Sinar matahari sore menerobos pelan lewat celah-celah ventilasi kayu di koridor lantai tiga Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Cahaya keemasan itu membias pada debu-debu tipis yang melayang di udara, menciptakan atmosfer yang hening, tenang, sekaligus penuh nostalgia. Di sepanjang lorong yang biasanya bising oleh langkah kaki mahasiswa, tawa riuh, dan perdebatan akademis, kini hanya terdengar gema langkah sepatu kulit yang sedikit haus diseret pemiliknya.
Profesor Bambang Santoso memegang erat sebuah kardus cokelat berukuran sedang di pelukannya. Di dalam kardus itu tertata rapi beberapa barang pribadi yang tersisa: sebuah plakat kayu penghargaan pengabdian 35 tahun, cangkir keramik berlogo universitas yang sudah retak rambut di bagian gagangnya, beberapa pulpen tinta basah yang kehabisan isi, serta sebuah foto berbingkai perak yang merekam senyum muda teman-teman sejawatnya di awal tahun 1990-an—sebagian besar dari mereka kini sudah pensiun, dan beberapa lainnya telah berpulang.
Hari ini, Jumat di akhir bulan September, adalah hari terakhir Pak Bambang bertugas secara resmi sebagai dosen Pegawai Negeri Sipil. Usianya tepat menyentuh angka 65 tahun. Tidak ada pesta perpisahan yang meriah di aula utama. Pak Bambang sendiri yang meminta kepada Dekan agar perpisahannya dibuat sederhana saja. Cukup pemotongan tumpeng kecil di ruang dosen tadi siang, diapit oleh rekan-rekan muda yang dahulu adalah murid-muridnya sendiri, lalu uluran tangan hangat, dan ucapan "Selamat menikmati masa purna tugas, Prof."
Langkah Pak Bambang berhenti di depan pintu kayu bernomor 304. Di pintu itu, masih tertempel papan nama akrilik hitam dengan ukiran huruf putih: Prof. Dr. Bambang Hariawan, M.Si.
Pak Bambang menatap papan nama itu cukup lama. Dulu, butuh keringat, insomnia berbulan-bulan, puluhan artikel jurnal internasional, dan tumpukan buku yang tingginya mencapai dada untuk menempelkan gelar "Prof." di depan namanya. Namun sore ini, papan nama itu terasa tak lebih dari sekadar selembar plastik yang sebentar lagi akan dicopot oleh petugas kebersihan kampus dan digantikan oleh nama dosen muda lainnya.
Ia meletakkan kardusnya di atas meja kayu jati tua di dalam ruangan. Ruangan itu kini terasa asing. Rak-rak buku raksasa yang biasanya berdesakan dengan ratusan literatur sosiologi, metodologi penelitian, dan teori-teori kritis, kini kosong melompong. Buku-buku itu telah ia hibahkan ke perpustakaan fakultas dua hari lalu. Yang tersisa hanya meja, dua buah kursi busa yang warna kainnya mulai memudar, dan aroma khas kertas tua yang masih tertinggal pekat di udara.
Ia menarik napas dalam-dalam, menikmati bau ruangan itu untuk terakhir kalinya. Namun, saat tangannya hendak menggapai gagang pintu untuk mengunci ruangan dan pergi selamanya, sebuah ketukan ragu-ragu terdengar dari luar.
Tok. Tok. Tok.
Pak Bambang mengerutkan dahi. Jam dinding tua berbentuk bulat di atas pintu sudah menunjukkan pukul lima sore lewat seperempat. Kampus sudah sepi. Petugas kebersihan biasanya baru akan mulai menyapu koridor satu jam lagi. Siapa yang masih berkeliaran di lantai tiga pada jam seperti ini?
Ia membuka pintu kayu itu perlahan.
Di balik pintu, berdiri seorang mahasiswi dengan jaket yang warnanya agak memudar. Ia membawa tas jinjing, dan di kedua tangannya, ia memeluk erat sebundel kertas tebal bertuliskan huruf-huruf tebal berukuran besar pada halaman sampulnya.
Rambut pemuda itu berantakan, napasnya memburu, dan ada lingkaran hitam pekat di bawah matanya—tanda khas dari seorang mahasiswa tingkat akhir yang tidak tidur selama tiga hari berturut-turut.
"Rina?" panggil Pak Bambang, nada suaranya memadukan rasa terkejut dan sedikit kasihan.
Pemuda itu, Rina Setiani, menyapu keringat di dahinya dengan lengan baju. Ia menghembuskan napas lega yang begitu panjang, seolah-olah baru saja selamat dari kejaran binatang buas.
"Pak... Alhamdulillah... Bapak masih ada di ruangan..." kata Rina dengan suara bergetar dan terbata-bata.
"Saya... saya pikir saya sudah terlambat. Saya lari dari halte bus depan, Pak."
Pak Bambang menatap mahasiswa di depannya itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia mengenal Rina sangat baik. Dari belasan mahasiswa bimbingannya di semester ini, Rina adalah kasus yang paling menguras pikiran dan perasaannya. Bukan karena Rina mahasiswa yang bodoh atau malas—sama sekali bukan. Justru sebaliknya, Rina adalah anak desa dari pesisir selatan yang memiliki rasa ingin tahu yang terlalu besar, namun terhimpit oleh kenyataan hidup yang sangat tebal.
"Masuklah dulu, Rin. Ambil napas," kata Pak Bambang tenang, menggeser tubuhnya dan memberi jalan.
Rina melangkah masuk dengan canggung. Matanya yang lelah menyapu sekeliling ruangan yang sudah melompong tanpa buku-buku. Ruangan yang biasanya terasa hangat dan penuh dengan perdebatan pemikiran itu kini tampak dingin dan hampa. Kenyataan bahwa dosen pembimbingnya benar-benar akan pergi menghantam dada Rina dengan telak.
"Duduk," perintah Pak Bambang lembut sambil menunjuk kursi di depan mejanya.
Rina duduk di tepi kursi, seolah tak berani menyandarkan punggungnya. Ia meletakkan bundelan kertas tebal itu di atas meja kayu. Di halaman depan bundelan itu, tertulis judul skripsi dengan huruf kapital tebal:
TRANSFORMASI SOSIOEKONOMI MASYARAKAT PESISIR PASCA-KONSTRUKSI PELABUHAN BAYU: STUDI KASUS DESA NEBANG BAYU
Pak Bambang menatap naskah itu. "Ini... revisi Bab IV dan Bab V?"
Rina mengangguk cepat. "Iya, Pak. Saya sudah perbaiki seluruh analisis regresi kualitatifnya seperti yang Bapak minta minggu lalu. Saya juga sudah menambahkan data etnografi dari lima informan kunci pedagang TPI yang sempat diragukan oleh Penguji Dua saat seminar hasil bulan lalu. Saya mengerjakan ini semalaman... maksud saya, tiga hari ini saya hampir tidak tidur, Pak, supaya bisa mengejar hari ini."
Pak Bambang tidak langsung mengambil naskah itu. Ia merengkuh jemarinya di atas meja, menatap Rina dengan pandangan mata yang dalam di balik kaca mata tebalnya.
"Rina, kamu tahu kan kalau hari ini adalah hari terakhir saya secara administratif? Surat Keputusan Pensiun saya berlaku efektif per besok pagi. Secara hukum akademis kampus, saya sudah tidak berhak lagi menandatangani lembar pengesahan atau memberikan penilaian pada skripsimu," tutur Pak Bambang perlahan, menyampaikan kenyataan pahit itu tanpa niat menyakiti.
Wajah Rina seketika memucat. Lingkaran hitam di matanya semakin mempertegas kesan putus asa yang membayang di wajahnya. Tangannya yang memegang tepi meja tampak gemetar.
"Tapi... tapi Pak," bisik Rina, suaranya parau. "Kalau Bapak tidak menandatanganinya hari ini... skripsi saya harus dialihkan ke dosen pembimbing baru. Sekretaris Jurusan bilang tadi pagi, kalau ganti pembimbing, kemungkinan besar saya harus menyesuaikan metode lagi dari awal, atau minimal, saya harus mengulang proses bimbingan dari Bab I dengan dosen pengganti. Saya... saya tidak punya waktu dan biaya lagi, Pak..."
Rina menunduk dalam-dalam. Pak Bambang bisa melihat bahu mahasiswa itu berguncang pelan. Di ruangan yang sunyi itu, penderitaan seorang anak muda yang berada di ambang batas kemampuannya terasa sangat nyata.
Pak Bambang paham betul situasi Rina. Rina adalah anak seorang nelayan kecil. Untuk bisa kuliah di kota ini, seluruh keluarganya di desa berpatungan, bahkan menyewakan separuh lahan pekarangan rumah mereka. Rina sendiri bekerja paruh waktu di sebuah pencucian mobil dari malam hingga subuh untuk membayar sewa kamar kos dan membeli kertas print. Jika ia harus menambah satu semester lagi hanya karena urusan administratif pergantian dosen pembimbing, beasiswanya yang sudah habis masa berlakunya tidak akan bisa menyelamatkannya lagi.
"Siapa yang bilang kamu harus mengulang dari awal?" tanya Pak Bambang, suaranya masih datar namun menyimpan kehangatan yang terselubung.
Rina mendongak, matanya berkaca-kaca. "Bu Sekjur tadi pagi, Pak. Katanya kalau sampai pukul lima sore ini naskah saya belum di-ACC oleh Prof. Bambang, maka berkas saya resmi diserahkan ke Dekanat untuk ditunjuk dosen pengganti minggu depan."
Pak Bambang melirik jam dinding. Pukul 17.25 WIB.
"Berarti kita masih punya waktu tiga puluh lima menit sebelum gerbang kampus dikunci dan staf TU pulang," ujar Pak Bambang tenang.
Ia menjangkau bundelan naskah skripsi Rina. Dari laci mejanya yang tersisa satu-satunya item yang belum dikemas—sebuah pulpen pilot berujung runcing dengan tinta hitam—ia keluarkan dan letakkan di samping naskah.
"Pak... Bapak mau memeriksa skripsi saya sekarang?" tanya Rina, antara percaya dan tidak percaya.
Pak Bambang tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang jarang sekali terlihat selama tiga puluh delapan tahun ia mengajar. Di kalangan mahasiswa, Profesor Bambang Hariawan terkenal sebagai "Algojo Skripsi". Ia adalah tipe akademisi murni yang tidak toleran terhadap tipografi yang salah, kutipan yang tidak valid, atau alur logika yang meloncat-loncat. Tak terhitung berapa banyak mahasiswa yang keluar dari ruangannya sambil menangis karena draf skripsi mereka dipenuhi coretan tinta merah menyerupai peta korps militer.
"Memangnya kamu pikir saya akan membiarkan karya ilmiah yang kamu kerjakan dengan berdarah-darah selama satu tahun ini lulus begitu saja tanpa saya periksa?" balas Pak Bambang. "Duduk yang benar. Ambil pulpenmu. Jika ada yang salah, kamu harus perbaiki detik ini juga di depan saya."
Tanpa membuang waktu, Pak Bambang membuka lembar demi lembar naskah skripsi setebal 180 halaman itu.
Suasana ruangan kembali henning. Hanya ada suara gesekan kertas yang dibalik dengan ritme teratur. Pak Bambang membaca dengan ketelitian yang luar biasa. Matanya yang terlatih puluhan tahun menyisir baris demi baris kata, mencari kelemahan argumen, konsistensi istilah, hingga ketepatan garis tabel.
Rina duduk menahan napas. Setiap kali Pak Bambang berhenti agak lama di sebuah halaman, jantung Rina serasa berhenti berdetak.
"Halaman 45," kata Pak Bambang tiba-tiba.
"Ya... ya, Pak?" Rina sigap memajukan tubuhnya.
"Di paragraf kedua, kamu menulis bahwa pendapatan nelayan buruh turun sebesar 40% akibat korporatisasi pelabuhan. Tapi di tabel 4.2 halaman 48, angka yang kamu tampilkan menunjukkan penurunan akumulatif sebesar 38,5%. Mana yang benar? Dalam penulisan karya ilmiah, penyederhanaan angka tidak boleh menyesatkan data lapangan."
Rina dengan cepat membuka catatan kecil di saku kemejanya. "38,5%, Pak! Di narasi halaman 45 saya menggenapkannya karena mengikuti kutipan pernyataan Kepala Desa dalam wawancara, tapi data kuantitatifnya memang 38,5%."
"Ganti narasinya di lembar revisi. Tulis angka presisinya, baru beri catatan kaki bahwa masyarakat secara kualitatif menyebutnya 'hampir separuh' atau 40%. Logika sains harus memisahkan antara persepsi subjek dan data faktual," tegas Pak Bambang.
Pak Bambang mengambil pulpen hitamnya, lalu dengan coretan yang rapi, memberikan catatan kecil di pinggir kertas.
Mereka melanjutkan proses itu halaman demi halaman. Pak Bambang tidak memberikan kemudahan begitu saja hanya karena ini hari terakhirnya atau karena ia merasa kasihan pada Aris. Justru sebaliknya, bagi Pak Bambang, memberikan standar kualitas tertinggi hingga detik terakhir adalah bentuk penghormatan terbesarnya terhadap profesi dosen dan terhadap Rina sendiri sebagai seorang calon sarjana.
Pukul 17.40 WIB.
Pak Bambang tiba di Bab V: Kesimpulan dan Saran. Ia membaca bab penutup itu dengan sangat lambat. Di bab inilah seluruh benang merah penelitian Rina teruji. Apakah anak muda ini benar-benar memahami fenomena sosial yang ditelitinya, atau hanya sekadar menumpuk teori untuk memenuhi syarat kelulusan?
Di paragraf terakhir kesimpulan, Rina menulis:
...Oleh karena itu, pembangunan infrastruktur modern di kawasan pesisir tidak boleh hanya mengukur keberhasilan dari angka pertumbuhan ekonomi makro, melainkan harus memperhitungkan keterasingan kebudayaan dan ruang hidup masyarakat lokal yang telah turun-temurun menggantungkan hidupnya pada laut. Pembangunan yang meminggirkan manusia adalah bentuk kekerasan struktural yang terselubung.
Pak Bambang berhenti membaca. Ia memegang halaman itu agak lama. Tatapannya tertuju pada kalimat terakhir tersebut.
Ada rasa hangat yang perlahan mengalir di dada dosen tua itu. Ia teringat pada dirinya sendiri empat puluh tahun yang lalu—seorang pemuda idealis yang berdiri di podium kampus dengan semangat berapi-api, percaya bahwa ilmu pengetahuan adalah senjata paling tajam untuk membela mereka yang tersingkirkan.
Selama belasan atau bahkan puluhan tahun mengajar, Pak Bambang sering kali merasa lelah dan kecewa. Ia menyaksikan bagaimana dunia akademis perlahan-lahan berubah menjadi pabrik ijazah. Mahasiswa datang dan pergi hanya demi mengejar gelar, berburu nilai A dengan cara-cara instan, menyalin karya orang lain, dan menganggap skripsi tak lebih dari sekadar beban formalitas yang harus segera diselesaikan agar bisa melamar kerja di korporasi.
Namun sore ini, di hari terakhir dalam karirnya, di depan meja kayu tua yang hampir kosong, Pak Bambang melihat kembali api idealisme itu. Api yang tidak padam. Api yang kini menyala di dalam diri Rina—seorang anak nelayan yang berjuang mengeja ketidakadilan yang dialami oleh kaumnya sendiri lewat bahasa ilmu pengetahuan.
Pak Bambang perlahan menutup draf skripsi itu. Ia membalik halaman depan menuju Lembar Pengesahan Skripsi.
Di lembar kertas jeruk berwarna kuning muda itu, sudah tertera nama para penguji dan ruang kosong untuk tanda tangan Dosen Pembimbing Utama.
Pak Bambang mengambil pulpen hitamnya. Jemarinya yang agak keriput memegang batang pulpen itu dengan mantap. Dengan satu gerakan yang tenang, tegas, dan elegan, ia menggoreskan tanda tangannya di atas nama lengkap dan NIP-nya:
Prof. Dr. Bambang Hariawan, M.Si. NIP. 19610903 198603 1 002
Suara gesekan tinta pulpen di atas kertas kuning itu terdengar sangat jelas di ruangan yang sunyi. Bagi Pak Bambang, goresan tinta itu bukan sekadar persetujuan atas sebuah karya ilmiah. Itu adalah tanda tangan terakhir dari seluruh pengabdian akademisnya. Itu adalah penutup dari ribuan jam kuliah yang pernah ia berikan, ribuan berkas yang pernah ia periksa, dan puluhan tahun usianya yang telah lebur di dalam tembok-tembok kampus ini.
Pak Bambang meniup pelan tinta hitam di kertas itu agar cepat mengering, lalu merapatkan naskah skripsi tersebut dan menyerahkannya kembali kepada Rina.
"Selesai," kata Pak Bambang pelan.
Rina menatap lembar pengesahan itu. Tanda tangan segar bertinta hitam itu nampak begitu indah di matanya. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes juga, jatuh menimpa pinggiran meja kayu.
"Pak... ini... ini benar-benar sudah di-ACC?" suara Rina pecah.
"Skripsimu layak untuk diujikan di depan dewan penguji," jawab Pak Bambang. "Perbaiki dua catatan kecil yang saya berikan tadi malam ini juga. Besok pagi-pagi sekali, serahkan berkas ini ke bagian Tata Usaha. Kamu akan ikut ujian pendadaran gelombang pertama bulan depan."
Rina berdiri dari kursinya. Ia membungkukkan badannya dalam-dalam lalu berkata, "Terima kasih, Pak... Terima kasih banyak... Saya tidak akan pernah melupakan kebaikan Bapak... Tanpa Bapak, saya tidak tahu bagaimana nasib masa depan saya dan harapan orang tua saya di kampung..."
Pak Bambang menepuk-nepuk punggung tangan Rina dengan tangan kirinya.
"Jangan berterima kasih pada saya, Rina. Berterima kasihlah pada dirimu sendiri yang tidak menyerah pada keadaan. Saya hanya membukakan pintu kecil, kamulah yang berjalan melintasinya," kata Pak Bambang dengan suara yang sangat lembut, penuh kesejukan seorang ayah.
Pak Bambang berdiri dari kursinya. Ia merapikan jas tua berwarna abu-abu gelap yang kenakan, lalu mengangkat kardus cokelat berisi barang-barangnya dari atas meja.
"Ayo keluar. Sudah hampir jam enam. Nanti kita terkunci di dalam gedung," ajak Pak Bambang.
Mereka berdua berjalan keluar dari ruang 304. Pak Bambang memutar kunci pintu untuk terakhir kalinya. Bunyi klik dari selot pintu yang mengunci seolah menandai garis akhir dari sebuah babak panjang dalam kehidupannya. Ia menarik kuncinya, memasukkannya ke dalam saku jas, dan menatap pintu kayu itu sekali lagi sebelum berbalik.
Koridor lantai tiga kini sudah benar-benar remang. Cahaya matahari sore telah berganti dengan pendar lampu neon di beberapa sudut lorong.
Pak Bambang dan Rina berjalan berdampingan menuju tangga utama. Langkah kaki mereka berdua berbunyi bersahut-sahutan di sepanjang lorong yang sepi. Yang satu adalah langkah kaki tua yang bersiap meninggalkan panggung, dan yang satu lagi adalah langkah kaki muda yang baru saja bersiap melangkah masuk ke dalam panggung kehidupan yang sebenarnya.
"Setelah lulus nanti, apa rencanamu, Rina?" tanya Pak Bambang sambil menuruni anak tangga demi anak tangga.
"Saya mau pulang ke desa dulu sebentar, Pak," jawab Rina mantap. "Saya mau menunjukkan lembar pengesahan ini pada Bapak dan Ibu saya. Setelah itu, saya mau melamar kerja di lembaga swadaya masyarakat yang fokus pada pendampingan nelayan di pesisir. Saya ingin mengaplikasikan ilmu sosiologi yang Bapak ajarkan untuk betul-betul membantu mereka."
Pak Bambang tersenyum lebar. Kali ini, senyumnya memancarkan kebanggaan yang murni.
"Pilihan yang bagus," kata Pak Bambang. "Ingat pesan saya, Rina. Gelar sarjana yang akan kamu sandang sebentar lagi itu bukan sekadar hiasan nama di undangan pernikahan atau tiket untuk mencari kekayaan pribadi. Gelar itu adalah tanggung jawab moral. Ilmu yang kamu miliki adalah hutang yang harus kamu bayar kepada masyarakat yang belum berkesempatan menduduki bangku bangku kuliah."
"Baik, Pak. Saya akan selalu ingat pesan Bapak," janji Rina sungguh-sungguh.
Mereka tiba di lantai dasar Gedung Fakultas. Pintu kaca utama gedung sudah dibuka setengah oleh Pak Slamet, petugas kebersihan senior yang juga sudah bekerja di sana sejak era 90-an.
"Loh, Prof Bambang belum pulang?" sapa Pak Slamet ramah sambil memegang sapunya. "Loh, kok bawa kardus, Prof?"
Pak Bambang tertawa kecil. "Hari ini hari terakhir saya, Met. Masa kerja saya sudah habis."
Pak Slamet tertegun sejenak, lalu matanya menatap kardus di pelukan Pak Bambang. Ia menghentikan kegiatannya, melepas topi kusamnya, dan membungkuk hormat. "Aduh... selamat purna tugas ya, Prof. Terima kasih sudah sering menyapa dan ngopi bareng kami di belakang. Kampus ini pasti bakal sepi tanpa Prof Bambang."
"Terima kasih kembali, Met. Jaga kesehatanmu ya," jawab Pak Bambang hangat.
Mereka bertiga berjalan melintasi pelataran depan fakultas. Udara malam yang sejuk menyapa wajah Pak Bambang. Di halaman kampus, pohon-pohon beringin tua berdiri kokoh, menaungi jalan-jalan setapak yang telah dilewati oleh puluhan ribu generasi muda dari tahun ke tahun.
Di halte bus depan gerbang utama kampus, langkah mereka akhirnya harus berpisah. Rina harus naik bus kota arah selatan untuk kembali ke kos-kosannya, sementara Pak Bambang menunggu jemputan putrinya yang memarkir mobil di seberang jalan.
Rina berdiri tegap di depan Pak Bambang. Sekali lagi, ia memberikan penghormatan tertinggi kepada dosen pembimbingnya itu.
"Selamat memasuki masa pensiun, Profesor Bambang Hariawan," ucap Rina dengan nada suara yang mantap dan penuh rasa hormat. "Bapak mungkin sudah pensiun dari kampus ini, tetapi Bapak tidak akan pernah pensiun jadi guru bagi kami semua."
Pak Bambang menatap mahasiswa bimbingan terakhirnya itu. Di mata anak muda itu, ia melihat masa depan—sebuah masa depan yang diisi oleh orang-orang jujur, tangguh, dan berilmu. Rasa lelah yang menumpuk selama puluhan tahun mengabdi seolah menguap begitu saja, berganti dengan rasa kepuasan mendalam yang tak bisa dinilai dengan uang atau penghargaan apa pun.
"Terima kasih, Rina," bisik Pak Bambang. "Berjuanglah terus. Buat orang tuamu bangga. Buat almamatermu bangga. Dan yang paling penting, buat dirimu sendiri bangga."
Sebuah mobil sedan hitam berhenti di tepi jalan depan halte. Klakson berbunyi pelan dua kali. Putri Pak Bambang melambaikan tangan dari dalam mobil.
Pak Bambang menepuk bahu Rina untuk terakhir kalinya, lalu melangkah pelan mendekati mobil. Ia membuka pintu, memasukkan kardus cokelatnya ke jok belakang, dan sebelum masuk ke dalam kendaraan, ia menyempatkan diri untuk menoleh kembali ke arah kompleks kampus yang menjulang di bawah kegelapan malam.
Gedung-gedung fakultas itu berdiri membisu, dengan lampu-lampu jendela yang menyala terang seperti bintang-bintang buatan. Di sana, di dalam tembok-tembok beton itu, sebagian dari hidupnya telah ditinggalkan. Namun, ia tahu, ia tidak meninggalkan hampa. Ada benih-benih pemikiran, integritas, dan semangat pengetahuan yang telah ia tanamkan ke dalam jiwa mahasiswa-mahasiswanya—seperti Rina—yang kini siap tumbuh menjadi pohon-pohon pelindung bagi masyarakat.
Pak Bambang masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya. Mobil perlahan bergerak membelah jalanan kota yang mulai ramai oleh lalu lintas malam. Melalui kaca jendela belakang, Pak Bambang melihat sosok Rina yang masih berdiri tegap di bawah lampu halte, memeluk erat naskah skripsinya, melambaikan tangan hingga sosok itu perlahan-lahan mengabur dan menghilang di balik belokan jalan.
Pak Bambang menyandarkan punggungnya di jok mobil yang empuk. Ia memejamkan mata, menghela napas panjang dan lega. Tugasnya telah usai dengan tuntas. Malam itu, sang Profesor tua akhirnya bisa tidur dengan sangat nyenyak.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya