Customer Service

Kucing Ku Berubah Jadi Pacar Ku

Bab 1 dari 10

Bab 2
100%

Bab 1: Kucing Bermata Emas

Hujan turun seperti air mata langit yang tak bisa ditahan. Deras, dingin, dan tanpa ampun. Lina merapatkan jaket tipis yang sudah basah kuyup di tubuhnya sambil berlari menyusuri gang sempit di belakang rumah kontrakannya. Kantong plastik berisi mi instan dan telur ia peluk erat-erat — makan malamnya untuk tiga hari ke depan.

 

Lina sudah terbiasa hidup seperti ini. Sejak kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan bus tiga tahun lalu, ia belajar bahwa dunia ini tidak memberikan apa pun secara gratis. Setiap rupiah yang ia miliki berasal dari keringatnya sendiri — bekerja paruh waktu di minimarket siang hari dan menjadi kasir di warung kopi malam hari. Kuliahnya terpaksa ia tangguhkan. Mimpi-mimpinya ia simpan di laci yang sudah lama tidak dibuka.

 

Langkah kakinya terhenti ketika ia mendengar suara itu.

 

Suara yang begitu lemah, nyaris tenggelam oleh derasnya hujan.

 

"Miaaaw..."

 

Lina menoleh. Di balik tumpukan kardus bekas yang sudah lembek oleh air hujan, sepasang mata menyala dalam kegelapan. Bukan menyala seperti mata kucing biasa yang memantulkan cahaya — ini berbeda. Mata itu berwarna emas murni, bersinar seolah ada api kecil yang menyala di dalamnya.

 

"Ya Allah..." Lina berjongkok perlahan.

 

Seekor kucing hitam legam meringkuk di sana. Tubuhnya basah kuyup, kurus, dan Lina bisa melihat luka panjang di kaki belakangnya yang masih mengeluarkan darah. Kucing itu menatap Lina tanpa berkedip — tatapan yang aneh, terlalu dalam untuk seekor kucing. Seolah di balik mata emas itu ada seseorang yang sedang memohon bantuan.

 

"Kamu terluka, ya?" bisik Lina.

 

Kucing itu tidak lari. Tidak mendesis. Ia hanya menatap Lina dengan mata emasnya yang basah — entah oleh hujan atau sesuatu yang lain.

 

Lina meletakkan kantong belanjaannya di tanah. Dengan hati-hati, ia melepas jaketnya yang basah dan membungkus tubuh kucing itu perlahan. Kucing itu gemetar hebat, tapi tidak memberontak. Justru ia membenamkan kepalanya ke dada Lina, seolah sudah lama menunggu seseorang datang.

 

"Aku bawa pulang, ya. Aku juga nggak punya banyak, tapi setidaknya kamu nggak kehujanan lagi."

 

 

Kontrakan Lina hanyalah sebuah kamar sempit berukuran tiga kali empat meter di lantai dua sebuah rumah tua. Satu kasur tipis di lantai, satu meja belajar yang juga berfungsi sebagai meja makan, satu lemari kecil, dan satu kompor listrik di sudut. Itu saja seluruh dunianya.

 

Lina meletakkan kucing itu di atas handuk kering dan mulai membersihkan lukanya dengan air hangat dan kapas yang ia temukan di kotak P3K-nya yang hampir kosong. Kucing itu meringis pelan saat Lina menyentuh lukanya, tapi tetap diam — matanya tak pernah lepas dari wajah Lina.

 

"Kamu jinak sekali," gumam Lina sambil tersenyum kecil. "Atau kamu cuma terlalu lelah untuk lari?"

 

Kucing itu mengeong pelan, seolah menjawab.

 

Lina tertawa — tawa pertamanya sejak entah berapa lama. "Aku anggap itu jawaban 'iya'."

 

Setelah lukanya dibersihkan dan dibalut seadanya, Lina memanaskan air dan menuang separuh mi instannya ke mangkuk kecil. Ia meniup-niup mi itu sampai dingin, lalu meletakkannya di depan kucing hitam itu.

 

"Maaf, aku cuma punya ini. Besok aku belikan makanan kucing, ya — kalau gajianku sudah cair."

 

Kucing itu menatap mi di depannya, lalu menatap Lina. Kemudian — dan Lina bersumpah ia tidak mengada-ada — kucing itu mengangguk pelan sebelum mulai makan.

 

Lina mengerjap.

 

Kucing bisa mengangguk?

 

Ia menggelengkan kepala. "Aku pasti terlalu capek," gumamnya sambil memakan sisa mi-nya langsung dari panci.

 

Malam itu, saat Lina berbaring di kasur tipisnya dengan selimut yang sudah lusuh, kucing hitam itu melompat naik dan meringkuk di samping kepalanya. Dengkurannya halus dan hangat, seperti melodi pengantar tidur yang sudah lama tidak Lina dengar.

 

"Aku harus kasih kamu nama," bisik Lina sambil mengelus bulu hitamnya yang sudah mulai mengering. Halus sekali, seperti beludru.

 

Mata emas itu menatapnya dalam kegelapan.

 

"Kael," ucap Lina tiba-tiba, tanpa tahu dari mana nama itu muncul di kepalanya. Seolah seseorang membisikkannya dari tempat yang sangat jauh. "Namamu Kael."

 

Kucing itu mengeong lembut, lalu memejamkan matanya.

 

Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Lina tidak merasa sendirian saat menutup mata.

 

 

Lina tidak tahu bahwa di saat ia terlelap, mata emas itu kembali terbuka. Kucing hitam itu menatap wajah tidur Lina yang damai — dan jika ada yang melihat lebih dekat, mereka akan melihat setitik cahaya keemasan mengalir dari mata kucing itu, menetes ke bantal seperti air mata yang bersinar.

 

Di suatu tempat yang sangat jauh, di sebuah kerajaan yang tersembunyi di balik lipatan langit, sebuah cermin ajaib retak sedikit lebih lebar.

 

Dan sang penyihir yang duduk di singgasana kegelapan mengangkat kepalanya.

 

"Jadi kau sudah menemukan gadis itu, Pangeran..."

 

Senyum dingin mengembang di bibirnya.

 

"Permainan baru saja dimulai."

 

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Selanjutnya

Suka ( 0)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Daftar Bab