Lima Sekawan : Api Yang Tidak Seharusnya Terbang
Udara di puncak malam itu dinginnya bukan main.
Bukan dingin yang membuat seseorang berkata, “Wah, sejuk banget.”
Ini dingin yang membuat orang mempertimbangkan apakah jaket dua lapis masih cukup atau harus sekalian memakai selimut.
Kanaya menarik resleting jaketnya sampai dagu.
“Kalau besok aku bangun-bangun jadi es batu, kalian bertiga yang bertanggung jawab.”
“Kenapa bertiga?” tanya Danis.
“Karena Respati pasti nggak mau tanggung jawab. Dia pasti bilang pembekuan tubuhmu adalah fenomena alam.”
Respati yang sedang duduk sambil memperhatikan bara api menoleh.
“Memang fenomena alam.”
Kanaya memandangnya datar.
“Nah.”
Djanu tertawa.
“Gue bilang juga apa. Respati itu kalau kiamat datang, dia bukan lari. Dia bikin laporan.”
Sagara yang duduk di seberang api hanya menggeleng.
“Udah. Jangan berisik. Kita lagi acara api unggun.”
Malam itu mereka berlima sedang mengikuti acara kemah sekolah di kawasan perbukitan yang berada cukup jauh dari permukiman.
Tempatnya indah.
Pohon-pohon pinus menjulang tinggi. Udara bersih. Langit malam penuh bintang.
Tapi sejak sore, Kanaya sudah merasa ada sesuatu yang aneh.
Bukan karena suasananya.
Melainkan karena di beberapa bagian hutan, terdengar suara mesin dari kejauhan.
Kadang seperti gergaji.
Kadang seperti kendaraan berat.
Namun setiap kali mereka bertanya kepada panitia, jawabannya sama.
“Itu mungkin suara kendaraan dari bawah.”
Maka Kanaya memilih tidak memikirkannya.
Lagipula, malam ini mereka sedang bersenang-senang.
Api unggun menyala terang di tengah lingkaran.
Beberapa kelompok siswa bernyanyi.
Djanu tentu saja ikut bernyanyi.
Masalahnya, tidak ada yang meminta.
“? Aku bukan jagoan...”
“Jangan nyanyi!” teriak Danis.
“Kenapa?”
“Karena lagu itu punya hak asasi manusia!”
Djanu berhenti.
“Lah, kok lagu punya HAM?”
“Karena dia juga berhak nggak dinyanyikan sama lu.”
Tawa langsung pecah.
Bahkan Sagara sampai menundukkan kepala sambil menahan senyum.
Respati tetap diam.
Matanya justru tertuju pada api.
“Kenapa?” tanya Naya.
Respati menunjuk bara.
“Anginnya berubah.”
“Terus?”
“Api bergerak ke arah yang berlawanan.”
Djanu mendekat.
“Bahasa manusia?”
“Angin dari timur, tapi api condong ke barat.”
Djanu mengangguk serius.
“Oh.”
Lalu ia menatap api.
“Berarti apinya keras kepala.”
Respati memejamkan mata sebentar.
“Bukan begitu.”
“Ya terus gimana?”
“Fenomena turbulensi.”
Djanu mengangkat tangan.
“Gue punya hipotesis lain.”
“Apa?”
“Apinya nggak suka lu.”
Danis langsung tertawa.
“Masuk akal.”
Namun tawa mereka terhenti ketika tiba-tiba—
Fuuush!
Salah satu lidah api meloncat tinggi.
Bukan sekadar berkobar.
Api itu seperti tertarik ke udara.
Kemudian...
melayang.
Beberapa detik.
Di atas tanah.
Semua orang terdiam.
Sebuah bola api kecil bergerak perlahan melewati sisi lingkaran.
Beberapa siswa langsung menjerit.
“ASTAGHFIRULLAH!”
“API TERBANG!”
“ITU APA?!”
Kanaya refleks memegang lengan Sagara.
“Gar...”
Sagara berdiri.
“Semua mundur!”
Namun Respati justru berdiri dan memperhatikan benda itu dengan serius.
“Jangan panik.”
Djanu menatapnya.
“API TERBANG, PATI.”
“Ada penjelasannya.”
“Ya. Penjelasannya kita semua bakal mati.”
Respati tidak menjawab.
Bola api itu perlahan bergerak menuju pepohonan.
Lalu...
Puf!
Padam.
Suasana mendadak sunyi.
Dan tepat setelah itu terdengar suara dari arah hutan.
Kreeeek...
Seperti batang pohon patah.
Kemudian suara lain.
Tok... tok... tok...
Tiga kali.
Kanaya menelan ludah.
“Siapa?”
Tidak ada jawaban.
Sagara memberi isyarat agar semua tetap di tempat.
Tapi kemudian terdengar suara.
Sangat pelan.
Seperti seseorang berbisik dari balik pepohonan.
“Pulang...”
Danis langsung berdiri.
“Gue setuju.”
Djanu menatapnya.
“Lah, lu langsung setuju?”
“Iya. Ini pertama kalinya alam ngomong dan gue merasa pendapatnya masuk akal.”
Beberapa siswa mulai panik.
Guru dan panitia segera meminta semua kembali ke tenda.
Namun Respati masih berdiri.
Matanya menatap hutan.
“Suara itu bukan dari arah sana.”
Sagara menoleh.
“Maksudmu?”
“Pantulan suara.”
“Yakin?”
Respati mengangguk.
“Ada sesuatu yang menghasilkan suara dari sisi lain.”
Kanaya memegang lengannya.
“Respati, jangan.”
Respati menatapnya.
“Aku cuma mau memastikan.”
“Memastikan apa?”
“Kalau itu bukan sesuatu yang kita pikirkan.”
Djanu menyela.
“Kalau ternyata kuntilanak, lu mau wawancara?”
Respati mengambil senter.
“Bukan.”
“Kalau genderuwo?”
“Bukan.”
“Kalau pocong?”
Respati menatap Djanu.
“Pocong secara anatomi akan kesulitan melakukan perpindahan cepat di medan berbatu.”
Djanu diam.
Danis menatap Sagara.
“Gue bingung harus kagum atau takut.”
Sagara menarik napas.
“Respati, kita cek bareng.”
Respati menggeleng.
“Kalian tunggu di sini.”
“Kenapa?”
“Kalau ada sesuatu, lebih baik satu orang yang mengecek.”
Sagara langsung menolak.
“Justru jangan sendirian.”
Namun Respati sudah berjalan menuju hutan.
“Lima menit.”
Ia menoleh sebentar.
“Kalau aku nggak kembali, cari aku.”
Danis memucat.
“Kenapa kalimat lu kayak orang yang udah tahu bakal nggak kembali?”
Respati tersenyum tipis.
“Karena kalian terlalu banyak nonton film.”
Kemudian ia menghilang di antara pepohonan.
Lima menit berlalu.
Sepuluh menit.
Lima belas menit.
Respati tidak kembali.
Sagara berdiri.
“Dia harusnya sudah kembali.”
Kanaya mulai gelisah.
“Cari.”
Mereka berempat mengambil senter.
Mereka menyusuri jalur yang dilewati Respati.
Tidak jauh dari lokasi api unggun, mereka menemukan sesuatu.
Senter milik Respati.
Tergeletak di tanah.
Dan di sampingnya...
ada bekas jejak kaki.
Kanaya berjongkok.
“Ini jejak Respati?”
Sagara memperhatikan.
“Kayaknya.”
Danis menelan ludah.
“Terus kenapa jejaknya cuma sampai sini?”
Djanu menunjuk semak.
“Jangan-jangan dia diculik.”
“Jangan ngomong begitu!”
“Ya terus menurut lu?”
Danis menunjuk tanah.
“Lihat.”
Ada tulisan.
Dibuat menggunakan ranting pada tanah.
3 - 7 - 2
Sagara mengerutkan dahi.
“Ini pasti petunjuk.”
Kanaya langsung tersenyum.
“Respati.”
Djanu memandang angka itu.
“Bisa jadi dia cuma menghitung jumlah mantan.”
Kanaya menoleh.
“Respati nggak punya mantan.”
“Ya mungkin itu sebabnya dia diculik.”
“DJANU!”
Mereka mengikuti petunjuk itu.
Tiga pohon.
Tujuh langkah.
Dua batu besar.
Di balik batu kedua terdapat potongan kain dari jaket Respati.
Dan tulisan berikutnya.
JANGAN KE JALUR UTAMA.
Sagara langsung memahami.
“Dia sengaja meninggalkan petunjuk.”
Kanaya mengangguk.
“Kalau dia benar-benar diculik sesuatu yang nggak kelihatan, dia nggak mungkin sempat melakukan ini.”
Djanu menatapnya.
“Jadi?”
“Berarti dia dibawa manusia.”
Danis memandang hutan.
“Jadi kita sekarang bukan nyari hantu.”
“Bukan.”
“Kita nyari manusia jahat.”
Djanu menghela napas.
“Entah kenapa gue malah lebih takut.”
Mereka mengikuti petunjuk berikutnya.
Di sebuah pohon, Respati meninggalkan tiga goresan.
Sagara berhenti.
“Ini arah.”
Mereka berjalan lebih dalam.
Semakin jauh dari area perkemahan, suara mesin terdengar semakin jelas.
Ngggggggg...
Kanaya berhenti.
“Itu suara apa?”
Mereka berempat saling pandang.
Kemudian terdengar suara gergaji.
WREEEEENG!
Danis langsung berbisik.
“Logging.”
Sagara mengangguk.
“Illegal logging.”
Kini semuanya mulai masuk akal.
Api terbang.
Suara misterius.
Bisikan.
Semua gangguan itu mungkin bukan ulah makhluk gaib.
Mungkin seseorang sengaja membuat mereka takut.
Mereka terus mengikuti petunjuk Respati.
Hingga akhirnya mereka menemukan sebuah bangunan kayu tua di tengah hutan.
Dari balik dinding terdengar suara.
“Di mana anak itu?”
“Masih sadar.”
“Jangan sampai kabur.”
Kanaya membelalakkan mata.
“Respati.”
Sagara memberi tanda agar semua diam.
Mereka mengintip dari celah dinding.
Respati duduk di kursi.
Tangannya diikat.
Di depannya ada dua orang pria.
Salah satu memegang senter.
Yang lain sedang mengikat tali.
Danis menutup mulut sendiri.
“Beneran diculik.”
Djanu berbisik.
“Kan gue bilang.”
“Lu tadi bilang hantu!”
“Ya berarti gue benar sebagian.”
Sagara berpikir cepat.
“Kita harus panggil bantuan.”
Kanaya menunjuk Respati.
“Tunggu.”
Respati sedang menatap ke arah jendela.
Tatapan mereka bertemu.
Respati mengedipkan mata.
Sekali.
Dua kali.
Lalu melihat ke bawah.
Sagara memperhatikan.
Di lantai, tepat di dekat kaki Respati, ada serpihan kayu membentuk pola.
Lima garis.
Sagara tersenyum.
“Dia kasih kita rencana.”
Respati memang seperti itu.
Bahkan ketika diculik, otaknya masih bekerja.
Mereka mundur perlahan dan mencari cara memanggil guru.
Namun tiba-tiba Djanu menginjak ranting.
KRAK!
Semua membeku.
Dari dalam bangunan terdengar suara.
“Siapa di luar?”
Danis berbisik panik.
“Lari?”
Sagara menggeleng.
“Belum.”
Djanu menatapnya.
“Terus?”
“Sekarang.”
Mereka langsung berlari.
Empat anak SMA melesat melewati pepohonan sambil membawa senter yang bergoyang-goyang.
Di belakang mereka terdengar teriakan.
“KEJAR!”
Danis hampir menangis.
“Gue belum siap mati!”
Kanaya tetap berlari.
“Diam!”
“Kalau mati, bilang ke ibu gue aku anak baik!”
Djanu menyahut dari depan.
“Gue nggak mau bohong!”
Mereka berhasil kembali ke area perkemahan dan segera memanggil guru serta petugas.
Setelah menjelaskan semuanya, beberapa orang dewasa langsung menuju lokasi.
Tidak lama kemudian, Respati berhasil ditemukan.
Para pelaku ditangkap.
Ternyata selama beberapa malam terakhir, mereka melakukan penebangan liar di kawasan tersebut.
Acara kemah sekolah mengganggu aktivitas mereka.
Maka mereka membuat berbagai macam gangguan agar para siswa takut dan meninggalkan area.
Suara ketukan berasal dari alat sederhana yang dipasang di pepohonan.
Bisikan dibuat menggunakan pengeras suara kecil.
Sedangkan api yang terlihat melayang ternyata berasal dari bahan pembakar yang dilempar menggunakan alat sederhana dari balik pepohonan.
Respati mengetahui sebagian besar hal itu sejak awal.
Ia sengaja pergi sendirian karena ingin mencari sumber suara.
Namun para pelaku memergokinya.
Ketika dibawa ke tempat persembunyian, Respati tidak melawan.
Ia justru menggunakan kecerdasannya untuk meninggalkan petunjuk.
Dan akhirnya teman-temannya menemukannya.
Setelah semuanya selesai, mereka kembali ke area perkemahan.
Malam sudah sangat larut.
Api unggun tinggal menyisakan bara.
Respati duduk sambil meminum air mineral.
Kanaya menatapnya.
“Besok-besok kalau mau jadi pahlawan, bilang dulu.”
Respati mengangguk.
“Iya.”
Sagara menyandarkan tubuh ke kursi.
“Kenapa kamu pergi sendirian?”
Respati diam sebentar.
“Karena aku pikir gangguannya bukan supernatural.”
Djanu langsung menyela.
“Masalahnya lu salah satu hal.”
“Apa?”
“Lu benar.”
Respati menatapnya bingung.
Djanu menunjuk wajahnya sendiri.
“Lu terlalu pintar sampai diculik.”
Danis tertawa.
Kanaya ikut tertawa.
Sagara hanya menggeleng.
Namun kemudian...
Tok.
Semua berhenti tertawa.
Tok... tok...
Tiga ketukan.
Dari arah hutan.
Mereka berlima saling pandang.
Danis perlahan berdiri.
“Kan itu tadi cuma alat mereka, kan?”
Respati mengangguk.
“Iya.”
Tok.
Kali ini terdengar lebih dekat.
Respati menoleh.
Wajahnya berubah serius.
“Seharusnya semua alat mereka sudah diamankan.”
Hening.
Djanu berdiri.
“Pulang?”
Tidak ada yang menjawab.
Lalu dari dalam hutan terdengar suara berbisik.
Sangat pelan.
“Pulang...”
Danis langsung mengambil tas.
“SETUJU.”
Kanaya ikut berdiri.
“Setuju.”
Djanu sudah lari duluan.
Sagara menghela napas.
“Kalian tunggu!”
Respati masih memandang hutan.
Kanaya menarik tangannya.
“Respati.”
“Apa?”
“Jangan bilang kamu mau ngecek lagi.”
Respati terdiam.
Kemudian tersenyum kecil.
“Nggak.”
Kanaya menghela napas lega.
“Syukurlah.”
Respati memasukkan botol minumnya ke tas.
“Aku cuma mau bilang...”
“Apa?”
“Suara itu kemungkinan besar berasal dari—”
“STOP.”
Untuk pertama kalinya malam itu, Respati benar-benar diam.
Mereka berlima berjalan cepat menuju tenda.
Tak satu pun berani menoleh ke belakang.
Namun di antara pepohonan yang gelap...
sebuah bayangan berdiri diam.
Tidak bergerak.
Tidak mengejar.
Hanya memperhatikan mereka pergi.
Dan di tanah, tepat di tempat bayangan itu berdiri, terdapat lima goresan kecil.
Seperti angka Romawi.
V.
Lima.
Entah kebetulan...
atau memang sejak awal...
hutan itu sedang memperhatikan mereka.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya