PADA USIA KETIKA MIMPI MULAI MEMINTA BUKTI
PADA USIA KETIKA MIMPI MULAI MEMINTA BUKTI
Wira Nawasena
Ketika kecil, aku tidak pernah takut bermimpi.
Aku pernah ingin menjadi banyak hal.
Dokter.
Penulis.
Guru.
Pengusaha.
Pemain sepak bola.
Bahkan pernah ingin menjadi astronot, meskipun sampai sekarang aku belum pernah melihat roket dari jarak dekat.
Saat itu mimpi tidak membutuhkan alasan.
Tidak membutuhkan modal.
Tidak membutuhkan pengalaman.
Tidak membutuhkan sertifikat.
Tidak membutuhkan orang yang percaya.
Mimpi hanya membutuhkan selembar kertas dan pensil.
Aku bisa menjadi siapa saja.
Kemudian aku tumbuh.
Dan pada suatu usia, mimpi mulai meminta bukti.
Namaku Raka.
Usiaku dua puluh empat.
Aku bekerja di sebuah toko fotokopi kecil di dekat kampus.
Pekerjaanku sederhana.
Mencetak dokumen.
Menggandakan berkas.
Menjilid skripsi.
Mengisi tinta printer.
Sesekali membantu mahasiswa yang datang dengan wajah panik karena dosennya meminta revisi lima menit sebelum kelas dimulai.
Aku tahu bagaimana rasanya menjadi bagian dari kepanikan orang lain.
Mungkin karena aku sendiri sedang panik dengan hidupku.
Sudah hampir dua tahun sejak aku lulus.
Selama itu aku masih memiliki satu mimpi.
Menjadi penulis.
Bukan penulis terkenal.
Aku bahkan tidak terlalu berani berharap sejauh itu.
Aku hanya ingin suatu hari melihat namaku tercetak di sampul sebuah buku.
Raka Pradana.
Begitu.
Sederhana.
Tetapi semakin lama, mimpi itu mulai terasa seperti hutang.
Karena setiap kali bertemu seseorang, pertanyaannya hampir selalu sama.
“Sekarang kerja di mana?”
“Sudah dapat pekerjaan tetap?”
“Bukunya kapan terbit?”
Aku mulai membenci kata “kapan”.
Kata itu kecil.
Hanya lima huruf.
Tetapi mampu membuat seseorang merasa gagal dalam waktu kurang dari satu detik.
Di kamar, aku punya satu kardus.
Di dalamnya ada hampir tiga puluh lembar tulisan.
Cerpen.
Puisi.
Catatan.
Ide novel.
Judul-judul yang tidak pernah selesai.
Karakter-karakter yang hanya hidup sampai bab kedua.
Aku menyimpannya sejak SMA.
Setiap beberapa bulan aku membukanya.
Membaca tulisan lama.
Kemudian menertawakannya.
“Jelek sekali.”
Tetapi tidak pernah membuangnya.
Karena di antara tulisan-tulisan itu ada seorang anak laki-laki yang pernah percaya bahwa ia bisa menjadi sesuatu.
Aku takut membuangnya.
Takut kalau suatu hari aku benar-benar tidak lagi memiliki alasan untuk percaya.
Suatu siang, seorang pelanggan datang.
Ia masih mahasiswa.
Membawa naskah setebal hampir seratus halaman.
“Bang, print dua rangkap.”
Aku menerima flashdisknya.
“Hitam putih?”
“Iya.”
“Jilid?”
“Spiral.”
Aku mengerjakannya.
Sambil menunggu, ia berdiri di dekat meja.
“Bang, ini buat apa?”
“Proposal.”
“Proposal apa?”
“Novel.”
Aku menoleh.
“Novel?”
Ia mengangguk.
“Mau dikirim ke penerbit.”
Aku tersenyum.
“Semoga diterima.”
“Amin.”
Ia mengambil naskahnya.
Sebelum pergi, ia berkata,
“Abang juga penulis?”
Aku tertawa.
“Dulu.”
“Sekarang?”
Aku tidak langsung menjawab.
“Masih.”
Ia tersenyum.
“Berarti belum menyerah.”
Setelah ia pergi, kalimat itu terus terngiang.
Berarti belum menyerah.
Aku tidak tahu apakah aku belum menyerah.
Atau hanya belum tega mengakui bahwa aku sudah menyerah.
Malamnya aku membuka laptop.
Dokumen kosong.
Judul:
BAB I
Aku menatapnya selama sepuluh menit.
Tidak menulis apa pun.
Kemudian membuka media sosial.
Seorang teman mengunggah foto peluncuran buku.
Aku mengenalnya.
Dulu kami pernah sama-sama mengikuti komunitas menulis.
Ia sekarang sudah menerbitkan buku ketiganya.
Aku melihat fotonya berdiri di atas panggung.
Ada meja panjang.
Tumpukan buku.
Buket bunga.
Orang-orang meminta tanda tangan.
Aku memperbesar foto.
Namanya tercetak besar di sampul.
Aku tersenyum.
Aku sungguh ikut bahagia.
Kemudian membuka profilnya.
Buku pertama.
Buku kedua.
Buku ketiga.
Aku menutup aplikasi.
Laptop masih terbuka.
Dokumen kosong masih menunggu.
Aku memandang layar.
Kemudian berkata kepada diri sendiri,
“Besok.”
Itulah kalimat yang paling sering membunuh mimpi.
Bukan “tidak bisa”.
Bukan “mustahil”.
Tetapi:
besok.
Keesokan harinya ibu bertanya,
“Kapan kamu mau cari kerja yang lain?”
Aku sedang sarapan.
“Masih cari.”
“Sudah dua tahun.”
Aku diam.
Ibu tidak bermaksud menyakiti.
Ia hanya khawatir.
“Apa kamu masih mau nulis?”
Aku menatap piring.
“Iya.”
“Sudah menghasilkan?”
Aku tersenyum kecil.
“Belum.”
Ibu mengangguk.
Kemudian melanjutkan makan.
Tidak ada ceramah.
Tidak ada larangan.
Tetapi pertanyaan itu cukup untuk membuatku berpikir sepanjang hari.
Sudah menghasilkan?
Aku tidak tahu.
Mungkin belum.
Mungkin memang tidak.
Tetapi kapan sebuah mimpi mulai dianggap sah?
Ketika menghasilkan uang?
Ketika mendapat penghargaan?
Ketika orang lain mengakuinya?
Atau ketika kita tetap mengerjakannya meskipun belum ada siapa pun yang melihat?
Aku tidak tahu.
Dan mungkin itu masalahnya.
Aku terlalu lama memikirkan bagaimana membuktikan mimpiku sampai lupa mengerjakannya.
Hari Minggu aku pergi ke perpustakaan kota.
Aku membawa laptop.
Membawa kopi.
Membawa buku catatan.
Aku duduk di sudut ruangan.
Di sekitarku beberapa mahasiswa sedang belajar.
Ada yang membaca.
Ada yang mengetik.
Ada yang tertidur di atas buku.
Aku membuka dokumen.
Menulis satu kalimat.
Kemudian menghapusnya.
Menulis lagi.
Menghapus lagi.
Sampai akhirnya aku mematikan koneksi internet.
Tidak ada media sosial.
Tidak ada notifikasi.
Tidak ada kabar tentang pencapaian orang lain.
Hanya aku dan halaman putih.
Aku mulai menulis.
Tentang seorang anak laki-laki yang takut pulang.
Tentang seorang ibu yang menunggu.
Tentang ayah yang tidak banyak bicara.
Tentang seseorang yang kehilangan pekerjaan.
Tentang orang-orang yang merasa terlambat.
Tentang anak muda yang setiap malam bertanya apakah dirinya cukup.
Aku menulis tanpa memikirkan penerbit.
Tanpa memikirkan penjualan.
Tanpa memikirkan apakah orang akan menyukai ceritaku.
Aku hanya menulis.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku menulis bukan untuk menjadi penulis.
Aku menulis karena aku punya sesuatu yang ingin diceritakan.
Sore hari, seorang perempuan tua duduk di meja sebelah.
Ia membaca buku cukup lama.
Kemudian melihat laptopku.
“Menulis?”
Aku mengangguk.
“Cerita?”
“Iya.”
“Sudah selesai?”
“Belum.”
Ia tersenyum.
“Yang belum selesai jangan dipaksa menjadi selesai hari ini.”
Aku tertawa kecil.
“Kenapa?”
“Karena manusia juga tidak selesai dalam satu hari.”
Aku menatapnya.
Ia kembali membaca.
Aku tidak tahu siapa perempuan itu.
Aku bahkan tidak tahu apakah kalimatnya memang dimaksudkan untukku.
Tetapi beberapa kalimat memang datang pada waktu yang tepat.
Aku kembali menulis.
Tiga bulan kemudian, naskah itu selesai.
Seratus dua puluh halaman.
Tidak sempurna.
Ada bagian yang masih ingin kuubah.
Ada kalimat yang terasa buruk.
Ada bab yang mungkin terlalu panjang.
Tetapi selesai.
Aku mencetaknya.
Membaca ulang.
Memperbaiki.
Mencetak lagi.
Kemudian mengirimkannya ke sebuah penerbit.
Email terkirim.
Aku menatap layar.
Tidak ada musik.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada cahaya dari langit.
Tidak ada suara seseorang berkata,
“Selamat, kamu berhasil.”
Hanya sebuah notifikasi kecil:
Pesan terkirim.
Aku tersenyum.
Mungkin begitulah beberapa kemenangan dalam hidup.
Tidak terdengar.
Tidak terlihat.
Tidak dirayakan.
Tetapi tetap kemenangan.
Dua minggu kemudian, email balasan datang.
Aku membukanya.
Naskahku belum diterima.
Aku membaca alasannya.
Mereka mengapresiasi tulisanku, tetapi belum dapat menerbitkannya.
Aku duduk diam.
Beberapa bulan sebelumnya, mungkin aku akan menganggapnya sebagai bukti bahwa aku tidak cukup baik.
Hari itu aku hanya menutup email.
Kemudian membuka dokumen.
Membuat folder baru.
Namanya:
Naskah Kedua.
Aku tersenyum.
Aku akhirnya memahami sesuatu.
Mimpi tidak selalu memberikan hasil ketika kita menginginkannya.
Kadang-kadang ia hanya memberikan kesempatan untuk mencoba sekali lagi.
Dan mungkin itu sudah cukup.
Setahun kemudian, aku masih bekerja di toko fotokopi.
Aku belum menjadi penulis terkenal.
Bukuku belum ada di rak toko.
Namaku belum dikenal siapa-siapa.
Tetapi aku menulis setiap malam.
Tidak selalu bagus.
Tidak selalu banyak.
Kadang hanya satu halaman.
Kadang satu paragraf.
Kadang hanya satu kalimat.
Tetapi aku menulis.
Suatu sore, pelanggan lama datang lagi.
Anak muda yang dulu membawa proposal novelnya.
Ia melihatku.
“Bang!”
Aku menoleh.
“Lama.”
Ia tersenyum.
“Bang, bukunya sudah terbit.”
Aku terdiam.
“Serius?”
Ia mengeluarkan sebuah buku dari tas.
Sampulnya sederhana.
Namanya tercetak di sana.
Aku tersenyum.
“Selamat.”
“Terima kasih.”
Ia kemudian melihatku.
“Abang sendiri?”
Aku tersenyum.
“Masih.”
“Masih nulis?”
Aku mengangguk.
“Masih.”
Ia tertawa.
“Berarti belum menyerah.”
Aku ikut tertawa.
Kali ini aku tahu jawabannya.
“Belum.”
Malam itu aku pulang.
Aku membuka kardus lama.
Tulisan-tulisan masa SMA masih ada.
Aku membacanya satu per satu.
Ada yang buruk.
Sangat buruk.
Aku tertawa sendiri.
Tetapi di halaman terakhir, aku menemukan sebuah kalimat yang kutulis ketika berusia enam belas tahun:
“Suatu hari nanti aku ingin menulis sesuatu yang membuat seseorang merasa tidak sendirian.”
Aku membaca kalimat itu berkali-kali.
Kemudian menyadari bahwa mungkin selama ini aku terlalu sibuk ingin menjadi penulis sampai lupa alasan pertama aku menulis.
Bukan untuk terkenal.
Bukan untuk mendapatkan tepuk tangan.
Bukan untuk memiliki nama di sampul.
Aku hanya ingin seseorang yang membaca tulisanku merasa,
“Ternyata aku tidak sendirian.”
Aku mengambil laptop.
Membuka dokumen baru.
Menulis:
Pada usia ketika mimpi mulai meminta bukti, aku akhirnya mengerti bahwa bukti pertama bukanlah keberhasilan.
Aku berhenti.
Kemudian melanjutkan:
Bukti pertama adalah keberanian untuk tetap mengerjakannya ketika belum ada hasil.
Aku tersenyum.
Di luar jendela, malam turun perlahan.
Kota tetap sibuk.
Orang-orang tetap berlari.
Teman-temanku terus bertumbuh.
Sebagian mungkin akan lebih dahulu berhasil.
Sebagian mungkin akan lebih dahulu memiliki rumah.
Sebagian akan menikah.
Sebagian akan pergi jauh.
Dan aku mungkin masih akan tertinggal beberapa langkah.
Tetapi kali ini aku tidak takut.
Karena aku akhirnya tahu bahwa setiap orang mempunyai musimnya sendiri.
Pohon tidak iri kepada sungai karena sungai lebih cepat sampai.
Bunga tidak merasa gagal hanya karena tidak tumbuh menjadi pohon.
Dan manusia seharusnya tidak mengukur hidupnya dengan kalender milik orang lain.
Aku menatap halaman kosong di layar.
Kemudian mulai menulis lagi.
Satu kalimat.
Lalu satu lagi.
Malam semakin larut.
Aku tidak tahu apakah tulisan ini akan menjadi buku.
Aku tidak tahu apakah suatu hari namaku akan benar-benar tercetak di sampul.
Aku tidak tahu apakah mimpiku akan berhasil.
Tetapi malam itu aku tidak lagi meminta kepastian.
Aku hanya ingin terus berjalan.
Sebab mungkin, pada usia tertentu, mimpi memang berhenti menjadi sesuatu yang hanya kita bayangkan.
Ia mulai meminta bukti.
Bukan bukti bahwa kita pasti berhasil.
Melainkan bukti bahwa kita masih percaya.
Dan malam itu, di sebuah kamar sederhana dengan laptop tua dan secangkir kopi yang sudah dingin, aku memberikan bukti pertamaku.
Aku menulis.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya