Pada Ayat-Ayat-Nya, Hati Menemukan Teduh
Bismillahirrahmanirrahim
“Apa yang membuatmu begitu mencintai dan senang menghabiskan waktu bersamanya?”
Tanyaku sembari sigap menyiapkan recorder, pena, note, dan ‘pernak-pernik’nya.
“Kau tahu? Ia benar-benar mukjizat yang membungkamku setiap membacanya.
Bayangkan, saat rasanya hatiku sedang penuh dengan manusia. Kubuka ia, kudapati kalam-Nya, yang artinya,
“Tidak ada yang serupa dengan-Nya sesuatu pun. Dan Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.”
Membuatku terlonjak.
Hei, buat apa kuisi penuh hatiku dengan manusia, memikirkan responnya, yang jumlahnya milyaran di luar sana?
Mengapa tak kusibukkan dengan Dia yang Maha Esa dan tidak ada yang serupa dengan-Nya saja?”
Matanya berbinar-binar ketika bercerita. Ditambah senyumnya yang merekah cerah, membuatku antusias mendengarkan.
“Pernah terbersit di hatiku untuk menyerah. Sepertinya aku tak bisa. Aku tak bisa membimbing lagi. Aku tak layak.”
“Kubuka Ia, persis pada kalam-Nya,
“Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan istiqamahlah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah:
‘Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil diantara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nya-lah kembali (kita).’”
(QS. Asy-Syuro: 15)
“Masyaallah. Apalagi cerita indahmu bersamanya?”
“Saat dengan indah Ia mengingatkanku,
“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di akhirat.”
(QS. Asy-Syuro: 20)
“Juga dengan kalam-Nya, yang artinya,
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”
(QS. Asy-Syuro: 30)
“Saat hatiku mulai gemuruh akan amarah, Ia menyiramiku dengan kalam-Nya,
“Maka sesuatu apa pun yang diberikan kepadamu, itu adalah kenikmatan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakal, dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji; dan apabila mereka marah, mereka memberi maaf.
Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan salat, sedangkan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.
Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim, mereka membela diri.”
(QS. Asy-Syuro: 36–39)
“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik, pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.
Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada suatu dosa pun atas mereka. Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.
Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.”
(QS. Asy-Syuro: 40–43)
“Bukankah hal ini menakjubkan? Saat Ia menunjukkan bahwa yang menurunkannya adalah Dzat yang Maha Mengetahui isi hati.”
“Segala puji bagi Allah. Hmmm... Apakah ada figur atau kisah yang menginspirasimu dalam hal ini?”
Matanya menerawang. Pada rimbunnya hamparan hijau di hadapan kami. Berbaris-baris di atas dataran dengan beda ketinggian. Seolah membentuk gelombang yang berisikan sejuk pepohonan.
“Aku pernah membaca sebuah kisah. Tentang seorang kakek dan anak kecil yahudi. Singkat cerita, mereka akrab karena sebuah kejadian.
Si anak senantiasa berkunjung pada sang kakek ketika dilanda masalah. Selesai bercerita, sang kakek akan memintanya membuka sebuah buku secara acak. Ia lalu membacakan serta menerjemahkannya.
Ajaib, isi buku itu selalu bisa menjawab permasalahan si anak.”
“Tahun berganti tahun, selalu kejadiannya demikian dengan taufik Allah. Sampai qadarullah, tibalah waktu kematian sang kakek.
Anak ini merasa begitu terpukul. Ia telah kehilangan kakek, ayah, sahabat, sekaligus teman bercerita.
Ternyata sang kakek tidak meninggalkannya begitu saja. Ia menitipkan hadiah pada si anak melalui putra-putrinya.
Buku yang selalu dibaca kakek ketika ia bercerita!”
“Sampai rumah, dibolak-balik buku itu, mencoba membacanya. Namun ia langsung mengernyit tak paham. Ternyata buku ini berbahasa Arab. Ditutupnya kembali buku itu.
Suatu waktu, ia dilanda masalah. Teringat sang kakek tempatnya berkonsultasi. Namun kakek kini telah tiada.
Dengan kuasa Allah, ia teringat buku yang diberikan sang kakek. Bergegas ia pergi ke temannya berkebangsaan Tunisia.”
“Temannya lantas membacakan dan menerjemahkan apa yang tertera pada buku, pada halaman yang dibukanya secara acak. Persis yang dilakukan kakek dahulu.”
“Buku apa ini? Mengapa seolah menjawab seluruh permasalahanku?”
“Ini adalah Al-Qur’an, kitab suci umat Islam.”
“Bagaimana caranya menjadi seorang muslim?”
“Dengan mengucapkan syahadat dan menjalankan syariat.”
Alhamdulillah, dengan karunia Allah, ia menjadi muslim saat itu.
“Ternyata, pada Al-Qur’an yang dianugerahkan Kakek Ibrahim rahimahullah terdapat peta Afrika, dengan sebuah ayat,
?????? ?????? ??????? ??????? ?????????????
‘Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah.’
“Mungkin kakek ingin aku pergi ke sana.”
“Ia berangkat ke Afrika, dari kediamannya di Eropa untuk berdakwah, mengajak manusia ke jalan Allah. Dengan izin Allah, melaluinya, masuk Islamlah jutaan manusia.”
Terkagum-kagum diriku mendengarnya. Memang, betapa Maha Kuasa Ia.
Jika Allah telah memberi hidayah, tiada yang mampu menyesatkannya. Siapa yang Allah sesatkan, tiada yang mampu memberinya hidayah.
Di tengah keterpukauan itu, ia memanggilku lembut.
“Alissa, apakah bahan untuk tulisanmu telah cukup?
Sungguh, aku ingin sekali berlama-lama di sini. Namun ada agenda yang tak bisa kutinggalkan. Bagaimana jika kita akhiri perbincangan ini dengan doa kafaratul majlis?”
Doa kafaratul majlis dilantunkan, ia pun berpamitan.
“Bahagia dan bersyukur sekali bertemu juga berbincang denganmu. Semoga di lain waktu kita dipertemukan.
Aku pamit,
‘Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh. Thank you, Sister. I apologize for all of mistakes. Love you, for the sake of Allah, insyaallah.’”
Aku melepasnya haru. Usai berpelukan, saling melambaikan tangan, sosoknya menghilang dari pandanganku di persimpangan jalan.
Segera kubenahi perabotan, menghabiskan minuman pesanan, juga berpamitan pada ibu penjaga pendopo. Bergegas pulang. Ada yang harus kulakukan setelah ini.
Jam menunjukkan pukul 17.00 WIB. Masih ada waktu sebelum maghrib tiba.
Kubasuh dan cuci seluruh anggota wudhu, tertib, lantas membaca doa.
Kugelar sajadah, berusaha mengenakan pakaian terbaik. Kuambil ia dari lemari, lirih berkata,
“Ampuni aku, Ya Rabb.
Semoga Engkau anugerahkan kami untuk mencintainya, menjadikan ia musim semi di hati-hati kami, cahaya bagi dada kami, pelipur lara, dan penghilang kesedihan kami.
Semoga ia senantiasa menjadi syifa (penyembuh) dengan izin-Mu dan penolong kami kelak di hari akhir.
Aamiin.”
Wallahu Ta’ala a’lam wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad.
Sumber bacaan:
Kisah Jadullah, pertama kali dibaca di majalah El-Fata, Republika.com.
Tafsir Ibnu Katsir surat Asy-Syuro ayat 15 dengan peringkasan.
Saran: silakan merujuk pada kitab-kitab tafsir ulama untuk memperdalam makna, seperti: Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir As-Sa’di, dll.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya