Sunyi.
Damar menyorotkan senter ke belakang.
Kosong.
Tidak ada manusia.
Tidak ada hewan.
Namun tiba-tiba...
senter ponselnya berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Kemudian mati.
Damar memukul-mukul ponselnya.
"Ayo..."
Layar masih menyala.
Tetapi senter tidak berfungsi.
Ia menghela napas panjang.
Kemudian terdengar suara dari arah pohon.
"Damar..."
Kali ini suara itu sangat jelas.
Damar mengenalinya.
Suara ibunya.
Ibunya yang telah meninggal tiga tahun lalu.
"Damar..."
Air mata langsung memenuhi mata Damar.
"Ibu?"
Begitu kata itu keluar dari mulutnya...
semua suara malam mendadak kembali.
Jangkrik.
Katak.
Angin.
Kemudian...
tawa.
"Hehehehehe..."
Damar membeku.
Suara tawa itu bukan suara manusia.
Terlalu berat.
Terlalu panjang.
Dan datang dari atas kepalanya.
Damar perlahan mendongak.
Tidak ada apa-apa.
Namun sebuah tetes cairan hangat jatuh ke pipinya.
Plok.
Damar menyentuh pipinya.
Ia mencium jarinya.
Bau busuk.
Seperti bangkai yang telah lama membusuk.
Damar mulai mundur.
Kemudian terdengar suara berat.
"Bukan ibumu."
Damar berhenti.
Suara itu datang dari belakang.
Ia tidak berani menoleh.
"Bukan..."
Suara tersebut terdengar semakin dekat.
"Dia sudah mati."
Damar memejamkan mata.
Tubuhnya gemetar.
Kemudian sesuatu berbisik tepat di telinganya.
"Tapi aku bisa membuat suaranya."
Damar langsung berlari.
---
Ia berlari tanpa arah.
Menembus jalan tanah.
Melewati semak.
Beberapa kali hampir jatuh.
Namun semakin ia berlari...
semakin ia merasa jalan tersebut tidak berakhir.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Lima belas menit.
Akhirnya ia melihat rumah warga.
Damar tersenyum lega.
"Tolong!"
Ia berlari menuju rumah tersebut.
Pintunya terbuka.
Lampu teras menyala.
Damar mengetuk pintu.
"Pak!"
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk lagi.
"Bu!"
Pintu perlahan terbuka sendiri.
Kreeeek...
Damar masuk.
"Permisi..."
Rumah itu kosong.
Tetapi di meja makan terdapat empat piring.
Masih ada nasi hangat.
Asap masih mengepul dari sebuah cangkir.
Damar mengerutkan kening.
"Baru saja makan?"
Tiba-tiba...
Tok.
Ada suara dari kamar belakang.
Damar menoleh.
Tok.
Suara itu terdengar lagi.
Seperti seseorang mengetuk pintu dari dalam kamar.
Damar mundur.
"Permisi..."
Tok... tok... tok...
Ketukan berubah menjadi tiga kali.
Damar ingin keluar.
Namun pintu depan sudah tertutup.
Ia mencoba membukanya.
Tidak bisa.
Kemudian dari kamar terdengar suara perempuan.
"Damar..."
Suara ibunya.
"Masuklah..."
Damar menangis.
"Ibu?"
"Masuklah, Nak..."
Damar berjalan perlahan.
Tangannya menyentuh gagang pintu kamar.
Ia berhenti.
Ada sesuatu yang salah.
Suara ibunya terdengar seperti dari dalam kamar.
Tetapi...
ada suara napas lain di belakangnya.
Damar menoleh perlahan.
Tidak ada siapa-siapa.
Ia kembali menatap pintu kamar.
Dan saat itulah ia melihat sesuatu di bawah pintu.
Dua kaki.
Berdiri di dalam kamar.
Kakinya panjang.
Hitam.
Dan berbulu.
Damar menahan jeritan.
Kaki itu bergerak.
Mundur.
Kemudian terdengar suara tawa.
"Hehehe..."
Damar berbalik dan berlari menuju pintu depan.
Kali ini pintu terbuka.
Ia keluar tanpa melihat belakang.
---
Pukul 01.17 dini hari.
Damar akhirnya sampai di rumahnya.
Ia menghantam pintu dengan keras.
"Bu!"
Tidak ada jawaban.
"Bu!"
Ia masuk.
Rumah gelap.
Ibunya tentu tidak mungkin menjawab.
Karena ibunya sudah meninggal.
Damar berdiri di ruang tamu.
Napasnya tersengal.
Ia mulai menyadari sesuatu.
Sejak tadi...
ia tidak pernah benar-benar meninggalkan pohon beringin.
Rumah yang dimasukinya.
Jalan yang dilewatinya.
Semuanya mungkin hanya permainan makhluk itu.
Damar menyalakan lampu.
Lampu berkedip.
Tik... tik... tik...
Kemudian terdengar suara dari dapur.
Suara piring pecah.
PRANG!
Damar terlonjak.
"Siapa?"
Tidak ada jawaban.
Ia mengambil sapu sebagai senjata.
Berjalan menuju dapur.
Kosong.
Namun di lantai terdapat sesuatu.
Tanah.
Tanah basah.
Jejak kaki.
Damar mengikuti jejak itu.
Dari dapur...
menuju ruang tamu.
Kemudian menuju kamar.
Dan berhenti tepat di depan tempat tidurnya.
Damar merasakan tubuhnya dingin.
Ia menatap bawah tempat tidur.
Gelap.
Sangat gelap.
Kemudian...
sepasang mata merah terbuka dari bawahnya.
Damar menjerit.
Sesuatu meraih pergelangan kakinya.
Tangannya besar.
Berbulu.
Panas seperti bara.
Damar berusaha menarik diri.
"LEPAS!"
Makhluk itu mencengkeram semakin kuat.
Kemudian wajahnya perlahan keluar dari bawah tempat tidur.
Wajah itu sangat besar.
Kulitnya hitam kemerahan.
Rambut panjang menutupi sebagian wajah.
Matanya merah menyala.
Mulutnya terbuka terlalu lebar.
Dan dari dalam mulut itu terdengar suara ibunya.
"Damar..."
Makhluk itu tersenyum.
"Jangan takut."
Damar menangis.
Makhluk tersebut menarik tubuhnya sedikit demi sedikit.
"Karena setelah malam ini..."
"...kau tidak perlu pulang lagi."
---
Pagi harinya, warga menemukan motor Damar di dekat pohon beringin.
Tidak ada tanda-tanda perkelahian.
Tidak ada darah.
Tidak ada jejak kaki.
Hanya ponselnya yang tergeletak di tanah.
Polisi mencari Damar selama berhari-hari.
Tidak ditemukan.
Namun sejak saat itu...
warga mulai mendengar suara seseorang berjalan di sekitar pohon beringin setiap malam.
Plak... plak... plak...
Kadang terdengar suara Damar menangis.
Kadang terdengar suara ibunya memanggil.
Dan kadang...
terdengar suara tawa berat dari atas pohon.
---
Setahun kemudian, seorang pemuda bernama Ardi pulang larut malam.
Ia melewati jalan yang sama.
Temannya sudah memperingatkan.
"Jangan lewat Watu Gede."
Ardi tertawa.
"Masih percaya Genderuwo?"
Ia berjalan sendirian.
Saat mendekati pohon beringin...
ia mendengar suara.
"Ardi..."
Ia berhenti.
Kemudian suara itu terdengar lagi.
"Ardi..."
Suara laki-laki.
Ardi mengenalinya.
Itu suara Damar.
"Dam?"
Tidak ada jawaban.
Ardi menyorotkan senter ke pohon.
Kosong.
Kemudian dari atas pohon terdengar suara berat.
"Jangan panggil namaku."
Ardi mundur.
Terlambat.
Sesuatu bergerak di antara ranting.
Sangat cepat.
Lalu...
DUK!
Sebuah tubuh besar jatuh tepat di belakangnya.
Ardi tidak berani menoleh.
Ia hanya melihat bayangan panjang di tanah.
Bayangan itu semakin dekat.
Kemudian sebuah tangan berbulu menyentuh pundaknya.
Suara Damar berbisik di telinganya.
"Kalau dia sudah memanggil..."
"...jangan pernah menjawab."
Ardi perlahan menoleh.
Dan yang dilihatnya bukan lagi wajah Damar.
Melainkan wajah makhluk hitam bermata merah yang tersenyum sangat lebar.
Genderuwo itu membuka mulut.
Tawa menggelegar memenuhi seluruh hutan.
"Sekarang giliranmu."
Malam itu...
anjing-anjing di Desa Wanasari kembali menggonggong bersamaan.
Satu demi satu lampu rumah warga padam.
Dan dari arah pohon beringin tua...
terdengar dua suara manusia tertawa bersama.
Kemudian tiga.
Lalu empat.
Semakin banyak.
Seolah-olah...
di bawah pohon itu sudah berkumpul banyak orang yang tidak pernah berhasil pulang.
TAMAT
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya