Aku pernah begitu menginginkan sesuatu sampai-sampai aku mempersiapkan diri untuk sebuah kemungkinan yang bahkan belum tentu menjadi kenyataan.
Sesuatu itu bernama ketua OSIS.
Mungkin bagi sebagian orang, menjadi ketua OSIS hanyalah tentang jabatan, popularitas, atau kebanggaan ketika nama mereka disebut di depan seluruh warga sekolah. Namun, bagiku, ada sesuatu yang lebih besar dari itu.
Aku punya banyak hal yang ingin kuubah.
Aku ingin OSIS menjadi organisasi yang benar-benar mendengarkan siswa. Aku ingin menjadi pemimpin yang tidak hanya muncul untuk memarahi, menegur, atau menghukum, tetapi juga mau memahami alasan di balik perilaku seseorang. Aku ingin membuat program-program yang bukan sekadar formalitas untuk memenuhi kalender sekolah.
Aku punya bayangan tentang kepemimpinan yang ingin kubangun.
Dan bodohnya, saat itu, aku benar-benar percaya bahwa jika aku mempersiapkan semuanya dengan baik, setidaknya aku akan mendapatkan kesempatan untuk membuktikannya.
Jadi, aku mulai bekerja bahkan sebelum siapa pun tahu apakah aku layak dipilih.
Aku menyusun pidato. Mengubah kalimat yang menurutku kurang tepat. Memikirkan bagaimana caraku berbicara agar gagasanku tidak terdengar seperti janji kosong. Aku menyusun program kerja, membayangkan bagaimana setiap kegiatan akan dijalankan, apa tujuannya, dan bagaimana caranya agar semua itu benar-benar memberikan dampak.
Ada banyak hal yang kupikirkan sendirian.
Aku tidak tahu apakah orang lain mempersiapkan diri seserius itu. Aku juga tidak terlalu peduli.
Aku hanya ingin ketika hari itu tiba, aku bisa berdiri dengan keyakinan bahwa aku sudah memberikan usaha terbaikku.
Aku tidak meminta siapa pun menjamin kemenanganku.
Aku hanya berharap usahaku memberiku kesempatan.
Ternyata, harapan sesederhana itu pun bisa terasa begitu mahal.
Hari seleksi pertama tiba.
Aku mengikuti setiap tahapan dengan harapan yang masih penuh. Aku mencoba memberikan yang terbaik, menjawab pertanyaan, dan menunjukkan bahwa aku memang serius dengan keinginanku.
Setelah itu, aku menunggu.
Menunggu pengumuman yang mungkin hanya berlangsung beberapa menit bagi orang lain, tetapi terasa begitu panjang bagiku.
Ketika hasilnya keluar, aku memperhatikan nama-nama yang berhasil lolos.
Lalu, aku mulai menyadari sesuatu yang membuat perasaanku perlahan berubah.
Orang-orang yang lolos adalah mereka yang memang sudah dikenal sejak awal.
Mereka yang namanya sudah lebih dahulu akrab di telinga banyak orang. Mereka yang punya reputasi, punya lingkaran pertemanan, dan sepertinya sudah memiliki tempat tersendiri di lingkungan sekolah.
Aku berusaha menyangkal pikiran burukku sendiri.
Jangan berprasangka.
Mungkin mereka memang lebih baik.
Mungkin ada sesuatu yang mereka miliki dan belum kamu punya.
Aku mencoba menjadi orang yang lapang dada bahkan sebelum benar-benar tahu apa yang sedang terjadi.
Namun, ada satu pertanyaan yang terus muncul, semakin lama semakin sulit kuabaikan.
Kalau memang kemampuan yang dicari, bukankah seharusnya semua orang diberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuan mereka terlebih dahulu?
Aku menatap kembali hasil seleksi itu.
Namaku tidak ada di antara mereka yang berhasil melanjutkan.
Dan anehnya, yang paling membuatku sedih bukan sekadar melihat namaku tidak tercantum.
Aku mulai merasa bahwa selama ini aku mungkin sedang berjuang di tempat yang berbeda dari orang-orang itu.
Aku sibuk mempersiapkan diri agar pantas dipilih.
Sementara mereka sudah memiliki sesuatu yang bahkan belum sempat kubangun: kedekatan dengan orang-orang yang berada di dalam lingkungan tersebut.
Aku tidak tahu apakah itu satu-satunya alasan mereka lolos. Aku tidak punya bukti untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi di balik keputusan itu.
Namun, dari tempatku berdiri, semuanya terasa begitu menyakitkan.
Sebab aku tahu betapa seriusnya aku mempersiapkan diri.
Dan untuk pertama kalinya, aku bertanya-tanya apakah keseriusan itu benar-benar berarti apa-apa.
Meski begitu, aku belum ingin menyerah pada keyakinanku sendiri.
Aku masih berharap wawancara berikutnya akan menjadi kesempatan untuk membuktikan bahwa aku juga layak dipertimbangkan.
Aku membayangkan duduk di hadapan para pewawancara, menjelaskan alasanku ingin menjadi ketua OSIS, menyampaikan gagasan-gagasanku, dan menjawab pertanyaan mereka dengan sebaik mungkin.
Aku sudah menyiapkan pidato.
Aku sudah memikirkan program kerja.
Aku bahkan sudah membayangkan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi jika aku berhasil lolos.
Kadang-kadang, aku tersenyum sendiri ketika memikirkan semua itu.
Bukan karena aku merasa pasti menang, melainkan karena untuk sesaat aku bisa membayangkan diriku menjadi seseorang yang selama ini ingin kuwujudkan.
Seseorang yang dipercaya.
Seseorang yang diberi tanggung jawab.
Seseorang yang akhirnya bisa membuktikan bahwa ide-idenya bukan sekadar tulisan di atas kertas.
Aku tahu aku belum tentu menjadi yang terbaik.
Tetapi bukankah aku setidaknya berhak mencoba?
Sayangnya, kenyataan kembali mengajariku sesuatu dengan cara yang tidak pernah kuminta.
Pengumuman seleksi berikutnya keluar.
Aku melihat nama-nama peserta yang berhasil melanjutkan.
Dan lagi-lagi, orang-orang yang terpilih adalah mereka yang sejak awal sudah memiliki kedekatan dengan lingkungan kesiswaan.
Aku terdiam cukup lama.
Rasanya seperti membaca akhir cerita yang sama, hanya dengan halaman yang berbeda.
Aku tidak tahu harus tertawa karena semuanya terasa begitu ironis atau justru menangis karena aku benar-benar berharap hasilnya akan berbeda.
Aku hanya tahu satu hal: harapanku yang sejak awal kujaga baik-baik mulai terasa memalukan.
Seolah-olah aku terlalu percaya diri untuk seseorang yang bahkan tidak punya cukup tempat untuk membuktikan dirinya.
Seolah-olah aku sudah berlari sejauh mungkin, tetapi ternyata garis start-ku berada jauh di belakang orang lain.
Dan yang paling menyebalkan?
Aku tidak pernah benar-benar diberi kesempatan untuk mengetahui seberapa jauh aku sebenarnya bisa berlari.
Malam itu, aku teringat pada semua hal yang sudah kusiapkan.
Pidato yang kutulis dengan penuh pertimbangan.
Program kerja yang kususun satu demi satu.
Bayangan tentang perubahan yang ingin kubawa.
Semua itu kembali memenuhi pikiranku.
Aku membayangkan diriku beberapa hari sebelumnya, begitu bersemangat mempersiapkan seleksi. Aku yang rela meluangkan waktu untuk memikirkan hal-hal yang mungkin bahkan tidak pernah ditanyakan kepadaku. Aku yang dengan polosnya percaya bahwa persiapan yang baik akan membuatku memiliki peluang yang baik pula.
Aku ingin sekali bertemu diriku yang dulu.
Aku ingin bertanya kepadanya, apakah ia masih akan sesemangat itu jika tahu bagaimana akhirnya?
Apakah ia masih akan menghabiskan waktu menyusun pidato jika tahu bahwa ia mungkin tidak akan pernah menyampaikannya?
Apakah ia masih akan memikirkan program kerja sampai sejauh itu jika tahu bahwa gagasan-gagasannya tidak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk diuji?
Aku tidak tahu apa yang akan kujawab.
Mungkin aku akan tetap melakukannya.
Atau mungkin aku akan menyuruh diriku sendiri untuk tidak berharap terlalu tinggi.
Sebab ternyata, ada rasa sakit yang berbeda antara gagal karena tidak mampu dan gagal ketika kamu merasa belum benar-benar diberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuanmu.
Kalau aku kalah dalam debat, aku bisa mengevaluasi argumenku.
Kalau aku gagal menjawab pertanyaan wawancara, aku bisa belajar memperbaiki jawabanku.
Kalau program kerjaku dinilai kurang matang, aku bisa menyusunnya kembali.
Aku bisa belajar dari semua itu.
Tetapi bagaimana caranya memperbaiki sesuatu ketika aku sendiri tidak benar-benar tahu bagian mana dari diriku yang dianggap tidak cukup?
Apa yang harus kuperbaiki?
Kemampuanku?
Cara bicaraku?
Pengalamanku?
Atau kenyataan bahwa aku bukan seseorang yang sudah lebih dahulu dikenal oleh orang-orang yang memiliki pengaruh di lingkungan itu?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalaku tanpa memberikan jawaban yang memuaskan.
Dan semakin kupikirkan, semakin aku merasa lelah.
Bukan lelah karena harus belajar menjadi lebih baik.
Aku lelah karena harus terus bertanya-tanya apakah menjadi lebih baik saja akan cukup.
Ada satu hal yang paling membuatku kesal dari semua ini.
Aku tidak pernah meminta kemenangan yang diberikan cuma-cuma.
Aku tidak ingin seseorang memilihku hanya karena merasa kasihan. Aku tidak ingin mendapatkan jabatan hanya karena aku sudah bersusah payah mempersiapkan diri.
Aku tahu bahwa menjadi ketua OSIS bukan perkara mudah. Ada tanggung jawab besar di baliknya, dan tentu saja tidak semua orang yang mendaftar otomatis layak mendapatkannya.
Aku memahami itu.
Sungguh.
Tetapi aku ingin dinilai.
Aku ingin gagasanku didengar.
Aku ingin seseorang melihat persiapanku dan memberiku kesempatan untuk menjelaskan mengapa aku ingin memimpin.
Kalaupun setelah itu aku gagal, setidaknya aku bisa pulang dengan membawa sesuatu yang dapat kupelajari.
Setidaknya aku bisa berkata kepada diriku sendiri, Aku sudah mencoba, dan ternyata aku memang masih perlu belajar.
Namun, pengalaman ini meninggalkan perasaan yang berbeda.
Aku pulang dengan begitu banyak pertanyaan, tetapi hampir tidak punya jawaban.
Aku bahkan tidak tahu apakah aku sedang kecewa pada hasilnya, pada keadaan yang kuhadapi, atau pada diriku sendiri karena sudah berharap sedemikian besar.
Dan mungkin itulah yang paling menyebalkan.
Aku tidak bisa mengubah keputusan yang sudah dibuat. Aku tidak bisa memaksa siapa pun untuk melihatku dengan cara yang kuinginkan. Aku juga tidak bisa memutar waktu untuk kembali ke hari ketika aku masih begitu bersemangat mempersiapkan diri.
Aku hanya bisa duduk bersama kekecewaan itu.
Mengingat semua hal yang mungkin bisa terjadi.
Lalu menerima bahwa semuanya tidak terjadi.
Hari-hari berikutnya tetap berjalan.
Aku masih datang ke sekolah. Masih mengerjakan tugas. Masih bertemu orang-orang yang sama. Kehidupan seolah-olah tidak mengetahui bahwa ada sesuatu dalam diriku yang sedang berusaha menerima kenyataan.
Mungkin memang begitulah hidup.
Ketika kita sedang mengalami sesuatu yang terasa besar, dunia di sekitar kita tidak selalu ikut berhenti.
Orang lain tetap tertawa.
Mereka tetap membicarakan kegiatan sekolah.
Mereka tetap melanjutkan kesibukan masing-masing.
Dan aku harus belajar melakukan hal yang sama.
Ada saat-saat ketika aku berusaha meyakinkan diriku bahwa semuanya tidak masalah.
Tidak apa-apa. Mungkin memang belum waktunya.
Kalimat itu terdengar dewasa.
Terdengar seperti sesuatu yang akan diucapkan seseorang yang sudah menerima keadaan dengan lapang dada.
Namun, jauh di dalam hati, aku tahu bahwa aku belum sepenuhnya menerima semuanya.
Aku masih kesal.
Aku masih sedih.
Dan terkadang, ketika mengingat seleksi itu, ada bagian dari diriku yang ingin kembali ke masa ketika aku belum mengetahui hasilnya.
Masa ketika aku masih bisa berharap tanpa merasa bodoh karena sudah berharap.
Masa ketika pidato itu masih terasa seperti awal dari sesuatu yang besar, bukan sekadar kumpulan kalimat yang akhirnya kusimpan bersama kekecewaan.
Aku ingin kembali ke sana, meski hanya sebentar.
Bukan untuk mengubah hasilnya.
Aku hanya ingin merasakan sekali lagi bagaimana rasanya percaya bahwa aku punya peluang yang sama.
Seiring waktu, aku mulai memahami bahwa aku tidak bisa mengendalikan bagaimana orang lain menilai diriku.
Aku juga tidak bisa memastikan bahwa setiap proses seleksi akan berjalan sesuai dengan apa yang kuanggap adil.
Namun, aku masih berhak mempertanyakan proses yang membuatku merasa tidak mendapatkan kesempatan yang setara.
Aku tidak harus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja hanya agar terlihat dewasa.
Aku tidak harus memuji keadaan yang membuatku kecewa.
Dan aku tidak harus membenci orang-orang yang lolos untuk mengakui bahwa aku terluka.
Dua hal bisa benar pada saat yang bersamaan: mereka mungkin memiliki kemampuan yang layak dipertimbangkan, dan aku tetap bisa merasa kecewa karena tidak mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kemampuanku sendiri.
Aku tidak tahu apa yang sebenarnya ada dalam pikiran para pewawancara.
Aku tidak tahu apakah hasilnya akan berbeda jika aku memiliki hubungan yang lebih dekat dengan mereka.
Aku tidak tahu apakah program kerjaku akan dianggap bagus, apakah pidatoku akan meyakinkan, atau apakah aku akan menjadi ketua OSIS yang baik.
Aku tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk mengetahui semua itu.
Dan mungkin aku tidak akan pernah tahu.
Tetapi aku tidak ingin ketidaktahuan itu berubah menjadi keyakinan bahwa aku memang tidak pantas.
Sebab ada perbedaan antara tidak terpilih dan tidak memiliki kemampuan.
Sayangnya, ketika kita masih muda, dua hal itu terkadang terasa seperti hal yang sama.
Kita melihat pintu yang tertutup, lalu mengira bahwa diri kitalah yang tidak cukup baik untuk melewatinya.
Padahal, kita tidak selalu tahu apa yang membuat pintu itu tertutup.
Jika hari ini seseorang bertanya apakah aku menyesal pernah mendaftar sebagai calon ketua OSIS, mungkin aku akan membutuhkan waktu sebelum menjawab.
Sebab aku tidak menyesali keinginanku untuk memimpin.
Aku tidak menyesali pidato yang kususun.
Aku tidak menyesali waktu yang kugunakan untuk memikirkan program kerja.
Aku hanya menyesali betapa mudahnya aku percaya bahwa semua itu pasti akan memberiku kesempatan yang sepadan.
Dahulu, aku berpikir bahwa untuk menjadi seorang pemimpin, aku hanya perlu mempersiapkan diri, belajar, dan berani melangkah.
Sekarang, aku tahu bahwa ada hal-hal lain yang juga perlu kupahami. Aku perlu membangun relasi, belajar mengenalkan kemampuanku, dan memahami bahwa dunia organisasi tidak hanya berisi gagasan, tetapi juga manusia beserta hubungan di antara mereka.
Aku akan belajar tentang semua itu.
Bukan karena aku menganggap diriku korban yang tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan karena aku tidak ingin pengalaman ini membuatku berhenti berkembang.
Namun, ada satu hal yang tetap ingin kukatakan.
Jangan meminta seseorang untuk membuktikan kemampuannya jika sejak awal kamu tidak benar-benar memberinya ruang untuk melakukannya.
Sebab di balik setiap nama yang tidak lolos, mungkin ada seseorang yang telah menghabiskan malam-malamnya untuk mempersiapkan diri.
Ada seseorang yang diam-diam menaruh harapan besar.
Ada seseorang yang membayangkan begitu banyak kemungkinan.
Dan ada seseorang yang akhirnya harus merapikan kembali semua mimpinya sendirian.
Aku adalah salah satunya.
Aku pernah begitu ingin menjadi ketua OSIS.
Aku pernah begitu percaya bahwa persiapan dan kesungguhanku akan membawaku setidaknya satu langkah lebih dekat pada kesempatan itu.
Namun, pada akhirnya, namaku tidak ada di antara mereka yang melanjutkan seleksi.
Pidatoku tidak pernah didengar sebagaimana yang kubayangkan.
Program kerjaku tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk kubuktikan.
Dan semua rencana yang kususun harus berakhir sebagai sesuatu yang hanya kuketahui sendiri.
Mungkin bagi orang lain, ini hanyalah kegagalan dalam sebuah seleksi organisasi sekolah.
Tidak lebih dari itu.
Tetapi bagi diriku yang saat itu begitu bersemangat, ini adalah kali pertama aku benar-benar merasakan bahwa melakukan yang terbaik tidak selalu membuat kita mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan yang terbaik.
Dan itu menyebalkan.
Sangat menyebalkan.
Karena aku tidak pernah meminta mereka untuk menjanjikan kemenangan kepadaku.
Aku hanya ingin kesempatan untuk berjuang sampai akhir.
Namun, bahkan sebelum aku sempat membuktikan apakah aku mampu atau tidak, perjalanan itu sudah selesai.
Jadi, jika suatu hari nanti seseorang melihatku dan bertanya mengapa aku tidak menjadi ketua OSIS, jawabannya sebenarnya sederhana.
Aku pernah mencoba.
Aku pernah berharap.
Aku pernah mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh.
Tetapi aku tidak terpilih.
Dan sampai hari ini, ada satu pertanyaan yang masih tertinggal di sudut pikiranku.
Seandainya aku mendapatkan kesempatan yang sama, apakah akhirnya akan tetap seperti ini?
Aku tidak tahu.
Aku tidak akan pernah tahu.
Sebab aku kalah sebelum sempat bertanding.
Dan mungkin, itulah bagian paling menyedihkan dari semuanya.
Bukan karena aku tidak berhasil menjadi ketua OSIS.
Melainkan karena aku akan selalu bertanya-tanya tentang seseorang yang mungkin bisa menjadi diriku, jika saja hari itu aku diberi kesempatan untuk membuktikannya.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya