Customer Service

Labirin Nama-Nama yang Hilang

100%

Labirin Nama-Nama yang Hilang

Tidak semua kematian meninggalkan kesunyian. Sebagian di antaranya justru meninggalkan suara-suara yang terlalu lirih untuk disebut sebagai bunyi, tetapi terlalu nyata untuk diabaikan. Suara lembaran kertas yang berdesir sendiri di dalam lemari arsip, denting roda troli yang melintas di lorong kosong tanpa seorang pun mendorongnya, atau dengung lampu neon yang tiba-tiba terdengar seperti seseorang sedang membisikkan nama yang tak lagi mampu diingat oleh siapa pun. Barangkali itulah alasan mengapa aku selalu membenci sif malam.

Sebab kesunyian di tempat itu seolah memiliki cara sendiri untuk menghidupkan hal-hal yang semestinya tetap diam. Pada siang hari, segala sesuatu tampak masuk akal. Perawat berlarian membawa map rekam medis, dokter saling bertukar hasil laboratorium, keluarga pasien memenuhi lorong dengan doa-doa yang berdesakan bersama aroma kopi dari kantin. Namun ketika malam tiba dan jam dinding melewati pukul dua belas, bangunan itu seperti melepaskan wajah yang selama ini diperlihatkannya di hadapan manusia.

Aku bekerja sebagai petugas administrasi rekam medis di Rumah Sakit Bhakti Husada selama hampir tujuh tahun. Pekerjaanku terdengar membosankan bagi banyak orang. Mengurutkan berkas berdasarkan nomor registrasi, mencocokkan identitas pasien, memindahkan data lama ke sistem digital, lalu memastikan setiap orang yang pernah dirawat memiliki jejak administratif yang dapat ditemukan kapan pun dibutuhkan. Dalam pekerjaanku, nama bukan sekadar rangkaian huruf. Nama adalah bukti bahwa seseorang pernah hadir, pernah bernapas, pernah menangis kesakitan di atas ranjang rumah sakit, atau pernah pulang dengan senyum yang sedikit lebih lega.

Karena itulah aku segera menyadari ketika sebuah nama menghilang. Berawal dari satu nama. Seorang pasien lanjut usia bernama Surya Adinata dinyatakan meninggal karena gagal napas. Aku masih ingat wajah putrinya yang menangis di depan ruang jenazah, masih ingat tanda tangan dokter jaga pada surat kematian, bahkan masih ingat aroma minyak kayu putih yang memenuhi ruangan ketika keluarga memandikan jenazah sebelum dibawa pulang. Namun dua hari kemudian, ketika pihak asuransi meminta salinan rekam medisnya, berkas itu lenyap tanpa sisa. Nomor registrasinya demikian kosong. Folder fisiknya pun tidak ada. Data digitalnya juga hilang. Seolah-olah pasien tidak pernah menjalani perawatan di rumah sakit itu.

Aku menghabiskan hampir tiga jam memeriksa rak demi rak. Bahkan server cadangan yang biasanya menyimpan seluruh histori pasien. Yang lebih aneh, rekan-rekanku memandangku dengan dahi berkerut ketika aku menyebut nama itu.

"Siapa?" tanya Rina, petugas arsip pagi.

"Surya Adinata."

"Aku rasa tidak pernah ada pasien dengan nama itu."

Aku mengira mereka sedang bercanda. Tidak, mereka tidak sedang bercanda. Sebab semua orang memberikan jawaban serupa. Mulai dari dokter jaga, perawat, petugas kamar jenazah, bahkan satpam yang bertugas malam ketika pria itu meninggal. Tak seorang pun mengingatnya.

Aku pulang hari itu dengan kepala yang terasa dipenuhi kabut. Barangkali aku terlalu lelah. Barangkali ingatanku sedang mempermainkanku. Manusia memang sering kali terlalu percaya kepada apa yang diyakininya benar, padahal ingatan bukanlah lemari besi; ia lebih menyerupai kaca tua yang retaknya perlahan membentuk wajah lain setiap kali dipandang dari sudut berbeda.

Aku mencoba melupakan kejadian itu. Sampai seminggu kemudian, pasien kedua meninggal. Namanya Lestari, perempuan berusia tiga puluh dua tahun, korban kecelakaan lalu lintas. Aku sendiri yang mencetak surat kematiannya. Aku pula yang memasukkan datanya ke sistem. Aku bahkan masih menyimpan secangkir kopi yang belum sempat diminumnya di meja administrasi karena suaminya menitipkannya sambil berkata, "Kalau istri saya sadar nanti, bilang kopinya diminum sebelum dingin."

Perempuan itu tak pernah sadar. Dan dua hari kemudian, namanya ikut lenyap. Kali ini aku sengaja memotret seluruh dokumen sebelum pulang. Ketika membuka galeri telepon genggamku keesokan harinya, foto-foto itu berubah sama sekali. Kertas-kertas yang semalam penuh tulisan kini hanya menampilkan halaman kosong. Aku menatap layar ponsel cukup lama hingga pantulan wajahku sendiri tampak lebih asing daripada foto yang hilang itu.

Kejadian itu membuatku merasa sedang berdiri di hadapan sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh prosedur, logika, maupun kesalahan sistem. Apakah ada seseorang yang menghapus nama-nama itu atau ada sesuatu yang melakukannya?

Malam berikutnya aku memilih tidak langsung pulang. Setelah jam kerja usai, aku turun ke ruang arsip lama di lantai bawah tanah, ruangan yang nyaris tak pernah lagi digunakan sejak semua data mulai didigitalisasi. Udara di sana lembap dengan bau kertas yang telah menyerap puluhan tahun kesedihan. Debu menggantung tipis di antara rak-rak besi yang menjulang, seolah waktu sendiri enggan bergerak lebih jauh di tempat itu.

Aku menyalakan senter ponsel. Cahayanya langsung menyapu deretan map kusam. Di ujung ruangan, tepat di balik lemari arsip yang sudah berkarat, aku melihat sebuah pintu kayu yang tak pernah kuingat keberadaannya.

Sejujurnya ini janggal dan aneh.

Selama tujuh tahun bekerja, aku yakin tidak pernah melihat pintu itu. Pak Darmo pernah berkata bahwa beberapa pegawai lama juga pernah bercerita tentang sebuah pintu yang muncul dan menghilang. Anehnya, setiap orang menggambarkan letaknya berbeda. Ada yang bersikeras pintu itu pernah berada di ruang radiologi, ada yang mengaku melihatnya di dekat kamar mayat, sementara seorang pensiunan perawat pernah bersumpah bahwa pintu itu muncul di ujung bangsal anak sebelum bangsal itu direnovasi dua puluh tahun silam. Tidak ada dua kesaksian yang benar-benar sama.

Di gagang pintu itu tergantung sebuah papan kecil yang warnanya telah pudar dimakan usia. Tulisan di atasnya nyaris tak terbaca. Aku mengusap debunya perlahan, lalu membaca dua kata yang membuat tengkukku mendadak terasa dingin.

Labirin Nama.

Dan entah mengapa, sebelum sempat menyentuh gagangnya, aku merasa sangat yakin bahwa di balik pintu itu tidak ada ruangan. Namun sesuatu mungkin selama ini sengaja disembunyikan dari setiap denah rumah sakit.

Aku tidak segera membuka pintu itu, sebab ada ketakutan yang datang bukan karena ancaman yang terlihat, melainkan karena naluri purba dalam diri manusia yang sejak dahulu selalu tahu kapan ia sedang berdiri terlalu dekat dengan sesuatu yang tidak semestinya disentuh. Naluri semacam itulah yang membuat seorang anak mengurungkan niat memasuki hutan ketika senja mulai turun, atau membuat seseorang memilih memutar arah meskipun jalan di depannya tampak lengang. Bukan sebab ada mata yang mengawasi, tapi karena udara di sekitarnya mendadak terasa mengenali keberadaannya.

Aku mundur beberapa langkah, memandangi lagi papan kecil yang tergantung miring di gagang pintu itu.

Labirin Nama.

Tulisan itu tidak dicat. Ia tampak seperti dibakar perlahan ke permukaan kayu menggunakan besi panas. Garis-garis hurufnya kasar, tidak seragam, seolah dibuat oleh tangan seseorang yang lebih terbiasa menggenggam sekop daripada pena.

Aku mengangkat ponsel, membuka aplikasi kamera, lalu memotret pintu itu. Lampu kilat menyala sesaat. Begitu hasil fotonya kubuka, jantungku serasa berhenti berdetak. Dan ya, lorong itu ada. Lemari arsip ada. Dinding yang dipenuhi jamur ada. Namun pintunya, tidak.

Di tempat yang baru saja kulihat, berdiri sebuah pintu tua, foto itu hanya menampilkan tembok beton yang dipenuhi retakan panjang.

Aku mengangkat wajah. Pintunya masih berada di sana. Aku menundukkan kepala. Di layar ponsel, pintu itu kembali menghilang.


Malam itu aku pulang tanpa membuka pintu tersebut. Bukan karena keberanianku habis, tetapi karena ada keyakinan yang tumbuh perlahan di dalam kepalaku bahwa misteri sebesar ini tidak akan selesai hanya dengan memutar sebuah gagang pintu. Ada sesuatu yang lebih tua daripada bangunan rumah sakit itu sendiri. Dan sesuatu yang tua selalu meninggalkan jejak. Dan tugasku hanya perlu menemukannya.

Keesokan paginya aku meminta izin kepada kepala bagian administrasi untuk mengakses arsip pembangunan rumah sakit.

"Untuk apa?" tanyanya sambil tetap sibuk menandatangani beberapa berkas.

"Ada data lama yang ingin saya cocokkan."

Ia bahkan tidak mengangkat kepala. "Kalau masih ada di gudang, ambil saja."

Gudang dokumen pembangunan berada di bangunan lama yang kini difungsikan sebagai tempat penyimpanan inventaris. Tidak banyak orang masuk ke sana. Rak-raknya dipenuhi gulungan denah, proposal pembangunan, foto-foto lama, hingga surat keputusan yang kertasnya telah menguning seperti dedaunan menjelang gugur.

Aku menghabiskan hampir empat jam membuka satu demi satu tabung gambar. Denah tahun 1982, denah renovasi 1991, perluasan bangsal 1998, penambahan ruang ICU, pembangunan laboratorium, instalasi radiologi, semuanya lengkap. Namun ada satu hal yang terus menggangguku. Setiap denah memperlihatkan ruang arsip bawah tanah. Namun tidak satu pun menggambarkan adanya pintu kayu yang kutemukan semalam.

Aku membuka denah terakhir. Tahun pembangunan pertama, yaitu 1967. Kertasnya hampir rapuh, pun tintanya memudar. Aku membentangkannya perlahan di atas meja. Di sudut kanan bawah terdapat tanda tangan seorang arsitek bernama Herman Widjaja. Namun justru bukan itu yang menarik perhatianku. Di sisi kiri denah, terdapat bekas sobekan yang sangat rapi. Seseorang pernah sengaja memotong sebagian gambar. Janggalnya, itu tepat di lokasi ruang arsip bawah tanah.

"Mas, lagi cari apa?" Suara itu membuatku menoleh.

Ternyata Pak Darmo, seorang petugas gudang yang usianya mungkin sudah melewati tujuh puluh tahun. Ia bekerja di rumah sakit ini jauh sebelum aku lahir.

"Ada yang hilang dari denah ini. Sebuah pintu."

Beliau mendekat, lalu menyipitkan mata. Keriput di wajahnya bergerak pelan ketika ia mencoba mengingat sesuatu yang telah lama terkubur.

"Hm..."

Ia tidak langsung menjawab. Sebaliknya, ia justru menarik kursi dan duduk.

"Dulu memang pernah ada pintu itu."

"Lalu, ditutup?"

"Tidak."

"Kok bisa hilang?"

Pak Darmo diam.

"Karena keesokan hari pintunya sudah berada di tempat lain."


Malam kembali datang. Hujan tipis mengguyur halaman rumah sakit hingga seluruh jendela dipenuhi aliran air yang memantulkan cahaya lampu seperti ribuan garis air mata. Aku sengaja mengambil giliran lembur. Malam ini, aku hanya ingin memastikan satu hal.

Sekitar pukul satu dini hari, aku turun lagi ke ruang arsip bawah tanah. Lorong itu sama sunyinya seperti semalam. Pintu kayu itu masih ada.

Kali ini aku mendekat tanpa ragu. Tanganku menyentuh gagang pintu yang dingin. Aku memutarnya perlahan.

Pintu terbuka hanya beberapa senti. Tidak ada cahaya, pun tidak ada ruangan. Yang kulihat hanyalah lorong panjang yang ditelan kegelapan. Aku segera mengangkat senter. Cahayanya meluncur jauh ke depan. Namun tidak pernah benar-benar mencapai ujung lorong. Seolah cahaya itu sendiri habis sebelum sempat menyentuh akhir.

Kulangkahkan kaki untuk masuk. Begitu kedua kakiku melewati ambang pintu, udara berubah. Bau obat-obatan rumah sakit menghilang digantikan aroma kayu tua yang basah oleh waktu. Dindingnya terbuat dari batu, lantainya bukan keramik, tidak ada kabel, tidak ada pipa, tidak ada lampu. Lorong itu sama sekali tidak menyerupai bagian dari sebuah rumah sakit.

Aku menoleh ke belakang, memastikan bahwa pintu kayu masih terbuka. Ruang arsip masih terlihat.

Aku menghela napas lega. Setidaknya aku tahu jalan pulang.

Dengan keberanian yang sejak tadi kukumpulkan, aku berjalan beberapa meter, kemudian berhenti. Di dinding sebelah kanan terdapat sebuah papan kayu kecil yang dipaku dengan satu paku berkarat. Di atasnya tertulis sebuah nama.

Surya Adinata.

Napas yang sedari tadi kuusahakan tetap tenang, mendadak tercekat. Segera aku menyentuh papan itu. Kayunya terasa hangat seolah baru saja dipasang. Di bawah nama itu terdapat sebuah tanggal. Itu tanggal kematiannya. Persis seperti yang masih kuingat. Dadaku mulai dipenuhi pertanyaan yang saling berbenturan. Mengapa papan ini ada di sini? Siapa yang memasangnya? Dan mengapa nama yang telah hilang dari seluruh arsip justru masih tersimpan di tempat seperti ini?

Aku mengarahkan senter lebih jauh. Baru saat itulah aku menyadari bahwa lorong itu bukan sekadar lorong biasa. Lorong itu bercabang, ke kiri, ke kanan, lalu bercabang lagi, dan lagi. Setiap persimpangan dipenuhi papan-papan kayu serupa, ribuan jumlahnya. Masing-masing memuat satu nama. Nama-nama itu entah mengapa membuat tengkukku perlahan terasa semakin berat. Karena di antara ribuan nama itu, aku mulai mengenali beberapa di antaranya. Ya, semua adalah pasien yang pernah dinyatakan meninggal di Rumah Sakit Bhakti Husada. Dan aku baru menyadari sesuatu yang jauh lebih mengerikan, bahwa nama-nama yang masih kuingat hanyalah nama-nama yang baru dipasang. Sementara papan-papan yang lebih tua, tak mampu lagi kubaca dengan utuh, karena setiap kali mataku berusaha mengeja nama pada papan-papan itu, pikiranku seperti dipaksa melupakannya sebelum sempat memahami apa yang sedang kulihat. Seolah-olah labirin itu sendiri sedang mengajarkanku bahwa ada nama-nama yang tidak boleh lagi diingat oleh dunia.


Ada satu jenis sunyi yang tidak pernah diajarkan kepada manusia. Bukan sunyi yang lahir setelah hujan berhenti, bukan pula kesunyian ruang jenazah ketika keluarga telah pulang membawa kehilangan mereka masing-masing. Sunyi yang kini menyelimutiku jauh lebih ganjil daripada sekadar ketiadaan suara. Ia menyerupai ruang kosong yang sengaja disisakan oleh ingatan ketika perlahan melepaskan sesuatu yang selama ini dianggap penting. Semacam lubang kecil di dalam kepala yang mula-mula tak terasa, lalu diam-diam melebar, hingga akhirnya kita lupa pernah kehilangan apa. Barangkali begitulah rasanya dilupakan.

Aku berdiri cukup lama di persimpangan pertama labirin itu. Cahaya senter bergoyang pelan mengikuti napasku yang mulai kehilangan irama. Dinding-dinding batu menjulang tanpa lumut, tanpa retak, seolah dibangun bukan oleh tukang bangunan, tapi oleh waktu yang memadat menjadi tembok. Pada setiap sisinya, papan-papan kayu dipaku dengan jarak yang nyaris seragam. Tidak dihias. Tidak diberi bunga. Tidak pula diberi tanda penghormatan sebagaimana lazimnya nama seseorang diperlakukan setelah meninggal. Nama-nama itu dipasang seperti nomor inventaris. Seolah manusia hanyalah benda yang selesai digunakan.

Aku memberanikan diri mendekati salah satunya.

Lestari Wulandari. Tanggal yang terukir di bawahnya membuat tenggorokanku mengering. Hari ketika ia meninggal, perempuan itulah yang suaminya menitipkan secangkir kopi. Aku masih mengingat wajahnya. Ya, Masih, dan entah sampai kapan.

Tanpa sadar jemariku menyentuh permukaan papan tersebut. Kayunya terasa hangat, bahkan sedikit berdenyut, seperti nadi yang berusaha mempertahankan sisa kehidupan. Sesaat kemudian, sesuatu melintas begitu saja di kepalaku.

Serpihan kenangan, yang di dalamnya seorang perempuan kecil berlari di halaman sekolah sambil membawa layang-layang merah. Seorang remaja yang tersenyum malu menerima bunga wisuda. Seorang ibu muda tertawa ketika hujan pertama membasahi teras rumahnya. Lalu... gelap. Seluruh potongan kehidupan itu tercerabut begitu saja, seolah ada tangan tak kasatmata yang menutup sebuah buku sebelum sempat kubaca hingga selesai.

Aku tersentak mundur.

"Napas..."

Aku bahkan baru menyadari sedari tadi menahan udara di paru-paruku. Labirin ini tidak sekadar menyimpan nama. Ia menyimpan sisa-sisa keberadaan seseorang.

Aku terus melangkah. Lorong demi lorong berlalu tanpa pola yang bisa kupahami. Tidak ada penunjuk arah, tidak ada nomor jalur, bahkan setiap belokan terlihat seperti bayangan dari belokan sebelumnya. Aneh sekali, padahal secara logika aku seharusnya tersesat sejak lima belas menit lalu. Namun kakiku seolah diarahkan oleh sesuatu yang tidak terlihat, seakan labirin ini belum mengizinkanku kehilangan arah. Maka, di sebuah tikungan sempit, langkahku terhenti.

Terdengar suara ketukan yang pelan dan berulang. Seperti bunyi palu kecil yang menghantam kayu. Aku mematikan senter, tetapi justru suara itu jadi jauh lebih jelas.

Seseorang sedang memaku sesuatu. Pikiran itu membuat dadaku menegang. Instingku menyuruh berbalik, tetapi rasa ingin tahu yang sejak tadi tumbuh seperti akar justru menyeretku mengikuti sumber bunyi tersebut. Maka setelah melewati dua belokan, kulihat cahaya kekuningan menetes dari sebuah lorong sempit. Di sanalah sosok itu berdiri dengan punggung yang membungkuk. Tubuhnya dibungkus mantel panjang berwarna abu-abu kusam. Rambutnya memutih seluruhnya, tetapi kulit tengkuknya justru tampak terlalu muda untuk seorang lelaki tua. Tangannya memegang papan kayu. Dengan gerakan yang lambat—hampir seperti sebuah ritual—ia menempelkannya ke dinding batu itu, lalu mengangkat palu kecil berwarna hitam.

Setelah paku terakhir tertancap, lelaki itu mengusap permukaan papan dengan telapak tangannya. Seolah sedang mengucapkan salam perpisahan.

Aku menahan napas.

"Apa yang Bapak lakukan?"

Kalimat itu keluar lebih lirih daripada yang kuharapkan. Lelaki tersebut berhenti bergerak. Namun ia tidak langsung menoleh.

"Aku sedang menyimpan seseorang." Suaranya terdengar sangat tenang. Suara yang tidak berat, tidak serak, justru terlalu lembut untuk tempat seasing ini.

"Menyimpan?"

"Supaya dunia dapat melupakannya."

Aku membeku. Lelaki itu akhirnya menoleh. Wajahnya biasa saja. Malahan sangat biasa. Begitu biasa hingga lima detik setelah memandangnya, aku sudah kesulitan mengingat bentuk hidungnya, warna matanya, bahkan garis rahangnya. Seakan-akan wajah itu memang diciptakan agar tidak bisa dikenang.

"Kau bukan orang pertama yang datang ke sini," katanya.

"Tapi mungkin aku orang pertama yang berhasil menemukan tempat ini."

Ia menggeleng pelan. "Tidak."

"Lalu?"

"Tidak ada seorang pun yang menemukan Labirin."

"Lalu?"

"Labirinlah yang menemukan mereka. Dan ia tidak tinggal di rumah sakit."

"Lalu, di mana?"

"Hari ini di sini."

"Besok?"

"Tidak ada yang tahu."

"Tempat apa sebenarnya ini?"

Pertanyaanku menggantung cukup lama. Lelaki itu tidak segera menjawab, ia justru berjalan perlahan menyusuri lorong, memberi isyarat agar aku mengikutinya.

Kami melewati ratusan papan nama. Sebagian tampak baru. Sebagian lagi sudah menghitam dimakan usia. Di antaranya terdapat papan-papan yang benar-benar kosong. Tanpa nama, tanpa tanggal, tanpa apa pun.

"Apa maksud papan kosong itu?"

"Yang sedang menunggu."

"Menunggu siapa?"

"Orang yang akan dilupakan."

Jawaban itu tidak membuatku lebih mengerti. Sebaliknya, ia menambah beban yang sejak tadi memenuhi kepalaku.

"Kau menghapus nama mereka dari rumah sakit?"

"Tidak."

"Dari pemerintah?"

"Tidak."

"Dari keluarga?"

Lelaki itu berhenti, ia menatapku cukup lama. "Aku tidak menghapus apa pun."

"Lalu kenapa semua data hilang?"

"Karena keberadaan seseorang tidak pernah disimpan oleh kertas."

Aku terdiam.

"Nama seseorang hidup karena ada yang mengingatnya," lanjutnya. "Arsip hanya bayangannya."

"Kalau begitu—"

"Ketika nama dipasang di sini, dunia perlahan kehilangan kemampuan untuk mengingat bahwa orang itu pernah ada."

Aku spontan menggeleng. "Itu tidak mungkin. Benarkah?"

Ia menunjuk papan bertuliskan Surya Adinata.

"Coba ceritakan wajahnya."

Aku membuka mulut, lalu berhenti seketika. Wajah itu, aku mengingat pria tua. Aku mengingat ruang jenazah. Aku mengingat putrinya menangis. Namun wajahnya? Kosong. Yang tersisa hanya siluet tanpa rupa.

Aku mencoba mengingat warna rambutnya, gagal. Bentuk matanya, gagal. Suara bicaranya, tidak ada. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisku.

"Mustahil!"

"Besok pagi," ucap lelaki itu lirih, "kau akan lupa warna bajunya."

Ia melangkah lagi.

"Lusa kau lupa siapa yang menangisinya. Seminggu lagi kau lupa alasan mengapa kau mencarinya. Sebulan lagi...," ia berhenti tepat di depan sebuah persimpangan, "kau akan menganggap nama itu tidak pernah berarti apa-apa."

Aku mundur beberapa langkah. Ada rasa panik yang perlahan menjelma sesuatu yang lebih buruk daripada takut. Bila yang dikatakannya benar, maka aku tidak sedang menyelidiki hilangnya arsip. Aku sedang menyaksikan bagaimana kenyataan itu sendiri diubah sedikit demi sedikit.

"Lalu, kenapa aku masih ingat?"

Lelaki itu tersenyum tipis. "Hanya karena kau datang terlalu cepat."

"Maksudnya?"

"Nama-nama yang baru dipasang belum sepenuhnya tenggelam." Ia mengangkat telunjuknya. "Namun ingatan manusia seperti tinta di atas kertas basah. Sekali hujan turun, tak ada yang bisa membaca tulisan yang pernah ada di sana."

Kalimat itu menggantung di udara. Lalu, aku menyadari sesuatu yang sejak tadi luput dari perhatianku. Di ujung lorong sebelah kiri terdapat deretan papan nama yang masih kosong. Salah satunya telah memiliki paku. Dan di bawah paku itu tergantung secarik kertas kecil. Belum berisi nama, justru terdapat sebuah nomor registrasi pasien. Nomor itu terasa begitu akrab hingga dadaku mendadak sesak. Karena aku pernah mengetiknya sendiri ke dalam sistem rumah sakit pagi tadi untuk seorang pasien yang masih hidup.


Tidak ada hal yang lebih kejam daripada kematian. Setidaknya begitulah yang selalu diyakini manusia. Kematian dianggap sebagai akhir dari segala kemungkinan, penutup bagi seluruh percakapan yang belum selesai, pemutus bagi pelukan yang belum sempat diberikan, dan titik paling sunyi yang memisahkan seseorang dari dunia yang pernah memanggil namanya. Karena itu manusia belajar menerima kematian dengan berbagai cara; ada yang memeluk agama, ada yang bersandar pada waktu, ada pula yang menipu dirinya sendiri dengan berkata bahwa segala luka akan sembuh jika cukup lama dibiarkan. Namun malam itu, di tengah labirin yang bahkan udara di dalamnya seolah enggan bergerak, aku memahami satu kenyataan yang jauh lebih mengerikan, bahwa kematian ternyata masih menyisakan belas kasihan.

Masih ada nisan, masih ada foto, masih ada cerita yang diulang anak cucu, masih ada seseorang yang sesekali menangis ketika mengenang, tetapi tempat ini… tempat ini merampas semua itu sekaligus. Tempat ini tidak membunuh manusia, tapi menghapus alasan dunia untuk pernah mengingat bahwa manusia itu ada.

Aku mengikuti lelaki itu tanpa lagi menghitung jumlah belokan yang kami lewati. Kesadaran mengenai arah telah lama luruh bersama rasa percaya bahwa di luar sana masih ada logika yang bisa kugenggam. Labirin ini tidak dibangun untuk dipahami. Ia hanya ingin diterima sebagaimana laut menerima ombak yang tak pernah benar-benar memilih ke pantai mana harus pecah.

Semakin jauh kami berjalan, papan-papan nama yang terpasang di dinding mulai berubah. Tidak lagi hanya memuat satu nama. Bahkan ada papan yang berisi dua, lima, sepuluh. Bahkan satu bidang batu dipenuhi puluhan nama yang ditulis sangat rapat hingga menyerupai doa-doa yang kehilangan spasi.

"Apa bedanya tempat ini?" tanyaku.

"Lupa," jawabnya pendek.

"Lupa?"

"Mereka dilupakan bersamaan."

Aku memandangi deretan nama itu. Satu keluarga, ayah, ibu, anak. Semuanya punya tanggal yang sama.

"Terjadi kecelakaan?"

"Bukan."

"Lalu?"

"Tidak ada lagi orang yang tersisa untuk mengingat mereka."

Aku tidak memahami maksudnya. Melihat kebingunganku, lelaki itu berhenti di depan sebuah papan yang warnanya jauh lebih gelap dibandingkan papan-papan lain.

"Berapa banyak teman masa kecilmu yang masih kauingat?"

Aku mengernyit. "Entahlah."

"Cobalah sebutkan."

Aku berusaha mengingat. Satu, dua, empat, delapan. Setelah itu pikiranku mendadak buntu. Padahal aku pernah belajar bersama puluhan anak selama bertahun-tahun. Namun wajah mereka hilang, suara mereka menguap, dan yang tertinggal hanya bangku-bangku kosong di dalam ingatan.

"Kau tidak menganggap itu aneh, bukan?"

Aku menggeleng perlahan.

"Tidak."

"Karena manusia terbiasa lupa." Lelaki itu mengusap papan kayu di hadapannya. "Labirin ini hanya mempercepat sesuatu yang memang sudah menjadi tabiat dunia."

Tak lama kemudian, kami tiba di sebuah ruangan bundar yang jauh lebih luas daripada lorong-lorong sebelumnya. Langit-langitnya melengkung tinggi seperti kubah tua. Di tengah ruangan berdiri sebuah pohon. Batangnya berwarna hitam pekat. Tidak berdaun, pun tidak berbunga. Namun seluruh cabangnya dipenuhi ribuan papan nama yang bergantung menggunakan benang-benang merah kusam. Pohon itu tampak seperti makhluk tua yang selama ratusan tahun memakan identitas manusia sedikit demi sedikit.

Aku tidak sadar telah menghentikan langkah.

"Tempat ini... dibangun oleh rumah sakit?" tanyaku.

Lelaki itu justru tertawa lirih, seolah pertanyaanku adalah sesuatu yang telah ia dengar berkali-kali selama berabad-abad.

"Rumah sakit?" Ia menggeleng pelan. "Ketika bangunan ini didirikan, labirin sudah jauh lebih tua."

"Kalau begitu kenapa pintunya ada di sini?"

"Hari ini memang di sini."

"Hari ini?"

"Dua puluh tahun lalu, pintunya muncul di ruang bawah sebuah perpustakaan tua." Ia berhenti sejenak. "Seratus tahun sebelumnya, seseorang menemukannya di lorong sebuah penjara. Sebelumnya lagi...," matanya menerawang jauh, "aku sudah lupa."

"Apa ini?"

Lelaki itu memandang pohon tersebut dengan sorot mata yang sulit kutafsirkan.

"Ingatan terakhir."

Angin tipis berembus dari arah yang tidak kuketahui. Ribuan papan itu bergoyang pelan dan tidak saling berbenturan, bahkan tidak mengeluarkan bunyi. Aneh sekali. Padahal jumlahnya begitu banyak, seharusnya terdengar gemerisik kayu. Namun yang sampai ke telingaku justru sesuatu yang lain. Bisikan yang sangat pelan. Mula-mula hanya satu, lama-lama puluhan, kemudian ratusan. Seperti ribuan orang sedang memanggil seseorang yang tak kunjung menoleh.

Aku memejamkan mata, suara-suara itu berubah jadi kalimat.

"Aku pernah ada..."

"Jangan lupakan aku..."

"Aku masih mengingat rumahku..."

"Ibu..."

Dadaku seketika terasa seolah diremas. Aku membuka mata dengan napas memburu.

"Itu... mereka. Mereka masih hidup?"

"Tidak."

"Lalu?"

"Mereka masih memiliki sisa."

"Sisa apa?"

Lelaki itu menatap pohon itu cukup lama.

"Sisa keinginan untuk dikenang."

"Kau bilang mereka tidak mati."

"Iya."

"Lalu sebenarnya apa yang terjadi?"

Pertanyaanku kali ini terdengar jauh lebih putus asa daripada rasa ingin tahuku sendiri.

Lelaki itu menarik napas dalam. "Kenapa sekarang rumah sakit? Karena manusia paling sering belajar kehilangan di tempat seperti ini."

"Sebelumnya?"

"Tempat-tempat lain."

"Labirin selalu memilih tempat ketika terlalu banyak nama akan segera dilupakan."

"Apa maksudmu?"

"Setiap hari ada yang lahir."

"Ada."

"Ada yang sembuh."

"Iya."

"Ada yang meninggal."

"Iya."

"Lalu menurutmu, siapa yang menentukan kapan seseorang benar-benar berakhir?"

"Tuhan."

Ia mengangguk pelan. "Itu jawaban yang indah."

"Memangnya bukan?"

"Bagi jiwa, mungkin."

"Lalu?"

"Bagi dunia...," ia menatapku, "yang menentukan akhir seseorang adalah ingatan."

Aku terdiam.

"Bila tidak ada lagi seorang pun yang mampu mengingat keberadaanmu, dunia akan menyesuaikan dirinya."

"Menyesuaikan?"

"Foto berubah, catatan lenyap, surat menghilang, tulisan memudar, suara menjadi asing. Bahkan kenangan yang pernah hidup di kepala manusia akan diganti dengan ruang kosong."

Aku menelan ludah.

"Itulah sebabnya kau tidak mampu lagi mengingat wajah Surya Adinata."

Kalimat itu menancap di kepalaku seperti paku. Aku mencoba melawan. Kucari kembali wajah lelaki tua itu, tetapi tidak ada. Dia benar, yang tersisa hanya perasaan bahwa aku pernah mengenalnya, dan tak lebih.

"Kau ini siapa sebenarnya?"

Lelaki tersebut tersenyum. Barangkali untuk pertama kalinya senyum itu tampak benar-benar manusia.

"Aku tidak ingat."

Aku mengira ia sedang bergurau. Namun sorot matanya terlalu jujur untuk disebut candaan.

"Namamu?"

"Aku lupa."

"Keluargamu?"

"Aku lupa."

"Sudah berapa lama di sini?"

Ia mengangkat bahu.

"Mungkin seratus tahun. Mungkin seribu. Mungkin semalam."

"Kau sungguh tidak ingat?"

"Ketika menjadi penjaga di tempat ini...," ia memandang kedua telapak tangannya, "hal pertama yang dirampas adalah namamu sendiri."

Dadaku serasa jatuh ke dasar perut.

"Jadi—"

"Kau pikir seseorang bisa menjaga tempat yang menghapus identitas tanpa kehilangan identitasnya sendiri?"

Aku tidak mampu menjawab.

Tiba-tiba terdengar bunyi yang sangat keras.

Kraakk!

Suara retakan bergaung dari seluruh penjuru labirin. Lantai batu bergetar halus. Debu-debu tua berjatuhan dari langit-langit. Lelaki itu langsung menoleh ke salah satu lorong.

"Waktunya lebih cepat."

"Apa yang terjadi?"

"Mereka datang."

"Siapa?"

Ia tidak menjawab. Sebaliknya, ia berjalan jauh lebih cepat daripada sebelumnya. Aku mengikutinya sambil berusaha menjaga keseimbangan. Retakan-retakan itu semakin sering terdengar. Di beberapa dinding, papan-papan nama mulai bergoyang. Lalu satu di antaranya jatuh. Begitu papan itu menyentuh lantai batu, tubuhku mendadak limbung. Kepalaku dipenuhi kilatan-kilatan gambar yang bukan milikku. Seorang anak laki-laki, sepeda biru, sungai, pohon mangga, tawa seorang perempuan. Kemudian semuanya menghilang secepat datangnya.

"Apa itu?!"

Lelaki itu tetap berjalan. "Nama yang lepas."

"Kenapa aku melihat—"

"Karena seseorang hampir kembali diingat."

Aku tidak mengerti.

"Kalau papan itu terlepas, maka dunia memiliki kesempatan untuk mengingatnya lagi."

Harapan kecil tiba-tiba muncul di dadaku.

"Kalau begitu kita tinggal melepaskan semua papan ini!"

Langkah lelaki itu berhenti, lalu pelan sekali ia menoleh dengan tatapan yang kali ini berbeda belaka. Ada kesedihan yang begitu lama tinggal hingga rasanya telah berubah menjadi kelelahan.

"Sudah pernah dicoba."

"Oleh siapa?"

"Penjaga sebelum aku."

"Berhasil?"

Ia menggeleng.

"Kenapa?"

"Karena dunia tidak suka mengingat terlalu banyak."

Aku masih belum memahami. Lelaki itu menunjuk ke arah lorong yang berada di depan kami.

"Dengarkan."

Aku menahan napas. Dari kejauhan terdengar langkah kaki yang begitu pelan dan serempak. Suaranya seperti sedang mendekat. Itu justru mengingatkanku pada langkah para perawat ketika pergantian sif malam, hanya saja jauh lebih berat, lebih lambat, dan terdengar seperti sesuatu yang telah berjalan tanpa henti selama berabad-abad.

Kegelapan di ujung lorong mulai bergerak karena ada sosok-sosok yang keluar darinya. Mereka mengenakan pakaian rumah sakit. Sebagian masih memakai gelang identitas pasien. Sebagian membawa tabung infus yang telah kosong. Sebagian lagi berjalan dengan wajah tertunduk. Tidak satu pun punya mata. Di tempat sepasang mata seharusnya berada, hanya ada permukaan kulit yang rata, seolah wajah mereka sengaja disempurnakan dengan cara menghapus kemampuan untuk mengenali dan dikenali.

Mereka tidak tampak marah. Tidak pula buas. Justru itulah yang membuat bulu kudukku berdiri. Karena mereka berjalan seperti orang-orang yang sedang mencari sesuatu yang sangat sederhana. Ya, sebuah nama.

Lelaki itu menarik lenganku untuk mundur. Suaranya nyaris tenggelam oleh gema langkah yang semakin dekat.

"Jangan biarkan mereka mendengar namamu."

"Kenapa?"

"Karena sekali namamu mereka bawa," ia menggenggam pergelangan tanganku lebih erat daripada sebelumnya, "tak seorang pun di dunia akan pernah mampu memanggilmu lagi."

Ada saat ketika manusia tidak lagi berlari untuk menyelamatkan tubuhnya. Ia berlari demi menyelamatkan sesuatu yang jauh lebih rapuh daripada daging dan tulang; sesuatu yang tidak pernah dapat disentuh oleh kedua tangan, tetapi mampu menentukan siapa dirinya sepanjang hidup.

Ya, nama.

Selama bertahun-tahun bekerja di ruang administrasi rumah sakit, aku mengira nama hanyalah identitas yang dibutuhkan untuk membedakan satu pasien dengan pasien lainnya. Nama tertulis pada gelang rawat inap, formulir persetujuan tindakan, kartu asuransi, hingga sertifikat kematian. Semuanya tampak begitu administratif, begitu dingin, seolah nama tidak lebih penting daripada nomor registrasi.

Malam itu aku menyadari bahwa seluruh peradaban manusia sesungguhnya dibangun di atas sesuatu yang amat rapuh. Selama masih ada seseorang yang mengingat namamu, dunia akan terus mengakui keberadaanmu. Namun begitu nama itu hilang, realitas akan belajar hidup tanpamu.


"Lari!"

Suara lelaki itu memecahkan kekakuan yang sejak tadi membelenggu kakiku. Tanpa sempat berpikir, aku mengikuti arahnya. Lorong-lorong batu kembali berkelebat di sisi kanan dan kiri, sementara gema ratusan langkah dari makhluk-makhluk tanpa mata terus mengalun di belakang kami. Anehnya, mereka tidak terdengar terburu-buru. Tidak ada teriakan. Tidak ada raungan. Hanya langkah-langkah yang teratur, seperti rombongan peziarah yang telah mengetahui ke mana tujuan akhirnya.

Justru ketenangan itulah yang mengerikan. Makhluk yang marah masih mungkin melakukan kesalahan. Tetapi makhluk yang yakin tidak perlu tergesa-gesa.

"Kanan!" seru lelaki itu.

Aku membelok. Lorong di hadapan kami tiba-tiba bercabang menjadi tiga.

"Tidak mungkin," gumamku.

"Kenapa?"

"Tadi lorong ini hanya satu."

Lelaki itu bahkan tidak menoleh.

"Labirin tidak pernah diam."

Kami berbelok lagi. Namun ketika menoleh ke belakang, persimpangan yang baru saja kulewati telah lenyap. Dinding batu menyatu kembali tanpa menyisakan bekas seolah lorong itu tidak pernah ada sejak awal. Dadaku mulai dipenuhi kepanikan yang selama ini berusaha kutahan.

"Tempat ini hidup."

Tidak, lebih tepatnya, ia mendengarkan.

Setelah entah berapa banyak belokan, kami akhirnya tiba di depan pintu kayu tua yang pertama kali kulalui. Cahaya ruang arsip masih tampak di balik celahnya. Aku hampir tertawa lega.

"Tunggu."

Suara lelaki itu menghentikan langkahku.

"Ada apa lagi?"

Ia memandang pintu itu cukup lama, lalu berkata dengan nada yang sangat tenang,

"Kau masih ingin keluar?"

Aku mengernyit. "Tentu."

"Sudah kuduga begitu."

"Maksudmu?"

Ia tersenyum. Senyum yang kali ini tidak lagi terasa asing. Justru menyimpan kesedihan yang begitu dalam hingga aku merasa pernah melihat ekspresi serupa pada keluarga pasien yang mengetahui harapan mereka telah berakhir.

"Kau belum mengerti."

"Apa lagi yang harus kupahami?"

"Kau mengira keluar berarti semuanya selesai."

"Bukankah memang begitu?"

Ia menggeleng perlahan.

"Labirin tidak membiarkan siapa pun pergi dengan membawa rahasianya."

Kalimat itu menggantung seperti kabut. Aku hendak bertanya lagi ketika dari kejauhan terdengar bunyi palu.

Lelaki itu menutup mata. "Terlambat."

"Siapa yang sedang memaku?"

Ia tidak menjawab. Sebaliknya, ia melangkah menuju salah satu lorong kecil yang sebelumnya luput dari perhatianku. Dengan ragu aku mengikutinya. Lorong itu jauh lebih sempit. Dindingnya dipenuhi papan-papan kosong yang belum bertuliskan nama. Seolah sedang menunggu seseorang. Di ujung lorong terdapat sebuah ruangan mungil. Di sanalah suara palu itu berasal.

Sosok yang memegang palu membelakangi kami. Jubahnya hitam, lebih hitam daripada bayangan. Rambutnya panjang menjuntai hingga pinggang. Gerakannya perlahan, nyaris penuh kasih sayang, ketika menancapkan paku ke papan kayu yang baru.

Aku tidak bisa melihat tulisan di atas papan itu. Tubuhku terlalu jauh. Namun lelaki di sampingku mendadak berhenti berjalan. Wajahnya memucat.

"Aku terlambat."

"Siapa dia?"

Ia berbisik hampir tanpa suara. "Penjaga berikutnya."

Aku menatapnya bingung.

"Bukankah penjaganya kau?"

"Dulu."

Jawaban itu membuat udara di dalam paru-paruku terasa jauh lebih berat. Perlahan sosok berjubah hitam itu berbalik. Wajahnya… kosong. Tidak, bukan karena tidak memiliki mata atau hidung, tapi karena setiap kali aku berusaha mengingat bentuk wajahnya, bayangan itu langsung kabur, pikiranku menolak menyimpannya.

Ia mengangkat papan kayu tersebut. Menunjukkannya kepada kami. Dan dunia di sekitarku berhenti berputar, sebab di atas papan itu tertulis, Raka Pradana.

Ya, itu namaku.

Tulisan itu begitu rapi seakan telah disiapkan sejak lama. Di bawahnya sudah terukir tanggal hari ini.

"Ini tidak mungkin."

Aku mundur satu langkah, dua langkah.

"Tidak!"

Aku berlari menuju papan itu. Namun sebelum sempat menyentuhnya, sosok berjubah tersebut mengangkat palunya. Paku pertama menancap. Seketika rasa nyeri menusuk kepalaku. Aku masih mengingat ibuku.

Tok, paku kedua.

Wajah ibu mulai memudar. Aku tahu aku mencintainya. Namun aku lupa warna matanya.

Tok, paku ketiga.

Ayah, rumah, masa kecil. Satu demi satu pecah seperti kaca yang dilempar ke lantai.

"Apa yang terjadi padaku?!"

Aku memegangi kepala. Ingatan berjatuhan bukan seperti daun yang gugur perlahan, lebih seperti perpustakaan yang terbakar dalam semalam. Aku masih mengetahui bahwa pernah ada kehidupan sebelum malam ini, tetapi seluruh detailnya berubah menjadi abu yang beterbangan sebelum sempat kugenggam.

Lelaki tua itu memandangku dengan mata yang basah. "Inilah yang terjadi pada kami semua."

"Kami?"

"Para penjaga."

"Tolong... lepaskan papan itu!" Aku memohon entah kepada siapa.

Lelaki tua itu menundukkan kepala. "Aku pernah memohon seperti itu."

"Kenapa kau tidak menghentikannya?!"

"Aku pernah mencoba."

"Lalu?"

Ia tertawa lirih. Tawa yang lebih terdengar seperti isak.

"Labirin tidak memilih penjaga. Ia memilih orang yang paling keras kepala mencari kebenaran."

Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada kenyataan di depanku. Selama beberapa hari terakhir aku merasa sedang menyelidiki sebuah misteri. Padahal sejak pertama kali menyentuh pintu itu, akulah yang sedang diselidiki.

"Jadi semua ini—"

"Bukan kebetulan."

"Surya... Lestari. Pintu itu... denah yang disobek. Semuanya membawaku ke sini?"

Lelaki tua itu mengangguk. "Labirin selalu memanggil orang yang tidak bisa menerima ada satu nama pun hilang dari dunia."

Aku menutup wajah. Baru kini kusadari ironi yang begitu telanjang. Selama bertahun-tahun aku membanggakan pekerjaanku, aku percaya bahwa menyimpan arsip berarti menjaga keberadaan manusia. Bahwa selama data tersimpan rapi, tak seorang pun benar-benar lenyap. Ternyata aku keliru. Arsip hanyalah bayangan. Yang dijaga labirin bukanlah berkas, tapi ingatan dunia itu sendiri.

Sosok berjubah hitam melangkah mendekat. Tidak terlihat ancaman dalam gerakannya. Ia hanya mengulurkan sebuah palu kecil. Palu yang sama, berwarna hitam. Entah mengapa aku tahu palu itu akan pas di genggamanku.

"Aku tidak mau."

Tidak ada jawaban. Ia tetap mengulurkan palu tersebut. Lelaki tua berbisik pelan, "Kalau kau menolak …."

"Apa?"

"Mereka akan keluar."

Aku menoleh. Dari lorong-lorong di belakang, ratusan sosok tanpa mata mulai memenuhi setiap persimpangan. Mereka berdiri diam. Tidak menyerang, pula tidak bergerak.

Hanya menunggu.

"Siapa mereka sebenarnya?"

"Mereka yang berhasil lepas."

"Lepas?"

"Dari papan mereka."

Aku mengernyit.

"Mereka tidak lagi memiliki nama."

"Lalu?"

"Tanpa nama," lelaki tua menarik napas panjang, "manusia tidak bisa mati."

Bulu kudukku berdiri.

"Mereka juga tidak bisa hidup."

Kalimat itu mengubah seluruh ketakutanku jadi sesuatu yang lebih kelam. Makhluk-makhluk itu bukan hantu, tapi juga bukan mayat hidup. Mereka adalah manusia yang telah kehilangan seluruh kemungkinan untuk dikenali. Tidak ada keluarga yang mencarinya, tidak ada makam yang menyebutnya, tidak ada doa yang ditujukan kepadanya. Mereka bahkan tidak memiliki hak untuk disebut "orang hilang". Karena dunia tidak pernah tahu mereka pernah ada.

Aku memandangi palu di hadapanku, lalu bergantian memandang lelaki tua itu.

"Kalau aku menerima—"

"Kau menjadi penjaga."

"Kalau aku menolak?"

"Labirin akan mencari yang lain."

"Dan mereka?"

Ia tidak perlu menjawab. Aku sudah mengerti bahwa ratusan sosok tanpa nama itu akan keluar, berjalan di tengah kota, menyentuh manusia, mengambil nama demi nama. Ya, memang tak membunuh, tapi mengosongkan dunia sedikit demi sedikit.

Aku menutup mata. Keputusan terbesar bukan tentang hidup atau mati, tapi tentang memilih siapa yang akan diingat.

Tanganku akhirnya menggenggam palu itu. Rasanya hangat. Seolah telah lama menungguku. Sosok berjubah hitam perlahan memudar. Tidak menghilang, tapi terlupakan. Bahkan ketika ia masih berdiri di depanku, wajahnya sudah tak mampu kuingat. Begitulah ia pergi, dengan cara yang hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang telah kehilangan namanya.

Lelaki tua mulai berjalan menuju pintu keluar. Aku memanggilnya.

"Tunggu." Ia berhenti. "Siapa namamu?"

Ia tersenyum. Senyum yang kali ini terasa damai.

"Aku tidak tahu."

"Lalu bagaimana aku memanggilmu nanti?"

Ia memandangku lama sekali, lalu menggeleng. "Kau tidak akan mengingat pernah bertanya."

Ia melangkah melewati pintu. Begitu tubuhnya menyentuh ambang, sesuatu yang mustahil terjadi. Tubuhnya perlahan berubah transparan. Tidak lenyap, lebih seperti gambar yang dihapus sedikit demi sedikit dari selembar kertas.

Beberapa detik kemudian, lorong itu kosong. Aku masih yakin seseorang baru saja berdiri di sana. Tetapi siapa? Untuk apa? Aku tidak lagi tahu.

Kini hanya aku, labirin, dan ribuan nama.

Aku mengangkat papan kayu yang masih kosong. Tanganku bergerak sendiri mengambil pahat, mengukir satu nama baru. Satu lagi. Satu lagi. Aku tidak lagi tahu sejak kapan pekerjaan itu dimulai. Mungkin sehari. Mungkin seratus tahun. Di tempat seperti ini, waktu rupanya hanya cara lain bagi ingatan untuk membusuk.

Sudah berapa lama aku berada di sini?

Aku tidak tahu. Di tempat ini, waktu tidak berjalan mengikuti matahari. Ia bergerak sejauh manusia masih mampu mengingat seseorang.

Suatu hari atau mungkin bertahun-tahun kemudian, pintu tua itu kembali terbuka. Aku menoleh. Bukan ruang arsip atau lorong rumah sakit. Di balik pintu itu tampak rak-rak buku menjulang. Debu menari di sela cahaya sore. Seorang perempuan muda masuk perlahan sambil menggenggam kamera dan buku catatan.

"Aneh," gumamnya. "Aku yakin tadi ada pintu di antara rak itu."

Ia melihat ke arahku.

"Permisi. Ini tempat apa, ya?"

Dadaku sesak. Aku merasa pernah mendengar pertanyaan itu. Sangat lama sekali. Namun tak ada lagi yang mampu kuingat. Aku hanya menggenggam palu lebih erat.

Di belakang perempuan itu, pintu perlahan menutup. Ketika terbuka kembali beberapa saat kemudian, yang terlihat bukan lagi perpustakaan, tapi lorong stasiun kereta yang lengang. Labirin telah berpindah, sekali lagi. Ya, meninggalkan rumah sakit, mencari nama berikutnya. Mereka selalu bertanya pertanyaan yang sama.

"Sebenarnya ini tempat apa?"

Aneh. Setiap kali mendengar pertanyaan itu, dadaku selalu sesak. Seolah aku pernah menanyakannya kepada seseorang. Namun aku tidak ingat kepada siapa. Aku hanya tahu satu hal, bahwa tidak semua orang yang hilang telah mati. Sebagian dari mereka hanya tidak lagi memiliki seorang pun yang mampu mengingat namanya. Dan sementara paluku kembali mengetuk papan kayu yang baru, aku menyadari sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh buku-buku administrasi mana pun. Ternyata pekerjaan menjaga nama seseorang tidak berakhir ketika ia meninggal. Pekerjaan itu berakhir ketika tidak ada lagi siapa pun yang dapat mengucapkannya.

Tok, satu nama lagi.

Tok, satu keberadaan lagi.

Tok.

Dan di luar sana, dunia tetap berjalan seperti biasa, bahwa setiap hari, tanpa disadari oleh siapa pun, selalu ada seseorang yang perlahan dihapus dari kenyataan, bukan oleh kematian, tapi oleh sebuah labirin yang sabar menunggu hingga nama terakhir akhirnya berhenti diucapkan.


-II-

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke: