Pecah Kepala Ini

100%

Pecah Kepala Ini

Dia tertawa getir. Matanya menatap ruang kosong sembari bergumam. Meyakinkan semuanya akan berakhir tidak apa-apa. Mencoba pasrah atas takdir gila di tangan Yang Maha Kuasa. Menguatkan tekad dalam menghadapi segalanya.


"Sampai kapan, ya.. Tuhan.."


Meskipun dunia hanya sementara, rasa sakitnya terlalu kentara. Lihat saja rambut hitam legam nan panjang itu! Mulai menjatuhkan diri. Mereka tak mampu lagi menemani dia. Masa sulitnya terlalu lama untuk dilayani. Bahkan sepertinya makin nestapa.


Setiap helai rambut yang gugur ke lantai semen yang dingin seolah membawa pergi sepotong kewarasannya. Kamar petak berukuran tiga kali tiga meter itu terasa kian menyempit, menjepit dadanya hingga sisa-sisa oksigen terasa beracun. Di luar sana, malam tidak pernah benar-benar sepi. Dari balik celah jendela yang lapuk, sayup-sayup terdengar suara sirene patroli berbaur dengan dengung pengeras suara kota yang tiada henti mengagungkan nama para pemimpin. Slogan tentang kemakmuran buatan diledakkan ke udara setiap jam, sementara di dalam sini, dia harus mengikat perutnya dengan kain perca agar rasa lapar tidak merobek lambungnya.


Dia bangkit dengan tubuh gemetar, melangkah tertatih menuju cermin retak yang bersandar di sudut ruangan. Begitu tatapannya bersibobok dengan bayangan di dalam kaca, dia tertegun. Kepalanya berdenyut hebat. Denyutan itu bukan sekadar rasa pening biasa. Itu adalah siksaan yang teramat nyata, seolah-olah ada sebilah kapak tak kasat mata yang dihantamkan tepat di tengah ubun-ubunnya secara berulang-ulang.


Pandangannya mulai memudar, lalu mendadak pecah menjadi distorsi visual yang mengerikan. Bayangan wajahnya di cermin tampak bergeser, terbelah, dan mengalami glitch hebat layaknya transmisi televisi analog yang kehilangan sinyal di tengah badai. Garis-garis horizontal memotong dahinya, memisahkan bagian tempurung kepala atas dengan rahangnya yang mengatup rapat menahan lara. Pikiran di dalam otaknya tidak lagi mengalir seperti air, melainkan melompat-lompat, patah-patah, dan saling bertabrakan dengan bising.


Di dalam rongga kepalanya yang terasa membelah itu, memori-memori kelam mulai berputar tanpa kendali. Dia mengingat hari kemarin, saat menyusuri gang-gang kumuh di pinggiran ibu kota.

Bayangan wajah seorang ibu tua yang menangis histeris ketika gerobak sayurnya digulingkan oleh aparat masih terekam jelas. Dia ingat jeritan anak-anak jalanan yang dihardik, diusir bagai hama dari trotoar bersih yang sengaja dipamerkan untuk para tamu asing. Suara-suara makian, tangisan, dan rintihan kelaparan dari orang-orang yang kalah itu kini bermigrasi, menetap, dan berdengung di dalam kepalanya sendiri. Semuanya berdesakan, berebut ruang dengan egonya yang kian terkikis.


"Diam... tolong diam..." bisiknya pada diri sendiri, mencengkeram kepalanya sekuat tenaga hingga kuku-kukunya memutih.


Namun, badai di dalam sana tidak mau kompromi. Rasa sakit fisik itu bermutasi menjadi kemarahan yang absolut. Dia menyadari bahwa kerontokan rambutnya, retakan di kepalanya, dan distorsi yang dia alami adalah manifestasi dari seluruh penderitaan kolektif orang-orang di sekitarnya yang dia serap setiap hari. Dia terlalu lama diam. Dia terlalu lama menjadi penonton pasif dari sandiwara besar yang dikomandoi oleh orang-orang berdasi di atas panggung kekuasaan.


Bagaimana bisa mereka disebut merdeka jika untuk memikirkan esok hari saja otaknya harus pecah? Kemerdekaan yang digaungkan di podium-podium megah hanyalah sebuah kosmetik mahal untuk menutupi wajah negara yang bopeng dan kelaparan. Di bawah lampu-lampu kota yang gemerlap, jutaan kepala sedang meledak secara perlahan dalam kesunyian, sama seperti dirinya.

Dia melepaskan cengkeraman tangannya dari kepala. Ditatapnya kembali cermin itu. Meski bayangannya masih patah dan bergeser di bawah ilusi kesakitan, matanya kini memancarkan sesuatu yang berbeda. Ketakutan yang tadi mendominasi perlahan surut, digantikan oleh kepasrahan yang nekat. Jika kepalanya memang ditakdirkan untuk pecah, maka dia akan memastikan serpihan otaknya tidak terbuang sia-sia menjadi debu. Serpihan itu harus menjadi kerikil tajam yang menyumbat roda-roda mesin penindasan.


Dia melangkah mendekati meja kayu lapuk, tempat satu-satunya mesin tik tua peninggalan ayahnya berada. Jemarinya yang dingin menyentuh tust-tust besi yang berkarat. Suara ketukan mesin tik itu nanti akan menjadi senjatanya. Dia akan menuliskan setiap jeritan yang dia dengar. Dia akan mendokumentasikan setiap perut yang membusuk karena kelaparan. Dia akan menjadi penyambung lidah bagi mereka yang lidahnya telah dipotong oleh ketakutan.


Setiap ketukan huruf kelak akan menjadi hantaman balik kepada mereka yang tidur nyenyak di atas penderitaan rakyat. Rasa sakit di kepalanya justru menjadi bahan bakar. Ketika dunia luar memaksanya untuk waras di tengah sistem yang gila, maka menjadi gila dan meledak adalah satu-satunya jalan keluar yang rasional.


Dia menarik napas dalam-dalam, merasakan udara malam yang pengap masuk menyiksa paru-parunya. Disandarkannya punggung pada kursi, membiarkan denyutan di tengkoraknya mencapai titik puncak yang paling destruktif. Dunia di matanya bergetar hebat untuk terakhir kali sebelum segalanya menjadi sunyi yang mencekam.


Ini bunyi kepalaku. Penyakit kronis yang tak mampu dibendung lagi. Meronta demi sesuap ketenangan melalui nasi. Mencoba menjadi manfaat bagi mereka yang dihardik. Menjadi salah suara mereka. Berjuang di tengah badai bernama merdeka, yang sebetulnya hanya bungkusan untuk menipu semua mata.

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke: